http://nasional.kompas.com/read/2016/10/30/18455051
/aktivis.ham.minta.jokowi.tak.hanya.jual.komitmen.pengusutan.kasus.munir
Aktivis HAM Minta Jokowi Tak Hanya Jual
Komitmen Pengusutan Kasus Munir
Minggu, 30 Oktober 2016 | 18:45 WIB
* <javascript:void(0);>
* <javascript:void(0);>
* <javascript:void(0);>
*
<http://nasional.kompas.com/read/2016/10/30/18455051/aktivis.ham.minta.jokowi.tak.hanya.jual.komitmen.pengusutan.kasus.munir#komentar>
*
<http://nasional.kompas.com/read/2016/10/30/18455051/aktivis.ham.minta.jokowi.tak.hanya.jual.komitmen.pengusutan.kasus.munir#>
247
Shares
DOK. KOMPAS/KOMPAS.COM -
*JAKARTA, KOMPAS.com* – Sejumlah aktivis hak asasi manusia
mempertanyakan komitmen Presiden Joko Widodo
<http://nasional.kompas.com/tag/Jokowi> dalam mengusut tuntas kasus
pembunuhan aktivis HAM, Munir Said Thalib.
Pengusutan kasus itu terus didorong setelah Komisi Informasi Pusat
memenangkan gugatan yang diajukan istri Munir, Suciwati. KIP
memerintahkan kepada pemerintah untuk membuka dokumen rekomendasi Tim
Pencari Fakta Munir.
"Presiden jangan cuma menjual komitmen karena Presiden berpotensi
melanggar komitmennya sendiri," ujar aktivis Komite Aksi Solidaritas
untuk Munir (Kasum), Choirul Anam, di Kantor Lembaga Bantuan Hukum
Jakarta, Minggu (30/10/2016).
Menurut Choirul, sebelum Jokowi dilantik sebagai Presiden, ia telah
bertemu dengan Tim Transisi Jokowi-Jusuf Kalla
<http://nasional.kompas.com/tag/Jusuf%20Kalla>.
Dalam pertemuan itu, Choirul memberikan dokumen serta paparan terkait
kasus pembunuhan yang terjadi pada 2004 tersebut.
Saat itu para aktivis HAM sempat optimistis terhadap pemerintahan Jokowi
untuk menyelesaikan kasus tersebut.
Namun, optimisme itu mulai hilang setelah Jokowi terlihat memiliki
hubungan dekat dengan mantan Kepala Badan Intelijen Negara AM
Hendropriyono. Hendropriyono ditengarai terkait dengan kasus itu.
"Jokowi mengajak Hendropriyono keluar masuk Istana. Kami sakit hati,"
ujarnya.
Ketika kasus pembunuhan terjadi, Hendropriyono merupakan Kepala Badan
Intelijen Negara saat itu.
Para aktivis HAM menganggap BIN sebagai dalang di balik pembunuhan
dengan menggunakan racun arsenik terhadap Munir dalam penerbangan
pesawat Garuda <http://nasional.kompas.com/tag/Garuda> Indonesia dari
Indonesia ke Belanda.
Hingga kini, belum terungkap siapa auktor intelektualis di balik
tewasnya Munir. Pengadilan telah menghukum Pollycarpus Budihari
Priyanto, pilot maskapai Garuda <http://nasional.kompas.com/tag/Garuda>
Indonesia yang juga eksekutor Munir.
Sebelum Munir tewas, ada percakapan intensif antara Pollycarpus dan
mantan Deputi V BIN, Muchdi PR. Percakapan itu diketahui dari /call data
record/ ponsel Pollycarpus yang dipaparkan di pengadilan.
Namun, hingga kini rekaman percakapan antara keduanya itu belum
terungkap ke publik.
Aktivis HAM lainnya, M Islah, menilai bahwa rekaman percakapan itu
menjadi bukti penting dalam kasus pembunuhan Munir.
Ia yakin bahwa kepolisian dan kejaksaan memiliki rekaman itu. Sebelum
kasus bergulir di meja hijau, mantan Kabareskrim Komjen Pol (Purn)
Bambang Hendarso Danuri, mantan Kapuspenkum Kejagung Jasman Panjaitan
dan Direktur Prapenuntutan pada Jaksa Agung Muda Pidana Umum Kejagung,
Suroso, mengakui adanya rekaman itu.
"(Tapi) rekaman itu sampai saat ini belum pernah dimunculkan sebagai
dokumen hukum," kata Islah.
Penulis : Dani Prabowo
Editor : Laksono Hari Wiwoho
Apakah Anda ingin men-share artikel ini?