Kita negara timur, hal seperti ini sudah biasa bung, biasa ada binatang yang dilariskan setelah kejadian ini. Mau di apain lagi, sebenarnya dipemerintahan saat ini, hal lah yang mau diperbaiki karena selama setrngah abad lebih kejadian ini terus terjadi
From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Friday, November 04, 2016 9:40 AM To: [email protected] Subject: [**EXTERNAL**] [GELORA45] keributan yang bikin kapal TKI tenggelam Kekejaman tekong kapal pengangkut TKI sudah lama terdengar. "Kebaikan" mereka memberi angkutan bagi TKI tak berdokumen tidak sebanding dengan mental kejinya. Bisa diduga mereka bukanlah orang laut. Mereka cuma tikus kapitalis yang beroperasi di pelayaran jalur hitam. Manusia laut tidak akan menurunkan orang di tengah laut. Lepas dari soal tenggelam, intinya ini adalah soal penghidupan. Di lapis bawah Rakyat cari makan dengan menyabung nyawa sedangkan yang di atas cuma asyik berebut kursi. Kalau pun dipersoalkan apalagi sampai ke meja hijau, seperti biasa semua pihak terutama para kapitalis akan ramai-ramai berlindung di balik HAM. Hak asasi untuk mencari sesuap nasi (dan segenggam berlian). Tidak ada lagi yang berpegang pada sosialisme perikemanusiaan-perikeadilan. HAM rupanya dianggap lebih sexy. Termasuk sebagai hak dalam membiarkan Rakyat mencari makan dengan diinjak-injak HAM orang lain. - Kapal TKI Tenggelam di Batam Ini Rupanya Biang Keributan yang Bikin Kapal Tenggelam. Tekong Minta Rp 150 Ribu & Suruh Turun Kapal Kamis, 3 November 2016 14:14 BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BATAM - Ada banyak cerita menarik di balik tenggelamnya kapal yang mengangkut TKI Ilegal dari Malaysia di Perairan Nongsa, Rabu (3/11/2016) kemarin. Satu cerita menarik itu adalah tentang pungutan uang yang harus dibayarkan para TKI sebelum masuk ke Pelabuhan Tikut Tanjung Bembang, Nongsa, Batam. Setelah membayar sekitar Rp 5 juta per orang untuk bisa pulang ke Indonesia melalui Batam dari Johor, Malaysia, sebelum sampai ke Tanjung Bemban, Nongsa, para TKI kembali dimintai uang sebesar Rp 150 ribu. Dari pengakuan para TKI kepada penyidik di Polda Kepri, penarikan uang tersebut yang membuat mereka sempat ribut di atas kapal. Kapolda Kepri Brigjen Sambudi Gusdian mengatakan, saat dipungut biaya di atas kapal, para TKI ribut dan kapal sempat oleng. Kemudian, tekong kapal meminta para TKI untuk turun sementara jarak dari bibir pantai masih sekitar satu mil. Saat meminta TKI turun, tekong itu salah prediksi. Dikira tekong, lokasi penuruan para TKI itu sudah dangkat ternyata air masih tinggi karena sedang pasang naik. Ditambah lagi, ombak sedang kencang dan membuat kapal terbalik. Korban mulai panik. Setelah kapal terbalik mereka mencoba menyelamatkan diri masing-masing. Beberapa dari mereka yang bisa berenang membantu menyelamatkan teman-teman yang lain. Namun karena lamanya bantuan, satu persatu mereka terpencar sampai mereka diselamatkan oleh seorang nelayan. "Mereka memang sempat turun di tengah laut, namun salah prediksi, air pasang dan dalam," tambah Sam. Semua saksi yang dimintai keterangan menurut Sam sudah disumpah dan tidak mungkin berbohong. Begitu juga terkait adanya barak yang di tengah hutan tersebut. "Terkait adanya barak itu, itu tugas kementrian. Memang kita harus duduk bersama mencari solusi permasalahan tersebut," tukasnya. (*)
