https://www.merdeka.com/uang/ini-segudang-tugas-berat-yang-menanti-penyelesaian-jonan-arcandra.html
 
https://www.merdeka.com/uang/ini-segudang-tugas-berat-yang-menanti-penyelesaian-jonan-arcandra.html

 Masalah relaksasi ekspor sampai Freeport jadi PR berat Menteri Jonan 
 Reporter : Marselinus Gual https://www.merdeka.com/reporter/marselinus-gual/ | 
Minggu, 16 Oktober 2016 17:00
 
 
https://facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fwww.merdeka.com%2Fuang%2Fini-segudang-tugas-berat-yang-menanti-penyelesaian-jonan-arcandra.html
  
https://twitter.com/share?text=Masalah%20relaksasi%20ekspor%20sampai%20Freeport%20jadi%20PR%20berat%20Menteri%20Jonan%20%7C%20merdeka.com&url=http%3A%2F%2Fwww.merdeka.com%2Fuang%2Fini-segudang-tugas-berat-yang-menanti-penyelesaian-jonan-arcandra.html&via=kapanlagicom
  
https://plus.google.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.merdeka.com%2Fuang%2Fini-segudang-tugas-berat-yang-menanti-penyelesaian-jonan-arcandra.html
  202 SHARES

 

 Jokowi didampingi Jonan dan Arcandra di Istana Negara. ©2016 Merdeka.com/titin

 
 
 Merdeka.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan 
http://profil.merdeka.com/indonesia/i/ignasius-jonan/berita/ dan Wakil Menteri 
Arcandra Tahar http://profil.merdeka.com/indonesia/a/arcandra-tahar/berita/ 
memiliki segudang tugas berat ke depan. Keduanya dihadapkan terhadap 
permasalahan salah satunya aturan relaksasi ekspor konsentrat.

 Diskon RP 100,000 Garuda & Citilink hanya di Pergi.com 
https://www.pergi.com/promo/oktober/garudacitilink?utm_source=kln&utm_medium=InternalAds&utm_campaign=PERGIGAQG&utm_content=MobileReadMore

Peneliti dari Alpha Research Database Indonesia, Ferdy Hasiman, mengungkapkan 
Menteri Jonan harus bisa mengambil jalan tengah terkait wacana relaksasi ekspor 
beberapa biji mineral, seperti tembaga. Jika tidak, banyak perusahaan merasa 
kecewa, karena sudah membangun smelter di Indonesia. 

"Jonan-Arcandra harus membuat perimbangan yang tepat antara kepentingan 
kemandirian pertambangan dan penerimaan negara dalam jangka pendek," ujarnya 
dalam keterangan tertulis di Jakarta http://www.merdeka.com/tag/j/jakarta/, 
Minggu (16/10).

Dalam jangka pendek misalnya, jika keran ekspor benar ditutup, penerimaan 
negara dari perusahaan-perusahaan tambang, seperti PT Freeport Indonesia akan 
menurun. Pada akhir 2015, kontribusi Freeport sebesar USD 109 juta untuk 
kewajiban ekspor dan USD 114 juta untuk royalti. 

"Jadi jika keran ekspor tembaga ditutup, tugas pemerintah adalah bagaimana 
mencari solusi jangka pendek atas persoalan itu," tuturnya.

Tugas berat yang lebih penting lagi adalah menyelesaikan renegosiasi kontrak 
dengan perusahaan-perusahaan tambang seperti Kontrak Karya (Freeport Indonesia, 
Newmont, Vale Indonesia) dan PKP2B, seperti PT Bumi Resources Tbk dan PT Adaro 
Indonesia Tbk. Renegosiasi kontrak sudah berlangsung sejak 2012, hanya saja 
sampai sekarang belum menemukan titik temu, karena perusahaan-perusahaan besar 
masih ngotot dengan kontrak-kontrak lama. 

Kepentingan ekonomi politik dan bisnis orang kuat di balik renegosiasi kontrak, 
lanjutnya, juga penting untuk dilawan Menteri Jonan. "Intinya, negara harus 
berdaulat dan tugas menteri ESDM adalah mengembalikan daulat tambang ke 
pangkuan konstitusi UUD45," tegasnya.

Menteri Jonan juga harus memutuskan proyek-proyek milik perusahaan Amerika 
Serikat, seperti Indonesia Deepwater (dioperatori Chevron Pacific Indonesia), 
pembangunan East Natuna (Exxon Mobil) dan perpanjangan kontrak dan investasi 
underground perusahaan tembaga dan emas yang menambang di Grasberg-Papua, PT 
Freeport Indonesia.

Total nilai proyek tiga perusahaan itu memang sangatlah fantastis, bisa 
mencapai USD 50 miliar. Freeport Indonesia, misalnya akan menginvestasikan dana 
senilai USD 2,5 miliar untuk pembangunan smelter di Gresik, belum termasuk 
investasi pembangunan tambang underground.

"Percepatan proyek-proyek besar ini tentu akan berpotensi meningkatkan 
pertumbuhan ekonomi," tuturnya.

Di sektor minyak dan gas pemerintah dihadapkan pada defisit. Defisit bisa 
dicegah jika proyek-proyek gas berskala besar beroperasi secara komersial 
sesuai jadwal. 

Beberapa proyek lain yang masing pending dan menanti kerja cepat menteri ESDM 
baru, seperti percepatan investasi di blok Masela, blok Mahakam, blok Cepu 
(konsorsium Pertamina-Exxon). Perlambatan proyek-proyek akan berpengaruh pada 
defisit minyak dan gas.

"Tahun 2014 misalnya, nilai impor gas alam di atas USD 3 miliar. Ini tentu 
jangan dianggap sepele, karena tren peningkat impor gas kita cukup 
mencemaskan," ucapnya. 

Ferdy menjabarkan, pada 2003, impor gas hanya USD 21,5 juta, tetapi di 2010 
membengkak menjadi USD 863 juta, meningkat USD 1,4 miliar (2011), USD 3,08 
miliar (2012) dan naik lagi akhir 2013, menjadi USD 3,21 miliar.
 

 

Kirim email ke