Perhutani dibantu TNI dan Polisi Porak-porandakan Gubuk-gubuk Milik Petani
Serikat Petani Majalengka
Majalengka – Tindakan aparat Negara semakin repserif terhadap petani. kali ini
beberapa anggota Serikat Petani Majalengka (SPM) yang menjadi korban tindakan
tersebut.Peristiwa penyerangan terjadi Selasa, (18/10) pagi lalu. Awalnya, pada
pukul 10.00 waktu setempat gerombolan masyarakat yang dikomandai Perum
Perhutani menyerang tujuh orang petani beserta dua orang anak-anak. Selain itu
mereka juga merusak gubuk yang dirikan oleh petani di wilayah hutan
tersebut.Tujuh petani ini di antaranya Ratna (52), Daslam (78), Anti (39),
Tamin (40), Imin (35), Rasem (65), Rukmana (35) beserta dua orang anak, Asep
(12), dan Dede (5).Saat penyerangan berlangsung, pihak Perhutani dibantu oleh
TNI, Polisi, Polisi Hutan, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), Kepala Desa
dan 60-an orang warga Mekarmulya.Saat awal penyerangan, pihak Perhutani
langsung merobohkan dan menghancurkan gubuk milik Ratna (52) dan beberapa
petani lainnya yang saat itu sedang melakukan penyemprotan tanaman mereka.
Tanpa basa-basi pihak Perhutani dengan seketika memporak-porandakan kediamana
sederhana para petani tersebut.Daslam (78), yang saat itu juga berada dilokasi
mencoba melerai tindakan. Namun pihak Perhutani balik mengancam Daslam.Pihak
Perhutani menuduh para petani sudah melanggar aturan dengan masuk serikat tani
dan menggarap hutan tanpa seizin mereka.Mendengar tuduhan tersebut, Tamin (40)
mencoba menjelaskan pada pihak perhutani bahwa tindakan yang dilakukan oleh
mereka ini tidak bisa dibenarkan. Negara yang seharunya mensejahterakan
masyarakat justru malah menjadi teror bagi petani.Tamin (40) juga menjelaskan
kepada pihak Perhutani bahwa ia bersama petani lainnya sudah ± 7 tahun
menggarap lahan tersebut. Selama menggarap lahan hutan tersebut, mereka belum
pernah mendapatkan hasil. Malah selalu dimintai ‘patutunggul’ dan ‘banjar
harian’. (red ; pungutan liar yang diminta oleh pihak Perhutani)Mendengar
penjelasan Tamin pihak Perhutani langsung mengarahkan senjata tajam berupa
parang kepada para petani dengan diikuti tebasan pada tiang gubuk.Mereka
mengancam para petani apabila berkata sekali lagi akan memperlakukan para
petani tersebut layaknya tiang gubuk yang baru mereka tebas.Tidak hanya sampai
disitu, pihak Perhutani juga menuduh para petani sebagai gerombolan komunis dan
mengancam akan menangkap keturunan mereka.Pasca kejadian, para petani ini
diberi masing-masing surat pernyataan dan disuruh menandatangani secara
paksa.Diwaktu bersamaan, Aryanto atau yang biasa dipanggil Ucok anggota SPM
lainnya yang juga merupakan salah mahasiswa disalah satu Universitas di
Majalengka mencoba menuju lokasi penyerangan dengan maksud ingin menengahi
pertikaian yang terjadi antara warga (red: petani SPM) dan pihak
Perhutani.Namun saat diperjalanan, ia dihadang oleh sebagian warga Mekarmulya
yang ikut melakukan penyerangan. Saat itu juga Ucok diintimidasi dan dibawa ke
Balai Desa Mekar Mulya. Ada nada dari beberapa orang warga waktu itu untuk
menculik Ucok.Selain itu, Ucok juga dituduh sebagai ketua serikat tani yang
menyebarkan paham komunis dikalangan petani tersebut.Setelah diintrogasi, Ucok
dipaksa untuk menandatangi surat pernyataan dan setelah itu baru diperbolehkan
untuk pulang. Namun, mereka menahan beberapa identitas Ucok yakni kartu BPJS
Kis, SIM Orang Tua, ATM, Tagihan Koperasi, Kartu Donor, dan semua isi dompetnya
sebagai jaminan.Di lokasi kejadian, para petani dari SPM ini juga menemukan
beberapa botol minuman keras yang disinyalir milik rombongan pihak Perhutani
tersebut.Ratna dan Daslam sangat trauma atas kejadian ini. Mereka tidak
menyangka bahwa peristiwa tersebut akan menimpa mereka. Mereka bersama petani
lainnya terpaksa menggarap lahan yang berada di hutan karna tidak memiliki
sejengkal tanah pun untuk menghidupi keluarga masing-masing.Bukannya mendapat
pengakuan dan perlindungan dari Negara. Mereka malah mendapatkan perlakuan
sebaliknya. Atas kejadian ini, para petani mengalami kerugian ± Rp. 10 juta.
Selain itu, mereka juga didera rasa ketakutan yang mendalam karna merasa nyawa
mereka terancam oleh tindakan yang dilakukan oleh pihak Perhutani tersebut.