http://telusur.metrotvnews.com/news-telusur/9K57nQBb-dilema-pembangunan-bertumpu-utang

Dilema Pembangunan Bertumpu Utang
Coki Lubis    •    17 Oktober 2016 20:02 WIBTelusur  News(Telusur)   
   - TWITTER
   - FACEBOOK
   - GOOGLE+
Suasana Pelabuhan Laut Penghubung Internasional Bitung. Pemerintah menetapkan 
Bitung sebagai International Hub Sea Port (IHSP) untuk kepentingan perniagaan 
Indonesia bagian timur dan menargetkan pembangunan infrastruktur pada 2017 
mendatang. (ANTARA FOTO/Metrotvnews.com, Jakarta: Untuk mewujudkan rencananya 
membangun infrastruktur sekaligus penyehatan fiskal, Presiden Joko Widodo 
mengambil langkah tak populis dengan membuat kebijakan memangkas subsidi Bahan 
Bakar Minyak (BBM) jenis premium. Meski menyadari langkah ini menimbulkan 
banyak reaksi negatif, lantaran membuat harga premium naik dari Rp6.500 menjadi 
Rp8.500 per liter, Jokowi tak bergeming.BACA JUGA   
   - Alwi Shihab Apresisasi 2 Tahun Kepemimpinan Jokowi
   - Dua Tahun Jokowi-JK, Pembangunan Infrastruktur Merata
   - Prestasi Jokowi-JK Selama 2 Tahun Pemerintahan


Subsidi BBM dipandang sebagai pengeluaran tak produktif yang selalu membebani 
pemerintah serta membuat Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) menjadi 
tidak sehat. Apalagi, ditengarai subsidi BBM lebih banyak dinikmati warga kaya 
alias masyarakat kalangan atas ketimbang wong cilik. Dengan demikian, subsisi 
BBM dinilai tidak tepat sasaran. Niat pemerintah adalah membuat alokasi dana 
bagi subsidi BBM dialihkan untuk membiayai program pembangunan sehingga publik 
dampaknya bisa lebih jangka panjang dinikmati seluruh masyarakat Indonesua, 
termasuk penduduk menengah bawah. "Subsidi kami alihkan dari sektor-sektor yang 
konsumtif. Kami geser ke sektor produktif. Jangan sampai setiap tahun membakar 
Rp300 triliun dan kita tidak melakukan apa-apa. Subsidi harus tepat sasaran," 
ujar Jokowi dalam wawancara yang ditayangkan Mata Najwa di Metro TV pada Minggu 
23 November 2014 silam.

Namun, pada tahun 2015, harapan penyehatan fiskal melalui jalur penerimaan 
pajak pupus. Hingga tahun fiskal berjalan Mei 2016 defisit melebar. Total 
anggaran turun dari Rp1.822 triliun pada APBN 2016 menjadi Rp1.734 triliun pada 
RAPBN-P 2016 akibat merosotnya penerimaan negara sebesar Rp88 triliun.

Susutnya penerimaan ini dikompensasi dengan pengurangan belanja sebesar Rp48 
triliun dan tambahan pembiayaan utang Rp40 triliun. Pengurangan belanja negara 
yang tak sebanding dengan penurunan negara menyebabkan meningkatnya rencana 
defisit anggaran di 2016, dari Rp273 triliun (2,15 persen dari PDB) menjadi 
Rp313 triliun (2,48 persen dari PDB).

Menurut Firmanzah, ancaman defisit fiskal muncul setelah neraca perdangan 
jeblok seiring pelambatan pertumbuhan ekonomi dunia. Pasar komoditas amat tak 
bergairah. Padahal Indonesia selalu mengandalkan sektor komoditas untuk pasokan 
devisa. Produk Domestik Bruto Regional (PDBR) daerah masih ditopang kinerja 
ekspor barang mentah. Permintaan impor produk sumber daya alam maupun dan 
sumber energi dari Indonesia menurun.

Sementara itu, penerimaan pajak tak mencapai target membuat pemerintah 
kelimpungan dalam upaya membiayai belanja negara yang gencar pada pembangunan 
infrastruktur.  "Pendapatan sektor perpajakan tidak seoptimal sebelumnya. 
Sementara kebutuhan meningkat, belanja infrastruktur dan sebagainya. Dampaknya, 
defisit fiskal melebar," kata Fiz, sapaan Firmanzah.

Maka, pemerintah terpaksa menambah pinjaman alias utang untuk menghindari 
risiko gagal fiskal. Menurut Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, 
pinjaman pemerintah berkontribusi pada peningkatan utang luar negeri pada awal 
tahun 2016.

Menurut Agus, dalam tiga bulan pertama 2016 utang pemerintah tumbuh 6,4 persen 
sehingga mencapai US$146,16 miliar. "Karena kemarin ada dukungan untuk anggaran 
yang perlu dikeluarkan, sehingga dikeluarkan surat utang pemerintah baik yang 
sifatnya konvensional maupun dalam bentuk sukuk," katanya pada Jumat, 20 Mei 
2016 silam

Sementara itu, utang swasta tercatat sebesar USD164,7 miliar yang umumnya 
terkait dengan kegiatan investasi yang dilakukan oleh pemerintah dan kemudian 
berdampak pada swasta.

Baca: BI Klaim Rasio Utang Luar Negeri terhadap PDB Masih Aman



Meski total ULN yang mencapai US$316 miliar sampai dengan kuartal I-2016, Agus 
mengatakan rasio utang luar negeri (ULN) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) 
masih aman, di angka 36,5 persen.

Fiz pun menyatakan hal senada. Menurut dia, beberapa negara di dunia rasio 
utangnya bisa 60 sampai 70 persen. Jepang bahkan berani dengan perbandingan 
utang dalam anggaran negaranya diatas 100 persen. "Utang kita masih terjaga 
dikisaran 30an persen. Tapi memang ada indikator debt service ratio, cadangan 
devisa valuta asing untuk membayar utang luar negeri," kata Fiz.

Justru yang perlu diawasi saat ini adalah utang swasta. Pasalnya, seperti di 
Jepang dan Eropa suku bunganya sangat rendah. Bunga murah ini menarik bagi 
koorporasi. "Rasanya ini tugas pemerintah, BI, dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) 
untuk memonitor dan evaluasi utang-utang swasta," kata Fiz.

Sejumlah kalangan menilai kebijakan ekonomi pemerintahan Jokowi tidak populis 
dan justru berisiko menghambat pertumbuhan ekonomi.  Bahkan, tepat setahun 
pemerintahan Jokowi-JK, masyarakat pengguna jejaring sosial di jagad maya 
menumpahkan kekecewaan terhadap kinerja pemerintah melalui topik bertanda pagar 
#365hariJokowiJKgagal. Isu tersebut menjadi trending topic di Twitter. Beberapa 
survei juga menunjukkan kepercayaan rakyat menurun paska Jokowi-JK dilantik 
sebagai presiden dan wakil presiden RI.

Namun lambat laun kebijakan-kebijakan pemerintah menunjukan hasil positif. 
Belakangan, pemangkasan subsidi BBM disebut sukses meringankan beban APBN. Juga 
membangun kesadaran efisiensi di berbagai bidang, terutama dalam penggunaan 
energi.

Salah satu yang memuji adalah Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Ia 
memberikan apresiasi kepada Indonesia yang berani menempuh jalan sulit untuk 
melakukan reformasi struktural di bidang energi dengan menghapus subsidi BBM.

"Langkah Presiden Jokowi yang berani menyelelesaikan beban subsidi BBM 
merupakan tindakan yang tidak semua negara berani melakukannya," kata Obama 
dalam keterangan tertulisnya. Baca: Presiden Obama Memuji Reformasi Bidang 
Energi

Ditambah lagi, pemberantasan mafia migas yang ditandai dengan pembubaran 
petral, dianggap sebagai kemauan politik dan niat baik pemerintah dalam 
penataan industri migas tanah air. Niat itu juga diperkuat dengan upaya 
menurunkan harga gas industri agar daya saingnya lebih kompetitif.

ilustrasi pembangunan infrastruktur bertumpu utang.

Kesimpulannya, menurut Firmanzah, dalam evaluasi kinerja pemerintahan Jokowi-JK 
dalam dua tahun, ekonomi Indonesia secara makro masih terjaga. Indikasinya, 
cadangan devisa meningkat, nilai tukar rupiah terjaga, suku bunga terkendali, 
termasuk inflasinya.

Selain itu, angka kemiskinan yang pada 2015 meningkat, kini mengalami 
perbaikan. Penciptaan lapangan kerja masih dan harus terus dilakukan. "Dan yang 
paling penting, mempercepat dan mengawal paket-paket kebijakan yang sudah 
dikeluarkan," kata Fiz.

Yang menjadi pertanyaan ketika paket kebijakan ekonomi sudah banyak 
diterbitkan, mengapa indeks daya saing global Indonesia menurun? "Jelas ada 
sesuatu yang perlu diperbaiki dalam implementasinya," kata Firmanzah.

Dia memprediksi, hingga 2017 iklim ekonomi dunia masih tidak menentu. Faktornya 
antara lain, langkah Inggris keluar dari Uni Eropa, kemudian pertumbuhan 
ekonomi RRC yang diperkirakan belum membaik sepenuhnya.

Selain itu, faktor ketidakpastian Federal Reserve selaku bank sentral Amerika 
Serikat dalam menaikkan suku bunga acuannya juga berpengaruh. Apakah diterapkan 
tahun ini atau tahun depan, tentu itu berdampak pada sentimen pasar keuangan 
dunia, segala imbas dari goncangan yang diciptakannya tentu ikut dirasakan oleh 
Indonesia.

Sementara itu produksi dan pasar komoditi pada 2017 diperkirakan masih akan 
melambat. Hal ini tentu menjadi tekanan terhadap kinerja ekspor Indonesia. 
Termasuk harga minyak mentah yang masih relatif dalam tekanan. Menurut 
Firmanzah faktor-faktor global ini harus diantisipasi. Langkah yang bisa 
dilakukan pemerintahan Jokowi adalah tetap kedepankan fiscal prudential atau 
kehati-hatian dalam pengelolaan fiskal.

Karena prioritas Jokowi adalah percepatan pembangunan infrastruktur, maka 
menurut Firmanzah pemerintah harus terus mendorong keterlibatan swasta dalam 
pembangunan infrastruktur. Selanjutnya, pemerintah perlu membangun kapasitas 
dan kemampuan aparat di daerah untuk mengelola dana transfer daerah.

"Anggaran ini sudah cukup besar. Kepala daerah, perencana daerah, harus terus 
didorong agar dananya teroptimalkan. Sesuai prinsip Jokowi, membangun dari 
pinggiran," katanya.

Selain itu, ekonomi maritim yang diprogramkan sejak awal perlu dipertegas 
kembali, dihidupkan. "Isu tol laut lambat laun kurang mendapat perhatian. Kita 
perlu hidupkan kembali wacana tematik itu," kata Fiz.
 


(ADM)

Kirim email ke