Ungkapan "Tentara itu adalah Negara dalam Negara" bukanlah mitos atau
omong kosong dan juga bukan dusta, tapi kehidapan dan kekuasan nyata
kenegaraan di negeri kita.



Am Wed, 5 Oct 2016 15:16:14 +0200
schrieb "'Sunny' [email protected] [nasional-list]"
<[email protected]>:

> res : Tentu saja tentra tak pernah salah, maka oleh sebab itu tidak
> ada yang ditangkap KPK atau instansi pengadilan untuk dihukum dan
> dihukum karena bersalah. Dengan lain kata mereka suci bersih dan oleh
> sebab itu para perwiranya teristimewa di kalangan angkatan darat,
> mereka diberkati Allah dengan kekayaan yang berlimpah-limpah, Bisakah
> Anda juga  suci bersih dari kesalahan dan dengan itu  Anda dapat
> diberkati Allah dengan kekayaan berlimpah-limpah seperti mereka? Amin!
> 
> https://tirto.id/tentara-tak-pernah-salah-bRcK
> 
> 
> Tentara Tak Pernah Salah
> Kolumnis: Zen RS
> 05 Oktober, 2016 dibaca normal 6:30 menit
> Siapa bilang dwi fungsi TNI sudah dicabut? TNI sampai sekarang masih
> mempraktikkan dwi fungsi TNI: (1) sebagai tentara dan (2) sebagai
> oknum.
> 
> Nyaris tidak pernah TNI mengakui perilaku buruk anggotanya sebagai
> kesalahan institusional. Tiap ada anggota TNI melakukan kesalahan,
> bahkan kejahatan, selalu "oknum" yang dijadikan kambing hitam. Dari
> penculikan para aktivis di pengujung kekuasaan Orde Baru, kekerasan
> yang dilakukan tentara terhadap masyarakat sipil (dari para petani,
> aktivis, wartawan hingga suporter Gresik United), sampai pembantaian
> tahanan di Cebongan--semuanya dilokalisir tidak ada kaitannya dengan
> institusi – pendeknya: oknum.
> 
> Yang lebih memprihatinkan lagi, oknum yang sudah dinyatakan bersalah
> pun masih punya kemungkinan berkarir dan menjabat setinggi-tingginya.
> Ada sejumlah kejahatan yang dilakukan tentara, dan kemudian dihukum
> oleh pengadilan militer, artinya terbukti bersalah, bahkan dipecat,
> tapi itu semua tidak membuat karir terpidana menjadi berhenti. 
> 
> Dari 11 anggota Tim Mawar Kopassus yang melakukan penculikan kepada
> para aktivis di pengujung Orde Baru, dan divonis bersalah dalam
> mahkamah militer 1999, empat di antaranya bahkan promosi sebagai
> jenderal. Dari empat orang itu, tiga di antaranya bahkan divonis
> dipecat. Bahkan Hartomo, seorang yang kini berpangkat mayor jenderal,
> yang dipecat dari militer oleh pengadilan militer Surabaya karena
> membunuh Theys Hiyo Eluay, aktivis Papua, diangkat sebagai Kepala
> Badan Intelijen Strategis (BAIS).
> 
> Salah satu yang membuat "keajaiban" itu bisa terjadi adalah
> tertutupnya proses pengadilan militer. Pengadilan militer menjadi
> sanctuary yang membuat banyak tindakan kriminal oleh tentara sulit
> diadili dengan standar-standar yang dialami rakyat sipil ketika
> diseret ke pengadilan. 
> 
> Dalam kasus kejahatan HAM yang dilakukan Tim Mawar, mereka yang
> dipecat dari militer kemudian mengajukan banding sehingga pemecatan
> belum bisa dieksekusi. Koordinator Kontras Usman Hamid, pada Mei
> 2007, pernah menyesalkan ketertutupan proses pengadilan di tingkat
> banding. Hasil putusannya, berikut amar dan argumentasinya, sulit
> diakses publik. Sehingga tidak heran jika publik terkejut ketika
> seorang tentara yang sebelumnya terbukti melakukan kejahatan malah
> mendapatkan promosi sebagai jenderal beberapa tahun kemudian.
> 
> Situasi menjadi pelik karena masyarakat sipil (dari pemimpinnya
> sampai warganya) justru sering kali mendiamkan, mengafirmasi bahkan
> mengundang tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan militer. Dari
> Ridwan Kamil yang hanya menganggap pembubaran perpustakaan jalanan
> yang dilakukan Kodam Siliwangi dengan sewenang-wenang semata hanya
> "miskomunikasi", atau Ahok yang malah menggunakan tentara untuk
> melakukan penggusuran, hingga tidak sedikit warga Yogya yang
> berkampanye memberikan dukungan pada tentara yang dengan keji
> melakukan pembantaian terhadap tahanan di Cebongan.
> 
> Penetrasi militer ke dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa, yang
> bentuk paling intensnya terjadi pada masa Orde Baru, memang begitu
> mengakar dan menancap sangat dalam. Tentara diidealisasikan atau
> mengidealisasikan dirinya sebagai representasi paripurna dari
> nasionalisme. Bahwa tidak ada yang lebih setia kepada Indonesia
> selain tentara. Bahwa tidak ada yang lebih tanpa pamrih membela tanah
> air selain tentara. Bahwa pemimpin sipil (terbukti) sering tidak
> becus, kerap di/meragukan kesetiaannya, egois, lebih senang cekcok,
> dan lebih mengutamakan kepentingan politik sesaat.
> 
> Fragmen ketika pemimpin sipil republik (Sukarno-Hatta, dkk) menolak
> bergerilya saat Belanda melakukan Agresi Militer II, sedangkan
> Soedirman yang sakit-sakitan berani angkat senjata, sering dirujuk
> sebagai bukti kepengecutan pemimpin sipil. Sedangkan praktik
> demokrasi parlementer (1950-1959), yang ditandai jatuh bangunnya
> kabinet karena kontestasi partai-partai yang sengit, kerap
> dipropagandakan sebagai bukti sahih betapa sipil mabuk kekuasaan,
> senang berselisih, dan sibuk mementingkan kepentingan kelompok. 
> 
> Pada masa kekuasaan Orde Baru, yang pada praktiknya adalah kekuasaan
> militer(istik), persisnya lagi Angkatan Darat, imaji tentang
> dahsyatnya pengorbanan dan kesetiaan tentara direproduksi secara
> masif melalui berbagai metode. Film-film perjuangan bersenjata
> diproduksi dalam jumlah yang sangat banyak, tidak sepadan (jika bisa
> dibilang tidak ada) dengan film-film perjuangan yang menggambarkan
> keterjepitan yang dialami pemimpin sipil saat menghadapi situasi
> politik yang centang-perenang, yang memaksa mereka untuk (tidak bisa
> tidak) membuat sejumlah kompromi dalam berbagai bentuk perundingan.
> Belum lagi jika bicara porsi tuturan tentang perjuangan bersenjata
> dalam narasi perjuangan bangsa di buku-buku pelajaran.
> 
> Bukan menihilkan pentingnya angkatan perang pada periode 1945-1949.
> Tanpa angkatan perang, hampir bisa dipastikan republik ini akan jauh
> lebih mudah dihancurleburkan kembali oleh Belanda. Akan tetapi
> penting sekali memandang sejarah secara proporsional. 
> 
> Namun jangan sampai dilupakan bahwa tanpa pemimpin sipil maka tak
> akan ada angkatan perang. Bahkan bisa dikatakan tanpa pemimpin sipil
> boleh jadi republik ini tidak akan pernah ada. Indonesia adalah
> gagasan yang pada awalnya dilahirkan dan diperjuangkan oleh
> orang-orang sipil. Jika dilacak dari akhir abad-19 sampai
> dibacakannya proklamasi, semenjak Kartini sampai Sukarni, gagasan
> tentang Indonesia nyaris sepenuhnya dipikirkan, dirumuskan dan
> diperjuangkan oleh para pemimpin sipil. 
> 
> Imaji tentang kepengecutan Sukarno-Hatta, dkk., karena menolak
> gerilya sangat tak adil karena mengabaikan satu hal yang amat
> penting: merekalah yang justru paling awal mempertaruhkan dan
> mengorbankan banyak hal untuk memperjuangkan Indonesia saat
> kolonialisme Belanda masih sangat gagahnya bertahta.
> 
> Saat Nasution muda atau TB Simatupang muda masih asyik-masyuk
> (belajar) menjadi serdadu Belanda (KNIL) yang tentu saja harus
> mengabdi kepada Ratu Wilhelmina, orang seperti Sukarno, Hatta, Mas
> Marco, dkk., sudah lebih dulu menghadapi berbagai risiko yang tak
> alang kepalang saat memperjuangkan Indonesia di hadapan kekuasaan
> Belanda. Mereka bukan hanya dipenjara, dibuang atau diasingkan,
> sangat banyak dari mereka yang tumpas-kelor oleh pelor Belanda atau
> tewas dalam pembuangan yang pahit di belantara Papua yang mematikan
> oleh penyakit dan kesunyian.
> 
> Ketika Soedirman muda atau Soeharto muda sedang khidmat berlatih di
> bawah bendera PETA bentukan Jepang, orang seperti Amir Sjarifuddin,
> Sjahrir atau Tan Malaka justru sibuk menggalang kekuatan massa-rakyat
> di bawah tanah dengan mempertaruhkan batang lehernya. Orang seperti
> Amir, Sjahrir dan Tan Malaka sibuk membangun simpul-simpul gerakan,
> menyelinap di sela-sela intaian kempetai dan endusan mata-mata,
> mengabaikan risiko yang tidak main-main. Saat aktivitas bawah tanah
> Amir terendus Jepang, ia langsung ditangkap, diadili, dan dihukum
> mati (yang eksekusinya berhasil ditunda berkat intervensi
> Sukarno-Hatta).
> 
> Kecuali Soepriyadi dan pasukannya di masa pendudukan Jepang, hampir
> tidak ada usaha dari orang-orang yang kelak menjadi petinggi-petinggi
> militer Indonesia itu untuk angkat senjata kepada Belanda. Nyaris
> semuanya "anteng", belajar dan berdinas sebagai serdadu KNIL yang
> baik. 
> 
> Memerdekakan Indonesia adalah gagasan yang awalnya tumbuh dari
> kalangan sipil, dan sipil juga yang paling gigih bertungkus-lumus
> mengusahakannya, dan mereka juga yang mencicipi pahitnya pemenjaraan,
> pembuangan, pengasingan hingga kematian. Saya tidak menafikan
> bibit-bibit nasionalisme yang berkecambah di dada para serdadu KNIL
> bumiputera, tapi mesti jujur dikatakan bahwa inisiatif
> ke-Indonesia-an memang dilahirkan oleh orang-orang sipil yang kelak
> di kemudian hari diimajinasikan sebagai "pengecut" dan "hobi cekcok"
> itu.
> 
> Lagi pula, siapa bilang kontestasi yang berujung perselisihan dan
> cekcok itu hanya dilakukan oleh pemimpin-pemimpin sipil? 
> 
> Dari usaha kudeta militer pada 17 Oktober 1952 (konflik Bambang
> Soepeno-Nasution), peristiwa Malari (Soemitro-Moertopo), hingga
> periode transisi 1998 (Wiranto-Prabowo), tentara Indonesia  juga
> tidak kasip dari konflik internal. Coba simak juga
> peristiwa-peristiwa pemberontakan terhadap pemerintah pusat. Dari
> DI/TII, PRRI/PERMESTA, bahkan hingga peristiwa 1965: semuanya
> melibatkan tokoh-tokoh militer. Dari Ibnu Hajar, Kahar Muzakkar,
> Ventje Sumual, Alex Kawilarang, hingga Kolonel Oentoeng. 
> 
> Peristiwa 1965 juga tidak bisa dipisahkan dari konflik internal
> tentara. Salah satu versi penjelasan peristiwa 1965, yaitu naskah
> Cornel Paper, bahkan terang-terangan menyebutnya sebagai buah dari
> konflik internal Angkatan Darat – wabil khusus Divisi Diponegoro.
> Jangan lupa juga bagaimana peristiwa 1965 menjadi awal mula konflik
> tidak seimbang antara AD dengan AL dan (terutama AU): ketika AU
> dianaktirikan karena dianggap terlibat dalam peristiwa penculikan
> para jenderal. Tafsir atau bukan, perspektif atau bukan, sudah
> menjadi fakta sejarah yang tak bisa dibantah bahwa para pelaku
> penculikan sesungguhnya tentara juga, persisnya bahkan dari Angkatan
> Darat.
> 
> Pledoi bahwa tentara (AD) disusupi anasir-anasir yang tidak
> diinginkan, katakanlah komunis dalam peristiwa 1965, harus dimaknai
> sebagai bianglala penafsiran sejarah yang terus berkontestasi.
> Cukuplah dikatakan bahwa: tentara tidak benar-benar suci, bukannya
> tidak punya noda dalam perkara cinta tanah air dan kesetiaan pada
> tumpah darah. 
> 
> Tinggal versi mana yang mau dipakai? Perspektif mana yang hendak
> digunakan? Jika menggunakan versi Pusat Sejarah TNI, ya tidak apa-apa
> juga. Asal tidak memaksakan versi lain sebagai khianat, subversif,
> atau (dikit-dikit dituduh) disusupi antek asing dan "aseng",
> "kuminis" atau "wahyudi". Apalagi kalau memaksakannya sambil
> membubarkan perpustakaan, menggebuki wartawan atau menghajar petani.
> 
> Dan konflik-konflik internal itu merembet ke mana-mana. Yang pada
> awalnya sebagai konflik internal kemudian merembet ke luar barak dan
> tangsi. Dampaknya menjangkau hingga ke masyarakat sipil. Tidak
> sedikit rakyat yang menjadi korban. Tidak sedikit yang mesti meregang
> nyawa. Mau bagaimana lagi? Kalau konflik terjadi di antara
> orang-orang yang memegang senjata, mana mungkin tidak ada muntahan
> peluru? 
> 
> Kalau fakta-fakta itu dilokalisir sebagai oknum, maka proses
> otokritik tidak akan pernah terjadi. Kalau ujung-ujungnya hanya oknum
> yang dikambinghitamkan, maka percayalah: tidak ada institusi di
> negara ini yang bobrok, semuanya beres dan baik-baik saja, semuanya
> alim, macam nabi atau para wali. Mau institusi militer maupun sipil,
> kalau masih saja melulu melokalisir persoalan sebagai kelakuan oknum,
> ya akan sulit mengharapkan perkembangan.  
> 
> Pokok soal satu ini, bahwa tentara adalah satu-satunya contoh ideal
> dalam urusan cinta tanah air, perlu terus menerus didiskusikan ulang.
> Terutama karena belakangan kian menguat penggunaan militer ke dalam
> persoalan-persoalan yang mestinya tidak lagi diselesaikan dengan
> cara-cara usang warisan Simbah dari Godean. Dari konflik di Papua,
> konflik agraria hingga penggusuran kaum miskin kota oleh gubernur
> yang paling punya niat baik sekaligus idaman mesin pencari. 
> 
> Bahkan walikota yang dianggap paling gaul, paling kreatif, dan paling
> gemar bercanda pun merasa perlu mengirim tentara ke sekolah-sekolah
> sebagai pembina upacara untuk "mengajarkan karakter ksatria" dan
> "membentengi anak-anak kita dari nilai-nilai negatif yang menyerang
> nalar dan emosi". Padahal belum dua purnama militer di wilayah
> kekuasaannya mengacak kemerdekaan dan kebebasan sipil dalam mengakses
> pengetahuan dan bahan bacaan. Padahal belum sebulan tentara di
> wilayah kekuasaannya menghajar dan menggebuk para atlit kontingen
> provinsi lain di ajang PON 2016.
> 
> Setelah bertempur menghadapi pasukan Belanda dalam kampanye Trikora,
> tentara Indonesia sebenarnya tidak pernah lagi berperang dengan
> kekuatan asing. Setelah kejatuhan Sukarno, tentara Indonesia bahkan
> lebih sering memerangi anak bangsa sendiri. Dengan dalih memerangi
> separatisme, tentara Indonesia terlibat dalam pembunuhan para
> pembangkang di berbagai tempat. Ada yang memang menghadapi para
> pembangkang bersenjata, namun cukup banyak korban dari rakyat sipil
> non-kombatan.
> 
> Tidak cukupkah ribuan korban yang sudah jatuh selama beberapa dekade
> terakhir? Tidak cukupkah nyawa yang melayang di Aceh, Santa Cruz di
> Timor Leste, Talangsari, Tanjungpriok, Papua hingga sepanjang Mei
> 1998?  
> 
> Pendekatan militeristik dalam menghadapi ketidakpuasan rakyat adalah
> cara-cara lama yang sudah tidak patut dipertahankan. Kekerasan di
> Papua, misalnya, tidak akan pernah berakhir selama negara masih
> menggunakan pendekatan-pendekatan keamanan yang militeristik. Demo
> sedikit ditangkapi, unjuk rasa sedikit digebuki. 
> 
> Kita tidak bisa lagi menghadapi ketidakpuasan rakyat dengan cara-cara
> militeristik supaya tidak menjadi Belanda di zaman sekarang. Tuduhan
> bahwa pembangkangan rakyat itu disusupi kepentingan asing, misalnya,
> membuat Indonesia tidak awas terhadap malpraktik nasionalisme yang
> sudah dilakukan bertahun-tahun lamanya. Jangan lupa, para aktivis
> pergerakan di zaman dulu pun dituduh disusupi kekuatan asing oleh
> Belanda: dari susupan pihak komunis Sovyet sampai susupan gerakan
> Pan-Islamisme.
> 
> Dan pendekatan militeristik mulai lagi dipakai untuk menghadapi
> persoalan-persoalan yang terjadi. 
> 
> Menurut laporan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), sepanjang 2015
> terdapat korban tewas lima orang, tertembak aparat 39, luka-luka 124
> dan ditahan (kriminalisasi) 278 orang. Dua tahun sebelumnya, masih
> merujuk laporan KPA, korban tewas oleh aparat negara dalam konflik
> agraria bahkan mencapai 21 orang. Korban lain, 30 orang tertembak,
> 130 mengalami penganiayaan dan 239 warga ditahan. Pada 2013, di Jawa
> Timur saja, Dewan Pimpinan Nasional Relawan Perjuangan Demokrasi
> (DPN-Repdem) menyebutkan bahwa ada 25 konflik agraria yang melibatkan
> militer. Ini belum menyebut konflik di Urut Sewu dan tempat-tempat
> lain di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua.
> 
> Biarlah TNI bekerja secara profesional mengurusi bidang pertahanan
> sebagaimana diamanatkan oleh reformasi. Mengutip Made Supriatma,
> tugas pemimpin sipil adalah menjamin tentara melakukan fungsi
> kemiliteran sebaik-baiknya, dan memberikan dana yang cukup untuk itu.
> Tugas sipil membangun sistem politik dan ekonomi yang membuat tentara
> tumbuh dan berkembang sebagai tentara. Pekerjaan rumah TNI untuk
> mereformasi dirinya dalam sistem demokrasi masih belum tuntas.
> Janganlah TNI digoda untuk kembali ke zaman pra-1998.
> 
> Jika kemarin (4/10/2016) Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo,
> mengatakan bahwa TNI ingin kembali memiliki hak-hak politik
> (sebagaimana dwi-fungsi ABRI di zaman dulu?), itu bukan sesuatu yang
> tiba-tiba. Kita harus meletakannya sebagai dampak dari
> tumbuh-kembangnya atmosfer pendekatan militeristik yang dilakukan
> oleh pemimpin-pemimpin sipil yang kembali menggejala belakangan ini.
> 
> Jika untuk menggusur kaum miskin kota, mengusir para petani, sampai
> menjadi pembina upacara pun sampai harus mengandalkan tentara, apa
> bedanya zaman sekarang ketika pemimpin (dari pusat dan daerah)
> dipilih langsung oleh rakyat dengan zaman ketika pemimpin dipilih
> oleh MPR dan DPRD yang masih diisi Fraksi ABRI?  
> 
> Anda semua menjadi pemimpin, dari presiden hingga gubernur, bupati
> dan walikota, karena berkah reformasi yang (salah satunya) dilatari
> semangat memperkuat kehidupan dan kepemimpinan sipil serta
> mengembalikan tentara ke barak agar lebih profesional mengurusi
> bidang pertahanan.  Bukan malah mengundang dan menggoda tentara untuk
> kembali mencampuri kehidupan sipil dengan beragam agenda, tajuk dan
> label. Ataukah tuan dan puan sekalian sudah lupa? 
> 
> *) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera,
> tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id. 

Kirim email ke