2 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK, Meningkatnya Kemiskinan dan Kekerasan Terhadap 
Rakyat
20 Oktober, 201651   

sumber [Time]Selama 2 tahun memerintah, Jokowi-JK mengklaim telah berhasil 
meningkatkan perekonomian Indonesia dan mengurangi angka kemiskinan. Pemerintah 
melalui Kantor Staf Presiden menyatakan ukuran keberhasilan pemerintah berdasar 
kenaikan angka Investasi dan pertumbuhan ekonomi.Klaim keberhasilan pemerintah 
itu di bantah oleh berbagai organisasi rakyat melalui siaran pers nya. Aliansi 
Gerakan Reforma Agraria (AGRA) menyampaikan bahwa angka yang disampaikan 
pemerintah tidak sesuai dengan kenyataan bahwa rakyat semakin miskin. Di 
pedesaan penghidupan petani semakin merosot, kenaikan harga beras ternyata 
tidak sebanding dengan harga pembelian gabah petani yang hanya dibawah Rp. 
3.700. Hal tersebut di perparah dengan semakin tingginya biaya produksi 
pertanian seperti bibit, pupuk dan obat-obatan anti hama.Meningkatnya Jumlah 
Rakyat MiskinDi era pemerintahan Jokowi, pengangguran dan kemiskinan terus 
meningkat. Buruh dan rakyat miskin perkotaan, hidup menderita akibat pendapatan 
yang tidak sebanding dengan biaya kebutuhan hidup yang terus meningkat. Begitu 
pula dengan penghidupan kaum tani di pedesaan. Data BPS per-Maret 2016, 
menyebutkan angka kemiskinan di Indonesia mencapai 28,1 juta jiwa (10,86%), 
dengan persebaran 10,4 juta jiwa diperkotaan dan 17,67 juta jiwa di pedesaan. 
Jika mengacu pada upah harian buruh tani sebesar Rp. 49.000 perhari, maka 
sesungguhnya angka kemiskinan di Indonesia, jauh lebih besar dibandingkan 
jumlah yang ditetapkan pemerintah.“Sumber utama meningkatnya kemiskinan di desa 
adalah monopoli tanah oleh perusahaan pekerbunan besar, perhutani, tambang, 
taman nasional maupun proyek infrastruktur. Selain itu monopoli sarana produksi 
pertanian menyebabkan harga pupuk, bibit dan obat-obatan meningkat” papar 
sekjen AGRA Mohamad Ali. Dalam siaran pernya AGRA juga menyampaikan bahwa 
perampasan tanah mengakibatkan jutaan petani kehilangan lahan bertani. Saat ini 
mayoritas petani Indonesia adalah petani gurem (penguasaan lahan dibawah 0,5 
hektar) dan buruh tani yang tidak memiliki lahan. Hal serupa juga dialami oleh 
nelayan yang penghidupannya terancam oleh proyek reklamasi dan pemberlakuan 
zonasi perairan.Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Umum Front Mahasiwa 
Nasional (FMN) Rachmad Panjaitan, “Akses rakyat mendapatkan pendidikan di semua 
tingkatan masih rendah, sebanyak 7,3 juta anak usia SD tidak dapat bersekolah, 
3 juta tidak dapat melanjutkan ke SMP. Bahkan yang dapat melanjutkan kuliah 
hanya 500 ribu orang saja per tahun.” Hal ini ditenggarai oleh tingginya angka 
kemiskinan dan masih kurangnya bangunan sekolah yang tersedia. Ditengah 
kemiskinan yang semakin meningkat biaya sekolah anak setiap tahun mengalami 
kenaikan.Institut for Democracy Studies (Indies) juga mensitir data BPS yang 
menyatakan bahwa kebutuhan hidup layak di Indonesia rata-rata mencapai 3,2 – 4 
juta per kepala keluarga. Sedangkan pendapatan per kapita buruh tani Indonesia 
hanya mencapai rata-rata 1 juta rupiah per bulan. Demikian pula rata-rata 
kebijakan upah minum nasional hanya mencapai di bawah 3 juta rupiah. Kehidupan 
buruh semakin sulit dengan kebijakan penetapan upah yang tanpa didasari 
kebutuhan riil buruh melalui PP No.78 tahun 2015.Kekerasan Terhadap Rakyat 
Semakin Masif“Ditengah persoalan ekonomi rakyat yang semakin akut pemerintah 
justru memangkas anggaran untuk kebutuhan rakyat, sebaliknya pemerintah 
meningkatkan anggaran Hankam dan Polri pada APBNP 2016,” ungkap Direktur Indies 
Kurniawan. Peningkatan anggaran pertahanan dan Polri ini berbanding lurus 
dengan naiknya angka kekerasan terhadap rakyat. Angka kekerasan terhadap rakyat 
meningkat selama dua tahun pemerintahan Jokowi-JK, ironisnya banyak melibatkan 
aparatur negara baik sipil maupun militer. Mulai dari penggusuran di perkotaan, 
perampasan tanah untuk infrastruktur hingga konflik lahan di pedalaman.Hal ini 
merujuk pada beberapa tindak kekerasan yang juga disertai kriminalisasi 
terhadap rakyat seperti yang terjadi di Lombok, Kubu Raya, Dadap, Dongi-dongi, 
Kampung Pulo, Tulang Bawang-Lampung, Jurang Koak Lombok dan berbagai kasus 
lainnya.Program Jokowi sejak awal sesungguhnya tidak terlalu berbeda dengan 
pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Kedua rezim ini mengutamakan investasi 
asing dan utang, dengan mengusung proyek pembangunan infrastruktur. Yang 
membedakan kedua rezim ini hanya soal gestur: satunya santun dan selalu merasa 
“dizalimi”, satunya lagi digambarkan sebagai sosok sederhana dan hobi 
blusukan.Amat disayangkan Jokowi yang kerap mengaku sebagai “Presiden  rakyat”  
justru selama 2 tahun pemerintahannya kebijakannya tidak berpihak pada rakyat. 
Jokowi lebih memilih cara-cara neoliberal seperti 13 paket kebijakan yang 
sangat pro investor.Indonesia adalah negara yang dengan sumber daya alam atau 
bahan mentah yang sangat dibutuhkan negeri industri besar. Mereka 
berkepentingan untuk menguasai bahan mentah tersebut. Maka, investasi dan 
pembangunan infrastruktur lebih banyak dilakukan untuk mendukung kepentingan 
penguasaan sumber daya alam hingga pelosok Indonesia. Konflik akan semakin 
panjang jika model seperti ini tetap dipertahankan, dan korban dari rakyat akan 
semakin besar. Rakyat akan tergusur, terusir dan menjadi gelandangan di negeri 
yang kaya ini.

Kirim email ke