http://www.cnnindonesia.com/nasional/20161007074848-12-163870/ribuan-anak-eks-gafatar-terancam-tak-sekolah/
 
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20161007074848-12-163870/ribuan-anak-eks-gafatar-terancam-tak-sekolah/

  
 Ribuan Anak Eks Gafatar Terancam Tak Sekolah Hanna Azarya Samosir, CNN 
Indonesia
 Jumat, 07/10/2016 07:48 WIB
 
 Sebarkan:  
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20161007074848-12-163870/ribuan-anak-eks-gafatar-terancam-tak-sekolah/#
  
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20161007074848-12-163870/ribuan-anak-eks-gafatar-terancam-tak-sekolah/#
  
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20161007074848-12-163870/ribuan-anak-eks-gafatar-terancam-tak-sekolah/#
 
 Bekas anggota Gafatar memeluk anaknya saat dipulangkan ke daerah asalnya dari 
Pontianak, Kalimantan Barat pada Januari lalu. (ANTARA FOTO/Jessica Helena 
Wuysang)
 
 Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak 3.583 anak eks-Gafatar terancam tak 
mendapatkan hak mereka sebagai anak, akibat dicap buruk oleh warga di sekitar 
tempat tinggal mereka. Sebagian dari anak-anak tersebut bahkan ditolak saat 
hendak bersekolah di dekat tempat tinggal mereka. 

Hal itu diungkapkan oleh perwakilan dari Koalisi Advokasi Hak Anak Indonesia 
(KAHAI) Ilma Sovri Yanti saat melakukan mediasi dengan Direktur Rehabilitasi 
Sosial Anak dari Kementerian Sosial Republik Indonesia Nahar, Kamis (6/10), di 
Jakarta.

Ribuan anak itu merupakan bagian dari 8.187 warga eks-Gafatar yang diusir dari 
Kalimantan Barat pada Februari lalu. 

"Mereka (anak-anak eks-Gafatar) banyak yang ditolak dari sekolah setempat 
karena stigma negatif," kata Ilma. 

Ilma kemudian memperkenalkan salah satu ibu eks-Gafatar, Parmi, yang mengaku 
khawatir dengan proses tumbuh kembang anaknya. Setibanya di daerah asalnya di 
Tangerang, banyak penduduk sekitar yang mencibir ketika bertemu anaknya.

"Mereka tunjuk anak saya, 'Kamu enggak sekolah? Kamu Gafatar ya? Dasar kamu 
sesat!' " ujar Parmi menirukan tuduhan warga sekitar.

Untuk menghindari penolakan terhadap anaknya, Parmi mengaku memilih untuk 
mengajarkan sendiri pelajaran sekolah kepada anaknya di rumah.
 Lihat juga:Pemerintah Tak Tuntas Lindungi Penganut Agama Minoritas 
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160405192156-20-121936/pemerintah-tak-tuntas-lindungi-penganut-agama-minoritas/
Parmi tak memiliki latar belakang sebagai pengajar. Ia mengaku hanya 
mengandalkan Internet untuk mempelajari metode pembelajaran dan pendidikan. 

Parmi juga membeli buku berbekal uang hasil jerih payah suaminya yang bekerja 
sebagai kuli panggul. Hingga akhirnya pada satu titik, Parmi memberanikan diri 
untuk mengajak putranya ke tempat les yang sering dikunjungi oleh anak-anak 
sekitar kontrakannya. 
 

 "Saya selalu ajarkan anak saya untuk sopan. Senangnya, sekarang mereka semua 
tahu bahwa anak saya itu anak baik-baik. Jadi pelan-pelan kami bisa buktikan," 
tutur Parmi.

Namun, Parmi menganggap dirinya hanyalah segelintir orang yang beruntung karena 
pemerintah daerah dapat mengayomi warga dengan baik. 

Ida Zubaidah, warga eks-Gafatar asal Bogor, menuturkan kisah yang lebih tragis 
mengenai sahabatnya sesama eks-Gafatar yang kini tinggal di Majalengka, Jawa 
Barat.

Dicap Teroris

Sebelum tiba di tempat tinggal asalnya masing-masing, Ida dan sahabatnya yang 
tak mau diungkap identitasnya ini sempat ditampung di dinas sosial di beberapa 
daerah. 

Saat tiba di Cimahi, Jawa Barat, anak dari sahabatnya ini diperiksa dan diambil 
datanya untuk pengarsipan dinas sosial. Mereka difoto dengan posisi tegak 
sambil memegang karton polos.

Keluarga sahabat Ida itu terkejut ketika tiba-tiba, warga sekitar mendatangi 
rumah sementara mereka dan berteriak, "Anak kamu itu teroris! Kamu tidak boleh 
tinggal di sini!"

Para warga itu membawa secarik kertas yang menunjukkan foto anaknya memakai 
baju oranye dan memegang papan bertuliskan "Teroris".

"Mereka memodifikasi fotonya. Bajunya waktu difoto pertama kali itu ya baju 
biasa, tapi tiba-tiba jadi oranye. Papannya juga tadinya kosong, tapi jadi ada 
tulisan teroris," tutur Ida.

 Lihat juga:Kejaksaan Agung Umumkan SKB Soal Pelarangan Gafatar Hari Ini 
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160318102638-12-118223/kejaksaan-agung-umumkan-skb-soal-pelarangan-gafatar-hari-ini/
 Menurut seorang eks-Gafatar yang kini tergabung dalam KAHAI, Faldiaz Bachtiar, 
masih banyak bentuk ketidakadilan lain yang menimpa anak-anak tersebut sehingga 
hak-hak mereka tak terpenuhi sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 
tentang Perlindungan Anak.

"Masih banyak yang lainnya juga. Dalam perjalanan dari Kalimantan dengan 
kendaraan dan cuaca yang tidak mendukung, banyak anak sakit dan tidak mendapat 
penanggulangan baik. Ada pula yang mendapat trauma psikologi parah," katanya.

Menanggapi segala keluhan ini, Nahar mewakili Kementerian Sosial meminta KAHAI 
untuk menyusun data anak-anak eks-Gafatar dengan rapi sehingga pemerintah dapat 
memetakan solusinya dengan baik.

"Data ini kan masih tersebar. Saya ingin teman-teman susun setidaknya 
mengandung empat unsur, yaitu identifikasi masalah, identitasnya, lokasinya di 
mana, dan penanganan yang dibutuhkan apa agar kami dapat segera berkoordinasi 
dengan instansi-instansi terkait," kata Nahar.


(asa)

 

Kirim email ke