Para pejabat Indonesia kelihatannya suka sekali berlindung dibalik Debt to GDP 
Ratio yang konon katanya masih rendah dibandingkan Jepang ataupun US tetapi 
sayangnya tidak melihat betapa tingkat bunga Jepang ataupun US sangat rendah 
sekali dibandingkan Indonesia bahkan Jepang menerapkan negative interest rate. 
Dus tingkat bunga yang tinggi ditambah pinjaman pemerintah yang naik terus 
dengan eksport yang lesu mengakibatkan DSR yang tinggi sekali yang mencerminkan 
kemampuan bayar utang yg rendah.
---"Kalau di Jepang utangnya telah mencapai dua kali GDP. Kalau kita bandingkan 
utang per kapita kita tinggi, Jepang lebih tinggi lagi outstanding utangnya," 
kata Sri Mulyani akhir Agustus lalu.
...Penumpukan utang RI di tengah lesunya ekspor membuat kemampuan bayar 
Indonesia melemah. Bank Indonesia (BI) mencatat, jika dibandingkan dengan 
penerimaan perdagangan mancanegara, debt to service ratio (DSR) atau rasio 
utang meningkat. Hal tersebut mencerminkan penurunan kredibilitas kekuatan 
pembayaran pinjaman.
...http://nasional.inilah.com/read/detail/2332600/beban-utang-jerat-generasi-mendatang
Beban Utang Jerat Generasi Mendatang

Oleh : Ahluwalia | Rabu, 19 Oktober 2016 | 10:42 WIB



Menteri Keuangan Sri Mulyani - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Bank Indonesia (BI) melaporkan, utang luar negeri (ULN) 
Indonesia pada Agustus 2016 sebesar 323 miliar dollar AS.Beban utang itu harus 
ditanggung generasi mendatang.Utang Indonesia selalu mengalami peningkatan 
setiap tahunnya. Bahkan, hingga Juli 2016 lalu, utang Indonesia telah mencapai 
Rp3.359,82 triliun.Dalam kaitan ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan 
bahwa kondisi utang di Indonesia masih jauh lebih baik dibandingkan dengan 
Jepang. Sebab, rasio utang di Jepang mencapai dua kali dari gross domestic 
product (GDP) negara tersebut."Kalau di Jepang utangnya telah mencapai dua kali 
GDP. Kalau kita bandingkan utang per kapita kita tinggi, Jepang lebih tinggi 
lagi outstanding utangnya," kata Sri Mulyani akhir Agustus lalu.Melambatnya 
ekspor tersebut menyebabkan rasio pinjaman terhadap penerimaan ekspor atau debt 
to service ratio (DSR) Indonesia juga kian meningkat. Pada kuartal kedua 2016, 
DSR Indonesia (tier-1) mencapai 35,07%, naik dari kuartal sebelumnya yang 
sebesar 33,11%.DSR merupakan indikator kemampuan sebuah negara dalam melunasi 
utang. Semakin besar angka DSR maka kemampuan negara tersebut dalam melunasi 
utang semakin melemah. Adapun batas aman DSR menurut International Monetary 
Fund (IMF) yaitu sebesar 45%.Penumpukan utang RI di tengah lesunya ekspor 
membuat kemampuan bayar Indonesia melemah. Bank Indonesia (BI) mencatat, jika 
dibandingkan dengan penerimaan perdagangan mancanegara, debt to service ratio 
(DSR) atau rasio utang meningkat. Hal tersebut mencerminkan penurunan 
kredibilitas kekuatan pembayaran pinjaman.Ekonom Bank Permata Josua Pardede 
menyatakan, peningkatan DSR perlu diwaspadai karena kondisinya memburuk seiring 
dengan terus menurunnya penerimaan ekspor. "Beberapa kebijakan yang semestinya 
dilakukan pemerintah adalah melunasi ULN saat jatuh tempo dan tidak 
memperpanjangnya. Kemudian, memperketat ULN swasta, kecuali yang berorientasi 
ekspor," ujarnyaSelain itu, utang perlu ditujukan pada sektor produksi yang 
berdampak luas bagi pembangunan. "Misalnya, pembangunan insfrastruktur dan atau 
pemberian insentif bagi UKM," katanya.
Dalam kaitan ini, pembangunan kawasan ekonomi yang berorientasi ekspor mesti 
digenjot. Tujuannya, memperkuat sistem logistik sehingga ekspor lebih 
efisien.Laporan Bank Indonesia (BI) menyebut, posisi ULN Indonesia akhir Juni 
2016 sebesar US$ 323,8 miliar, atau naik 6,2% year on year (YoY). Sementara 
itu, pada kuartal kedua tahun ini, total ekspor (barang, jasa, pendapatan, dan 
transfer) sebesar US$ 176,13 miliar, turun dari kuartal sebelumnya yang sebesar 
US$ 179,26 miliar.Secara keseluruhan, ULN Indonesia pada Agustus 2016 tumbuh 
sebesar 6,3 persen secara tahunan (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 
Juli 2016 yang sebesar 6,6 persen (yoy).
Berdasarkan jangka waktu asal, ULN jangka pendek terus mengalami penurunan, 
sementara ULN jangka panjang tumbuh melambat.Berdasarkan kelompok peminjam, ULN 
sektor swasta mengalami penurunan, sementara ULN sektor publik mengalami 
peningkatan dibandingkan dengan bulan sebelumnya.Berdasarkan jangka waktu asal, 
posisi ULN Indonesia didominasi oleh ULN jangka panjang.Posisi ULN jangka 
panjang pada akhir Agustus 2016 mencapai 282,5 miliar dollar AS atau 87,5 
persen dari total ULN.Posisi ULN jangka pendek pada akhir Agustus 2016 tercatat 
sebesar 40,5 miliar dollar AS atau 12,5 persen dari total ULN.Berdasarkan 
kelompok peminjam, posisi ULN Indonesia sebagian besar terdiri dari ULN sektor 
swasta.Pada akhir Agustus 2016, posisi ULN sektor swasta mencapai 163,3 miliar 
dollar AS atau 50,6 persen dari total ULN, sementara ULN sektor publik sebesar 
159,7 miliar dollar AS atau 49,4 persen dari total ULN.ULN sektor swasta masih 
mengalami penurunan 3,9 persen (yoy) pada Agustus 2016, sementara ULN sektor 
publik tumbuh 19,2 persen (yoy).Menurut sektor ekonomi, ULN swasta pada akhir 
Agustus 2016 terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan, 
pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih. Pangsa ULN keempat sektor 
tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 75,5 persen.Bank Indonesia 
memandang perkembangan ULN pada Agustus 2016 masih cukup sehat, namun terus 
mewaspadai risikonya terhadap perekonomian nasional. Ke depan, Bank Indonesia 
akan terus memantau perkembangan ULN, khususnya ULN sektor swasta.Hal itu 
dimaksudkan untuk memberikan keyakinan bahwa ULN dapat berperan secara optimal 
dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko yang dapat 
memengaruhi stabilitas makroekonomi.Beban utang luar negeri (ULN) sektor negara 
dan swasta makin tinggi, sehingga pemerintah harus bisa menggunakan utang untuk 
hal-hal produktif, terutama sector ekonomi yang berorientasi ekspor. ULN swasta 
harus diperketat, sebab sudah jadi beban rakyat.Banyaknya kebocoran dan 
inefisiensi telah membuat beban utang negara dan swasta itu menjerat ekonomi 
rakyat, dan akibatnya, menjadi persoalan struktural yang membelenggu 
perekonomian bangsa kita dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Sampai 
kapan kita menanggung beban utang? Hampir pasti sampai sekian generasi ke 
depan. (berbagai sumber)[rok]

Kirim email ke