Anies yang Halus dan Ahok yang Keras
Abdillah Toha
http://www.kompasiana.com/abto/anies-yang-halus-dan-ahok-yang-keras_57fde005519373471907051c


12 Oktober 2016 14:02:29   

Ketika saya memoderasi suatu temu wicara dengan Anies Baswedan yang dihadiri 
lebih 50 orang beberapa hari yang lalu, saya membuka dengan menyampaikan 
beberapa hal, mewakili yang sering menjadi pertanyaan di benak publik. Salah 
satunya ini. Pak Anies yang  cendekiawan, pendidik, halus budi bahasanya, 
santun, dan selalu senyum, apakah bisa dan berani menghadapi Jakarta yang 
keras, yang banyak preman dan mafianya, belum lagi orang-orang kaya dan 
berpangkat yang punya akses kepada kekuasaan tertinggi.

Sambil bercanda saya sarankan, apa Anies perlu mengurangi senyumnya supaya 
terkesan lebih galak seperti Ahok dan Ali Sadikin? Anies yang diharapkan oleh 
banyak pihak sebagai pemimpin masa depan dengan karier politik yang cerah, apa 
tidak salah pilih memulainya dengan bertanding untuk menjadi gubernur DKI yang 
sudah dikangkangi Ahok?

Ketika memulai ujarannya, Anies dengan ringan merespon pertanyaan itu dengan 
bertanya balik. Apakah pak Harto yang dikenal sebagai the smiling general, yang 
selalu senyum pada setiap saat, bahkan ketika mengancam akan menggebuk 
lawan-lawannya, apakah dia orang yang tidak tegas? Sejarah membuktikan 
sebaliknya. Tahukah anda bahwa Jenderal Sudirman yang gagah berani itu dan 
sukses memimpin perjuangan bersenjata melawan Belanda adalah orang yang sangat 
santun dan hanya berlatang belakang seorang guru, kata Anies.

Kalau mau ditambah, dan ini bukan dari Anies, barangkali masih banyak contoh 
lain. Jokowi umpamanya. Halus, pengusaha mebel yang sebelum jadi walikota Solo 
belum banyak dikenal. Bukan kader politik dan bukan selebritas yang banyak 
penggemarnya tapi bisa terpilih dua kali dalam pemilihan walikota Solo dengan 
suara melimpah, memenangkan pilkada DKI yang menegangkan dan yang kemudian 
membawanya ke tingkat kekuasaan tertinggi sebagai presiden RI dengan 
mengalahkan tokoh yang sudah banyak makan garam politik. 

Sebaliknya, Ahok, begitu pula Rismaharini walikota Surabaya yang sukses 
membangun kota Surabaya, dikenal tegas, keras, bahkan dianggap galak, serta 
tidak mau berkompromi dalam hal-hal prinsipil yang diyakininya. Kata-katanya 
langsung, tidak jarang keras dan mengejutkan telinga yang mendengarnya. Ahok 
adalah pemimpin yang tidak sabaran. Dia tidak tahan melihat bawahannya yang 
lemot dan bermain-main dengan tugasnya. Cara Ahok memang terasa hasilnya. 
Jakarta yang ketinggalan jauh dari kota-kota besar di Asia tenggara dalam banya 
hal, mulai tampak lebih tertib dan mengarah ke kemajuan. Namun di sisi lain, 
sebagai manajer Jakarta dia terus menerus menambah musuh baru. Baik di dalam 
lingkungan pemerintah DKI maupun diluarnya.

Ahok bukan hanya keras tetapi dia juga memberikan insentif kepada bawahan yang 
benar kerjanya. Dibawah dia, gaji camat, lurah, sampai tukang sapu jalan 
dinaikkan berlipat ganda. Namun dia tidak segan memecat bawahan yang tidak 
disiplin. 

Pertanyaannya, cara pendekatan mana yang lebih efektif?  Apakah tegas itu harus 
keras? Ataukah ada anggapan bahwa di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, 
dan Medan, orang hanya bisa menangkap bahasa yang keras untuk mematuhi 
peraturan? Ataukah, seperti pendapat Anies bahwa sikap keras menyebabkan 
disiplin karena takut, bukan karena kesadaran dan kecintaan terhadap tugas. 
Bawahan Gubernur akan senang bila jam kerja usai. Bila sistem kontrol tidak 
efektif, pimpinan akan sering menerima laporan bodong karena bawahan takut 
menyampaikan keadaan realita sebenarnya.

Anies berkeyakinan bahwa pemimpin bisa tegas tanpa harus keras dalam tutur kata 
dan sikap. Tegas artinya konsisten, lurus, dan berkomitmen untuk melaksanakan 
tugas, apapun rintangan yang dihadapi. Tegas berarti berani mengatakan tidak, 
apapun risikonya. Keras berarti tegas minus kepekaaan dan kepedulian terhadap 
perasaan pihak lain. Sebaliknya, santun yang berlebihan seringkali terlalu 
banyak mempertimbangkan perasaan orang lain sehingga bisa berakibat 
mengompromikan hal-hal yang prinsipil dan lambat mencapai tujuan. Mana yang 
lebih diperlukan oleh seorang pemimpin seperti gubernur DKI?

Sebagaimana pilihan-pilihan dilematis lain, solusinya selalu ada ditengah. 
Santun pada saat dan di tempat yang tepat serta keras pada saat dan tempat yang 
tepat. Kepada mereka yang cerdas dan cepat menangkap maksud instruksi, maka 
komunikasi dapat disampaikan dengan santun. Sebaliknya, ketika lawan bicara 
keras kepala, sulit menangkap maksud kita, dan mengulang terus kesalahan, maka 
hanya tegas dan keraslah yang bisa dipahami oleh obyek yang kita tuju. 

Tegas, keras, lembut, santun, sebenarnya adalah gaya memimpin. Bukan tehnik 
memimpin yang bisa diajarkan di sekolah. Gaya memimpin biasanya berkaitan 
dengan karakter bawaan seseorang. Memimpin adalah mengajak yang dipimpin untuk 
mencapai tujuan bersama. Pertama yang harus disepakati adalah tujuannya. 
Kemudian cara pencapaian tujuan itu juga harus meninggalkan sesedikit mungkin 
korban. Yang didahulukan adalah memotivasi, menginspirasi, dan memberikan 
teladan. Namun, jika masih gagal maka pendekatan tegas dan keras kadangkala 
memang diperlukan tanpa harus melanggar hukum dan norma masyarakat.

Pilkada Jakarta yang mulai memanas ini harus kita jaga bersama. Mari kita 
memilih yang menurut pandangan rasional kita akan menjadi pemimpin yang paling 
efektif, tanpa harus mengorbankan kedamaian dan kerukunan sesama saudara 
sebangsa.

AT - 12-10-2016 






  • [GELORA45] Abdillah Toha:... 'Chan CT' sa...@netvigator.com [GELORA45]

Kirim email ke