Selain itu diberitakan, dalam riset yang dilakukan Campaign Asia, tidak ada satu pun merek RRT yang terpilih dalam daftar 100 merek terbesar dunia, Baidu dari RRT, Tencent, dan juga Alibaba, tidak ada satu pun masuk dalam daftar tersebut. Apa penyebabnya?Penyebabnya sangat sederhana, merek internet asal RRT ini walau sebenarnya tumbuh kembang di tengah himpitan PKT, tapi juga tumbuh di bawah naungan PKT dan diskriminasi negara terhadap perusahaan internet asing, tumbuh besar di dalam ruangan rumah kaca yang abnormal....http://erabaru.net/2016/10/05/tiongkok-negara-pengekspor-terbesar-tapi-tak-miliki-merek-internasional-1/
Tiongkok, Negara Pengekspor Terbesar Tapi Tak Punya Merek Internasional (1) By Erabaru - 05/10/2016 RRT sebagai negara pengekspor terbesar di dunia tapi tidak memiliki merek internasional, karena tidak ada kaitan langsung antara besarnya nilai ekspor dengan pembentukan suatu merek internasional. Foto adalah beberapa merek produk makanan dan komoditi terbesar di AS. (Internet)Oleh: DR. Frank Tian, XieVoA (Voice of America) baru-baru ini mewartakan, produk bikinan RRT membanjiri seluruh dunia, tapi kesenjangan merek RRT sendiri masih terlalu jauh. Beberapa hari lalu juga ada reporter media massa menanyakan, RRT adalah negara pengekspor terbesar dunia, tapi mengapa tidak ada satu pun perusahaan RRT yang masuk dalam kategori 100 besar merek Asia, juga tidak memiliki suatu merek internasional yang terkenal?Sebenarnya pertanyaan ini bisa dilontarkan begini, mengapa negara pengekspor terbesar dunia, harus memiliki sejumlah merek bertaraf internasional?Pertanyaan ini memang patut direnungkan, tapi di balik pertanyaan tersebut sebenarnya ada suatu asumsi, yakni sebuah negara pengekspor besar sepertinya ditakdirkan memiliki beberapa merek internasional yang terkenal.Faktanya, kondisinya tidak seperti itu. Nilai ekspor seluruh dunia adalah sekitar USD 18 trilyun (232.667 triliun rupiah) per tahun, atau setara dengan PNB Amerika Serikat dalam setahun. Jika kita melihat 10 besar atau 20 besar negara pengekspor dunia, tentunya banyak negara yang memiliki banyak merek bertaraf internasional, seperti AS, Jerman, Jepang, Korea Selatan, Prancis, Inggris, Italia, dan lain-lain.Tetapi negara lainnya yang termasuk di dalam daftar tersebut, termasuk RRT, Belanda, Kanada, Brazil, Belgia, Meksiko, bahkan Singapura, Rusia, UAE dan lain-lain, nilai ekspor mereka tidak bisa dikatakan kecil, setiap negara tersebut mengekspor sekitar USD 300 milyar (3.877 triliun rupiah) lebih. Dalam hal rata-rata ekspor per kapita bahkan jauh melampaui RRT (nilai ekspor RRT memang yang terbesar di dunia, namun secara ekspor per kapita relatif sangat kecil), tapi negara-negara ini tidak memiliki banyak merek internasional.Sebagai contoh, RRT sebagai negara pengekspor garmen terbesar di dunia, Hongkong di posisi kedua, Italia di posisi ketiga. Tapi ekspor busana Italia yang cukup mencengangkan dalam hal jumlah, namun jika dilihat dari harga per potong setiap busananya, akan lebih mengejutkan lagi. Tidak ada alasan lain, karena busana Italia adalah produk untuk merek dan segmen papan atas. Sedangkan RRT mengambil jalur produk murah dan pemrosesan. Coba tebak, siapa pengekspor busana urutan ke-4 dunia?Bangladesh!Adakah orang yang bisa menyebutkan merek busana dari Bangladesh? Mungkin sulit, karena Bangladesh serupa dengan RRT, hanya merupakan pabrik pemroses bagi merek-merek ternama di dunia. India, Turki, dan Vietnam juga masuk dalam daftar 10 besar negara pengekspor busana dunia, tapi mereka pun tidak memiliki merek internasional sendiri.Orang yang membantu memproses atau OEM (Original Equipment Manufacturer) bagi merek orang lain, harus menjahitkan merek orang lain pada baju yang dibuatnya. Seorang pemroses yang ingin mendapatkan kehormatan dari merek tersebut ibarat orang yang bekerja di hotel bintang lima, seperti seorang pekerja di dapur atau pelayan kamar, yang menceritakan pada orang lain bahwa ia ingin membubuhkan namanya pada papan nama hotel, tentu akan menjadi cemoohan dan bahan tertawaan.Tentu saja, bukankah semua orang tahu jika memiliki merek sendiri akan mendapatkan keuntungan terbesar?Ya. Tapi di balik diterimanya suatu merek oleh toko retail, adalah keunggulan merek, nilai merek, kepercayaan terhadap merek, dan strategi suatu merek, yang sama dengan keunggulan jalur distribusi yang kuat, perolehan jalur pemasaran dan strategi pemasaran, serta akumulasi dari iklan dan propagasi selama bertahun-tahun.Staf penghubung pengembangan dan kerjasama dari perusahaan konsultan bernama Web-Presence-In-China bernama Angela Berndt mengatakan, “kurangnya kepercayaan konsumen adalah faktor penyebab tertekannya perkembangan merek retail dan konsumen asal RRT.”Pandangannya memang benar, tapi tidak secara mendalam menelaah lebih lanjut penyebab kurangnya kepercayaan konsumen. Tidak diragukan bahwa konsumen RRT lebih percaya pada produk asal AS, Jepang, dan Korea Selatan, mereka tidak percaya pada merek RRT, karena mereka telah merasakan keluarganya sendiri ditipu, dan dijerumuskan. (sud/whs/rmat)BERSAMBUNG Di RRT, penipuan dan pembodohan rakyat Tiongkok yang paling sistematis, bukan para pengusaha jahat yang jumlahnya jutaan itu, melainkan dalang penghasut yang ada di balik pengusaha yang menyebabkan seluruh negeri saling menipu dan merekayasa, yakni PKT/Partai Komunis Tiongkok.Konsumen RRT lebih antusias memilih produk Jepang, Korsel, dan AS. Mengapa warganegara Tiongkok lebih percaya pada merek internasional? Mengapa negara seperti Jepang dan Korsel yang juga merupakan negara Asia mampu menciptakan merek bertaraf internasional?Ini berarti rakyat Tiongkok sebetulnya mempunyai selera tinggi, mampu membedakan, mulai dari PKT sampai para pengusaha tidak berhati nurani, mereka bisa membohongi rakyat Tiongkok satu kali, atau satu tahun, atau satu generasi, tapi pada akhirnya penipu pasti harus bertanggung jawab atas kerugian yang timbul akibat ketidak jujurannya sendiri.Selain itu diberitakan, dalam riset yang dilakukan Campaign Asia, tidak ada satu pun merek RRT yang terpilih dalam daftar 100 merek terbesar dunia, Baidu dari RRT, Tencent, dan juga Alibaba, tidak ada satu pun masuk dalam daftar tersebut. Apa penyebabnya?Penyebabnya sangat sederhana, merek internet asal RRT ini walau sebenarnya tumbuh kembang di tengah himpitan PKT, tapi juga tumbuh di bawah naungan PKT dan diskriminasi negara terhadap perusahaan internet asing, tumbuh besar di dalam ruangan rumah kaca yang abnormal.PKT tidak mengijinkan perusahaan internet asing masuk ke RRT, atau sebaliknya membuat berbagai pembatasan untuk menghambat perkembangan mereka, yang sebenarnya telah menipu perusahaan internet RRT sendiri. Karena mereka tumbuh di dalam rumah kaca, tidak bisa memiliki daya saing yang kuat untuk berkompetisi dengan dunia luar, hanya berpengaruh di RRT tapi tak bisa melangkah keluar dari gerbang negaranya, dengan sendirinya tak mudah untuk bisa menjadi 100 merek terbesar Asia.Ada beberapa BUMN di RRT yang memiliki merek yang cukup berpengaruh di dunia internasional, tapi yang disayangkan adalah, merek-merek ini terkait dengan aset negara, monopoli dan kroni kapitalisme. Problem citra RRT di dunia Barat, terutama masalah citra PKT di Barat, telah berdampak buruk terhadap merek dari RRT.Penyebabnya adalah masyarakat normal di negara Barat memiliki kecurigaan yang amat sangat dan menolak segala yang berbau pemerintah, keunggulan merek-merek pemerintah ini sangat sulit dialihkan menjadi perusahaan milik swasta. Seperti beberapa penulis laporan ini mengemukakan, citra negatif PKT yang selalu intervensi terhadap peralatan telekomunikasi dan produksi peralatan lainnya, telah menghambat banyak perusahaan RRT mengembangkan sayapnya ke negara lain (termasuk ke AS), ini benar-benar mengangkat batu menimpa kaki sendiri.Hal yang dibutuhkan perusahaan RRT adalah wawasan internasional yang luas, dan strategi pemasaran yang mendalam, serta strategi jangka panjang untuk membentuk citra merek. Yang terutama dibutuhkan adalah, sebuah pemerintahan yang tidak campur tangan terhadap kinerja mereka di dunia.Tapi saat ini kedua hal ini sangat sulit terwujud di RRT. Hal yang pertama tadi mutlak dibutuhkan atmosfir kebebasan, lingkungan yang bebas, dan tekad yang tidak dikekang. Sedangkan yang kedua, kecuali pemerintah PKT mengendur dan melepaskan kekuasaannya, bahkan mencerai beraikan PKT, karena untuk menjadikan seluruh negeri Tiongkok menjadi “zona ekonomi eksklusif” yang benar-benar merupakan zona perdagangan bebas, dan tidak semata-mata terbatas hanya di Zhuhai dan Shenzhen saja, maka merek Tiongkok mungkin akan bisa segera masuk ke pasar dunia. Dan baru akan ada kemungkinan di negara pengekspor terbesar dunia ini perlahan akan muncul suatu merek internasional. (sud/whs/rmat)TAMAT
