MUI adalah LSM parasit yang didirikan oleh Suharto untuk melindungi dirinya.
MUI ini menjadi lembaga setengah legal dalam tatanan negara Indonesia sekarang
ini. Dia punya hak istimewa menghalal dan mengharamkan sesuatu di Indonesia.
Mengapa hak istimewa itu tidak berada di tangan Nahdatul Ulama (NU) atau
Muhamaddyah? Selayaknyalah lembaga jahat ini dibubarkan, daripada terus menerus
menimbulkan kekacauan. Akhir-akhir ini bekerjasama dengan FPI dan beberapa
organisasi kerece yang seolah-olah membela Islam bangkit menimbulkan kekacauan
di tanah air. Dalang di belakangnya antara lain kakek tua Amien Rais. Memang
sudah sewajarnya pihak kepolisian mengeluarkan seruan kepada Amien agar jangan
terus melahirkan kekacauan.Akibat dari ulah MUI, akhir-akhir ini kekacauan
timbul di seluruh tanah air. Sudah sewajarnya MUI dibubarkan. Jika dibiarkan
berlarut-larut, MUI akan mendirikan negara di dalam negara.
Pada Rabu, 19 Oktober 2016 1:03, "'Sunny' [email protected] [nasional-list]"
<[email protected]> menulis:
res : Pertama-tama harus disadari bahwa agama Islam tersebar di Nusantara
tanpa ada yang menamakan atau dinamakan dirinya Majelis Ulama Islam (MUI). MUI
ini sengaja didirikan dan dijadikan oleh Soeharto untuk memperkokoh kekuasaan
lalimnya. Soeharto telah lama mampus dimakan cacing, tetapi MUI masih hidup
gagah seperti burung gagak. Bukankah sepatutnya dengan mampusnya Soeharto, MUI
dibubarkan atau menyatakan dirinya bubar. Omongkosong kalau MUI bubar, negara
terancam anarki, mereka yang ngaco selama ini ialah kaki tangan atau serdadu
lapangan dari MUI. Allah akan senang gembira ria demikian pula para malaekat,
jika MUI dan kerocok-kerocoknya dibubarkan.
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/10/18/of9228385-mui-bubar-negara-terancam-anarkhi
Wednesday, 19 October 2016, 05:01 WIB
MUI Bubar, Negara Terancam Anarkhi!
Red: Muhammad SubarkahRepublika/ Yasin Habibi Ketum MUI Ma'ruf Amin
memberikan keterangan kepada wartawan seusai menggelar konferensi pers tentang
penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta, Jakarta, 13/10). Dalam beberapa hari
ini muncul ‘serangan’ terhadap lembaga Majelis Ulama Indonesia (MUI). Banyak
yang menyatakan tindakan ini adalah upaya perlawanan akibat MUI mengeluarkan
fatwa bahwa Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) telah menghina
Alquran surat Al Maidah 51 dan ulama.
Serangan terhadap MUI itu tersebar di dunia maya. Salah satunya ada dalam
petisi ‘Presiden Joko Widodo: Bubarkan MUI’ yang beredar di change.org. Petisi
ini kini sudah ditandatangi 10.284 orang pada 18/10, pukul 21.13 WIB.
Pengamat sosial Fachry Ali mengatakan tuntutan pembubaran MUI berbahaya. Sebab,
bila sampai terwujud maka hanya akan membawa malapetaka bagi bangsa Indonesia.
Berikut wawancaranya Republika.co.id (R) dengan Fachry Ali (FA).
R: Bagaimana anda melihat peran ulama dalam kancah kebangsaan Indonesia?
F: Sebenarnya peran ulama dalam kancah politik itu memerankan sikap seorang
begawan. Mereka turun tangan ketika situasi negara di dalam situasi krisis. Di
mana dalam kondisi ini lorong penyelesain masalah seperti tidak ditemukan lagi.
Pada kondisi ini berbagai kekuatan politik terlibat dalam situasi saling
mengunci. Berbagai kekuatan politik ini tak dapat lagi menjaga jarak serta
terperangkap di dalam permainan semua yang mereka buat sendiri.
Maka pada saat itu ulama turun tangan, dalam artian bukan dalam mengambil
kekuasaan. Tapi mengambil ‘jalan moral’ untuk menunjukkan jalan bagi para
pemangku kepentingan yang sudah gelap mata itu. Tujuannya biar cahaya terang
yang berada di ujung ‘lorong keruwetan’ bisa terlihat secara jelas.
Jadi ulama memang harus menunjukan bahwa hidup itu punya tujuan. Bukan hanya
sekedar melayani pertarungan-pertarungan kepentingan profan yang selama ini
terjadi. Ulama menunjukan cara itu melalui referensi yang diyakininya dengan
menunjukan bahwa mereka tak punya kepentingan apa-apa.
R: Bagaimana anda melihat peran MUI selama ini?
F: MUI itu penjaga moral (the moral guardian) dan menjaga sikap keberagamaan
yang diyakini benar. Dan sikap ini tak bisa dibeli dengan apa pun. Ini karena
pendapat (fatwa) mereka dikeluarkan berdasarkan keyakinan yang sifatnya
immaterial.
Nah, bila sekarang ada soal tafsir Alquran surat Al Maidah 51, maka konteksnya
karena MUI adalah ahlinya maka sikapnya yang tepat adalah menyerahkan pendapat
kepadanya. Bila MUI berpendapat maka itu pasti berdasarkan keyakinan mereka
atas teks-teks tersebut.
Nah, saya melihat dalam soal ini MUI tak berpolitik dan tak bersikap
macam-macam. Sikap ini dibuktikan pun tekah dibuktikan dengan tidak adanya
anggota MUI yang kini masuk dalam politik praktis atau politik kekuasaan.
R: Bagaimana sikap anda mengenai munculnya tuntutan pembubaran MUI?
F: Dalam soal ini maka tolong ingat pada pengalaman buruk yang pernah dialami
orang Aceh. Pada saat zaman Orde Baru, kala itu oleh pihak penguasa sebagian
besar ulama di Aceh dimasukkan ke dalam Golkar. Dan sebagai akibatnya, sosok
ulama pun mengalami delegitimasi di mata rakyat.
Nah, ketika kemudian kondisi Aceh memasuki masa krisis keamanan akibat
munculnya Gerakan Aceh Merdeka (GAM), maka ketika pemerintah hendak
menyelesaikan konflik, mereka sudah tak memiliki kemampuan lagi. Akibatnya,
konflik Aceh semakin lama bertambah akut dan berlarut-larut. Aceh pun mengalami
situasi anarkhi yang akut.
Maka berdasarkan pengalaman tersebut, mau tidak mau peran serta posisi otoritas
spiritual harus tetap dijaga dengan baik. Dan ini menjadi sangat berbahaya bila
pusat otoritas keagamaan itu dihilangkan. Nah, bila ini sampai benar-benar
terjadi, maka pada saat itu tidak akan lagi sumber otoritas yang didengar oleh
rakyat. Situasi sosial dan keamanan negara dipastikan menjadi tertanggu dan
berbahaya.
Selain itu, di era demokrasi semacam ini, di mana sosok negara tak lagi
dianggap sebagai sesuatu yang agung dan dalam waktu yang bersamaan rotasi
kekuasaan berlangsung dengan cepat dan berubah-ubah, maka keadaan yang muncul
pun tak bisa lagi bersifat permanen.
Akibatnya, di dalam situasi seperti itu --yakni ketika otoritas keagamaan juga
dihilangkan— maka yang akan terjadi hanyalah situasi anarkhi. Di sinilah saya
melihat adanya tuntutan pembubaran MUI adalah tindakan sangat berbahaya dan
dilakukan oleh mereka yang tak paham dengan pengalaman mengelola masalah
sosial-keamanan yang selama ini terjadi di wilaya konflik. Cukuplah Aceh jadi
pelajaran bagi kita semua.
——————
Fachry Ali, lahir 23 November 1954 di Susoh, Aceh Barat Daya. Dia adalah salah
satu pendiri Lembaga Studi dan Pengembangan Etika Usaha (Lspeu Indonesia).
Menjadi direktur lembaga ini sejak 1997 hingga 2012. Kini, Fachry Ali menjabat
komisaris PT Lspeu Indonesia.Fachry Memperoleh gelar sarjana muda dari Jurusan
Bahasa Inggris, Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (kini Universitas
Islam Negeri) pada 1977. Fachry pada 1982 melanjutkan studi di Jurusan Sejarah
dan Kebudayaan Islam, Fakultas Adab, pada perguruan tinggi yang sama.
Pada 1991-1994, dia melanjutkan studi dalam Southeast Asian History, Department
of History, Monash University, Melbourne, Australia.
#yiv9044692829 #yiv9044692829 -- #yiv9044692829ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv9044692829
#yiv9044692829ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv9044692829
#yiv9044692829ygrp-mkp #yiv9044692829hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv9044692829 #yiv9044692829ygrp-mkp #yiv9044692829ads
{margin-bottom:10px;}#yiv9044692829 #yiv9044692829ygrp-mkp .yiv9044692829ad
{padding:0 0;}#yiv9044692829 #yiv9044692829ygrp-mkp .yiv9044692829ad p
{margin:0;}#yiv9044692829 #yiv9044692829ygrp-mkp .yiv9044692829ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv9044692829 #yiv9044692829ygrp-sponsor
#yiv9044692829ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv9044692829
#yiv9044692829ygrp-sponsor #yiv9044692829ygrp-lc #yiv9044692829hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv9044692829
#yiv9044692829ygrp-sponsor #yiv9044692829ygrp-lc .yiv9044692829ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv9044692829 #yiv9044692829actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv9044692829
#yiv9044692829activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv9044692829
#yiv9044692829activity span {font-weight:700;}#yiv9044692829
#yiv9044692829activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv9044692829 #yiv9044692829activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv9044692829 #yiv9044692829activity span
span {color:#ff7900;}#yiv9044692829 #yiv9044692829activity span
.yiv9044692829underline {text-decoration:underline;}#yiv9044692829
.yiv9044692829attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv9044692829 .yiv9044692829attach div a
{text-decoration:none;}#yiv9044692829 .yiv9044692829attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv9044692829 .yiv9044692829attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv9044692829 .yiv9044692829attach label a
{text-decoration:none;}#yiv9044692829 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv9044692829 .yiv9044692829bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv9044692829
.yiv9044692829bold a {text-decoration:none;}#yiv9044692829 dd.yiv9044692829last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9044692829 dd.yiv9044692829last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9044692829
dd.yiv9044692829last p span.yiv9044692829yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv9044692829 div.yiv9044692829attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv9044692829 div.yiv9044692829attach-table
{width:400px;}#yiv9044692829 div.yiv9044692829file-title a, #yiv9044692829
div.yiv9044692829file-title a:active, #yiv9044692829
div.yiv9044692829file-title a:hover, #yiv9044692829 div.yiv9044692829file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv9044692829 div.yiv9044692829photo-title a,
#yiv9044692829 div.yiv9044692829photo-title a:active, #yiv9044692829
div.yiv9044692829photo-title a:hover, #yiv9044692829
div.yiv9044692829photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv9044692829
div#yiv9044692829ygrp-mlmsg #yiv9044692829ygrp-msg p a
span.yiv9044692829yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv9044692829
.yiv9044692829green {color:#628c2a;}#yiv9044692829 .yiv9044692829MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv9044692829 o {font-size:0;}#yiv9044692829
#yiv9044692829photos div {float:left;width:72px;}#yiv9044692829
#yiv9044692829photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv9044692829
#yiv9044692829photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv9044692829
#yiv9044692829reco-category {font-size:77%;}#yiv9044692829
#yiv9044692829reco-desc {font-size:77%;}#yiv9044692829 .yiv9044692829replbq
{margin:4px;}#yiv9044692829 #yiv9044692829ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv9044692829 #yiv9044692829ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9044692829
#yiv9044692829ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv9044692829
#yiv9044692829ygrp-mlmsg select, #yiv9044692829 input, #yiv9044692829 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9044692829
#yiv9044692829ygrp-mlmsg pre, #yiv9044692829 code {font:115%
monospace;}#yiv9044692829 #yiv9044692829ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv9044692829 #yiv9044692829ygrp-mlmsg #yiv9044692829logo
{padding-bottom:10px;}#yiv9044692829 #yiv9044692829ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv9044692829 #yiv9044692829ygrp-msg
p#yiv9044692829attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv9044692829
#yiv9044692829ygrp-reco #yiv9044692829reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv9044692829 #yiv9044692829ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv9044692829 #yiv9044692829ygrp-sponsor
#yiv9044692829ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv9044692829
#yiv9044692829ygrp-sponsor #yiv9044692829ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv9044692829
#yiv9044692829ygrp-sponsor #yiv9044692829ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv9044692829 #yiv9044692829ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv9044692829 #yiv9044692829ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv9044692829 #yiv9044692829ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv9044692829
#yiv9044692829ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv9044692829