Sadar akan Adanya Perbedaan

Adalah Modal yang Membentuk Indonesia



Sabtu, 29 Oktober 2016 | 12:20

http://sp.beritasatu.com/home/sadar-akan-adanya-perbedaan-adalah-modal-yang-membentuk-indonesia/117340

Ilustrasi Bhinneka Tunggal Ika [Istimewa]





[BANDUNG] Kesadaran akan perbedaan dan kesediaan menerimanya menjadi modal yang 
membentuk ke-Indonesiaan. Hal tersebut seharusnya membuat masyarakat 
berkonsolidasi untuk membangun demokrasi.

Wawan Setiawan, budayawan yang sehari-hari menjadi pengajar di Universitas 
Pasundan mengungkapkan pemahaman tersebut diterima secara berbeda-beda oleh 
masyarakat terutama pasca reformasi. “Pasca reformasi itu peluang lebih terbuka 
untuk Indonesia baru, yang lebih baik. Tapi tidak sedikit elemen masyarakat 
yang menyikapinya secara berbeda, penuh kecemasan, kekhawatiran sehingga 
mencoba berpaling ke belakang bukan melihat sejarah tapi mau mundur,” kata 
Hawe, begitu Wawan biasa disapa, kepada SP menyikapi maraknya isu SARA dalam 
konteks politik di Indonesia, Jumat (28/10).

Dosen sastra ini berpandangan dalam konteks politik, masih ada pihak-pihak yang 
memperkenalkan gagasannya menggunakan retorika atau jargon yang sudah usang. 
Dia memberi contoh penggunaan isu keagamaan sampai kesukuan tanpa pemaknaan 
baru. “Tidak menggunakan konteks kekinian. Mungkin dianggap itu lebih memadai,” 
tambah Hawe.

Pada sisi lain, diakui atau tidak, Hawe mengungkapkan, masyarakat Indonesia 
secara kultural terbiasa juga dengan hal-hal yang irasional. “Hal ini sangat 
dimungkinkan hidup kembali dengan media sosial,” tutur Hawe.

Perbedaan pandangan di masyarakat berkaitan erat dengan cara adaptasi seiring 
perubahan jaman. “Perubahan itu sendiri di bidang tatanan politik, 
masing-masing beda penyikapan. Sesuai dengan lingkungan sosial politiknya 
sendiri dan lebih celakanya ini di dalam, sirkulasi elitis masyarakat yang baru 
di antara elite sendiri, banyak orang yang tergantung pada pesan lama,” terang 
Hawe lagi.

Untuk mengatasi kondisi tersebut ada baiknya masyarakat berkaca pada jatidiri 
bangsa. Terkait konteks Sumpah Pemuda, Hawe menganggap, media massa memiliki 
peranan untuk kembali menyuarakan pentingnya menjunjung tinggi perbedaan namun 
dalam satu wadah kesepakatan bersama.

“Sumpah Pemuda datang dari forum yang mempertemukan gerakan-gerakan kepemudaan 
dari berbagai lingkungan daerah dan bahkan sampai pada batas tertentu kesukuan. 
Namun mereka punya komitmen bersama. Soal bahasa persatuan dipilih bahasa 
melayu, tidak berarti kita hanya butuh satu bahasa, tapi menjujung tinggi 
bahasa persatuan, tapi berupaya ada rujukan yang sama dalam komunikasi,” tegas 
Hawe. [153]


Kirim email ke