Sunny: Pertumbuhan ekonomi (economic growth) naik, kemiskinan turut naik, 
karena distribusi pendapatan tidak niak merata bagi penduduk .

Nesare: saya komentari masalah kemiskinan dari segi ilmu ekonomi saja. masalah 
ini sangat pelik dan salah satu hal yg sulit dijelaskan dalam ilmu ekonomi. 
Indikatornya banyak dan asumsi yg dipakai juga berbeda2. Teori2nya banyak dari 
teori ttg fairness justice s/d jenis2 kemiskinan absolut dan relative dll. 
Setiap negara mencari dan memilih yg terbaik utk diterapkan. Indonesia lebih 
susah krn heterogenitasnya yg tinggi terutama demografisnya yang challenging. 

 

Gini ratio yg terkenal dipakai utk mengukur inequality dalam distribusi 
pendapatan. Kekurangannya gini yg dulunya adalah fasis adalah tidak bisa 
mengukur di extrim seperti yang paling kaya dan paling miskin. Gini ratio 
kurang sensitive utk mengukur kedua extrim ini. dan gini ratio itu 
oversensitive utk middle income. Palma ratio misalnya dipakai utk menanggulangi 
kelemahan gini ratio ini. yg saya mau katakan: susah mengukur kemiskinan ini. 
bayangkan 2 negara gini ratio nya bisa sama walaupun minimum wagenya berbeda. 
Artinya disatu negara atau satu daerah dalam negara bisa punya gini ratio yg 
sama tetapi standard minimum wage yg dipakai berbeda. Misalnya di USA minimum 
wage $10/jam dan di Indonesia $1/jam bisa punya gini ratio yg sama. Ini kan gak 
benar dalam kacamata fairness.

 

Saya kurang memahami bagaimana BPS menentukan kriteria dalam menentukan 
kemiskinan ini teknisnya walaupun saya tahu BPS pakai basic need approach. 
Walaupun teori dan standardnya jelas tetapi teknis pelaksanaan dilapangan 
sangat menentukan. Jadi memang data itu hanyalah data. Kita harus tahu tahu 
bagaimana proses data itu terbentuk. Di Indonesia risetnya masih kurang. Kurang 
sekali. Jadi ya orang2 hanya berpatokan sama BPS saja kalau ngomong ttg 
kemiskinan ini. kenyataannya ya bagi saya masih jauh dari kebenaran.

 

Satu hal lain yang saya anggap penting adalah: ketika suatu negara sudah 
memperbandingkan dirinya dgn negara lain, persepsi kemiskinan itu sendiri sudah 
berubah. A dgn gaji $20000/tahun di Indonesia bisa dikatakan kaya tetapi di USA 
itu miskin. Bagaimana A bisa kirim anaknya sekolah ke USA? Tidak mungkin. 
Makanya banyak orang Indonesia terutama yg sekolah S3 tidak mau pulang 
Indonesia krn mikirin anak2nya yg bisa sekolah gratis disekolah negeri. Caranya 
macem2 dari loperin koran s/d nunda2 kelulusan alias tidak mau lulus.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, October 21, 2016 7:43 PM
To: [email protected]; [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] 2 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK, Meningkatnya Kemiskinan 
dan Kekerasan Terhadap Rakyat

 

  

Pertumbuhan ekonomi (economic growth) naik, kemiskinan turut naik, karena 
distribusi pendapatan tidak niak merata bagi penduduk .

 

Pesat pertumbuhan demografi  juga ada pengaruhnya terhahap bertambah kemiskinan 
di kalangan penduduk, karena lapangan kerja  yang ada tidak dapat mengabsorvasi 
tenaga mereka. akibatnya banyak orang yang menganggur  akrena tidak 
berpekerjaan, jadi pendapatan sulit untuk kehidupan,   no money, no honey and 
no funny. Kalau tidak berpekerjaan berti pendapatan sulit didapat jadi  angka 
kemiskinan di kalangan penduduk bertambah banyak.

 

From: mailto:[email protected] 

Sent: Friday, October 21, 2016 6:00 PM

To: [email protected] <mailto:[email protected]>  

Subject: RE: [GELORA45] 2 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK, Meningkatnya Kemiskinan 
dan Kekerasan Terhadap Rakyat

 

  

Yang saya lihat di indonesia ekonomi bergerak. Pertumbuhan ekonomi naik. Ada 
inflasi. Orang kaya tambah banyak. Orang miskin juga bertambah banyak. Walaupun 
pendapatan naik tetapi didaerah tertentu ada inflasi yang lebih tinggi melebihi 
pertumbuhan pendapatan. Ini artinya tambah miskin karena value of money 
berkurang. Sekali lagi walaupun income bertambah kalau diikuti oleh inflasi yg 
lebih tinggi, orang tambah miskin krn daya belinya berkurang.

Yang harus diperhatikan adalah kesenjangan kaya dan miskin. Ekonomi mah naik 
terus. Indikatornya adalah GDP.

Nesare

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, October 21, 2016 8:37 AM
To: Yahoogroups <[email protected] <mailto:[email protected]> 
>; DISKUSI FORUM HLD <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; GELORA_In <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >
Cc: Roeslan <[email protected] <mailto:[email protected]> >; 
Lusi.D <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Daeng 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Gol 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Mitri <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; Rachmat Hadi-Soetjipto 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Harry Singgih 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Jonathan Goeij 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Ronggo A. 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Lingkar Sitompul 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Ajeg 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Mang Broto 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Farida Ishaja 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Marsiswo 
Dirgantoro <[email protected] <mailto:[email protected]> >; 
[email protected] <mailto:[email protected]> ; Billy Gunadi 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >
Subject: [GELORA45] 2 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK, Meningkatnya Kemiskinan dan 
Kekerasan Terhadap Rakyat

sumber [Time]

Selama 2 tahun memerintah, Jokowi-JK mengklaim telah berhasil meningkatkan 
perekonomian Indonesia dan mengurangi angka kemiskinan. Pemerintah melalui 
Kantor Staf Presiden menyatakan ukuran keberhasilan pemerintah berdasar 
kenaikan angka Investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Klaim keberhasilan pemerintah itu di bantah oleh berbagai organisasi rakyat 
melalui siaran pers nya. Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) menyampaikan 
bahwa angka yang disampaikan pemerintah tidak sesuai dengan kenyataan bahwa 
rakyat semakin miskin. Di pedesaan penghidupan petani semakin merosot, kenaikan 
harga beras ternyata tidak sebanding dengan harga pembelian gabah petani yang 
hanya dibawah Rp. 3.700. Hal tersebut di perparah dengan semakin tingginya 
biaya produksi pertanian seperti bibit, pupuk dan obat-obatan anti hama.

Meningkatnya Jumlah Rakyat Miskin

Di era pemerintahan Jokowi, pengangguran dan kemiskinan terus meningkat. Buruh 
dan rakyat miskin perkotaan, hidup menderita akibat pendapatan yang tidak 
sebanding dengan biaya kebutuhan hidup yang terus meningkat. Begitu pula dengan 
penghidupan kaum tani di pedesaan. Data BPS per-Maret 2016, menyebutkan angka 
kemiskinan di Indonesia mencapai 28,1 juta jiwa (10,86%), dengan persebaran 
10,4 juta jiwa diperkotaan dan 17,67 juta jiwa di pedesaan. Jika mengacu pada 
upah harian buruh tani sebesar Rp. 49.000 perhari, maka sesungguhnya angka 
kemiskinan di Indonesia, jauh lebih besar dibandingkan jumlah yang ditetapkan 
pemerintah.

“Sumber utama meningkatnya kemiskinan di desa adalah monopoli tanah oleh 
perusahaan pekerbunan besar, perhutani, tambang, taman nasional maupun proyek 
infrastruktur. Selain itu monopoli sarana produksi pertanian menyebabkan harga 
pupuk, bibit dan obat-obatan meningkat” papar sekjen AGRA Mohamad Ali. Dalam 
siaran pernya AGRA juga menyampaikan bahwa perampasan tanah mengakibatkan 
jutaan petani kehilangan lahan bertani. Saat ini mayoritas petani Indonesia 
adalah petani gurem (penguasaan lahan dibawah 0,5 hektar) dan buruh tani yang 
tidak memiliki lahan. Hal serupa juga dialami oleh nelayan yang penghidupannya 
terancam oleh proyek reklamasi dan pemberlakuan zonasi perairan.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Umum Front Mahasiwa Nasional (FMN) 
Rachmad Panjaitan, “Akses rakyat mendapatkan pendidikan di semua tingkatan 
masih rendah, sebanyak 7,3 juta anak usia SD tidak dapat bersekolah, 3 juta 
tidak dapat melanjutkan ke SMP. Bahkan yang dapat melanjutkan kuliah hanya 500 
ribu orang saja per tahun.” Hal ini ditenggarai oleh tingginya angka kemiskinan 
dan masih kurangnya bangunan sekolah yang tersedia. Ditengah kemiskinan yang 
semakin meningkat biaya sekolah anak setiap tahun mengalami kenaikan.

Institut for Democracy Studies (Indies) juga mensitir data BPS yang menyatakan 
bahwa kebutuhan hidup layak di Indonesia rata-rata mencapai 3,2 – 4 juta per 
kepala keluarga. Sedangkan pendapatan per kapita buruh tani Indonesia hanya 
mencapai rata-rata 1 juta rupiah per bulan. Demikian pula rata-rata kebijakan 
upah minum nasional hanya mencapai di bawah 3 juta rupiah. Kehidupan buruh 
semakin sulit dengan kebijakan penetapan upah yang tanpa didasari kebutuhan 
riil buruh melalui PP No.78 tahun 2015.

Kekerasan Terhadap Rakyat Semakin Masif

“Ditengah persoalan ekonomi rakyat yang semakin akut pemerintah justru 
memangkas anggaran untuk kebutuhan rakyat, sebaliknya pemerintah meningkatkan 
anggaran Hankam dan Polri pada APBNP 2016,” ungkap Direktur Indies Kurniawan. 
Peningkatan anggaran pertahanan dan Polri ini berbanding lurus dengan naiknya 
angka kekerasan terhadap rakyat. Angka kekerasan terhadap rakyat meningkat 
selama dua tahun pemerintahan Jokowi-JK, ironisnya banyak melibatkan aparatur 
negara baik sipil maupun militer. Mulai dari penggusuran di perkotaan, 
perampasan tanah untuk infrastruktur hingga konflik lahan di pedalaman.

Hal ini merujuk pada beberapa tindak kekerasan yang juga disertai kriminalisasi 
terhadap rakyat seperti yang terjadi di Lombok, Kubu Raya, Dadap, Dongi-dongi, 
Kampung Pulo, Tulang Bawang-Lampung, Jurang Koak Lombok dan berbagai kasus 
lainnya.

Program Jokowi sejak awal sesungguhnya tidak terlalu berbeda dengan 
pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Kedua rezim ini mengutamakan investasi 
asing dan utang, dengan mengusung proyek pembangunan infrastruktur. Yang 
membedakan kedua rezim ini hanya soal gestur: satunya santun dan selalu merasa 
“dizalimi”, satunya lagi digambarkan sebagai sosok sederhana dan hobi blusukan.

Amat disayangkan Jokowi yang kerap mengaku sebagai “Presiden  rakyat”  justru 
selama 2 tahun pemerintahannya kebijakannya tidak berpihak pada rakyat. Jokowi 
lebih memilih cara-cara neoliberal seperti 13 paket kebijakan yang sangat pro 
investor.

Indonesia adalah negara yang dengan sumber daya alam atau bahan mentah yang 
sangat dibutuhkan negeri industri besar. Mereka berkepentingan untuk menguasai 
bahan mentah tersebut. Maka, investasi dan pembangunan infrastruktur lebih 
banyak dilakukan untuk mendukung kepentingan penguasaan sumber daya alam hingga 
pelosok Indonesia. Konflik akan semakin panjang jika model seperti ini tetap 
dipertahankan, dan korban dari rakyat akan semakin besar. Rakyat akan tergusur, 
terusir dan menjadi gelandangan di negeri yang kaya ini.



Kirim email ke