Islam Nusantara itu yang bagaimana ataukah yang dimaksudkan diadakan revisi 
wahyu Al Quran?

From: mailto:[email protected] 
Sent: Monday, October 10, 2016 4:28 AM
To: undisclosed-recipients:
Subject: [ppiindia] Dari Arab Ke Islam Nusantara

  

Dari Arab Ke Islam Nusantara

Oleh: Nasaruddin Umar


ADAT bersendi Syara' dan Syara' bersendi Kitabullah adalah monumen akulturasi 
Islam dan adat istiadat lokal Nusantara. Keduanya saling mendukung satu sama 
lain. Monumen budaya inilah melahirkan peradaban Indo­nesia yang saat ini 
menjadi penyelamat wajah Islam. Banyak pengamat me­nilai bahwa seandainya tidak 
ada "Islam Indo­nesia" maka dunia akan menyimpulkan agama Islam adalah agama 
kekerasan, bahkan agama teroris. Akan tetapi kesimpulan ini menjadi tidak 
relevan dengan hadirnya Islam Indonesia yang menampilkan diri sebagai negara 
berpenduduk muslim terbesar di dunia, seperlima dari total penduduk dunia 
Islam, yang menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM), toleransi beragama, 
demokrasi, kesetaraan jender, pertumbuhan ekonominya mengesankan, hanya tiga 
negara muslim masuk di dalam negara G20, yaitu In­donnesia, Turki, dan Saudi 
Arabia. Indonesia terlibat aktif di dalam upaya rekonsiliasi nega­ra-negara 
yang sedang berkonflik, menggagas beberapa konsep nilai-nilai universal untuk 
ke­maslahatan dunia, seperti penyehatan lingkun­gan hidup dan lingkungan alam. 


Wajah moderat Islam Nusantara bukan han­ya mengesankan Indonesia sebagai negara 
damai dan sejahtera, tetapi juga sekaligus me­nyelamatkan wajah Islam dari 
citra negatif yang dimunculkan oleh sekelompok kecil umat Is­lam yang 
emosional. Banyak kalangan mem­bayangkan bahwa negara Timur Tengah sudah 
selesai tugasnya melahirkan Islam tetapi tu­gas pembinaan selanjutnya di tangan 
Indonsia. Negeri yang menduduki posisi strategis secara geografis dan 
geopolitik ini berpotensi menjadi kiblat peradaban dunia Islam di masa depan. 


Para pemikir Islam Indonesia sejak semu­la berasumsi bahwa antara ajaran Islam 
tidak identik dengan budaya Arab. Islam dan perang­kat ajarannya tidak harus 
identik dengan bu­daya Arab. Tidak seorang pun bisa mengklaim bahwa Islam harus 
identik dengan tradisi dan budaya Arab. Dengan kata lain, ajaran Islam dan 
budaya Arab tidak identik. Tradisi dan bu­daya Arab kebetulan merupakan lokus 
pertama yang menjemput kelahiran Islam. Kita bisa tetap menjadi bangsa 
Indonesia tetapi pada saat ber­samaan bisa menjadi the best muslim bahkan the 
best muslim society. 


Islamisasi suatu negeri yes, tetapi arabisasi bisa dikatakan no. Namun perlu 
diingat, tra­disi dan budaya Arab juga mengandung nilai-nilai universal 
sebagaimana halnya Indonesia. Tidak masalah jika ada nuansa Arab hadir di dalam 
pelaksanaan ajaran Islam, karena pada saat bersamaan juga banyak nuansa 
Indone­sia melekat di dalam pelaksanaan ajaran Islam. Sebagai contoh, tradisi 
Halal bi Halal salah satu produk budaya Islam Indonesia dilaksanakan setiap 
usai bulan puasa, adalah wujud silatur­rahim yang sangat efektif dan kini 
banyak dia­dopsi di negara-negara lain seperti di kawasan Asia Tenggara. 


Sepanjang sebuah tradisi dan budaya tidak bertentangan dengan substansi ajaran 
Islam, maka itu sah saja menjadi "tempat" ajaran Is­lam mengaktualkan dirinya. 
Contoh lain, ajaran Islam menyerukan menutup aurat, tetapi mod­el penutup 
auratnya tidak mesti menggunakan Cadar (tradisi Iran), Abaya (tradisi Syiria), 
hijab atau jilbab (tradisi Arab). Perempuan muslimah Indonesia bisa tetap 
menggunakan model dan pakaian tradisional masing-masing, yang pent­ing 
terpenuhi substansi ajaran Islamnya seba­gai penutup aurat. []



-- 

http://harian-oftheday.blogspot.com/

"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

Kirim email ke