Ingin membaca tulisan berbau SARA, silahkan meneliti tulisan di bawah ini.

     Pada Rabu, 5 Oktober 2016 3:24, "'Sunny' [email protected] [nasional-list]" 
<[email protected]> menulis:
 

     
http://www.suara-islam.com/read/index/19578/Ahok-Beringas--Bengis-dan-Rasis 
Ahok Beringas, Bengis dan Rasis
Senin, 29/08/2016 09:33:20 | Dibaca : 8037Facebook Twitter Gplus  Ilustrasi: 
Tolak Ahok harga mati! “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian 
cintai dan mereka pun mencintai kalian, mereka mendoakan kalian dan kalian pun 
mendoakan mereka. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah mereka yang kalian benci 
dan mereka pun membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat 
kalian.” (HR. Imam Muslim)Apakah Gubernur DKI Jakarta Ahok masuk dalam kritera 
pemimpin seperti yang disampaikan Rasulullah Saw dalam hadits di atas?.  Kalau 
tolok ukurnya Alquran dan hadits, Ahok sama sekali tidak masuk kritera. 
Pertama, menurut Alquran dia termasuk orang yang diharamkan menjadi pemimpin 
karena kekafirannya. Kedua, jika dilihat dari sifat-sifatnya dengan merujuk 
hadits, selain kafir, Ahok terkatagori sebagai munafik. Klop, sudahlah kafir 
munafik pula.  Ciri munafik adalah jika berkata dusta, dipercaya khianat, dan 
bila berjanji mengingkari. Keseluruhan sifat-sifat itu jika diikuti sejak Ahok 
menjadi Wagub DKI Jakarta hingga menggantikan Jokowi sebagai Gubernur, ada 
secara sempurna pada diri bekas Bupati Belitung Timur itu. Kata-katanya seperti 
dewa mabuk. Dulu dia mengritik keras Fauzi Bowo yang menolak cuti aaat 
kampanye, sekarang dia malah mengajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi untuk 
mementahkan undang-undang yang dibuat DPR bersama pemerintah tentang kewajiban 
cuti saat kampanye. Terkait Pilgub DKI, menurut peneliti senior Pusat 
Penelitian Politik LIPI R Siti Zuhro, klaim Ahok yang mengaku telah didukung 
Megawati Soekarnoputri sebagai calon Gubernur DKI Jakarta pada Pilgub 2017 
semakin menunjukkan cagub petahanan itu inkonsisten. "Ini semakin menunjukkan 
dia ngepot-ngepot nggak karuan, ugal-ugalan," ujar Siti Zuhro, Sabtu 
(20/08/2016) lalu, seperti dikutip Rmol.co. Zuhro mencoba menurut sikap 
inkonsisten pada diri Ahok ini. Pada awalnya Ahok meminta dukungan kepada 
Megawati, bahkan memberikan tenggat waktu agar merestui dia kembali berpasangan 
dengan Djarot Saiful Hidayat. Karena tak juga ada sinyal positif dari Mega, 
Ahok memutuskan maju lewat jalur perseorangan dengan menggandeng Heru Budi 
Hartono, Kepala Badan Pengelola Keuangan Aset Daerah (BPKAD) DKI. Timnya yang 
tergabung dalam Teman Ahok pun gencar mengumpulkan KTP untuk mengejar 
persyaratan. Maka dengan pongahnya saat itu ia merasa tidak membutuhkan parpol. 
 Seiring dengan perjalanan waktu, Ahok ternyata batal menggunakan jalur 
perseorangan. Pengumpulan KTP-nya tidak memenuhi syarat. Gembar-gembor klaim 
telah memiliki sejuta KTP warga DKI hanya untuk meningkatkan nilai jual 
dirinya. Nyatanya hal itu hanya bualan saja, omong kosong.  Lalu, tanpa merasa 
berdosa, Ahok pun memutuskan maju lewat jalur partai politik. Tiga partai di 
menyokongnya: Partai NasDem, Hanura dan Golkar menyusul di belakang. Seperti 
diketahui NasDem dan Hanura adalah dua partai pecahan Golkar, jadi sejatinya 
pendukung Ahok hanya satu partai saja.  "Jadi anti klimaks. Saat pengumuman 
satu juta KTP, dia malah mengenalkan diri akan maju lewat parpol," ungkap 
Zuhro, doktor ilmu politik dari Curtin University, Perth, Australia ini.  
Sekarang, Ahok kembali merapat ke PDIP. Ngemis-ngemis dukungan dan bahkan 
berani mengklaim sudah mendapat restu dari Megawati. Menurut Zuhro, itu sama 
saja Ahok berusaha menggiring opini dan memberikan semacam warning kepada 
Megawati. Namun, melihat manuver politik Ahok selama ini, orang mulai tidak 
percaya. "Karena omongan yang mana yang bisa dipercaya dari Ahok?," tandas 
peneliti asal Blitar itu.  Beringas dan Bengis Penilaian tajam dan menohok 
tentang Ahok juga dilontarkan politisi senior sekaligus pendiri Partai Amanat 
Nasional (PAN) Amien Rais. Amien menyebut Ahok sebagai antek pemodal dan tidak 
boleh lagi menjadi gubernur.  "Karena dia beringas, bengis dan hampir-hampir 
seperti bandit. Saya tahu ini akan dikutip, enggak apa-apa," kata Ketua Dewan 
Kehormatan PAN itu saat menyampaikan sambutan dalam pembukaan Kongres V Barisan 
Muda PAN di Jakarta, Sabtu (20/8/2016), seperti dikutip Tribunnews.com. Amien 
menegaskan, sebagai pemimpin Ahok tidak pro terhadap rakyat kecil. Ia 
memastikan Ahok harus dilawan karena sudah kelewatan menjalankan tugasnya. 
"Saya enggak tahu dia maunya apa. Jangan lupa dia antek pemodal. Jadi tolong 
besok kalau ada calon penantang yang masuk akal, BM PAN harus datang dengan 
massa banyak. Kita tunjukkan rakyat itu mesti menang kalau bersatu," seru 
mantan Ketua MPR itu. Bukan kali ini saja Amien berkomentar pedas dan keras 
tentang Ahok. Sebelumnya, pada April lalu,  Amien sudah menyebut Ahok sebagai 
orang yang sangat arogan. Amien melihat Ahok sebagai sosok yang senang 
menantang berbagai pihak, bahkan terkesan meremehkan lembaga negara, termasuk 
Badan Pemeriksa Keuangan terkait kasus RS Sumber Waras. "Ini bukan masalah 
SARA, tetapi dia memang tidak layak menjadi pimpinan. Jangankan presiden, 
gubernur saja bagi saya kurang pantas," kata Amien di Temanggung, Ahad 
(24/4/2016) lalu. Menurut dia, tidak hanya sikap Ahok yang dinilai keras 
kepala. Ahok, menurut Amien, adalah satu-satunya pemimpin yang merasa paling 
benar dan ingin memboyong kebenaran menurut kacamatanya sendiri. "Kalau saya 
orang Jakarta, pasti akan turun gunung. Sayang, saya orang Yogyakarta," kata 
dia. Bukan hanya beringas dan bengis, sejatinya Ahok juga orang yang sangat 
rasis. Tengoklah saat ia masih menjabat sebagai anggota DPR dari Partai Golkar, 
2010 lalu. Saat itu Walikota Tangerang Wahidin Halim dipanggil DPR RI karena 
hendak melakukan penggusuran terhadap warga Cina Benteng, Kampung Sewan, 
Tangerang. Saat itu, Ahok yang merupakan anggota Komisi II DPR, mempertanyakan 
sikap Wahidin yang tidak bersedia memberikan ganti rugi kepada warga yang 
terkena gusuran. Ahok memaksa bahkan memaki-maki Wahidin agar menggunakan APBD 
untuk memberi ganti rugi warga.  Penggusuran warga keturunan etnis Cina ini 
dikarenakan akan diadakannya normalisasi Kali Cisadane, dan Pemkot beralasan 
jika soal tidak diberikannya ganti rugi dikarenakan bantaran kali yang 
ditempati tidak memiliki IMB. Selain itu mata anggaran ganti rugi juga tidak 
ada dalam APBD 2010 Tangerang. Sementara Ahok beralasan, orang-orang China yang 
tinggal di daerah tersebut sudah menempati turun temurun, dan membangun dengan 
hasil jerih payah. Sikap yang sama juga perlihatkan Ahok, ketika Wali Kota 
Jakarta Barat hendak melakukan penggusuran Mangga Besar. Karena ternyata 
mayoritas warga di RW 02 Kelurahan Mangga Besar, Taman Sari itu adalah 
keturunan China, Ahok pun berbalik memarahi Wali Kota Anas Effendi dan 
membatalkan rencana penggusuran itu.  Sikap ini jelas sangat berbeda bila 
dibandingkan dengan penggusuran yang dia lakukan terhadap warga pribumi yang 
justru tidak satupun yang diberikan ganti rugi. Penggusuran di Kalijodo, Pasar 
Ikan, Akuarium dan Luar Batang adalah contohnya.  Atas sikapnya yang beringas, 
bengis, dan rasis inilah kini Ahok menuai hasilnya. Sepanjang perjalanan negara 
ini, sangat jarang penolakan kedatangan pemimpin oleh warganya. Tetapi itu 
tidak berlaku pada Ahok, saat ini, setiap dia berencana mengunjungi atau 
meresmikan sesuatu di masyarakat, badai penentanganpun datang. Jika ia memaksa 
datang, ratusan personel kepolisian dan Satpol PP –yang tentu saja dengan biaya 
operasional besar—diturunkan.  Lucu dan menyedihkan, saking takutnya diserang 
warga, setelah secara singkat meresmikan Rruang Publik Terpadu Ramah Anak 
(RPTRA) di Penjaringan Indah, pada Jumat (24/06) lalu, Ahok pulang 
terbirit-birit melewati kebon warga karena jalan utama sudah dipenuhi warga 
dengan batu-batu di tangan.  Sosok seperti Ahok bukanlah tipologi pemimpin yang 
dicintai rakyat. Sebaliknya, pemimpin model ini tiap hari akan mendapatkan 
umpatan, makian dan laknat dari rakyatnya. Rakyat membencinya dan dia pun 
membenci rakyatnya. Inilah gambaran pemimpin yang buruk. Wallahu a’lam bissawab 
 #yiv1509248422 #yiv1509248422 -- #yiv1509248422ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv1509248422 
#yiv1509248422ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv1509248422 
#yiv1509248422ygrp-mkp #yiv1509248422hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv1509248422 #yiv1509248422ygrp-mkp #yiv1509248422ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv1509248422 #yiv1509248422ygrp-mkp .yiv1509248422ad 
{padding:0 0;}#yiv1509248422 #yiv1509248422ygrp-mkp .yiv1509248422ad p 
{margin:0;}#yiv1509248422 #yiv1509248422ygrp-mkp .yiv1509248422ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv1509248422 #yiv1509248422ygrp-sponsor 
#yiv1509248422ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv1509248422 
#yiv1509248422ygrp-sponsor #yiv1509248422ygrp-lc #yiv1509248422hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv1509248422 
#yiv1509248422ygrp-sponsor #yiv1509248422ygrp-lc .yiv1509248422ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv1509248422 #yiv1509248422actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv1509248422 
#yiv1509248422activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv1509248422
 #yiv1509248422activity span {font-weight:700;}#yiv1509248422 
#yiv1509248422activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv1509248422 #yiv1509248422activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv1509248422 #yiv1509248422activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv1509248422 #yiv1509248422activity span 
.yiv1509248422underline {text-decoration:underline;}#yiv1509248422 
.yiv1509248422attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv1509248422 .yiv1509248422attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv1509248422 .yiv1509248422attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv1509248422 .yiv1509248422attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv1509248422 .yiv1509248422attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv1509248422 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv1509248422 .yiv1509248422bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv1509248422 
.yiv1509248422bold a {text-decoration:none;}#yiv1509248422 dd.yiv1509248422last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1509248422 dd.yiv1509248422last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1509248422 
dd.yiv1509248422last p span.yiv1509248422yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv1509248422 div.yiv1509248422attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv1509248422 div.yiv1509248422attach-table 
{width:400px;}#yiv1509248422 div.yiv1509248422file-title a, #yiv1509248422 
div.yiv1509248422file-title a:active, #yiv1509248422 
div.yiv1509248422file-title a:hover, #yiv1509248422 div.yiv1509248422file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv1509248422 div.yiv1509248422photo-title a, 
#yiv1509248422 div.yiv1509248422photo-title a:active, #yiv1509248422 
div.yiv1509248422photo-title a:hover, #yiv1509248422 
div.yiv1509248422photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv1509248422 
div#yiv1509248422ygrp-mlmsg #yiv1509248422ygrp-msg p a 
span.yiv1509248422yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv1509248422 
.yiv1509248422green {color:#628c2a;}#yiv1509248422 .yiv1509248422MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv1509248422 o {font-size:0;}#yiv1509248422 
#yiv1509248422photos div {float:left;width:72px;}#yiv1509248422 
#yiv1509248422photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv1509248422 
#yiv1509248422photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv1509248422
 #yiv1509248422reco-category {font-size:77%;}#yiv1509248422 
#yiv1509248422reco-desc {font-size:77%;}#yiv1509248422 .yiv1509248422replbq 
{margin:4px;}#yiv1509248422 #yiv1509248422ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv1509248422 #yiv1509248422ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1509248422 
#yiv1509248422ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv1509248422 
#yiv1509248422ygrp-mlmsg select, #yiv1509248422 input, #yiv1509248422 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1509248422 
#yiv1509248422ygrp-mlmsg pre, #yiv1509248422 code {font:115% 
monospace;}#yiv1509248422 #yiv1509248422ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv1509248422 #yiv1509248422ygrp-mlmsg #yiv1509248422logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv1509248422 #yiv1509248422ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv1509248422 #yiv1509248422ygrp-msg 
p#yiv1509248422attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv1509248422 
#yiv1509248422ygrp-reco #yiv1509248422reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv1509248422 #yiv1509248422ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv1509248422 #yiv1509248422ygrp-sponsor 
#yiv1509248422ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv1509248422 
#yiv1509248422ygrp-sponsor #yiv1509248422ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv1509248422 
#yiv1509248422ygrp-sponsor #yiv1509248422ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv1509248422 #yiv1509248422ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv1509248422 #yiv1509248422ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv1509248422 #yiv1509248422ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv1509248422 
#yiv1509248422ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv1509248422 

   

Kirim email ke