http://mediaindonesia.com/news/read/71020/indonesia-alami-skizofrenia-kultural/2016-10-09

Indonesia Alami Skizofrenia Kultural

Ahad, 9 October 2016 08:35 WIB Penulis: Puput Mutiara 
 
Antara/Umarul Faruq

KASUS penggandaan uang yang dilakukan Taat Pribadi, pemilik dan pemimpin 
Pedepokan Dimas Kanjeng, merupakan pertanda masyarakat Indonesia sedang 
mengalami skizofrenia kultural.

Istilah gangguan mental yang umumnya melekat pada kesehatan, rupayanya juga 
terjadi di lingkungan sosial-budaya.

Budayawan Radhar Panca Dahana mengatakan fenomena semacam itu bukanlah hal baru 
di Tanah Air.

Dalam satu abad terakhir, kondisinya kian memprihatinkan lantaran sistem 
pendidikan yang diterapkan bersifat kontinental dengan mengutamakan akal.

“Di Eropa, mereka sepenuhnya berpikir pakai akal. Kalau kita, enggak. Selain 
kesadaran akal, ada juga kesadaran mental, spiritual, dan psikis. Kadang-kadang 
ini yang enggak sejalan, akhirnya menimbulkan ilusi,” ujar Radar saat dihubungi 
Media Indonesia, Jumat (6/10).

Padahal, menurut Radhar, etika dan pemikiran dasar seseorang tidak bisa 
dikacaukan melalui kehadiran pemahaman baru yang datangnya justru dari 
pendidikan.
“Seharusnya, pemerintah dapat mengintegrasikan antara pendidikan kontinental 
dengan ajaran primordial nenek moyang,” sarannya.

Sosiolog Imam B Prasodjo menanggapi kasus Dimas Kanjeng ini disebabkan dua 
faktor. Pertama, kentalnya kepercayaan terhadap hal irasional. Kedua, 
kecenderungan orang untuk mencari jalan pintas saat mengalami ketidakberdayaan 
dalam hidup sehari-hari. “Kita ini masih dalam masa transisi antara irasional 
dan rasional,” ucap Imam.

Kasus Taat Pribadi ini juga mendapat sorotan dari Ikatan Pesantren Indonesia 
(IPI). Lembaga tersebut sempat menggelar pertemuan dengan pengurus pesantren di 
Jawa Timur untuk mengevaluasi dan meneguhkan kembali tradisi pesantren.

“Kami sangat prihatin dan menyayangkan kejadian ini. Janganlah agama dijadikan 
tameng atau kedok untuk kegiatan yang meresahkan umat,” tegas KH Ahmad Zaini, 
Ketua Umum IPI, kemarin. Menurutnya Pedepokan Dimas Kanjeng bukan pesan­tren. 

Kirim email ke