Dari Dokumen Simpanan: YTTaher:
Inilah Penjelasan Bahwa Sesungguhnya Muslim
Boleh Pilih Ahok
Senin,
14 Maret 2016
<http://www.sadarkanlah.com/2016/03/inilah-penjelasan-bahwa-sesungguhnya.html>
berita <http://www.sadarkanlah.com/search/label/berita> ,
islami <http://www.sadarkanlah.com/search/label/islami>
Artikel ini Dikutip dari
tulisan Adrianto Idea
“Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi
pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian
yang
lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka
sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah
tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” ( Al Quran surah Al
Maidah 51)
Ayat di atas sedang menjadi populer sekarang. Ayat itu selalu populer
ketika
menjelang pemilu. Dalam hal pilkada DKI yang salah satu calon kuatnya
adalah
Nasrani, ayat ini menjadi semakin kuat lagi bergema.
Akan tetapi apakah ayat ini mengenai pemilu? Apakah ini ayat mengenai
pemilihan
gubernur? Menurut saya bukan.
Sejarah Islam tidak pernah mengenal adanya pemilu atau pemilihan umum.
Juga
tidak pernah ada pemilihan gubernur atau kepala daerah. Satu-satunya
pemilihan
yang pernah terjadi adalah pemilihan khalifah. Itu pun hanya 5 kali, dan
hanya
melibatkan sekelompok orang yang tinggal di Madinah. Gubernur khususnya
adalah
pejabat yang ditunjuk oleh khalifah. Tak pernah dipilih.
Jadi sebenarnya ayat ini tentang apa? Wali atau awliya itu soal pemimpin
wilayah
atau daerahkah? Bukan. Bagaimana mungkin ada ayat yang mengatur tentang
pemilihan pemimpin, padahal pemilihan itu tidak pernah terjadi?
Jadi, apakah yang dimaksud? Apa makna wali atau awliya? Wali artinya
pelindung,
atau sekutu. Ketika Nabi ditekan di Mekah, beliau menyuruh kaum muslimin
hijrah
ke Habasyah (Ethopia).
Rajanya yang seorang Nasrani, menerima orang-orang yang hijrah itu,
melindungi
mereka dari kejaran Quraisy Mekah. Inilah yang disebut wali, orang yang
melindungi. Kejadian ini direkam dalam surat Al-Maidah juga, ayat 82
yang
Artinya:
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya
terhadap
orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang
musyrik. Dan
sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan
orang-orang
yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini
orang
Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu
(orang-orang
Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena
sesungguhnya
mereka tidak menymbongkan diri. (5: 82)
Berdasarkan berbagai riwayat sejarah, pada tahun ke 5 pengangkatan Nabi
Muhammad Saw, sekelompok kaum Muslimin melakukan hijrah dari Mekah ke
Habasyah
untuk menyelamatkan akidah dan jiwa mereka dari siksaan kaum Musyrikin.
Najasyi, Raja Habasyah saat itu adalah pemeluk Kristen yang taat. Karena
itu
raja menyambut kedatangan kaum Muslimin tersebut dengan hangat dan tidak
bersedia menyerahkan mereka kepada wakil orang-orang Musyrik Mekah.
Selain itu, ketika melihat Raja Najasyi menangis saat mendengarkan
ayat-ayat
suci al-Quran yang dibacakan oleh Jakfar bin Abi Thalib as selaku ketua
rombongan, para pendeta akhirnya juga ikut mendukung dan melindungi umat
Islam.
Adapun ayat 51 yang melarang orang menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai
pelindung itu adalah soal persekutuan dalam perang. Tidak ada sama
sekali
kaitannya dengan pemilihan pemimpin. Ini sudah pernah saya bahas, dan
juga
dibahas banyak orang.
Pagi ini, bangun tidur saya menyaksikan berita pilu. Orang-orang Arab
dari
Syiria dan Irak masih terus mengungsi. Ke mana kah mereka mengungsi? Ke
Eropa.
Siapa orang-orang Eropa itu? Muslimkah mereka? Sebagian besar tidak.
Kebanyakan dari mereka, orang-orang Eropa itu, adalah Nasrani, atau
atheis
(musyrik). Tapi kini mereka menjadi pelindung bagi orang-orang muslim,
persis
seperti ketika kaum muslim hijrah ke Habasyah.
Jadi, cobalah orang-orang yang rajin melafalkan ayat Al-Maidah 51 itu
berkhotbah kepada para pengungsi itu. Katakan kepada mereka bahwa
meminta perlindungan
kepada Nasrani, menjadikan mereka wali atau awliya itu haram hukumnya.
Bisakah?
Ironisnya, dari siapa mereka lari? Apakah dari kaum kafir? Bukan.
Mereka justru lari karena ditindas oleh pemimpin-pemimpin mereka
sendiri, kaum
muslim. Kaum muslim yang berebut kekuasaan. Utamanya Sunni melawan
Syiah.
Tahukah Anda bahwa bibit konflik Sunni-Syiah itu sudah terbentuk sejak
Rasul
wafat? Ketika orang-orang mulai kasak-kusuk untuk mencari siapa yang
akan jadi
khalifah, padahal jenazah Rasul belum lagi diurus. Permusuhan itu abadi,
mengalirkan darah jutaan kaum muslimin sepanjang sejarah ribuan tahun,
kekal
hingga kini.
Tidakkah kita sebagai kaum muslim malu ketika saudara-saudara kita
dizalimi
oleh saudara kita yang lain, mereka meminta perlindungan kepada kaum
Nasrani
dan kafir?
Tapi pada saat yang sama mulut kita fasih mengucap ayat-ayat yang
memusuhi
orang-orang Nasrani, memelihara permusuhan kepada mereka.
Ingatlah, musuh abadi kita sebenarnya bukan Yahudi dan Nasrani,
melainkan rasa
permusuhan itu sendiri.
Rasa permusuhan itulah yang telah mengalirkan banyak darah kaum
muslimin,
mengalir menjadi kubangan darah sesama saudara. Sesama saudara pun bisa
saling
berbunuhan kalau ada permusuhan di antara mereka. Kenapa mereka
berbunuhan?
Karena Politik & Perebutan kekuasaan.
Itulah yang sedang dilakukan banyak orang dengan Al-Maidah ayat 51.
Berebut
kekuasaan politik dengan mengobarkan permusuhan.
Mereka sedang mengabadikan kebodohan yang sudah berlangsung 15 abad.
Anda mau menjadi bagian dari kebodohan itu? Saya tidak. Karena saya
tidak mau
menjadi pengungsi seperti orang-orang Irak dan Syiria itu.
#sudutpandanglain
Sumber: Artikel ini Dikutip dari tulisan
Adrianto Idea
------ Original Message ------
From: "Marco 45665 [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]>
To: "Yahoo! Inc." <[email protected]>; "Sunny"
<[email protected]>; "Chalik Hammid" <[email protected]>;
"RKB" <[email protected]>; "GELORA_In"
<[email protected]>; "'Chan CT' [email protected]"
<[email protected]>
Sent: Saturday, 8 Oct, 2016 At 12:21 PM
Subject: [GELORA45] Re: [nasional-list] Ustaz Arifin Ilham: Haram
Memilih Pemimpin Kafir
Ustaz Arifin Ilham: Haram Memilih Pemimpin Kafir ( ...maka jangalah
suka tiru2 saya sampai mengorbankan diri dan berusaha jadi Ustad dan
Pemimpin yang Kafir .... )
2016-10-07 23:46 GMT+02:00 'Sunny' [email protected]
<mailto:[email protected]> [nasional-list] <[email protected]
<mailto:[email protected]> >:
Kafir-kafir jangan melelah diri untuk menjadi pemimpin, sebab kamu
tidak akan dipilih di negara neo-Mojophit .
http://www.suara-islam.com/read/index/19039/Ustaz-Arifin-Ilham--Haram-Memilih-Pemimpin-Kafir
<http://www.suara-islam.com/read/index/19039/Ustaz-Arifin-Ilham--Haram-Memilih-Pemimpin-Kafir>
Ustaz Arifin Ilham: Haram Memilih Pemimpin Kafir
Senin, 18/07/2016 16:53:01 | Dibaca : 28383
Facebook Twitter Gplus
Pimpinan Majelis Az Zikra, KH. Muhammad Arifin Ilham
Assalaamu alaikum wa rahmatullahi wa barkaatuhu.
Subhanallah sahabatku, Islam adalah agama sempurna yang mencakup semua
aspek kehidupan, hatta apalagi kepemimpinan. Dari sederhana masuk kamar
mandi sampai apalagi kepemimpinan.
Memisahkan Islam dengan kepemimpinan adalah kebodohan, tidak paham
ajaran Islam. Islam tidak bisa dipisahkan dengan politik kekuasaan.
Nabi Ibrahim diutus Allah untuk menghadapi rezim berhala Namrudz, Nabi
Musa diutus Allah menghadapi rezim pembantai bayi Firaun, dan Nabi
Muhammad diutus Allah untuk menghadapi para kuffar jahiliyyah.
Dengan takluknya kepemimpinan kuffar jahiliyyah maka umat manusia
beriman "bertasbih kepada Allah, dan banyak mengingat Allah" (QS Thoha
33-34), agar umat hidup dalam petunjuk Allah, dalam kemuliaan Islam,
dalam keberkahan takwa. Bahagia dalam syariat dan sunnah Rasulullah (QS
Al A'rof 96).
Karena itu Islam sangat memperhatikan kepemimpinan dengan syarat dan
kreteria yang sangat jelas yaitu mengutamakan keimanan dan ketakwaan.
"...bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shalih" (QS Al
Anbiya 105).
Karena itu haram, memilih pemimpin kafir, bacalah dengan iman! Kalam
Allah ini, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil
orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin/pelindung) dengan meninggalkan
orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi
Allah (untuk menyiksamu)?" (QS An Nisa 144).
"Hai orang-orang yg beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu,
orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan,
(yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan
orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada
Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman" (QS Al Maidah
57).
Rasulullah bersabda kepada ka’ab bin ujrah: mudah-mudahan Allah
melindungimu dari para pemimpin yang jahil. Ka’ab bin ujzah bertanya:
apa yang dimaksud dengan pemimpin yang jahil wahai Rasulullah? Beliau
menjawab: "mereka adalah para pemimpin yang hidup sepeninggalku. Mereka
tidak beriman pada petunjuk Allah, dan mereka tidak mengikuti sunnahku"
(HR Ahmad).
Ingat setiap mukmin apalagi juru dakwah wajib menyampaikan dalil yang
benar berdasar Alquran dan Sunnah.
Allahumma ya Allah berkahilah negeri kami dengan Engkau hadirkan untuk
kami pemimpin yang sangat takut kepadaMu, dan mengajak kami takut
kepadaMu, pemimpin teladan, cerdas, jujur, amanah, yang sungguh sungguh
mencintai kami sebagai rakyatnya, dan mengajak kami hidup bahagia dalam
SyariatMu dan Sunnah NabiMu Muhammad shollallahu alaihi
wasallam....aamiin.
(Ustaz Muhammad Arifin Ilham)