Orang galak pasang gambar anjing besar dengan tulisan Awas Anjing Galak pada pintu masuk ke kebun depannya. Anak-anak ubah tulisannya jadi Awas Orang Galak, tetapi tetap dengan gambar Anjing siap menerkam......
2016-10-29 14:43 GMT+02:00 S Manap [email protected] [GELORA45] < [email protected]>: > > > Kelihatannya memang galak. Tapi tau berapa isterinya?...... > > > Den lördag, 29 oktober 2016 13:54 skrev "'Sunny' [email protected] > [GELORA45]" <[email protected]>: > > > > res : *Ustadz pada gambar artikel sangat galak. hehehehe* > > https://www.arrahmah.com/kajian-islam/haram-memilih-pemimpin-kafir.html > > > Haram memilih pemimpin kafir > A. Z. Muttaqin Jum'at, 27 Muharram 1438 H / 28 Oktober 2016 08:01 > Oleh: Al-Ustadz Muhammad Thalib > > > [image: Haram memilih pemimpin kafir] > Amir Majelis Mujahidin Ustadz Muhammad Thalib Al Yamani > > (Arrahmah.com) – Di antara keunggulan umat Islam dibandingkan dengan umat > agama lain, adalah cepat marah apabila menyaksikan kemungkaran, karena umat > Islam berkeyakinan bahwa segala bentuk kemungkaran harus dibasmi. > > Abu Sa’id al-Khudriy ra. ber kata, aku mendengar Rasulullah Saw. Bersabda: > “Barangsiapa melihat kemungkaran, hendaklah merubah dengan tangannya; jika > tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu maka dengan hatinya, > dan yang demikian itu tingkatan iman paling lemah.” (HR Muslim) > > Berbeda dengan orang kafir, kemaksiatan dan kemungkaran merupakan gaya > hidup mereka. Sayangnya, kemarahan umat Islam tidak produktif. Akan tetapi > umat Islam lemah dalam melakukan perlawanan, baik perlawanan secara hukum, > politik, maupun pisik. Akibatnya, musuh Islam seringkali memancing > kemarahan umat Islam untuk dijebak dan dilemahkan, dengan sengaja melakukan > tindakan yang bertentangan konstitusi negara maupun kitab suci Al-Qur’an. > > Misalnya, kerusuhan yang terjadi di Tanjungbalai, Sumatera Utara pada > Jumat (29/7/2016). Terjadi aksi kerusuhan warga dalam bentuk pembakaran > rumah ibadah umat Buddha yakni sejumlah Vihara dan Klenteng. > > Kerusuhan itu dipicu oleh prilaku arogan etnis minoritas China bernama > Herlina dan suaminya. Ia menunjukkan sikap intoleran serta kebencian dengan > memprotes kumandang suara adzan di Masjid Al-Maksum, dekat rumahnya di > Jalan Karya, Kota Tanjungbalai. Protes dilakukan berulangkali, karena suara > adzan dianggap berisik dan mengganggu tidur mereka. > > Bagi umat Islam, protes ini adalah penghinaan dan penistaan agama yang > hukumannya sudah diatur dalam UU. Suara adzan berkumandang untuk memanggil > umat Islam melaksanakan ibadah shalat, bukan suara nyanyian untuk maksiat > seperti yang biasa dilakukan orang-orang kafir. > > Oleh karena itu, terdapat jutaan umat Islam yang siap tempur melawan > penistaan ini, karena musuhnya nyata ada. Jika mereka terus menyuarakan > protesnya yang intoleran itu, maka bukan tidak mungkin para pemrotes itu > akan diburu oleh umat Islam, seperti memburu tikus di sawah. > > Namun disinilah umat Islam kerap terjebak dan dijebak, bisa karena > terpancing emosinya sehingan meletup dalam bentuk kemarahan, atau bisa juga > dan ini yang sering terjadi, sikap diskriminatif aparat keamanan yang > lamban bertindak. Dalam kasus Tanjungbalai, polisi menangkap mereka yang > disebut provokator dan pelaku kerusuhan, tapi sumber masalah utama, yaitu > Herlina yang menista agama, dibiarkan berkeliaran. > > Menghadapi diskriminasi polisi, umat Islam lagi-lagi hanya pandai > mengumpulkan massa, tapi lemah dalam membangun jaringan politik dan > kekuasaan. > > Manipulasi agama > > Menghadapi musuh nyata, berupa Komunisme, Liberalisme, Syiah, dan para > penista agama, umat Islam tidak perlu diragukan kesiapan dan keberaniannya. > Hal ini sudah teruji dalam sejarah. Namun, bila musuh Islam memanipulasi > Al-Qur’an dan Sunah Nabi Saw untuk menyesatkan umat Islam, disinilah > problem besar yang tidak banyak orang mampu mengatasinya. Manipulasi agama > oleh tokoh-tokoh agama, jauh lebih berbahaya dan lebih sulit melawannya. > > Contoh, opini sesat yang dikembangkan oleh komunitas Salafy, yang > menyatakan bahwa, “wajib menaati penguasa selama mereka masih Muslim, > walaupun mereka berbuat zhalim.” > > Mereka mengutip hadits yang artinya, “Dengarlah dan ta’at kepada > pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. > Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim no. 1847). > > Mereka memahami hadits secara salah dan kontroversial. Menyiksa punggung > dan mengambil harta tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at termasuk > maksiat. Dan haram menaati penguasa dalam hal maksiat kepada Allah Swt. > > Bagaimana komunitas Salafi memahami hadits, ‘haram taat pada makhluk yang > maksiat pada Allah?’ Kedzaliman adalah maksiat pada Allah, dan Allah > mengancam orang dzalim masuk neraka. Bagaimana logikanya, orang yang > terancam masuk neraka malah diperintahkan orang mukmin untuk menaatinya? > > Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yg terbunuh karena mempertahankan > hartanya, maka ia adalah seorang syahid.” [HR. Ibnu Majah No.2570]. > > Hadits ini menyuruh orang Islam supaya berani melawan orang yang berbuat > dzalim terhadap hartanya, dan bila terbunuh dalam perlawanan itu dapat > imbalan mati syahid. > > Ada lagi contoh lain, opini menyesatkan yang membolehkan memilih orang > kafir menjadi pemimpin di tengah-tengah mayoritas Muslim. Terutama > dikaitkan dengan isu SARA di Pilgub DKI 2017 dan daerah lainnya di > Indonesia. > > Dalil Al-Qur’an yang dimanipulasi, antara lain adalah al-Qur’an surat > al-Māʾidah ayat 51: “Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan > Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu”. Dan surat an-Nisāʾ ayat 144, > “Janganlah kalian menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan > meninggalkan orang-orang mukmin”. > > Menurut para manipulator ini, dua ayat ini telah diterjemahkan keliru oleh > tim ahli Departemen Agama dan disalahpahami karena konteks asbabun nuzul > dan penjelasan tafsir klasik, semisal aṭ-Ṭabarī dan Ibn Katsīr, tidak > menunjukkan kata “awliyāʾ” dalam ayat di atas bermakna pemimpin, tapi > semacam sekutu atau aliansi. > > “Yang dilarang itu bersekutu dan beraliansi dengan orang kafir, bukan > mengangkat mereka sebagai pemimpin,” kata mereka. > > Begitulah para manipulator agama seringkali menggiring opini umat untuk > maksud tertentu, dengan cara manipulasi ayat Al-Qur’an. > > Padahal kata awliya’ dalam bahasa Arab memiliki banyak makna, tidak hanya > teman, atau sekutu seperti yang mereka katakan. Awliya’ bisa bermakna teman > dekat, orang yang disayangi, orang yang mengurus tanggungjawab. Akan > tetapi, untuk mendapatkan makna yang tepat sesuai dengan uslub atau gaya > bahasa Arab, istilah tersebut harus dikembalikan pada pemahaman orang Arab. > Sekalipun makna yang bermacam-macam dari kata awliya’ dibenarkan dalam > kamus bahasa, tapi penerapannya harus benar-benar sesuai dengan uslub Arab > itu sendiri. Utamanya, pemaknaan kata awliya’ dalam ayat Al-Qur’an, bukan > hanya arti kamus, tetapi yang prinsip adalah praktik Rasulullah Saw dan > para shahabat. > > Jika mengikuti omongan para manipulator, bahwa awliya’ dalam ayat tadi, > bukan berarti pemimpin melainkan sekutu atau teman dekat. Artinya, orang > Islam dilarang melakukan persekutuan baik dengan kafir ahlul kitab maupun > yang lain, tapi mengangkatnya sebagai pemimpin dibolehkan. Maka, hal ini > jelas bertentangan dengan praktik Rasulullah Saw, karena terbukti beliau > pernah melakukan syirkah (persekutuan) dengan kaum kafir Yahudi di Khaibar. > > Setelah kaum kafir Yahudi Khaibar menyerah pada Rasulullah, tanah Khaibar > yang semula dikuasai kafir Yahudi, diserahkan menjadi milik Nabi Saw dan > Negara Islam Madinah. Setelah mereka serahkan sebagai bentuk fa’i, lalu > Rasulullah menyuruh seorang Yahudi penduduk Khaibar menggarapnya dengan > cara bagi hasil, yang disebut dengan syirkatul amwal wal abdan (kerjasama > pemilik modal dengan pekerja). > > Ini fakta sejarah, yang mendustakan perkataan, “boleh memilih pemimpin > kafir, karena yang dilarang menjadikan mereka sebagai teman atau sekutu”. > > Sebaliknya, sejak zaman Nabi Saw hingga jatuhnya kekhalifahan Utsmani, > umat Islam tidak pernah mengangkat orang kafir sebagai awliya’ (pemimpin). > Allah Swt. melarang keras orang-orang beriman memilih orang kafir sebagai > pemimpin. > > “Orang-orang mukmin tidak boleh mengangkat orang-orang kafir sebagai > pemimpin (awliya’) untuk mengurus orang mukmin. Orang mukmin yang melanggar > larangan ini, dia tidak akan mendapatkan pertolongan dari Allah sedikit > pun…” (Qs. Ali Imran [3]:28). > > Oleh karena itu, jika ada manipulator agama yang mendorong umat Islam > untuk mengangkat orang kafir dan meninggalkan orang Islam jadi pemimpin. > Itu sama artinya dengan menganggap tidak ada orang Islam di Indonesia. > Apakah umat Islam mau dinihilkan eksistensinya di negeri ini? > > Jika ucapan para pembohong ini dipakai bahwa, “boleh menjadikan orang > kafir sebagai pemimpin, karena yang dilarang adalah menjadikan mereka > sebagai teman atau sekutu”. Maka mafhum mukhalafahnya, boleh saja seseorang > memaki orangtuanya dengan kata “anjing!” karena di dalam al-Qur’an (17:23) > yang dilarang itu melontarkan kata “ah!” Begitukah yang mereka inginkan? > > Padahal maksudnya, jika berkata-kata ‘Ah’ saja dilarang, apatah lagi > berkata ‘anjing’ dan sejenisnya. Begitu pula kepada orang-orang kafir, > kalau bersekutu saja dilarang, maka lebih terlarang lagi mengangkat mereka > jadi pemimpin. Kalau beraliansi saja sudah dilarang, apatah lagi memberikan > kekuasaan kepada mereka. Para manipulator agama, memang corong orang-orang > kafir untuk merusak pemahaman umat Islam terhadap Al-Qur’an. > > Urusan pemimpin terkait dengan tanggung jawab Negara. Jika kepemimpinan > Negara berada dalam kendali orang kafir, atau menyusupkan orang Islam yang > bermental kafir untuk mengurus kepentingan rakyat yang mayoritas Muslim, > lalu untuk apa jadi orang Islam? Hal itu sama saja dengan menyerahkan leher > untuk disembelih orang-orang kafir. > > Para manipulator agama ini tidak menyadari, bahwa mereka telah menjadi > bagian dari propaganda orang kafir untuk menguasai dan menjajah orang-orang > Islam. Karena orang-orang kafir selamanya tidak menghendaki kepemimpinan > itu dikendalikan oleh orang-orang beriman. Orang kafir justru menghendaki, > agar kepemimpinan di dunia ini jangan sampai jatuh pada tangan orang > beriman, tapi didominasi pemimpin kufar. > > (*/arrahmah.com) > > > > >
