Saat situasi semakin sulit, Soekarno berkata pada Maulwi Saelan, pengawalnya 
yang lahir di Makassar, 8/8/1928 ini dengan kalimat;  

"Saelan percayalah! Saya yakin bahwa nanti sejarah akan mengungkapkan kebenaran 
dan siapa yang sebetulnya benar, Soeharto atau Soekarno !". 



From: Marco 45665 [email protected] [GELORA45] 
Sent: Tuesday, October 11, 2016 3:59 AM
To: Yahoo! Inc. ; Chalik Hammid ; GELORA_In ; Sunny ; 
'[email protected]' [email protected] [temu_eropa] ; RKB 
Cc: Yahoo! Inc. ; Jaringan Kerja Indonesia ; Yahoo! Inc. ; DISKUSI FORUM HLD 
Subject: [GELORA45] Re: [nasional-list] Maulwi Saelan Penjaga Soekarno Terakhir

  

Maulwi Saelan Penjaga Soekarno Terakhir
--------------------------------------------------------
Inilah yang mungkin bisa disebut sebagai bagian Kecil dari SEJARAH YANG 
TERTINGGAL ... as an untold history ........ (mrc) 
2016-10-10 19:46 GMT+02:00 Chalik Hamid [email protected] 
[nasional-list] <[email protected]>:

    



  Pada Senin, 10 Oktober 2016 17:08, "'Chan CT' [email protected] 
[nasional-list]" <[email protected]> menulis:




    
  Maulwi Saelan Penjaga Soekarno Terakhir
  — Asvi Warman Adam dkk
  Wednesday, March 12, 2014
  
http://hipohan.blogspot.hk/2014/03/maulwi-saelan-penjaga-soekarno-terakhir.html

  Saat situasi semakin sulit, Soekarno berkata pada Maulwi Saelan, pengawalnya 
yang lahir di Makassar, 8/8/1928 ini dengan kalimat;  

  "Saelan percayalah! Saya yakin bahwa nanti sejarah akan mengungkapkan 
kebenaran dan siapa yang sebetulnya benar, Soeharto atau Soekarno !". 

  Demikian salah satu tulisan dalam buku ini saat era kekuasaan Soekarno 
menjelang akhir, dan kalimat yang terasa kebenarannya kini, karena  32 tahun 
kemudian, tepatnya di tahun 1998, pemerintahan Soeharto ambruk dan cacat demi 
cacat-nya terbuka hingga kini. 

  Apa yang terpikir dengan judul buku ini ? tentunya momen dimana Maulwi Saelan 
masih bersama Soekarno, namun nyaris 75% buku justru membahas biografi Maulwi 
Saelan. Siapa sih Maulwi Saelan, kebanyakan orang jika disebut nama Maulwi 
Saelan pastilah yang diingat salah satu kiper dari team legendaris Indonesia 
bersama sama tokoh lainnya seperti Ramang, dll. Namun mungkin tidak banyak yang 
tahu, kalau Maulwi Saelan adalah salah satu anggota Tjakrabirawa, pasukan 
pengawal presiden Soekarno. Maulwi Saelan juga sudah bertempur sejak remaja 
melawan penjajah, dan bukan cuma di Sulawesi, beliau juga bertempur di Jawa, 
seperti saat peristiwa Sidobunder.
  Lewat buku ini Maulwi Saelan berusaha membersihkan nama Tjakrabirawa, dan 
anggota2 nya yang sudah “pergi” duluan, dan dari buku ini juga kita mengetahui 
bagaimana Soeharto secara efektif  “menghabisi” lawan-lawan-nya. Untunglah di 
zaman Megawati, nama Maulwi Saelan dan Tjakrabirawa  seolah kembali 
dibersihkan, dari tuduhan tak berdasar. Bahkan Megawati memfasilitasi kunjungan 
paspampres era baru secara rutin ke lokasi Maulwi Saelan. Tjakrabirawa yang 
dibentuk tahun 1962 untuk mengantisipasi serangkaian percobaan pembunuhan 
Soekarno sejak peristiwa penggranatan Soekarno di Cikini 1957, akhirnya 
“direhabilitasi”.

  Cara buku ini bercerita unik, Maulwi tidak dikisahkan sebagai aku, namun 
seakan akan orang ketiga, sehingga kurang mendekatkan diri kita pada sang tokoh 
dan perjalanan hidupnya. Juga  terlalu banyak materi mengenai sejarah di masa 
itu, tanpa memberikan kita persepsi bagaimana cara pandang Maulwi sendiri. 
Selain membahas hal hal diatas, juga dibahas karakter AE Kawilarang, Andi Azis, 
Sam Ratulangi, Westerling, Kahar Muzakkar, dll sehingga memberikan kita 
gambaran mengenai apa yang sebenarnya terjadi dimasa itu. Dalam buku ini juga 
disinggung mengenai kekejaman Westerling dan kroninya saat penjajahan Belanda. 
Bukan cuma di Sulawesi, kiprah Westerling di Angkatan Perang Ratu Adil, saat 
melakukan huru hara di dan pembantaian Bandung juga bisa kita temukan dam buku 
ini. 

  Hal2 yang diungkap kadang cukup mengagetkan misalnya pembantaian suku Ambon, 
alias peristiwa Ambon Moord,  yang dianggap sebagai antek-antek KNIL di 
Sulawesi Selatan. Namun sebaliknya bagaimana antar suku/agama menjadi begitu 
dekat dan menyatu juga terlihat, seperti saat salah seorang anggota pasukan 
Maulwi Saelan dari Indonesia timur bernama Fernandez mati-matian bahu membahu 
melawan agresi Belanda. Juga dibahas "blunder" Sam Ratulangi saat tak langsung 
mengumumkan mandat yang dia dapat sebagai Gubernur Sulawesi dengan pusat 
kedudukan di Makassar.  Meski didesak banyak orang termasuk istrinya, Ratulangi 
memilih jalan diplomasi, karena kuatir pernyataannya akan membuat pertumpahan 
darah yang mengorbankan anak anak Sulawesi. 

  Maulwi Saelan, juga mengungkapkan sisi2 menarik, bagaimana sehari hari 
Soekarno hanya mengenakan kaos yang sudah sobek di sana sini, meski para 
pemimpin dunia menyeganinya. Begitu juga ketidak percayaannya akan tuduhan 
penyalah gunaan wewenang dalam hal materi, karena tidak cuma sekali Maulwi 
Saelan tahu kesulitan keuangan Soekarno yang sempat minta tolong sana sini. 

  Saelan juga sama sekali tidak yakin keterlibatan Soekarno dalam G30S, beliau 
hanya tak ingin Indonesia cerai berai dan runtuh, dan ternyata hal ini 
dimanfaatkan pihak2 tertentu.  Pernyataan ini sekaligus membantah cerita versi 
ajudan presiden Soekarno, Bambang Widjanarko. Saelan juga menjelaskan arti 
pidato Soekarno mengenai kutipan Bhagavad Gita, perintah Kresna pada Pandawa 
yang sama sekali bukan dipicu keinginan untuk menghukum pengkhianat, namun 
lebih karena dipicu spanduk salah tulis yang memang secara kebetulan terpasang 
di belakang mimbar. Keyakinan Saelan bahwa Soekarno bersih juga didukung bahwa 
Ahmad Yani salah satu jendral korban pembunuhan, merupakan sosok kesayangan 
Soekarno. 

  Namun setelah G30S Soekarno dijauhi dan dikucilkan layaknya penyakit, seorang 
perwira Satgas Pomad membentak pengawal Soekarno yang membantu sang proklamator 
membuka pintu mobil. Kali yang lain saat di Istana Merdeka, Soekarno merasa 
kelaparan, mulai dari minta roti bakar, pisang, sampai nasi kecap, berturut 
turut diabaikan pelayan. Saat ke Cimacan, tak ada satupun penduduk yang mau 
membukakan pintu.  Lalu ketika di Ciawi beliau makan sate, maka pagi harinya si 
penjual sate ditangkap petugas Kodim.  

  Soeharto yang terus menerus memperkuat kekuasaannya akhirnya membekukan 
Tjakrabirawa, yang dianggap sebagai pribadi-pribadi setia pada Soekarno. Lalu 
Tjakrabirawa dituduh sebagai penjahat, komunis, dsb. Baik Maulwi Saelan, Mangil 
dan Sabur ditahan. Maulwi Saelan yang sempat menjadi Kepala Staff di 
Tjakrabirawa dan lalu Wakil Komando Tjakrabirawa sempat diinterogasi lalu 
dipenjara. Dalam penjara dengan pintu berlapis serta sempit, dan kotor Maulwi 
Saelan terpaksa membuang kotoran di sel-nya sendiri, serta tidak mendapat 
makanan yang cukup. Bukan cuma itu gajinya selama lima tahun dipenjara juga 
hangus, begitu juga hartanya disita. Tahun 1972 dia dibebaskan begitu saja di 
usia 45 tahun, dan dengan susah payah Maulwi Saelan mengupayakan surat 
keterangan bebas PKI atau cap ET (eks Tapol). Untung saja Buya Hamka yang 
sempat menjadi musuh Soekarno justru mengangkatnya menjadi anak dan diminta 
mengurus sekolah Buya Hamka di Kebayoran Baru yang sekarang kita kenal sebagai 
Al Azhar Syifa Budi. Hemm buku yang menarik, dan memberikan sudut pandang baru 
terhadap sejarah Indonesia.

  Posted by Husni I. Pohan at Wednesday, March 12, 2014 







Kirim email ke