“Dua Tahun Pemerintahan Jokowi, Dengan Ilusi Nawacita Yang Memiskinkan Kaum 
Tani dan Rakyat Luas Indonesia!”
Oktober 20, 2016 83
Referensi: Moh. Ali (Sekjend. PP AGRA)Hari ini, tepat dua tahun pemerintahan 
Jokowi-JK. Pada pemerintahannya di tahun kedua ini, melalui Kantor Staff 
Presiden (KSP) pemerintah Jokowi-JK mengklaim adanya sejumlah capaian yang 
berhasil diraih selama dua tahun pemerintahannya, terutama di bidang ekonomi. 
Adapun Indikator capaian tersbeut diantara: Pemerintah mengklaim telah sanggup 
menurunkan angka Kemiskinan. Per Maret 2016, angka kemiskinan disebutkan turun 
menjadi 28,01 juta (10,86%), dari 28,51 juta (11,22%) pada Maret 2015. Demikian 
juga dengan angkaPengangguran, dinyatakan turun menjadi 7,02 juta orang (5,50%) 
dari 7,45 (5,81%) pada tahun sebelumnya.Pemerintah juga mengklaim telah 
berhasil meningkatkan Pertumbuhan ekonomi dan Investasi di Indonesia, 
masing-masing hingga 5,04% dan 14,8%. Dalam aspek ekonomi, klaim tersebut 
sesungguhnya merupakan klaim yang mengada-ada, sebab perhitungan atas 
pertumbuhan ekonomi pemerintah hanya disandarkan pada perputaran kapital dan 
nilai produksi secara makro semata, dimana sebagian besar produksi dan kapital 
trsebut tersentral (dimonopoli) hanya ditangan segelintir orang (Tuan tanah dan 
borjuasi komprador), ditambah dengan belanja rakyat atas kebutuhan pokok yang 
sesungguhnya memang tidak dapat dikompromi, serta transaksi terbatas atas 
kebutuhan sekunder yang dipaksakan dengan berbagai kemudahan prosesnya. Namun, 
perhitungan tersebut tidak sama-sekali dihitung berdasarkan pendapatan riil dan 
daya beli rakyat sesungguhnya yang pada kenyataan lain masih harus menanggung 
beban utang berlipat-lipat dari produksi hingga pemenuhan kebutuhan 
pokoknya.Dalam hal Investasi, pertumbuhan ini “wajar” diklaim sebagai capaian 
oleh pemerintah, sebab pemerintah memang tidak pernah memiliki kesanggupan 
untuk menjalankan pembangunan tanpa investasi dan hutang. Namun demikian, tentu 
merupakan sebuah kesalahan besar jika menganggap tingginya Investasi sebagai 
satu capaian, apalagi berambisi untuk terus meningkatkan jumlahnya. Sebab 
investasi yang ditanamkan di Indonesia, tidak diperuntukkan bagi rakyat, 
melainkan hanya eksport kapital milik kapitalis monopoli untuk dapat mengeruk 
sumberdaya alam dan bahan mentah serta untuk mendapatkan keuntungan 
berlipat-lipat lebih besar dari kekayaan negeri ini.Meskipun, dalam 
implementasinya pemerintah akan terus berdalih bahwa Investasi akan 
meningkatkan Serapan Tenaga kerja, atau sebagai salah satu jalan keluar untuk 
memecahkan pengangguran yang terus menumpuk di Indonesia. Meskipun demikian, 
pemerintah tidak berani menjelaskan bahwa Investasi yang dimaksud, hanya 
sanggup menyediakan lapangan kerja yang sangat terbatas, terutama lapangan 
kerja “padat karya” yang hanya bersifat sementara.Pemerintah juga mengakui 
bahwa,  Utang Luar Negeri hingga akhir Juli 2016 naik mencapai US$ 324,2 miliar 
atau naik 6,4% (YoY). Berdasarkan jangka waktu asal, utang luar negeri jangka 
panjang US$ 283 miliar atau naik 8% (YoY). Sementara, utang luar negeri jangka 
pendek turun, tercatat sebesar US$ 41,2 miliar atau turun 3,6% (YoY). Dalam 
konteks ini, meskipun kenyataannya utang luar negeri tetap naik, pemerintah 
tetap mengklaim sebagai satu capaian “hanya karena” penaikannya justeru pada 
hutang jangka panjang, dan utang jangka pendeka menurun. Harus menjadi catatan, 
bahwa klaim ini “sekali lagi” membuktikan bahwa dalam memecahkan kemerosotan 
ekonomi hingga program pembangunan di Negeri ini, pemerintah memang sangat 
bergantung pada utang dan Investasi, kemudian ditopang dengan pencabutan 
subsidi rakyat yang selanjutnya diklaim sebagai modal mandiri oleh 
pemerintah.Pemerintah juga menyebutkan bahwa pencabutan subsidi BBM pada tahun 
ini sebesar Rp 211,3 triliun, dialihkan ke program prioritas melalui belanja 
pemerintah pusat dan belanja daerah sebesar Rp 34,7 triliun, serta sisanya 
dipakai sebagai dana kesinambungan fiskal, subsidi non energi dan pembanyaran 
bunga utang. Namun disisi yang lain, pemerintah tidak mengakui adanya 
pemotongan subsidi untuk pendidikan, kesehatan serta subsidi publik lainnya 
yang dialihkan untuk anggaran pembiayaan sektor lain yang dinilai strategis 
untuk menfasilitasi, sekaligus menopang produksi borjuasi besar komprador dan 
imperialisme yang beroperasi di Indonesia. Ironis tentunya, ketika pemerintah 
mengklaim bahwa pencabutan subsidi ini sebagai satu capaian, sementara akibat 
pencabutan subsidi BBM dan subsidi publik lainnya, telah memerosotkan 
penghidupan rakyat dengan beban penghidupan yang jauh lebih berat, karena 
mahalnya biaya kebutuhan akibat pencabutan subsidi tersebut.Dari seluruh 
pernyataan atas klaim keberhasilan pemerintahan Jokowi-JK dalam dua tahun 
pemerintahannya, Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), memandang bahwa, 
“seluruh perhitungan matematis yang diklaim sebagai capaian pemerintah tersebut 
adalah kebohongan semata. Seluruhnya hanya manipulasi data yang sesungguhnya 
bertentangan dengan kenyataan hidup rakyat yang terus mengalami 
kemerosotaan”.Persoalan kemiskinan di Indonesia, sesungguhnya sudah tidak dapat 
ditutupi. Penurunan angka kemiskinan seperti yang disebutkan oleh pemerintah, 
dapat dipastikan akan berbanding terbalik dengan angka kemiskinan yang jauh 
lebih tinggi jika didasarkan pada pendapatan riil rakyat yang tidak sebanding 
dengan angka inflasi yang terus naik. Apalagi bagi kaum tani dan masyarakat 
luas dipedesaan, yang dengan pendapatan rata-rata berkisar pada Rp. 
20.000-49.000 perhari. Sejalan dengan angka kemiskinan yang tinggi, angka 
kelaparan di Indonesia belum dapat diatasi. Pada tahun 2015, masih terdapat 
sekitar 20 juta jiwa rakyat menderita kekurangan makan setiap harinya. 
Pemerintah juga belum sanggup mengurangi tingginya jumlah balita yang menderita 
gizi buruk. Demikian juga dengan angka pengangguran dan kemiskinan terus 
meningkat, pendapatan rakyat terus merosot, berbanding terbalik dengan biaya 
produksi dan inflasi yang tetap naik.Dipedesaan, kemiskinan kaum tani semakin 
luas akibat perampasan tanah, naiknya biaya produksi pertanian, buruknya 
infrastruktur dan kekacauan iklim, serta kemerosotan harga-harga pertanian 
seperti sawit, karet, kakao, kopi, jagung, maupun hasil pertambangan yang tidak 
sanggup diatasi oleh Pemerintah. Sungguh kenyataan yang terus menggeret kaum 
tani dan rakyat dipedesaan dalam kehancuran ekonomi yang semakin buntu, 
besarnya deficit pendapatan dan jeratan hutang yang terus menggunung, sebagai 
dampak merosotnya hasil komoditas pertanian tersebut.Secara khusus disektor 
pangan, meskipun pemerintah terus menggemborkan program ketahanan pangannya 
dengan ambisi swasembada, kenyataannya Pemerintah masih melakukan impor beras 
hingga lebih dari 1,146,322 ton, senilai US$ 472,5 juta. Padahal produksi beras 
nasional mencapai 43, 61 juta ton, dengan total kebutuhan konsumsi nasional 
33,35 juta ton. Artinya dari perbandingan konsumsi dan produksi nasional saja, 
Indonesia masih surplus 10, 25 juta ton. Lantas surplus produk dan import 
pemerintah atas beras hingga 1,14 juta ton tersebut “dikemanakan dan digunakan 
untuk apa?”Hal tersebut sekaligus membuktikan bahwa, masalah kemiskian dan 
kelaparan sesungguhnya bukan karena tidak-adanya stok pangan semata. Akan 
tetapi, akar kemiskinan dan kelaparan, bahkan semakin tingginya angka 
pengangguran dan kian tajam ketimpangan di Indonesia adalah akibat monopoli 
atas tanah, produksi hingga distribusi hasil produksi pertanian di 
Indonesia.Dalam aspek keamanan, celakanya, diatas seluruh kenyataan tersbeut, 
Pemerintah juga masih menggunakan cara-cara kekerasan dalam menghadapi tuntutan 
rakyat. Terlebih lagi dalam menghadapi kaum tani yang secara konsisten terus 
berjuang mempertahankan dan merebut kembali tanahnya yang telah dirampas oleh 
tuan tanah, borjuasi komprador dan, bahkan oleh pemerintah secara lansung. 
Demikian juga dalam perjuangan rakyat yang terus menuntut pemenuhan atas 
hak-hak demokratis dan hak sosial lainnya..Ditengah kemerosotan ekonomi rakyat, 
massifnya pencabutan subsidi, tingginya angka kemisiknan dan kelaparan, tanpa 
rasa malu Pemerintahan Jokowi justeru menerapkan kebijakan “Pengampunan Pajak 
(Tax Amnesty)” yang kian memperburuk penghidupan rakyat. Kebijakan ini (Tax 
Amnesty), justeru menunjukkan ketidak-mampuan pemerintah menangani deficit 
anggaran Negara yang tidak sebanding dengan kebutuhan belanja yang terus 
membengkak.Rakyat selalu dikenai sanksi tanpa ampun, saat terlambat membayar 
pajak. Sementara pengusaha justeru mendapatkan pengampunan dan fasilitas saat 
terlambat dan mengemplang pajak. Disaat mayoritas rakyat tengah terjerat 
kemiskinan, dan membutuhkan subsidi dan perbaikan penghidupannya. Pada saat 
yang bersamaan, pemerintah justeru memberikan pengampunan pajak dan fasilitas 
yang menguntungkan bagi borjuasi komprador dan tuan tanah besar. Lebih jauh, 
Tax amnesty justru mempertahankan skema import kapital, monopoli tanah dan 
menjadikan penghidupan rakyat semakin buruk, sebab:Penghisapan dan pencurian 
nilai lebih terhadap buruh.  Artinya, pengusaha mendapatkan keuntungan lebih 
dari berkurangnya kewajibannya (pajak). Di sisi lain, buruh tidak mendapatkan 
kenaikan upah sebagai kompensasi pajak pengusaha yang diampuni. Rakyat juga 
tidak mendapatkan perbaikan pendapatan atau upahnya oleh negara, karena hasil 
TA ini bukan dialokasikan untuk subsidi rakyat. Demikian juga dengan tuan tanah 
besar memiliki keuntungan dari pengampunan pajak, tuan tanah tetap dapat 
mempertahankan kepemilikan tanah puluhan juta hektar. Sementara harga sarana 
produksi (bibit, pupuk, obat-obatan, teknologi atau alat kerja) tidak mengalami 
penurunan sebagai kompensasi atas pengampunan pajak yang diterima. Disisi lain, 
petani juga tetap harus menanggung sewa tanah dan peribaan yang tinggi. Rakyat 
luas semakin berat penghidupannya karena tidak ada perbaikan pendapatan, 
sehingga tidak mampu mencukupi dan memperbaiki kualitas penghidupannya 
(pendidikan, kesehatan, tempat tinggal, dll).Berdasarkan seluruh uraian diatas, 
Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) menyatakan sikap: “Mengecam Kebohongan 
Pemerintah Jokowi-JK atas seluruh klaim capaian dalam dua tahun 
pemerintahannya”. AGRA juga menegaskan pendirian bahwa, “Tidak Akan Pernah Ada 
Perubahan Lebih baik Atas Penghidupan Rakyat, Ditangan Pemerintah Boneka, 
Seperti Pemerintahan Jokowi-Jk!”.

Kirim email ke