Ya, di kelautan kelihatan sekali pemerintah bekerja kerasmenegakkan HAM-nya 
sebagai penjaga gudang ASEAN.
 --- inengahk@... wrote:
Kita negara timur, hal seperti ini sudah biasa bung, biasa ada binatang yang 
dilariskan setelah kejadian ini. Mau di apain lagi, sebenarnya dipemerintahan  
saat ini, hal lah yang mau diperbaiki karena selama setrngah abad lebih 
kejadian ini terus terjadi
From: ajeg
    Kekejaman tekong kapal pengangkut TKI sudah lama terdengar."Kebaikan" 
mereka memberi angkutan bagi TKI tak berdokumen 
tidak sebanding dengan mental kejinya. Bisa diduga mereka 
bukanlah orang laut. Mereka cuma tikus kapitalis yang beroperasi 
di pelayaran jalur hitam. Manusia laut tidak akan menurunkan 
orang di tengah laut.

Lepas dari soal tenggelam, intinya ini adalah soal penghidupan.Di lapis bawah 
Rakyat cari makan dengan menyabung nyawa 
sedangkan yang di atas cuma asyik berebut kursi. Kalau pun 
dipersoalkan apalagi sampai ke meja hijau, seperti biasa semua 
pihak terutama para kapitalis akan ramai-ramai berlindung 
di balik HAM. Hak asasi untuk mencari sesuap nasi (dan segenggam 
berlian). Tidak ada lagi yang berpegang pada sosialisme 
perikemanusiaan-perikeadilan.
HAM rupanya dianggap lebih sexy. Termasuk sebagai hak dalam 
membiarkan Rakyat mencari makan dengan diinjak-injak HAM 
orang lain.
-
Kapal TKI Tenggelam di Batam Ini Rupanya BiangKeributan yang Bikin Kapal 
Tenggelam. 
Tekong Minta Rp 150 Ribu & SuruhTurun Kapal Kamis, 3November 2016 14:14 
BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BATAM - Ada banyak cerita menarik di balik tenggelamnya 
kapalyang mengangkut TKI Ilegal dari Malaysia di Perairan Nongsa, Rabu 
(3/11/2016)kemarin. Satu cerita menarik itu adalahtentang pungutan uang yang 
harus dibayarkan para TKI sebelum masuk ke PelabuhanTikut Tanjung Bembang, 
Nongsa, Batam. Setelah membayar sekitar Rp 5 jutaper orang untuk bisa pulang ke 
Indonesia melalui Batam dari Johor, Malaysia,sebelum sampai ke Tanjung Bemban, 
Nongsa, para TKI kembali dimintai uangsebesar Rp 150 ribu. Dari pengakuan para 
TKI kepadapenyidik di Polda Kepri, penarikan uang tersebut yang membuat mereka 
sempatribut di atas kapal. Kapolda Kepri Brigjen SambudiGusdian mengatakan, 
saat dipungut biaya di atas kapal, para TKI ribut dan kapalsempat oleng. 
Kemudian, tekong kapal meminta paraTKI untuk turun sementara jarak dari bibir 
pantai masih sekitar satu mil. Saat meminta TKI turun, tekong itusalah 
prediksi. Dikira tekong, lokasi penuruan paraTKI itu sudah dangkat ternyata air 
masih tinggi karena sedang pasang naik. Ditambah lagi, ombak sedang kencangdan 
membuat kapal terbalik.
Korban mulai panik. Setelah kapal terbalik merekamencoba menyelamatkan diri 
masing-masing. Beberapa dari mereka yang bisaberenang membantu menyelamatkan 
teman-teman yang lain.Namun karena lamanya bantuan, satupersatu mereka 
terpencar sampai mereka diselamatkan oleh seorang nelayan. "Mereka memang 
sempat turun ditengah laut, namun salah prediksi, air pasang dan dalam," tambah 
Sam. Semua saksi yang dimintai keteranganmenurut Sam sudah disumpah dan tidak 
mungkin berbohong. Begitu juga terkait adanya barakyang di tengah hutan 
tersebut. "Terkait adanyabarak itu, itu tugas kementrian. Memang kita harus 
duduk bersama mencari solusipermasalahan tersebut," tukasnya. (*)

 

  

Kirim email ke