Daya Saing Turun, Indef Beri Rapor Merah Dua Tahun Jokowi 
http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20161020115211-78-166735/daya-saing-turun-indef-beri-rapor-merah-dua-tahun-jokowi/

 
 
 
http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20161020115211-78-166735/daya-saing-turun-indef-beri-rapor-merah-dua-tahun-jokowi/
 
 
 Daya Saing Turun, Indef Beri Rapor Merah Dua Tahun J... 
http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20161020115211-78-166735/daya-saing-turun-indef-beri-rapor-merah-dua-tahun-jokowi/
 Peringkat Global Competitiveness Index Indonesia melorot dari 34 pada tahun 
2014 menjadi 37 pada tahun 2015, dan 41 pada tahun ini.
 
 
 
 View on www.cnnindonesia.com 
http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20161020115211-78-166735/daya-saing-turun-indef-beri-rapor-merah-dua-tahun-jokowi/
 
 Preview by Yahoo 
 
 
  
 Daya Saing Turun, Indef Beri Rapor Merah Dua Tahun Jokowi Safyra Primadhyta, 
CNN Indonesia
 Kamis, 20/10/2016 11:52 WIB
 
 Sebarkan:  
http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20161020115211-78-166735/daya-saing-turun-indef-beri-rapor-merah-dua-tahun-jokowi/#
  
http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20161020115211-78-166735/daya-saing-turun-indef-beri-rapor-merah-dua-tahun-jokowi/#
  
http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20161020115211-78-166735/daya-saing-turun-indef-beri-rapor-merah-dua-tahun-jokowi/#
 
 Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menorehkan rapor 
merah atas upaya pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) memperbaiki daya saing. 
Menurut Indef, selama dua tahun terakhir, indikator daya saing Indonesia 
semakin terpuruk. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari).
 
 Jakarta, CNN Indonesia -- Institute for Development of Economics and Finance 
(Indef) menorehkan rapor merah atas upaya pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) 
memperbaiki daya saing. Menurut Indef, selama dua tahun terakhir, indikator 
daya saing Indonesia semakin terpuruk. 

"Karena, indikator daya saing memburuk, kami memberikan rapor merah atau C 
minus," ujar Direktur Eksekutif INDEF Enny Sri Hartati, Kamis (20/10).

Hal ini sangat disayangkan, mengingat perbaikan daya saing merupakan salah satu 
agenda nawacita Jokowi.
 

 Lebih lanjut, Eko Listyanto, peneliti Indef bilang, peringkat Global 
Competitiveness Index Indonesia yang dirilis World Economic Forum melorot dari 
34 pada tahun 2014 menjadi 37 pada tahun 2015, dan 41 pada tahun ini. 

"Di kacamata global, peringkat daya saing Indonesia memburuk," kata Eko di 
tempat yang sama.

Penilaian GCI diambil berdasarkan belasan aspek kunci. Memburuknya peringkat 
Indonesia utamanya disebabkan oleh aspek institusi, kesehatan, dan pendidikan, 
inefisiensi pasar, ketersediaan teknologi, kecanggihan bisnis, termasuk inovasi 
yang belum menunjukkan perbaikan berarti.

Sebagai pembanding, India dalam tempo dua tahun berhasil menaikkan peringkat 
daya saing globalnya dari 55 pada tahun lalu menjadi 39 pada tahun ini. Dalam 
temuan itu, Indonesia cuma lebih baik dari India dalam aspek penyediaan 
kebutuhan dasar dan ukuran pasar.

Tak hanya itu, paket kebijakan ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan 
investasi masih minim implementasi. Akibatnya, kemudahan melakukan bisnis di 
dalam negeri belum meningkat secara signifikan.

Tahun ini, Bank Dunia mencatat, peringkat kemudahan melakukan usaha (ease of 
doing business) Indonesia masih ada di posisi 109 atau jauh di bawah Malaysia 
(18), Thailand (49), Vietnam (90), dan Filipina (103).

"Padahal, paket kebijakan ekonomi nyaris 80 persen bercerita untuk mendongkrak 
investasi dan menaikkan kegiatan ekonomi," imbuh Eko. 

Turunnya daya saing Indonesia juga diperparah dengan peran industri manufaktur 
yang kian rontok. Sekalipun pertumbuhan ekonomi masih berkisar 5 persen, tapi 
kontrobusi sektor industri pengolahan/manufaktur bagi pertumbuhan ekonomi 
semakin mengalami penurunan.

"Posisi saat ini, kontribusi industri manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi 
tinggal 20 persen padahal di tahun 2001 nyaris 30 persen-an," terang dia.

Implementasi hilirisasi industri juga masih minim, sehingga ketergantungan atas 
hasil ekspor komoditas belum dapat teratasi. Akibatnya, nilai ekspor Indonesia 
sangat rentan terhadap gejolak perekonomian global.

Mengutip data keluaran Deloitte, kontribusi sektor manufaktur terhadap ekspor 
Indonesia masih rendah, yaitu hanya 40 persen. Sementara, Malaysia 62 persen, 
Thailand 73 persen, dan China 94 persen. (bir)

 

 

Kirim email ke