Supaya lebih gamblang, setelah baca/buka tautan ini    WADUH! Nusron Wahid 
Hampir Tamp4r Lawan Debatnya Gara Gara Belain Ahok hina Al maidah 51, bacalah 
artikel tercantum  dibawah ini


Wahyu Prabowo feeling cool.
2 hrsCup .... Cup .... Cup ....
 Jangan mewek doooonk .....KataKitaLike PageYesterday at 8:00pm 
https://mg.mail.yahoo.com/neo/launch?.rand=1s0s6ucjj34ep#8661577806
LUCU, YUSUF MANSIR NANGIS KARENA ‘ULAMA’ DIPELOTOTIN NUSRON Panasnya ILC 
semalam membuat Yusuf Mansur ikut gagal paham. Saya pernah dulu menegur Yusuf 
Mansur te...rkait bahasa arab adalah bahasa surga yang disampaikannya di ruang 
publik sehingga membuat kehebohan, karena salah menempatkan sesuatu. Sesuatu 
yang benar belum tentu benar jika disampaikan di tempat umum, mengingat 
kapasitas masing-masing kita berbeda. Akhir dari kehebohan tersebut, Yusuf 
Mansur menghubungi saya via WA. Kami akhirnya sepakat mengakhiri kehebohan 
tersebut. Hari ini kasusnya lain. Yusuf Mansur mengomentari Nusron Wahid dengan 
sangay sedih sambil bercucuran air mata. “Bismillahirrohmanirohim, kepada 
adik-adik saya, anak-anak Indonesia, para remaja. Jangan ya, jangan ditiru 
melotot-melotot ke ulama. Jangan, jangan ditiru. Sesalah-salahnya ulama itu 
sebenar-benarnya kita. Jamgan ditiru yang suka maki-maki orang, jangan ditiru, 
yang suka bilang orang bodoh, goblok, tolol, jangan ditiru ya nak.” Gara-gara 
pernyataan Yusuf Mansur, saya baru sadar bahwa Nusron Wahid memang selalu 
melotot. Namun bukannya saya terenyuh melihat tangis Yusuf Mansur, malah 
tertawa ngakak. Ini mirip seperti temanmu yang mengajak jalan-jalan ke tempat 
wisata menarik, dikiranya mau dibayarin, tapi ternyata malah disuruh bayar 
sendiri. Uasem. Salah paham. Nah Yusuf Mansur ini sama seperti yang disampaikan 
Nusron Wahid. Kita ribut itu kalau tidak salah paham berarti pahamnya salah. 
Hahaha Nusron Wahid ini memang memiliki mata lebar. Berbeda dengan Ahok atau 
Jokowi yang agak sipit. Nusron ini mirip Deddy Corbuzier atau Mario Teguh, 
matanya belo. Jadi senyantai-nyantainya Nusron, tetap akan terlihat lebih 
melotot dibanding melototnya Jokowi atau Ahok. Maka wajar kalau kemudian Nusron 
menanggapi santai namun nyelekit. “Tapi ya memang beginilah saya dilahirkan 
dengan wajah seperti ini. Kalau ngomong kelihatan melotot. Tidak ganteng 
seperti antum. Ya inilah saya memang marah melihat keadaan NKRI yang terganggu 
dengan pemahaman ayat yang sempit. Sebagaimana kyai dan guru-guru saya juga 
marah. Semoga antum mafhum. Sebagian kyai dan guru-gutu saya juga marah 
Indonesia diganggu seperti ini,” kata Nusron Wahid. Entah apakah Yusut Mansur 
juga termasuk fakir kuota yang tidak pernah melihat Nusron Wahid menyampaikan 
opini, atau ini memang cara Yusuf Mansur mengalihkan materi yang sebenarnya? 
Sebab satu Indonesia tau, bahwa ucapan Nusron Wahid sangat-sangat telak 
membantah semua pendapat dan orang-orang yang mengaku ulama, serta mengharamkan 
Ahok menjadi Gubernur karena alasan Almaidah 51. Sangat telak. Tidak ada yang 
bisa menjawab Nusron sebab memang berdasarkan ilmu yang sesuai dan fakta 
sejarah. Saya jujur ragu Yusuf Mansur baru semalam melihat Nusron Wahid 
menyampaikan sesuatu. Lalu sekarang tujuan Yusuf Mansur apa? Kalau Yusuf Mansur 
meminta Nusron untuk tidak arogan, sebenarnya kebalik. Nusron bersikap arogan 
karena memang ulamanya yang bikin muak dan arogan. Memgancam polisi dan 
pengadilan rakyat jika tidak ditindak secara adil, maksudnya mungkin sampai 
Ahok dipenjara. Coba Yusuf Mansur mau mikir, siapa yang arogan? Saya sendiri 
muak dengan orang yang menyebut dirinya ulama atau ustad. Sangat muak. 
Mereka-mereka yang hilir mudik di televisi itu hampir semuanya memiliki tarif 
profesional selayaknya artis. Jadi sangat sulit disebut ustad apalagi ulama 
dalam arti yang sebenarnya. Coba tanya Yusuf Mansur, berapa tarif minimal 
perjamnya? Apa fasilitas yang perlu disediakan? Coba tanya, saya sedikit tau 
tapi tak mau menyebutnya karena malas nanti dianggap fitnah. Kalau tak mau 
tanya, coba undang Yusuf Mansur ke daerahmu.
 Dengan kenyataan “ustad profesional” seperti itu kemudian Yusuf Mansur mau 
bicara soal islam, ulama dan mewek melihat melototnya Nusron Wahid? Ulama MUI? 
kalian pikir mereka memikirkan ummat Islam? Coba anda punya produk makanan dan 
minta sertifikat halal sama mereka, kalau tak ada uangnya mana bisa mereka 
halalkan? Lalu yang seperti itu mau disebut ulama yang sesalah-salahnya ulama 
itu sebenar-benarnya kita? Omong kosong. Kyai-kyai yang saya kenal di 
pesantren, sampai mufassir Quraish Sihab pun tidak pernah mau melabeli dirinya 
sendiri ulama. Bahkan banyak kyai yang malu dipanggil kyai. Mereka lebih nyaman 
dipanggi abah. Nah sampai di sini saya berpikir tentang dua hal. Pertama, Yusuf 
Mansur salah paham tentang melototnya Nusron Wahid. Bahwa kemudian argumennya 
pasti tidak bisa dibantah itu soal lain, dan semoga Yusuf Mansur menangis bukan 
karena orang yang mengaku ulama itu ternyata ilmunya cukup cetek. Kedua, label 
dan sebutan ulama saya pikir sudah seharusnya dikoreksi. Agar orang-orang 
seperti Yusuf Mansur ini tidak salah paham dan baper. Mentang-mentang pengurus 
MUI jadi otomatis ulama. Wah ini salah kaprah namanya. Lagipula MUI ini memang 
aneh. Mereka berkumpul membetuk LSM dengan nama Majelis Ulama Indonesia. Tapi 
karena nama LSM nya ada kata “ulama” maka mereka tinggal pakai daster putih dan 
sorban supaya kemudian disebut ulama. Berhubung ini LSM, mungkin sebaiknya 
penggunaan kata ulama itu dikoreksi dengan nama lain. Gus Mus sebelumnya juga 
kebingungan. “MUI itu sebenarnya makhluk apa? Enggak pernah dijelaskan. 
Ujuk-ujuk (tiba-tiba) dijadikan lembaga fatwa, aneh sekali. Itu MUI makhluk 
apa? Instansi pemerintah? Ormas? Orsospol? Lembaga pemerintahankah? Tidak 
jelas, kan? Tapi ada anggaran APBN. Ini jadi bingungi (membingungkan).” kata 
Gus Mus, 30 Maret 2015. Nah, agar masyarakat Indonesia paham, serta orang 
seperti Yusuf Mansur ini tidak baper karena ulamanya ‘dipelototi’ Nusro Wahid, 
saya pikir ini saatnya MUI berganti nama. Biarkan satu Indonesia tau bahwa 
mereka hanyalah LSM dan orang di dalamnya bukan otomatis ulama. Mari jadikan 
MUI seperti NU atau Nahdatul Ulama, yang hanya menjadi organisasi namun tidak 
otomatis menggelari diri mereka dengan ulama. Tidak sok-soan keluarkan fatwa 
halal haram dan seterusnya. Jangan sampai kebenaran tentang agama Islam 
dimonopoli oleh LSM bernama MUI. Negara ini berdiri, salah satunya berkat 
perjuangan NU dan Muhammadiyah. Mereka ikuy berkontribusi memerdekakan negara 
ini. Jika dua ormas terbesar di Indonesia ini tidak sok-soan dalam bernegara, 
apa hak MUI? LSM yang baru berdiri setelah Indonesia 30 tahun merdeka. 
Begitulah kura-kura.https://m.facebook.com/story.php…
  • [GELORA45] Fw: LUCU, YUSUF MAN... 'K. Prawira' k.praw...@ymail.com [GELORA45]

Kirim email ke