http://www.antaranews.com/berita/588811/praktik-penggandaan-uang-di-samarinda-berlangsung-lama
*Praktik penggandaan uang di Samarinda
*
*berlangsung lama*
Kamis, 6 Oktober 2016 22:51 WIB | 2.441 Views
Pewarta: Amirullah
Praktik penggandaan uang di Samarinda berlangsung lama
MUI (ANTARA )
Samarinda (ANTARA News) - Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Samarinda,
Kalimantan Timur, KH Zaini Naim mengungkapan praktik penggandaan uang
berkedok agama di wilayah setempat sudah berlangsung sejak lama.
"Sebenarnya, penggandaan uang seperti kasus Dimas Kanjeng Taat Pribadi
di Samarinda sudah setahun lalu saya mendapat laporan. Bahkan dari
pantauan saya, hal seperti itu ada di tiga kecamatan, yakni Kecamatan
Sambutan, Samarinda Utara dan Sungai Kunjang," kata Zaini Naim ketika
dihubungi Antara di Samarinda, Kamis.
Tahun 2015, lanjut Zaini, seorang warga Sambutan mengaku tertipu oleh
seseorang yang mengaku sebagai ustad di Jawa Timur yang bisa
menggandakan uang.
"Warga itu mengaku jika menyetor uang Rp2,5 juta akan berlipat ganda
sekaligus bisa melihat Tuhan. Tetapi, setelah menunggu, uang yang
disetor tidak kembali dan juga tidak ketemu Tuhan. Jadi, saya katakan
praktik agama yang ujung-ujungnya meminta uang adalah penipuan," kata Zaini.
Ia juga mengungkapkan sekitar lima tahun lalu pernah mendapat laporan
terkait kasus penipuan dengan modus penggandaan uang yang dilakukan oleh
seseorang mengaku kyai.
Warga diminta menaruh uang di dalam sebuah kotak yang dimasukkan bersama
baju orang kaya, kemudian tidak diperbolehkan dibuka dalam jangka waktu
tertentu.
Namun, saat kotak itu dibuka 10 hari kemudian, uang tersebut raib.
"Lima tahun lalu, saya mendapat laporan bahwa di Kecamatan Samarinda
Seberang ada seorang kyai yang mengaku mampu menggandakan uang. Warga
ada yang tertipu Rp5 juta sampai Rp10 juta. Jadi, modus-modus
penggandaan uang seperti yang dilakukan Dimas Kanjeng Taat Pribadi
tersebut sudah lama ada di Samarinda," ujarnya.
"Namun, apakah kasus tersebut ada hubungannya dengan praktik yang
dilakukan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, itu yang belum saya tahu," ucap
Zaini Naim.
MUI Samarinda mengimbau masyarakat tidak mudah tertipu dengan penampilan
seseorang yang mengaku sebagai ustad maupun kyai, tetapi meminta
sejumlah uang untuk kegiatan tertentu.
"Kalau persoalan agama, apakah itu ustad maupun kyai merupakan orang
yang membawa nilai-nilai agama dan dilakukan dengan penuh keikhlasan,
bukan ujung-ujungya duit, apalagi seks," tuturnya.
Jika ingin belajar agama, lanjutnya, masyarakat harus melihat secara
jeli kualitas keagamaan seorang ustad ataupun kyai, dengan melihat apa
yang diajarkan, menggunakan media apa serta apa motivasinya.
"Jadi, jika agamanya sudah baik, medianya betul, niatnya ikhlas tetapi
orangnya tidak benar, semisal mengaji saja tidak bisa, shalat tidak
bisa, itu jangan diikuti," jelasnya.
"Atau ustadnya baik, tapi medinya tidak benar. Misalnya, memakai media
burung kemudian disembelih dan daranhnya diambil, berarti media yang
digunakan tidak betul karena itu najis. Ada juga ustadnya baik, medianya
betul, doanya betul tapi niatnya atau motivasinya selain Lillahi Taala,
ustad ataupun kyai yang seperti itu jangan ikut," kata Zaini Naim.
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016