Terima kasih pak, ini usaha yang cukup bagus, tapi yang saya lihat di FB ada 
buah nangka panjang sampai 70cm-80 cm, kentang besarnya 1 drum dan labu 
besarnya pas 1 mobil pickup, mentimun panjangya 1 meter, pohon sawi panjang 
kurang lebih  1 ½ m. bibitnya beli dimana

From: [email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Friday, October 21, 2016 1:40 PM
To: Karma, I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia]; Gelora45
Subject: [**EXTERNAL**] [GELORA45] Re: Dua tahun kerja, Jokowi gagal tekan 
harga pangan


Bermodal Biji Buah Lokal, Sutrisno Sulap Berbagai Buah Ukuran Jumbo
Sutrisno (53) warga JL Rumpuk Nomor 107, Kelurahan Kertosari, 
Kecamatan/Kabupaten Ponorogo mampu menghasilkan buah berkualitas jumbo.
Minggu, 3 Maret 2013 12:51
[Bermodal Biji Buah Lokal, Sutrisno Sulap Berbagai Buah Ukuran Jumbo]
surya/sudarmawan
BUAH JUMBO - Sutrisno menunjukkan perbandingan buah srikaya lokal dengan buah 
srikaya hasil teknis dan rekayasanya di kebun belakang rumahnya JL Rumpuk, 
Nomor 107, Kelurahan Kertosari, Kecamatan/Kabupaten Ponorogo, Minggu (3/3).

Hanya bermodalkan keuletan, pria 2 anak ini kini sudah mendapatkan perhatian 
dari berbagai kalangan terutama petani, Dinas Pertanian dan Dinas Perkebunan 
dari luar Kabupaten Ponorogo.

Diantaranya, Kabupaten Probolinggo, Tulungagung, Jember, Kediri, Madiun, 
Pacitan, Lumajang, Situbondo serta sejumlah Kabupaten asal Pulau Garam, Madura. 
Mereka berdatangan ke rumah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bertugas di UPTD 
Badan Keluarga Berencana (BKB) Pulung itu, hanya untuk berguru cara 
penyambungan berbagai macam buah lokal agar menghasilkan buah berukuran jumbo 
serta mencari benih yang sudah jadi untuk dikembangan dan disemaikan di 
daerahnya masing-masing.

Tidak hanya itu, dalam beberapa tahun terakhir sejumlah kalangangan dari 
wilayah Jawa Tengah juga banyak yang datang untuk berguru dan memborong benih 
yang siap tanam dari kebun lelaki berkaca mata ini.

"Awalnya memang hanya coba-coba, tetapi sekarang hasilnya bisa dinikmati 
keluarga saya, masyarakat umum serta berbagai instansi yang membutuhkan," 
terangnya kepada Surya, Minggu (3/3/2013).

Selain itu, Sutrisno mengungkapkan jika saat uji coba pengembangan penyambungan 
buah lokal dengan berbagai jenis benih unggul impor itu, hanya bermodalkan 
tanah seluas 7 x 7 meter yang ada di belakang rumahnya. Namun, secara bertahap 
akhirnya kini mampu memiliki lahan perkebunan dan persemaian selus 2 hektar 
berisi sekitar 100 jenis benih buah-buahan yang mampu menghasilkan buah super 
dan jumbo.

"Kali pertama saya coba untuk buah klengkeng, hasilnya mampu menghasilkan 
klengkeng pingpong yang dalam 1 kilogram hanya berisi 40 butir buah. Hasilnya 
sudah berkembang pesat. Sekarang saya kembangkan buah Srikaya yang mampu 
menghasilkan buah 2 kilogram per buah," ungkapnya sambil membandingkan buah 
srikaya lokal dan hasil rekayasanya.

Selama ini, Sutrisno mengembangkan perkebunan benih buah di samping dan 
belakang rumahnya itu menggunakan 3 cara penyambungan agar menghasilkan buah 
lokal berukuran jumbo. Diantaranya teknis sambung mata, teknis sambung pucuk 
dan teknis sambung susu.
Halaman selanjutnya 
<http://surabaya.tribunnews.com/2013/03/03/bermodal-biji-buah-lokal-sutrisno-sulap-berbagai-buah-ukuran-jumbo?page=2>

Selama ini, kebanyakan orang menggunakan teknis sambung pucuk karena lebih 
hemat dan mudah diterapkan, disusul sambung mata dan terakhir yang paling susah 
dan tak digemari teknik sambung susu. Untuk teknis terakhir masih sangat langka 
diterapkan petani karena para Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Dinas Pertanian 
juga tak pernah mempraktekkannya. Meski hasilnya rata-rata membutuhkan waktu 3 
bulan untuk bisa dipindahkan atau ditanam.

"Kalau saya pakai sambung pucuk. Selain paling hemat mudah dilaksanakan. Teknik 
ini dari benih yang akan disambung dipotong kira-kira sepanjang 15 sentimeter 
bisa menjadi tiga batang baru," urainya sembari mempraktekan ketiga teknis 
penyambungan berbagai macam itu.

Sutrisno mencontohkan untuk penyambungan buah srikaya yang menghasilkan buah 2 
kilogram per buah, tetap mengandalkan biji buah srikata lokal yang dalam 1 
kilogramnya berisi 10 sampai 12 buah. Setelah itu diambil biji buah srikaya 
masing-masing berisi sebanyak 50 biji. Setelah disemaikan akan disambung dengan 
buah srikaya Thailand agar menghasilkan buah super yang rasanya lebih manis dan 
ukuran buahnya jumbo.

"Srikaya lokal saya beli di pasar sebanyak 1 kilogram. Kemudian saya ambil 
bijinya, hasilnya mampu menghasilkan sekitar 500 batang benih srikaya dengan 
buah ukuran jumbo. Saat srikaya jumbo berbuah isinya hanya 15 butir biji, 
dagingnya lebih banyak dan rasanya lebih manis," paparnya.

Sedangkan benih srikaya jumbo hasil rekayasanya, biasanya dijual dengan harga 
Rp 50.000 sampai Rp 100.000 per batang. Jika srikaya lokal menghasilkan 500 
sampai 600 biji buah sudah mampu menghasilkan uang jutaan rupiah.

"Itulah keuntungan usaha budidaya saya ini," tegasnya. Sementara, sejak Tahun 
1984 hingga kini, Sutrisno menganggap penghasilannya sebagai pecinta buah 
melebihi gajinya sebagai PNS. Selama ini untuk mengurus lahan seluas 2 hektar, 
Sutrisno mengandalkan bantuan 4 orang karyawan dan 4 orang anak asuhnya yang 
kini sudah dikuliahkan semuanya.

"Dulu memang awalnya mencari biji-bijian bekas dimakan anak-anak dan di jalanan 
maupun di halaman rumah. Sekarang penghasilan saya minimal sebulan Rp 75 juta. 
Di bulan Desember 2012 sebulan mencapai Rp 133 juta, Januari 2013 hasil 
penjualan benih mencapai Rp 108 juta dan untuk bulan Februari kemarin belum 
ditotal istri saya," pungkasnya

2016-10-21 7:26 GMT+02:00 Karma, I Nengah [PT. Altus Logistic Service 
Indonesia] <[email protected]<mailto:[email protected]>>:
Coba bantu unduh pak, kebetulan pc dikantor tidak bisa pakai buka internet

From: kh djie [mailto:[email protected]<mailto:[email protected]>]
Sent: Friday, October 21, 2016 12:49 PM
To: Gelora45; Karma, I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia]
Subject: [**EXTERNAL**] Re: [GELORA45] Dua tahun kerja, Jokowi gagal tekan 
harga pangan

Bung Karma,
Buah Jumbo :
http://surabaya.tribunnews.com/2013/03/03/bermodal-biji-buah-lokal-sutrisno-sulap-berbagai-buah-ukuran-jumbo
Salam,
KH

2016-10-21 2:05 GMT+02:00 'Karma, I Nengah [PT. Altus Logistic Service 
Indonesia]' [email protected]<mailto:[email protected]> [GELORA45] 
<[email protected]<mailto:[email protected]>>:

Alternatif masalah daging, bisa dilakukan dengan ternak sapi jenis Limosi  
kalau tidak salah namanya karena beratnya sampai 1,3 ton per ekor.
Di bidang sembako, bisa mengembangkan sayur dan buah-buahan jenis jumbo, 
misalnya kentang berat sampai 100 kg per biji, nangka segede drum, labu satu 
biji besar 1 mobil pickup, mentimun panjangnya 1 meter, pohon anggur bisa 
berbuah perbatangnya sampai 3/4 ton- 1 ton, pohon-pohon  ini saya  lihat di FB

From: [email protected]<mailto:[email protected]> 
[mailto:[email protected]<mailto:[email protected]>]
Sent: Wednesday, October 19, 2016 5:47 PM
To: ;
Subject: [**EXTERNAL**] [GELORA45] Dua tahun kerja, Jokowi gagal tekan harga 
pangan



http://nasional.kontan.co.id/news/dua-tahun-kerja-jokowi-gagal-tekan-harga-pangan

Dua tahun kerja, Jokowi gagal tekan harga pangan
Rabu, 19 Oktober 2016 / 15:35 WIB

•         Dua tahun Jokowi, Kemendagri pecat 105 PNS


Jakarta. Usia pemerintahan Presiden Joko Widodo menginjak dua tahun pada pekan 
ini. Namun, banyak masalah yang belum berhasil diselesaikan di dua tahun usia 
pemerintahan tersebut.

Salah satunya, soal harga pangan. Enggartiasto Lukito, Menteri Perdagangan 
mengatakan, dalam waktu dua tahun ini, harga pangan masih belum sesuai harapan. 
Indikatornya, harga daging yang masih tinggi.
BACA JUGA :

  *   Dua tahun, kabinet Jokowi belum satu nafas
  *   Dua tahun Jokowi-JK, bagaimana realisasinya?

"Presiden berikan teguran, Beliau minta, ini diperhatikan karena penurunan 
harganya kecil," katanya di Jakarta Rabu (19/10).

Enggar mengatakan, sebenarnya untuk meredam gejolak harga barang kebutuhan 
pokok, Kementerian Perdagangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan 
No. 63 Tahun 2016 tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani dan Harga 
Acuan Penjualan di Konsumen.

Dalam peraturan tersebut harga daging sapi segar dipatok antara Rp 50.000 
sampai Rp 105.000 per kilogram tergantung jenis bagian dagingnya. Tapi dari 
data Kementerian Perdagangan harga daging sampai saat ini masih bertengger di 
batas atas harga acuan yang telah ditetapkan pemerintah.

Enggar mengatakan, pihaknya masih memerlukan waktu untuk menekan harga daging 
supaya sesuai harapan. "Prosesnya panjang, untuk impor dari Australia ke sini 
butuh waktu, perlu penggemukan, selama empat bulan, baru dipotong, nah ini kan 
baru kemarin impornya," katanya.



Kirim email ke