res : Apakah Anda  masih ragu-ragu untuk memerdekakan pulau Jawa dari 
wilayah-wilayah lain? Sokonglah kemerdekaan pulau Jawa agar cita-cita mereka 
bisa tercipta. 

Ilusi Anda-anda yang kafir-kafir bahwa menjadi anggota partai politik 
neo-Mojopahit bisa mendapat kedudukan tinggi tidak akan terlaksana selain 
boneka penjilat, Anda hanya dijadikan alat penipu dan penindas rakyat. 

Bersatulah semua kafir kemerdekaan dan keadilan sosial  untuk pulau Jawa 
merdeka dan berdaulat. Hidup kafirisme!

https://www.arrahmah.com/kajian-islam/pemimpin-kafir-cocok-untuk-orang-kafir.html



Pemimpin kafir cocok untuk orang kafir
A. Z. Muttaqin Sabtu, 28 Muharram 1438 H / 29 Oktober 2016 09:02
Oleh Irfan S. Awwas




Ustadz Irfan S. Awwas



(Arrahmah.com) – “Wahai kaum mukmin, janganlah kalian menjadikan orang-orang 
Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin-pemimpin kalian. Mereka itu menjadi 
pemimpin bagi sesama mereka. Siapa saja di antara kalian yang menjadikan mereka 
sebagai pemimpin, dia termasuk golongan kafir. Allah tidak akan memberi hidayah 
kepada kaum Yahudi dan Nasrani yang berbuat zhalim.” (Qs. Al-Maidah [5]:51).

Bukan tanpa alasan, jika umat Nabi Muhammad Saw. dilarang menjadikan orang 
Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin. Orang kafir berbeda jalan hidupnya dengan 
orang beriman. Berbeda aqidah, ibadah, akhlak, budaya dan adat istiadatnya. 
Dalam banyak urusan orang Islam tidak bisa disamakan dengan orang kafir. Orang 
kafir menyukai minuman keras, berzina, makan daging babi, menikmati riba, 
menghujat ajaran Islam, demoralisasi generasi muda. Sedangkan orang Islam, 
berdasarkan ajaran agamanya, mengharamkan semua itu.

Logis, bila seorang kepala daerah non muslim, memiliki visi dan misi yang 
sesuai ajaran agama, ideologi serta cara berfikir yang dianutnya. Begitupun 
dalam menjalankan tugas jabatannya, mereka akan menggunakan UU dan aturan 
daerah untuk mempertahankan keyakinan dan kebiasaannya yang bertentangan dengan 
keyakinan masyarakan Islam. Atas nama demokrasi, pemimpin kafir Yahudi dan 
Nasrani merasa aman dan terlindungi untuk menjalankan misi kekafirannya melalui 
UU maupun peraturan, tanpa peduli aspirasi rakyat Muslim. Semua itu logis dan 
wajar.

Yang tidak logis dan tidak wajar, justru adanya orang Islam yang membela dan 
memilih orang kafir jadi pemimpin. Untuk menarik simpati orang Islam, pemimpin 
kafir bisa saja berpura-pura tampil jujur, amanah. Atau sekadar sensasi 
pencitraan saja. Masalahnya, mungkinkah pemberantasan judi, pelacuran, minuman 
keras, riba, LGBT, dapat di percayakan pada pemimpin kafir? Itu hal yang 
mustahil.

Dengan memahami perbedaan ini, maka memilih orang kafir sebagai Gubernur, 
Bupati, Camat, Lurah, di tengah masyarakat yang mayoritas Muslim. Itu sama 
artinya memberi peluang kepada orang kafir untuk menjadikan umat Islam sebagai 
obyek penerapan keyakinan agama, budaya dan adat istiadatnya menggunakan 
kekuasaan dan kewenangannya.

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, sekadar contoh. 
Sepanjang masa jabatannya, Ahok hanya sibuk membangun kontroversi dan menyerang 
pihak lain. Hampir saban hari Ahok meluapkan amarahnya dengan mengeluarkan 
perkataan-perkataan provokatif yang bisa menyinggung banyak pihak.

Sudah 17 kali Provinsi DKI Jakarta berganti pemimpin sejak 1945, belum pernah 
ada gubernur DKI seburuk Ahok. Dia tidak menghormati orang lain, tidak 
menghargai rakyat kecil, melakukan penggusuran tidak manusiawi, memaki maling 
kepada seorang ibu yang mengadukan permasalahan kepadanya. Dalam siaran live di 
sebuah stasiun televisi swasta, Ahok berulang kali mengucapkan kata-kata jorok 
taik…taik…taik…Ia tetap tidak mau menghentikan makiannya meski ditegur keras 
oleh presenter.

Sebagian besar kebijakannya menimbulkan letupan konflik yang membahayakan 
ketertiban umum dan stabilitas NKRI. Sebuat saja misalnya, Ahok menghancurkan 
Masjid Baitul Arif di Jatinegara, Jakarta Timur, sehingga warga setempat tidak 
bisa shalat Jum’at dan melakukan kajian Islam sampai saat ini. Ahok juga 
menghancurkan masjid bersejarah Amir Hamzah di Taman Ismail Marzuki (TIM) 
dengan dalih renovasi; namun hingga hari ini tidak ada tanda-tanda akan 
dibangun kembali.

Setelah berjaya menghancurkan masjid dan menghilangkan simbol-simbol Islam di 
DKI Jakarta, Ahok juga membatasi kegiatan syiar Islam seperti malam takbiran 
dengan alasan macet. Padahal perayaan tahun baru yang dipimpin Ahok jauh lebih 
parah macetnya dengan menutup jalan-jalan protokol Jakarta.

Tidak puas hanya menghancurkan masjid-masjid, Ahok mengganti para pejabat 
Muslim dengan pejabat-pejabat kafir seperti Lurah Susan, Lurah Grace, dan 
sebagainya. Tak hanya itu, kepala sekolah beragama Islam di DKI banyak yang 
diganti dengan non Islam, dengan alasan lelang jabatan.

Merasa didukung media-media sekuler, Ahok terus menghapus simbol-simbol Islam. 
Melalui Kadisdik DKI, Lasro Masbrun, ia mengeluarkan aturan mengganti busana 
Muslim di sekolah-sekolah DKI setiap Jum’at dengan baju Betawi. Padahal 
sebenarnya baju Betawi bisa di hari lain.

Ahok, melalui sebuah video mengaku beriman pada tuhan, tapi dia mendukung 
legalisasi pelacuran, berjanji akan membangun lokalisasi prostitusi, dan 
menyebut mereka yang menolaknya sebagai munafik. Ketika umat Islam menolak 
kedatangan Miss World dan konser maksiat Lady Gaga, Ahok justru mendukung total 
bahkan bangga jika Jakarta jadi tuan rumah final kontes umbar aurat itu.

Prilaku kepemimpinan Ahok merupakan antitesa dari semangat dan kerangka sosial 
yang berlandaskan etika dan moralitas. Masyarakat digiring untuk berprilaku 
seperti binatang, tanpa moral dan agama.

Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pernah bilang, praktik prostitusi tidak mungkin 
bisa diberantas di Jakarta, sekalipun seorang nabi diturunkan. “Bagi saya bukan 
mempermasalahkan menghilangkan prostitusi di Jakarta. Enggak mungkin. Nabi 
turun saja enggak bisa menghilangkan prostitusi loh,” kata Ahok di Balai Kota, 
Senin (27/4/2015).

Gaya hidup Ahok juga tidak bisa lepas dari miras (minuman keras). Dalam 
pertemuan Ahok dan pegiat media sosial di rumah pribadinya membuat heboh 
netizen. Sebab, dalam foto itu terlihat beberapa botol minuman bir kaleng di 
jamuan makan malam bersama pendukungnya.

“Saya sendiri enggak ngebir. Kulkas saya penuh. Kamu mau wine, bir, sirup, jus, 
di rumah saya tersedia. Jadi Anda mau bir, mau apa, silakan bertamu ke rumah 
saya. Tapi kalau kamu mabuk, gue tempeleng loh. Saya juga tahu difoto kok, saya 
taruh aja. Biar bagus dong, promosi Anker bir,” katanya

Bukan itu saja, Ahok mendukung wacana penghapusan Kolom Agama di KTP. Kemudian 
mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan, “Boleh minum bir, asal tidak mabuk”.

Instingnya terhadap agama sangat buruk. Dengan berani, dia melecehkan ayat suci 
Al-Qur’an. Dia bilang, ayat suci wajib tunduk pada ayat konstitusi. Kemudian 
dia menyindir, “Orang beriman tidak korupsi. Jilbabnya kayak serbet.”

Dengan persepsi negatif seperti itu, maka Ahok mewacanakan menghapus cuti 
bersama saat lebaran. Ahok larang tabligh akbar, lagi-lagi dengan alasan bikin 
macet. Belum lama ini Ahok melarang pemotongan hewan Kurban di lokasi Sekolah 
Dasar.

Ketika rakyat Muslim menentang kebijakannya yang tidak bijaksana itu, Ahok yang 
bangga menyebut dirinya Cina kafir itu langsung menuding penentangan tersebut 
sebagai tindakan SARA. Setiapkali terjadi kondisi yang tidak dinginkan dia 
menyalahkan orang lain. Ibarat kata, iblis teriak iblis, setan teriak setan, 
begitulah karakter kafir munafik.

Oleh karena itu, pemimpin kafir tidak cocok bagi umat Islam. Pemimpin kafir 
hanya cocok bagi sesama orang kafir (ba’duhum auliyau ba’din).

Agama dijadikan bahan ejekan

Prilaku Ahok yang kejam dan bengis, tidak dapat ditolerir karena sangat 
membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara. Berulang kali Ahok mengatakan 
akan membunuh demonstran yang mendemonya.

Dalam wawancaranya di media, Ahok meminta aparat untuk membunuh demonstran yang 
memprotes kebijakannya. Lalu, aparat keamanan diminta menyiapkan water canon 
berisi bensin untuk menyiram para demonstran.

Ahok bilang, “ini tugas pemerintah. Kalau ada kelompok bertindak anarkhis dan 
justru mengancam nyawa banyak orang, saya minta perugas untuk tindak tegas, 
bila perlu bunuh di tempat sekalipun ada kamera tv yang menyoroti. Bunuh dua 
ribu orang lebih baik daripada membahayakan nasib dua juta orang”.

Lontaran keji dan bengis Ahok tersebut dimuat media mainstream seperti Kompas, 
Detik, Republika dalam berbagai wawancaranya sejak ia diangkat menjadi kepala 
daerah mengganti Jokowi.

Dalam kaitan ini, jika negara terus membiarkan Ahok berlaku sewenang-wenang, 
bukan mustahil kelak aparat terprovokasi ucapannya, lalu menembaki dan membunuh 
rakyatnya sendiri. Pada akhirnya rakyat melakukan tindakan ‘anarkhis’ dipicu 
oleh prilaku Ahok yang dipastikan selalu mengulang-ulangi perbuatan jahatnya, 
serta akibat ketidak adilan hukum di negeri ini.

Selama masa jabatannya, Ahok telah banyak mengakali rakyat Jakarta. Kasus 
pembelian lahan rumah sakit Sumber Waras yang cara pembelian lahannya tertutup 
dan penuh dengan kongkalikong. Kasus Reklamasi yang melanggar hokum berdasarkan 
putusan pengadilan, kemudian kasus Bukit Duri yang memperkosa konstitusi. Semua 
ini jelas-jelas contoh kebijakan seorang pemimpin yang tidak punya etika dan 
mengenyampingkan nilai-nilai hukum dan peradaban. Tapi masih ada saja yang 
percaya bahwa Ahok pejabat yang bersih, anti korupsi.

Di antara yang percaya itu, selain Teman Ahok, adalah mantan Ketua PP 
Muhammadiyah Buya Syafii Maarif. Pembelaannya pada Ahok sungguh dramatis. “Pak 
Ahok sudah dipanggil untuk menghadap DPR terkait pembebasan lahan hijau milik 
negara yang sebelumnya jadi perkampungan Kalijodo. Pak Ahok dengan tenang 
menjawab, “Jangankan menghadap DPR. Menghadap panggilan Tuhan saja saya sudah 
siap!”

Lalu Syafii bilang, “Itulah jihad Pak Ahok, gubernur DKI Kristen, sekaligus 
orang Indonesia tulen. Air mata saya pun menetes makin banyak dalam kesunyian 
yang makin dalam. Majulah terus Pak Ahok. Ada puluhan juta malaikat yang telah 
diutus Sang Sunyi untuk melindungi Pak Ahok.”

Tradisi dukung mendukung seperti ini, sudah lama menjadi aib dan titik lemah 
‘Tokoh Ormas Islam’. Dan kelemahan ini dimanfaatkan oleh orang-orang kafir. 
Bayangkan, apabila di balik dukungan itu terdapat ‘balas jasa’ lalu suatu 
ketika diungkap ke publik, siapa menanggung malu? Seperti hadits Nabi Saw, 
“Jika kamu tak punya malu maka berbuatlah sesukamu”.

Dulu, di zaman Nabi Saw, dukungan orang munafiklah yang membakar kemarahan dan 
memicu keberanian kaum Yahudi dan Nasrani untuk memerangi umat Islam. 
Nampaknya, di zaman sekarangpun berulang lagi. Padahal dalam ayat-ayat kitab 
suci Al-Quran, umat Islam tegas dilarang memilih pemimpin yang mengejek agama.

“Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian mengambil jadi pemimpinmu, 
orang-orang yang melecehkan agamamu, di antara orang-orang Yahudi, Nasrani, dan 
orang-orang musyrik. Taatlah kalian kepada Allah, jika kalian benar-benar 
beriman.” (Qs. Al-Maidah [5]:57).

Segala kezaliman dan kasus penistaan Al-Qur’an yang dilakukan Ahok, akan segera 
dapat dihentikan bila setiap Muslim memperhatikan dan menaati perintah AllAh 
Swt ini. Mukjizat Al-Maidah 51, yang dihujat Ahok, telah menyadarkan umat Islam 
akan pentingnya untuk bersatu membela Islam melawan musuh Islam. (Risalah 
Mujahidin)

(*/arrahmah.com)

Kirim email ke