Maulwi Saelan Penjaga Soekarno Terakhir -------------------------------------------------------- Inilah yang mungkin bisa disebut sebagai *bagian Kecil *dari *SEJARAH YANG TERTINGGAL ... as an untold history ........ (mrc) * 2016-10-10 19:46 GMT+02:00 Chalik Hamid [email protected] [nasional-list] <[email protected]>:
> > > > > Pada Senin, 10 Oktober 2016 17:08, "'Chan CT' [email protected] > [nasional-list]" <[email protected]> menulis: > > > > Maulwi Saelan Penjaga Soekarno Terakhir — Asvi Warman Adam dkk > Wednesday, March 12, 2014 > http://hipohan.blogspot.hk/2014/03/maulwi-saelan-penjaga- > soekarno-terakhir.html > > Saat situasi semakin sulit, Soekarno berkata pada Maulwi Saelan, > pengawalnya yang lahir di Makassar, 8/8/1928 ini dengan kalimat; > > *"Saelan percayalah! Saya yakin bahwa nanti sejarah akan mengungkapkan > kebenaran dan siapa yang sebetulnya benar, Soeharto atau Soekarno !".* > > Demikian salah satu tulisan dalam buku ini saat era kekuasaan Soekarno > menjelang akhir, dan kalimat yang terasa kebenarannya kini, karena 32 > tahun kemudian, tepatnya di tahun 1998, pemerintahan Soeharto ambruk dan > cacat demi cacat-nya terbuka hingga kini. > > Apa yang terpikir dengan judul buku ini ? tentunya momen dimana Maulwi > Saelan masih bersama Soekarno, namun nyaris 75% buku justru membahas > biografi Maulwi Saelan. Siapa sih Maulwi Saelan, kebanyakan orang jika > disebut nama Maulwi Saelan pastilah yang diingat salah satu kiper dari team > legendaris Indonesia bersama sama tokoh lainnya seperti Ramang, dll. Namun > mungkin tidak banyak yang tahu, kalau Maulwi Saelan adalah salah satu > anggota Tjakrabirawa, pasukan pengawal presiden Soekarno. Maulwi Saelan > juga sudah bertempur sejak remaja melawan penjajah, dan bukan cuma di > Sulawesi, beliau juga bertempur di Jawa, seperti saat peristiwa Sidobunder. > [image: clip_image001]Lewat buku ini Maulwi Saelan berusaha membersihkan > nama Tjakrabirawa, dan anggota2 nya yang sudah “pergi” duluan, dan dari > buku ini juga kita mengetahui bagaimana Soeharto secara efektif > “menghabisi” lawan-lawan-nya. Untunglah di zaman Megawati, nama Maulwi > Saelan dan Tjakrabirawa seolah kembali dibersihkan, dari tuduhan tak > berdasar. Bahkan Megawati memfasilitasi kunjungan paspampres era baru > secara rutin ke lokasi Maulwi Saelan. Tjakrabirawa yang dibentuk tahun 1962 > untuk mengantisipasi serangkaian percobaan pembunuhan Soekarno sejak > peristiwa penggranatan Soekarno di Cikini 1957, akhirnya “direhabilitasi”. > > Cara buku ini bercerita unik, Maulwi tidak dikisahkan sebagai aku, namun > seakan akan orang ketiga, sehingga kurang mendekatkan diri kita pada sang > tokoh dan perjalanan hidupnya. Juga terlalu banyak materi mengenai sejarah > di masa itu, tanpa memberikan kita persepsi bagaimana cara pandang Maulwi > sendiri. Selain membahas hal hal diatas, juga dibahas karakter AE > Kawilarang, Andi Azis, Sam Ratulangi, Westerling, Kahar Muzakkar, dll > sehingga memberikan kita gambaran mengenai apa yang sebenarnya terjadi > dimasa itu. Dalam buku ini juga disinggung mengenai kekejaman Westerling > dan kroninya saat penjajahan Belanda. Bukan cuma di Sulawesi, kiprah > Westerling di Angkatan Perang Ratu Adil, saat melakukan huru hara di dan > pembantaian Bandung juga bisa kita temukan dam buku ini. > > Hal2 yang diungkap kadang cukup mengagetkan misalnya pembantaian suku > Ambon, alias peristiwa Ambon Moord, yang dianggap sebagai antek-antek KNIL > di Sulawesi Selatan. Namun sebaliknya bagaimana antar suku/agama menjadi > begitu dekat dan menyatu juga terlihat, seperti saat salah seorang anggota > pasukan Maulwi Saelan dari Indonesia timur bernama Fernandez mati-matian > bahu membahu melawan agresi Belanda. Juga dibahas "blunder" Sam Ratulangi > saat tak langsung mengumumkan mandat yang dia dapat sebagai Gubernur > Sulawesi dengan pusat kedudukan di Makassar. Meski didesak banyak orang > termasuk istrinya, Ratulangi memilih jalan diplomasi, karena kuatir > pernyataannya akan membuat pertumpahan darah yang mengorbankan anak anak > Sulawesi. > > Maulwi Saelan, juga mengungkapkan sisi2 menarik, bagaimana sehari hari > Soekarno hanya mengenakan kaos yang sudah sobek di sana sini, meski para > pemimpin dunia menyeganinya. Begitu juga ketidak percayaannya akan tuduhan > penyalah gunaan wewenang dalam hal materi, karena tidak cuma sekali Maulwi > Saelan tahu kesulitan keuangan Soekarno yang sempat minta tolong sana sini. > > > Saelan juga sama sekali tidak yakin keterlibatan Soekarno dalam G30S, > beliau hanya tak ingin Indonesia cerai berai dan runtuh, dan ternyata hal > ini dimanfaatkan pihak2 tertentu. Pernyataan ini sekaligus membantah > cerita versi ajudan presiden Soekarno, Bambang Widjanarko. Saelan juga > menjelaskan arti pidato Soekarno mengenai kutipan *Bhagavad Gita*, > perintah Kresna pada Pandawa yang sama sekali bukan dipicu keinginan untuk > menghukum pengkhianat, namun lebih karena dipicu spanduk salah tulis yang > memang secara kebetulan terpasang di belakang mimbar. Keyakinan Saelan > bahwa Soekarno bersih juga didukung bahwa Ahmad Yani salah satu jendral > korban pembunuhan, merupakan sosok kesayangan Soekarno. > > Namun setelah G30S Soekarno dijauhi dan dikucilkan layaknya penyakit, > seorang perwira Satgas Pomad membentak pengawal Soekarno yang membantu sang > proklamator membuka pintu mobil. Kali yang lain saat di Istana Merdeka, > Soekarno merasa kelaparan, mulai dari minta roti bakar, pisang, sampai nasi > kecap, berturut turut diabaikan pelayan. Saat ke Cimacan, tak ada satupun > penduduk yang mau membukakan pintu. Lalu ketika di Ciawi beliau makan > sate, maka pagi harinya si penjual sate ditangkap petugas Kodim. > > Soeharto yang terus menerus memperkuat kekuasaannya akhirnya membekukan > Tjakrabirawa, yang dianggap sebagai pribadi-pribadi setia pada Soekarno. > Lalu Tjakrabirawa dituduh sebagai penjahat, komunis, dsb. Baik Maulwi > Saelan, Mangil dan Sabur ditahan. Maulwi Saelan yang sempat menjadi Kepala > Staff di Tjakrabirawa dan lalu Wakil Komando Tjakrabirawa sempat > diinterogasi lalu dipenjara. Dalam penjara dengan pintu berlapis serta > sempit, dan kotor Maulwi Saelan terpaksa membuang kotoran di sel-nya > sendiri, serta tidak mendapat makanan yang cukup. Bukan cuma itu gajinya > selama lima tahun dipenjara juga hangus, begitu juga hartanya disita. Tahun > 1972 dia dibebaskan begitu saja di usia 45 tahun, dan dengan susah payah > Maulwi Saelan mengupayakan surat keterangan bebas PKI atau cap ET (eks > Tapol). Untung saja Buya Hamka yang sempat menjadi musuh Soekarno justru > mengangkatnya menjadi anak dan diminta mengurus sekolah Buya Hamka di > Kebayoran Baru yang sekarang kita kenal sebagai Al Azhar Syifa Budi. Hemm > buku yang menarik, dan memberikan sudut pandang baru terhadap sejarah > Indonesia. > > Posted by Husni I. Pohan at Wednesday, March 12, 2014 > > > > >
