Siapakah SBY? Raja? Cuma Mantan Presiden! Terlalu angkuh kalau mesti keberatan diperiksa, terkait masalah sewaktu dia masih menjabat tugas sebagai presiden! Sedang Soekarno. masih menjabat sebagai PRESIDEN Soekarno, bersedia diperiksa oleh orang-orangnya sikunyuk Soeharto mengenai pengetahuan Bung Karno tentang G30S, karena Soeharto berusaha melibatkan Bung Karno dengan G30S. Namun usaha Soeharto tidak berhasil untuk menuduh dan membawa Bung Karno ke Mahmilub. Lha ini SBY cuma mantan Presiden, mau diperiksa, dimintai keterangan saja kok keberatan. Lha, kalau nggak merasa salah kenapa mesti keberatan? Hayo, dimana keberaniannya? Maju, hadapi Jaksa Agung. Kalau SBY memang benar, rakyat pasti tambah saying......tapi kalau memang salah.......ya tahu sendirilah.......dan untuk itu pantas kalau takut dan keberatan......!!!

------ Original Message ------
From: "'j.gedearka' [email protected] [GELORA45]" <[email protected]> To: [email protected]; "[email protected]" <[email protected]>; [email protected]
Sent: Sunday, 23 Oct, 2016 At 5:38 AM
Subject: [GELORA45] Demokrat Keberatan SBY Diperiksa Jaksa soal Kematian Munir [5 Attachments]
    
  
      
                    
          
         
    
https://nasional.tempo.co/read/news/2016/10/22/063814336 <https://nasional.tempo.co/read/news/2016/10/22/063814336>    
/demokrat-keberatan-sby-diperiksa-jaksa-soal-kematian-munir
           Demokrat Keberatan SBY Diperiksa Jaksa
          soal Kematian Munir     
 Sabtu, 22 Oktober 2016 | 19:00 WIB
    
      
        
          
   * share facebook            
   * share twitter            
   *             
   * share pinterest          
        
        Demokrat           Keberatan SBY Diperiksa Jaksa soal Kematian Munir
      
Pasangan Cagub-Cawagub DKI Jakarta, Agus         Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni bersama Ketua Umum Partai         Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dan istrinya, Ani Yudhoyono         sebelum dimulainya konsolidasi DPD Partai Demokrat Provinsi DKI         Jakarta di IS Plaza, Jakarta, 5 Oktober 2016. Konsolidasi ini         digelar tertutup untuk media. TEMPO/Subekti
    
    
TEMPO.CO, Jakarta - Juru       bicara Dewan Pengurus Pusat Partai Demokrat Rachland Nashidik       menilai, Presiden Jokowi tak perlu memerintahkan Jaksa Agung untuk       memeriksa Susilo Bambang Yudhoyono guna mencari informasi perihal       isi laporan Tim Pencari Fakta (TPF) kasus pembunuhan aktivis hak       asasi manusia Munir Said Thalib.
      
      Kabar pemeriksaan terhadap Presiden RI ke-6 itu muncul setelah       dokumen hasil kerja TPF dinyatakan hilang.  
      
      “Ia (Presiden Jokowi) sebenarnya bisa mengontak dan bertanya       sendiri kepada Presiden RI ke-6 (SBY) dengan berbagi niat baik dan       kepedulian terhadap penuntasan kasus Munir,” kata Rachland dalam       keterangan tertulisnya hari ini, Sabtu, 22 Oktober 2016.
      
      Menurut Rachland, Presiden Jokowi telah mengirim pesan keliru yang       merugikan nama baik orang lain jika menugaskan Jaksa Agung. Sebab,       Jaksa Agung adalah pemegang otoritas hukum pidana. Dia menegaskan,       SBY adalah Presiden yang membentuk TPF Munir dan berperan besar       dalam mendukung aparat hukum dalam mengejar, mengungkap, dan       membawa para tersangka ke pengadilan.
      
      Baca: Diminta         Periksa SBY Soal Data Munir, Ini Kata Jaksa Agung
        
      <https://m.tempo.co/read/news/2016/10/20/078813863/diminta-periksa-sby-soal-data-munir-ini-kata-jaksa-agung> Pada 7 September 2004, Munir tewas lantaran diracun arsenik       dalam perjalanan dari Jakarta ke Belanda. Hasil penyidikan       menjadikan Pollycarpus, pilot pesawat Garuda, dan anggota Badan       Intelijen Negara serta bekas Komandan Kopassus TNI Angkatan Darat       Muchdi Purwoprandjono, sebagai pelaku. Namun kini mereka bebas       dari hukuman.
      
      Sekarang muncul lagi desakan dari publik agar kasus Munir       dituntaskan karena diduga kuat tokoh di balik pembunuhan Munir       masih bebas. Komisi Informasi Publik (KIP) memutuskan pemerintah       harus membuka data TPF Munir Said Thalib ke publik. Namun,       pemerintah hingga saat ini belum membuka data tersebut karena       mengklaim data itu tidak mereka pegang dan tak mengetahui di mana       keberadaannya. Itu sebabnya pemerintah berupaya mencari informasi       terutama di masa pemerintahan Presiden Yudhoyono soal keberadaan       dokumen TPF tadi.
      
      Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki mengatakan, Kejaksaan Agung       bisa dan boleh memeriksa orang-orang yang menjadi pejabat di masa       pemerintahan Presiden Yudhoyono. Menurut dia, itu kewenangan       Kejaksaan Agung.
      
      "Presiden sudah memberikan arahan yang jelas kepada Kejaksaan       Agung dan jelas pesannya adalah untuk menyelesaikan hal itu secara       hukum," ujar Teten saat memberikan keterangan di Kantor Staf       Kepresidenan, Jumat, 21 Oktober 2016.
      
      Simak: Dokumen TPF Munir Hilang, Setara Minta SBY         Tanggung Jawab
        
      <https://m.tempo.co/read/news/2016/10/18/078812958/dokumen-tpf-munir-hilang-setara-minta-sby-tanggung-jawab> Sebelumnya, Yusril Ihza Mahendra, yang pernah menjabat Menteri       Sekretaris Negara di awal pemerintahan Presiden Yudhoyono,       membantah informasi bahwa dokumen hasil investigasi TPF hilang di       Sekretariat Negara. Menurut Yusril, dokumen itu tidak pernah       diserahkan ke Sekretariat Negara.
      
      "Dokumen itu tidak pernah diserahkan ke Sekneg, melainkan       diserahkan langsung oleh TPF kepada presiden. TPF tidak pernah       menyerahkan dokumen tersebut melalui Sekneg sehingga tidak       teregister dalam surat-surat masuk Sekneg," kata Yusril dalam       pesan singkat pada Rabu, 12 Oktober 2016.
      
      Rachland menegaskan, nama-nama yang direkomendasikan oleh TPF       untuk diperiksa sudah sebagian besar diadili dan dipidana. Dia pun       berpendapat, prasangka yang dimunculkan Jokowi kepada SBY akan       menimbulkan pertanyaan besar atas komitmen Presiden Jokowi dalam       upaya penuntasan kasus Munir.
      
      Dia malah menuding Jokowi sengaja mengangkat isu dokumen TPF yang       hilang untuk mengalihkan perhatian publik. Rachland       mempertanyakan, apakah Jokowi mendapat desakan yang keras dari       publik agar inisiatif SBY menegakkan keadilan bagi Munir       diteruskan. “Bila itu benar, sungguh tercela perbuatan Presiden       karena ia mempermainkan hukum dan rasa keadilan,” kata dia. 
      
       DANANG FIRMANTO    
           
           
           
           
           
           
           
      
                

                

Kirim email ke