Kaya Sumber Daya Alam, Kenapa Indonesia Masih Impor 95 Persen Bahan Baku Obat?
Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Kamis, 27/10/2016 15:56 WIB  
http://health.detik.com/read/2016/10/27/155654/3330989/763/kaya-sumber-daya-alam-kenapa-indonesia-masih-impor-95-persen-bahan-baku-obat
Foto: ilustrasi obat-obatan/thinkstockBerita Lainnya
 
  a.. Yang Belum Ada Agenda di Weekend Ini, Yuk Ikut Yoga Tertawa
  b.. The Accountant, Cerita si Genius Matematika dengan Sindrom Asperger
  c.. Hal-hal yang Perlu Kamu Tahu Soal Limfoma, Kanker yang Serang Aktor Aldi 
Taher
  d.. Penelitian Buktikan Olahraga Memang Harus Fun Agar Efeknya Maksimal
  e.. Kenali, Berbagai Macam Fisioterapi untuk Bantu Atasi Nyeri Punggung 
BawahJakarta, Indonesia kaya akan sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan untuk 
bahan baku obat. Hanya saja, kenyataannya impor bahan baku obat mencapai 95 
persen. Itu menandakan Indonesia belum bisa berswasembada obat.

Hal ini amat disayangkan karena Indonesia memiliki 30 ribu spesies kekayaan 
sumber daya hayati yang berpotensi dimanfaatkan sebagai obat modern berbahan 
alam. Nah, mengapa hal ini bisa terjadi?

"Kita memang bangga punya banyak bahan, tapi perlu IPTEK untuk mengembangkannya 
sampai jadi bisa menjadi produk obat," tegas Ketua Pengurus Yayasan SDM IPTEK 
The Habibie Center Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro di di Gedung DLBS PT Dexa 
Medica, Cikarang, Jawa Barat, Kamis (27/10/2016).

Patut diingat, IPTEK membutuhkan investasi dari segi Sumber Daya Manusia, 
misalnya peneliti, kemudian investasi dari segi pengembangan dan pemasaran. 
Sayangnya, investor masih kurang tertarik akan riset bahan baku obat. Untuk 
itu, diteknakan Porf Wardiman diperlukan peran pemerintah untuk bisa memberi 
dorongan.

Baca juga: Kaya Keanekaragaman Hayati, RI Tak Perlu Impor Bahan Baku Obat Herba

Penelitian mendasar amat dibutuhkan untuk riset di bidang farmasi yang nantinya 
bisa berujung pada produk yang bisa dipasarkan di masyarakat. Sayangnya, 
seperti diungkapkan Ketua Umum Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia dr Sangkot 
Marzuki, hampir tidak ada penelitian mendasar yang menghasilkan ilmu 
pengetahuan.

"Yang banyak sekarang penelitian untuk kenaikan pangkat. Kemudian, dana dari 
pemerintah hampir nggak ada. Sehingga, nggak benar kita buang-buang dana saja 
untuk penelitian. Padahal, penelitian mendasar benar- benar penting untuk 
Indonesia," kata Prof Sangkot.

"Dana penelitian 0,09 persen dari GDP itu sangat kecil sekali. Dari segi 
kepantasan suatu bangsa sepertinya malu. Tapi di luar itu kalau dana dinaikkan 
10 kali tanpa regulasi yang baik, uang itu bisa sia-sia. Sehingga kerja 
pemerintah itu banyak," kata Prof Sangkot.

Hadir dalam kesempatan sama, Direktur Eksekutif DLBS Raymond R Tjandrawinata, 
PhD, MS, MBA mengatakan tantangan dalam riset di bidang farmasi yakni perlu 
tersedianya SDM yang berkompeten. Lalu, perlu di pastikan apakah yang 
diinvestasikan bisa menghasilan dan ke depannya bisa benar-benar dipasarkan 
alias tidak hanya failed di gudang. Kemudian, perlu dipastikan tiap project 
bisa berjalan dengan baik.

Ketika hasil penelitian sudah dipublikasi di jurnal internasional dan 
dipatenkan, regulasi untuk mendapat izin edar belum tentu mudah. Jika izin edar 
sudah keluar, ada tantangan lagi yakni bagaimana nanti dokter akan meresepkan 
obat herba tersebut sehingga perlu adanya edukasi ke dokter.

"Ini peran industri untuk lakukan penelitian standar. Nah, saat uji klinis 
butuh koordinasi dengan para klinisi, termasuk dokter di RS. Lalu pasiennya mau 
nggak ikut uji klinis? Problem nomor satu dalam uji klinis kebanyakan pasien 
nggak mau ikut uji klinis. Padahal kan kita pantau terus. Semoga, dengan adanya 
Inpres No 6 pada Juni 2016 lalu, tentang percepatan perkembangan industri 
farmasi dan alkes, kita bisa majukak riset di bidang farmasi," papar Raymond.

Baca juga: Menristekdikti Harap Keanekaragaman Hayati Indonesia Diteliti untuk 
Bahan Baku Obat

(rdn/vit)

Kirim email ke