Universitas Katolik WM Surabaya lahirkan doktor "jihad"


Sabtu, 29 Oktober 2016 21:33 WIB | 3.401 Views

http://www.antaranews.com/berita/593082/universitas-katolik-wm-surabaya-lahirkan-doktor-jihad

Pewarta: Edy M Yakub



Surabaya (ANTARA News) - Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) 
melahirkan doktor bidang Ilmu Manajemen, yakni Kiai Haji Muhammad Zakki yang 
menulis disertasi bertopik "Jihad Santri-Preneur di Pesantren Entrepreneur 
Jatim".

"Kepemimpinan strategik itu tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap jihad 
santri-preneur karena kepemimpinan strategik itu menggunakan simbol birokrasi, 
sedangkan santri menggunakan simbol agama sehingga tidak ada titik temu," kata 
Dr. Drs. K.H. Muhammad Zakki, M.Si. dalam ujian terbuka di UKWMS, Sabtu.

Dalam ujian yang diikuti Sekjen Kemenag RI Prof. Nur Syam, M.Si. dan staf ahli 
Kemendag RI itu, pengasuh Pesantren Mukmin Mandiri Sidoarjo yang meraih 
predikat "cumlaude" itu mengaku saat ini ada pergeseran orientasi pesantren 
dari salaf (kitab kuning) ke kholaf (modern/iptek).

"Akan tetapi, sekarang juga berkembang ke pesantren entrepreneurship yang 
mendorong ketrampilan dan karakter mandiri. Bedanya, pesantren salaf dan kholaf 
itu masih 75 persen pendidikan, sedangkan pesantren entrepreneurship justru 75 
persen keterampilan," katanya.

Menurut dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya itu, 
pesantren entrepreneur tercatat 40-an unit dari ribuan pesantren di Jatim 
dengan empat di antaranya dijadikan objek penelitian dalam disertasinya itu 
tetap mengajarkan masalah agama.

"Pengajaran agama yang diajarkan tidak berhenti pada masalah fiqih (hukum 
agama), tetapi mengarah ke tijaroh (perdagangan). Agama itu yang diajarkan itu 
kaffah (sempurna) dari iman, syariah, etika sosial, hidup sederhana, dan 
jihad-preneur untuk menjadi mujahid ekonomi," katanya.

Doktor ke-17 di Program Studi Ilmu Manajemen Pascasarjana UKWMS itu mengatakan 
bahwa jihad adalah berusaha/berjuang dengan sungguh-sungguh karena itu makna 
jihad itu bukan kekerasan atau teror, melainkan kesungguhan dalam seluruh aspek 
kehidupan.

"Konsep keberagamaan yang jarang diungkap adalah bekerja itu juga ibadah karena 
ibadah bukan cuma salat. Tidak banyak yang tahu Imam Syafii itu pedagang botol 
dan Syeikh Abdul Qadir Jaelani itu peternak kuda. Jadi, salat itu ibadah, 
tetapi bekerja juga ibadah," katanya.

Ditanya faktor penentu pesantren entrepreneur, dia menyebutkan ada dua, yakni 
kiai-preneur dan santri-preneur. Namun, faktor paling menentukan adalah 
kiai-preneur karena kiai memiliki posisi sentral dalam pesantren.

"Oleh karena itu, kiai juga harus berubah, bukan hanya dimintai nama anak oleh 
seorang ibu, diminta mengobati sakit, ditanya solusi masalah keluarga, tetapi 
kiai sudah waktunya memiliki wibawa spiritual sekaligus wibawa ekonomi," 
katanya.

Tentang kemungkinan pesantren entrepreneur akan menjadi gerakan kapitalisasi 
pesantren, dia mengatakan bahwa hal itu akan dapat dicegah bila konsep ekonomi 
diberi nilai-nilai spiritual, di antaranya ekonomi itu bukan soal materi 
semata, melainkan ibadah, apalagi Allah juga lebih suka mukmin yang "kuat" 
(ekonomi).

"Sebagai pendiri pesantren agrobisnis yang sekarang memproduksi kopi 
berkualitas ekspor itu, kami serius dengan konsep pesantren entrepreneur, 
bahkan kami sudah menggagas konsep one pesantren one product untuk Kemenag, 
Kemenkop, dan Kemendag. Kalau itu terwujud, ekonomi kerakyatan akan 
berkembang," katanya.

Editor: Ruslan Burhani


Kirim email ke