Wajah Muram Papua di Tangan Jokowi 
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20161019205839-20-166636/wajah-muram-papua-di-tangan-jokowi/

 
 
 
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20161019205839-20-166636/wajah-muram-papua-di-tangan-jokowi/
 
 
 Wajah Muram Papua di Tangan Jokowi 
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20161019205839-20-166636/wajah-muram-papua-di-tangan-jokowi/
 LIPI meminta Presiden Jokowi secara intensif menggelar dialog inklusif dengan 
seluruh elemen masyarakat Papua. Jakarta dan Jayapura tak boleh saling c...
 
 
 
 View on www.cnnindonesia.com 
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20161019205839-20-166636/wajah-muram-papua-di-tangan-jokowi/
 
 Preview by Yahoo 
 
 
  
 Analisis Wajah Muram Papua di Tangan Jokowi Abraham Utama, CNN Indonesia
 Kamis, 20/10/2016 08:32 WIB
 
 Sebarkan:  
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20161019205839-20-166636/wajah-muram-papua-di-tangan-jokowi/#
  
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20161019205839-20-166636/wajah-muram-papua-di-tangan-jokowi/#
  
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20161019205839-20-166636/wajah-muram-papua-di-tangan-jokowi/#
 
 LIPI meminta Presiden Jokowi secara intensif menggelar dialog inklusif dengan 
seluruh elemen masyarakat Papua. Jakarta dan Jayapura tak boleh saling curiga. 
(Dok. Agus Suparto)
 
 Jakarta, CNN Indonesia -- Joko Widodo merupakan presiden Indonesia yang paling 
sering menyapa masyarakat Papua. Dalam dua tahun terakhir, ia sudah lima kali 
berkunjung ke Papua. 

Desember 2014, Jokowi merayakan natal di Jayapura. Satu tahun kemudian ia 
menutup 2015 di Raja Ampat.

Jokowi tidak ingkar. Kepada penduduk di dua provinsi paling timur Indonesia 
itu, ia berjanji untuk setidaknya tiga kali dalam setahun menginjakkan kaki di 
Bumi Cenderawasih.

Beberapa hari jelang dua tahun pemerintahannya yang jatuh Kamis (20/10), Jokowi 
ada di Papua. Ia meresmikan satu bandara vital di Yahukimo dan enam pembangkit 
listrik baru.

"Insya Allah Papua dan Papua Barat tidak lagi gelap di tahun 2019," ucap Jokowi 
melalui akun Twitternya, Senin kemarin.
 Lihat juga:'Jangan Lihat Papua dengan Logika Jawa' 
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160809085425-75-150081/jangan-lihat-papua-dengan-logika-jawa/
Jokowi memang tengah giat mendirikan beragam infrastruktur baru di Papua dan 
Papua Barat. Tidak hanya sektor kelistrikan dan akses transportasi, pelayanan 
serta sarana pendidikan, ekonomi, dan kesehatan juga ia genjot.

"Saya tahu medannya berat, inilah tantangan program proyek yang ada di Papua 
dan Papua Barat. Saya tahu itu, tapi jangan diundur-undur," ujarnya kepada 
Menteri BUMN Rini Soemarno dan Dirut PLN Sofyan Basyir di Sentani.

Penelitian yang disusun Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Jaringan Damai 
Papua pada 2015 menyebut infrastruktur sebagai persoalan besar di dua provinsi 
itu. 

Namun melalui policy brief bertajuk Bersama-sama Membangun Papua Damai, mereka 
menyatakan Papua tidak melulu soal keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar 
manusia. 

Masyarakat Papua masih terus distigmatisasi dan diperlakukan tidak serupa warga 
negara di daerah lain. Persoalan politik, hukum, dan keamanan masih menjadi 
duri dalam daging dalam hubungan Papua dan Jakarta.
 Lihat juga:Bara Konflik Papua dan Diplomasi 'Ultranasionalis' Indonesia 
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20161018144757-20-166277/bara-konflik-papua-dan-diplomasi-ultranasionalis-indonesia/
Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI Adriana Elisabeth mengatakan, kebijakan 
Jokowi terhadap Papua awalnya komprehensif. Ia berkata, selain hadir secara 
fisik, Jokowi juga menerapkan kebijakan ekstrem yang belum pernah ada 
sebelumnya, yaitu pembebasan tahanan politik Papua.

Akan tetapi, menurut Adriana, Jokowi akhirnya lebih mengedepankan pembangunan 
infrastruktur di Papua dan Papua Barat. Ia menyebut pilihan itu tidak akan 
menyelesaikan seluruh persoalan yang ada.

"Kalau infrastruktur dikejar, tidak ada jaminan bahwa permasalahan 
politik,hukum, dan keamanan akan membaik dan selesai," tuturnya.

 Kehidupan warga Desa Wogekel Wanam, Merauke. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai menyebut setidaknya terdapat sembilan 
kasus pelanggaran HAM yang terjadi selama pemerintahan Jokowi.

Kasus itu antara lain penembakan di Yahukimo (Maret 2015), kericuhan Tolikara 
(Juli 2015), kematian sejumlah anak di Nduga (November 2015) dan kasus saham PT 
Freeport Indonesia yang disebut Pigai mengabaikan masalah sosial warga lokal.

Kerja kolektif Papuan Behind Bars mencatat, hingga Maret 2016, sebanyak 32 
warga Papua dilekatkan status tahanan politik. Setahun sebelumnya, 1083 orang 
Papua ditangkap secara sewenang-wenang di seluruh Indonesia atas beragam 
tuduhan kejahatan. Angka itu diklaim yang tertinggi sejak 2012.

Juni lalu, saat ditemui di Jakarta, Kapolda Papua Brigjen Paulus Waterpauw 
telah menyatakan sikapnya terhadap gerakan kemerdekaan Papua yang diinisiasi 
Komite Nasional Papua Barat (KNPB).

"Dengan alasan apapun, kalau menggunakan label KNPB, akan kami larang," ucapnya 
tentang gerakan tersebut.

KNPB merupakan kelompok yang mendukung United Liberation Movement for West 
Papua (ULMWP) atau Gerakan Pembebasan Papua. Sementara ULMWP adalah gerakan 
yang mendapatkan dukungan negara-negara Pasifik yang tergabung dalam Melanesian 
Spearhead Group.

Dialog

LIPI menyarankan Jokowi untuk menunjuk seorang perantara yang menghubungkan 
Jakarta dan Jayapura. Adriana berkata, posisi itu sebaiknya dipegang pejabat 
setingkat menteri yang memahami Papua luar-dalam dan memiliki jaringan 
internasional luas.

Menjalin dialog yang inklusif, kata Adriana, merupakan tugas utama si perantara 
itu. Dialog itu digelar secara rutin dan melibatkan seluruh elemen masyarakat 
Papua, termasuk ULMWP yang kini didukung generasi muda Papua kritis.

"Dialog itu adalah sebuah pendekatan dan bukan solusi untuk Papua," kata 
Adriana.
 Lihat juga:Jokowi Diminta Terbuka soal Pelanggaran HAM di Papua 
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20161002213850-20-162771/jokowi-diminta-terbuka-soal-pelanggaran-ham-di-papua/
Tak kalah penting, LIPI mendorong Jokowi mengubah wajah Jakarta di mata 
masyarakat Papua. Selama ini, TNI dan Polri menjadi representasi pemerintah 
pusat di Papua.

Kekerasan yang dilakukan personel institusi keamanan dan pertahanan itu di 
Papua dianggap ekuivalen dengan perbuatan pemerintah pusat.

"Penataan aparat di sana harus sesuai dengan kebutuhan. Yang jadi pertanyaan, 
kenapa hal itu sulit diubah," kata Adriana. Kebijakan keamanan di Papua masih 
berorientasi padastate security, bukan human security.

 Ribuan massa tergabung dalam Komite Nasional Papua Barat (KNPB) berunjuk rasa 
di Waena, Kota Jayapura, Selasa (31/5). Aksi tersebut menuntut pembebasan 
Tahanan Politik (Tapol) Papua yang dijerat pasal makar. (ANTARA FOTO/Indrayadi 
TH)

Jokowi saat ini masih memiliki tiga tahun untuk menyicil implementasi solusi 
atas persoalan Papua. Simultan adalah kata kunci.

Seperti gagasannya tentang revolusi mental, aspek manusia dalam persoalan Papua 
merupakan bagian yang tidak boleh dikesampingkan.

Papua tidak boleh gelap dan muram lagi. (abm/asa)
 

Kirim email ke