http://www.cnnindonesia.com/internasional/20161010190300-113-164536/presiden-taiwan-kami-tidak-akan-tunduk-pada-china/
 
http://www.cnnindonesia.com/internasional/20161010190300-113-164536/presiden-taiwan-kami-tidak-akan-tunduk-pada-china/

  
 Presiden Taiwan: Kami Tidak Akan Tunduk Pada China Denny Armandhanu, CNN 
Indonesia
 Senin, 10/10/2016 19:03 WIB
 
 Sebarkan:  
http://www.cnnindonesia.com/internasional/20161010190300-113-164536/presiden-taiwan-kami-tidak-akan-tunduk-pada-china/#
  
http://www.cnnindonesia.com/internasional/20161010190300-113-164536/presiden-taiwan-kami-tidak-akan-tunduk-pada-china/#
  
http://www.cnnindonesia.com/internasional/20161010190300-113-164536/presiden-taiwan-kami-tidak-akan-tunduk-pada-china/#
 
 Presiden baru Taiwan Tsai Ing-wen menyatakan negaranya tidak akan tunduk pada 
tekanan China. (Reuters/Damir Sagolj)
 
 Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden baru Taiwan Tsai Ing-wen menyatakan 
negaranya tidak akan tunduk pada tekanan China. Pemerintah China harus mengakui 
eksistensi negaranya sebagai negara berdaulat.
  
Tsai mengakui hubungan kedua negara yang kurang harmonis beberapa waktu 
belakangan ini. Namun, ia menyatakan, pemerintah China harus bisa menghadapi 
kenyataan terkait sistem dan pemerintahan Taiwan.
 

 "Kami tidak akan tunduk pada tekanan [China], tetapi kami pun tetap tidak akan 
kembali kepada jalan konfrontasi sebelumnya," tutur Tsai seperti dikutip TIME, 
Senin (10/9).

Pernyataan itu dilontarkan Tsai ketika menghadiri sebuah acara di pusat kota 
Taipei yang dihadiri lebih dari 11 ribu orang, termasuk 360 tamu asing. 

Menurut Tsai, China harus segera berbicara dengan Taiwan perihal pengakuan 
China terhadap negaranya itu.

Dalam pidatonya, Tsai mengatakan pemerintahnya ingin mempertahankan status quo 
yang mengacu pada kondisi kawasan yang stabil dan hubungan ekonomi yang kuat 
dengan China.

Pasalnya, hingga saat ini China masih mengklaim Taiwan sebagai bagian dari 
teritorinya. China menganggap bisa menduduki Taiwan dengan paksaan jika 
dibutuhkan. 

Terpilihnya Tsai sebagai Presiden Taiwan Januari lalu mendorong Beijing 
menggunakan strategi ekonomi untuk membujuk masyarakat Taiwan bahwa unifikasi 
politik antar keduanya merupakan kepentingan terbaik bagi mereka.

Pemerintah China tidak puas dengan keinginan Taiwan dan menuntut Tsai untuk 
mendukung formulasi China yang menganggap bahwa Taiwan termasuk negara kesatuan 
China yang dianut oleh pendahulu Tsai, Ma Ying-jeou.

Menurut Profesor Hubungan Publik Univeristas Fo Guang Taiwan Liu Yi-jiun, 
keengganan Tsai untuk melakukan permintaan China bertabrakan dengan keinginan 
Tsai untuk memperbaharui pemahaman antar kedua negara.

Menurut Liu, pidato Tsai tersebut tidak serta merta mengubah keadaan. Walaupun 
publik Taiwan menanggapi pernyataan Tsai itu positif, namun pemerintah China 
tetap akan melanjutkan apa yang selama ini menjadi kepentingannya.

"Sejauh ini belum terlihat perubahan (kedudukan Taiwan). Sepertinya 
pernyataan-pernyataan itu tidak akan mengubah situasi sekitar," kata Liu.

Menurut Profesor Hubungan Internasional Universitas Ming Chuan Nathan Liu, Tsai 
berupaya mempertahankan kemajuan hubungan Taiwan dan China yang telah ada sejak 
pertemuan 1992. 

Keinginan Tsai untuk menggunakan nama formal negara Taiwan, Republik China, 
juga dapat dilihat Beijing sebagai tanda positif bahwa Tsai tidak bergerak 
menuju perubahan radikal yang dihindari oleh China.

Sejauh ini belum respons resmi yang datang dari Pemerintah China. Namun, Kamis 
lalu Kantor Urusan Pemerintah Taiwan menyatakan negeri tirai bambu itu tidak 
akan pernah mendukung dan akan selalu menentang kemerdekaan Taiwan.

"Tidak ada paksaan, tidak ada orang yang boleh meremehkan penentuan dari 1,3 
miliar orang dari daratan China," ujar An Fengshan. (den)

 

Kirim email ke