Dua Tahun Jokowinomics 
http://krjogja.com/web/news/read/13171/Dua_Tahun_Jokowinomics

 
 
 http://krjogja.com/web/news/read/13171/Dua_Tahun_Jokowinomics 
 
 Dua Tahun Jokowinomics 
http://krjogja.com/web/news/read/13171/Dua_Tahun_Jokowinomics JOKOWI dilantik 
menjadi presiden Republik Indonesia pada tanggal 20 Oktober 2014. Tepat pada 
tanggal 20 Oktober 2016 ini, 'Jokowinomics' telah b...
 
 
 
 View on krjogja.com 
http://krjogja.com/web/news/read/13171/Dua_Tahun_Jokowinomics 
 Preview by Yahoo 
 
 
  
 Dua Tahun Jokowinomics Kamis, 20 Oktober 2016 / 07:59 WIB  Editor : Ivan 
Aditya http://krjogja.com/web/news/read/13171/Dua_Tahun_Jokowinomics#
 Share Post  Share on Facebook 
http://www.facebook.com/sharer.php?u=http://krjogja.com/web/news/read/13171/Dua_Tahun_Jokowinomics
  Share on Twitter 
https://twitter.com/share?url=http://krjogja.com/web/news/read/13171/Dua_Tahun_Jokowinomics&via=krjogjadotcom&hashtags=krjogja
  
https://plus.google.com/share?url=http://krjogja.com/web/news/read/13171/Dua_Tahun_Jokowinomics
  
http://www.linkedin.com/shareArticle?mini=true&url=http://krjogja.com/web/news/read/13171/Dua_Tahun_Jokowinomics
 
 
 JOKOWI dilantik menjadi presiden Republik Indonesia pada tanggal 20 Oktober 
2014. Tepat pada tanggal 20 Oktober 2016 ini, 'Jokowinomics' telah berjalan 2 
(dua) tahun. Terkait dengan bidang ekonomi dalam pemerintahan Jokowi muncul 
istilah 'Jokowinomics'. Suatu istilah yang mengacu pada istilah ‘Reagenomics’ 
di masa presiden Amerika Serikat Ronald Reagen pada tahun 1980-an. Secara 
singkat ‘Jokowinomics’ dapat diartikan pengelolaan dan kebijakan ekonomi di 
bawah presiden Jokowi.
 Pengelolaan dan kebijakan perekonomian apa saja yang telah dilakukan oleh 
Jokowi? Gebrakan pertama yang dilakukan oleh presiden Jokowi adalah menurunkan 
subsidi bahan bakar minyak (BBM), khususnya premium dan solar, secara bertahap 
yang dimulai pada bulan Januari 2015. Di masa presiden sebelumnya anggaran 
subsidi BBM mencapai hampir Rp 300 trilyun, kemudian dipangkas menjadi sekitar 
Rp  90 trilyun. Penurunan anggaran subsidi BBM yang signifikan. Penurunan 
anggaran subsidi BBM tersebut kemudian dialihkan untuk anggaran infrastruktur 
ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.
 Pemerintahan Jokowi menyadari dan memahami bahwa subsidi BBM merupakan subsidi 
yang tidak tepat sasaran. Kebijakan subsidi BBM menjadi tidak efektif. Kelompok 
yang berpenghasilan lebih tinggi justru menikmati sebagian besar dari subsidi 
BBM tersebut. Subsidi BBM menyebabkan konsumsi yang berlebihan 
(overconsumption) dan menyebabkan inefisiensi dalam perekonomian. Penurunan 
subsidi BBM terus dilakukan secara gradual. Produksi premium dikurangi secara 
bertahap dan digantikan oleh pertalite yang bukan produk bersubsidi. Pemerintah 
jelas serius untuk mengurangi subsidi dan pada akhirnya subsidi BBM akan 
dihapus.
 Agar 'Jokowinomics' dapat berjalan dengan optimal maka presiden Jokowi juga 
melakukan evaluasi terhadap para menteri di bidang ekonomi. Reshuffle anggota 
kabinet bidang ekonomi bahkan sudah dilakukan dua kali. Reshuffle yang 
dilakukan mencakup penggantian dan reposisi menteri. Menteri yang dianggap 
kinerjanya tidak optimal diganti dan yang yang kinerjanya cukup baik baik namun 
kurang pas dengan kompetensinya, kemudian direposisi atau digeser pada 
kementerian yang lain. Dua kali reshuffle yang dilakukan, menunjukkan bahwa 
presiden berkeinginan agar 'Jokowinomics' dapat berjalan dengan baik. Masuknya 
Darmin Nasution dan Sri Mulyani Indrawati dalam kabinet menjadikan tim ekonomi 
presiden Jokowi lebih kuat.
 Untuk memperbaiki iklim perekonomian maka presiden Jokowi mengeluarkan 
sejumlah paket kebijakan ekonomi dari jilid sampai jilid 14. Paket kebijakan 
ekonomi jilid 1 dikeluarkan pada bulan September 2015 dan paket kebijakan jilid 
14 dikeluarkan pada bulan Oktober 2016.  Keseluruhan paket kebijakan ekonomi 
tersebut ditujukan untuk memperbaiki iklim usaha dan investasi yang dapat 
mendorong daya saing perekonomian. Sejumlah insentif juga diberikan agar pelaku 
ekonomi dapat meningkatkan kinerja usahanya.
 Kebijakan yang terkait dengan percepatan pembangunan infratruktur ekonomi juga 
dikeluarkan agar roda perekonomian di daerah dapat bergerak dengan lebih cepat. 
Dalam paket kebijakan tersebut juga terdapat kebijakan yang memberikan 
fasilitas dan insentif  yang dapat mendorong usaha mikro kecil dan menengah 
(UMKM). Kebijakan ekonomi tersebut juga menyentuh berbagai upaya untuk 
meningkatkan ketahanan energi. Deregulasi di daerah menjadi fokus dari 
kebijakan ekonomi yang ke-14.
 Dalam dua tahun (Tahun Anggaran 2014 dan Tahun Anggaran 2015), target 
penerimaan pajak meleset atau tidak tercapai. Berbagai upaya untuk meningkat 
penerimaan pajak telah dilakukan namun belum berhasil memenuhi target. Pada 
Tahun Anggaran 2016 nampaknya juga tidak mencapai target. Terkait dengan hal 
tersebut maka pemerintah mengeluarkan kebijakan pengampunan pajak (tax 
amnesty). Banyak pihak yang pro dan kontra terhadap kebijakan tersebut. 
Terlepas dari hal tersebut, faktanya kebijakan pengampunan pajak telah berjalan 
dengan relatif baik dan sukses pada tahap yang pertama. Kemudian akan 
dilanjutkan dengan tahap yang ke-2 dan ke-3.
 Secara obyektif 'Jokowinomics' tentu juga terdapat kekurangan. Salah satu yang 
nampak adalah kekompakan tim ekonomi belum solid. Masih ada menteri yang nampak 
bekerja sendiri. Hal ini tentu sudah diketahui oleh presiden Jokowi dan penulis 
yakin hal tersebut dapat diselesaikan oleh Jokowi. Masih banyak pekerjaan yang 
harus diselesaikan oleh presiden Jokowi. Sisa masa pemerintahan selama 3 (tiga) 
tahun harus dimanfaatkan secara optimal untuk memperbaiki perekonomian 
Indonesia. 'Jokowinomics' harus didukung dengan memberikan saran dan kritik 
yang obyektif. Salam ‘Jokowinomics’.
 (Dr Y Sri Susilo MSi. Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta dan Peneliti Inspect 
Yogyakarta. Dosen PTS di Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian 
Kedaulatan Rakyat, Kamis 20 Oktober 2016)

 

 

Kirim email ke