From: B.DORPI P. 
Sent: Friday, November 4, 2016 10:27 AM


http://indoprogress.com/2016/11/musso-pejuang-yang-radikal/

4 November 2016 
Harian Indoprogress


Musso: Pejuang yang Radikal 
Eko Prasetyo



 

Suatu pemberontakan yang mengklaim kekalahan adalah tetap sah dan benar. Kita 
terima kekalahan ini karena musuh lebih kuat: kita terima pembuangan ini 
sebagai suatu resiko perjuangan yang kalah. Tidak ada di antara kita yang 
salah, karena kita melawan penjajahan. Pihak yang bersalah ialah pemerintah 
kolonial. Kita harus melawanya juga, di tanah pembuangan ini. 

 

(Ali Archam)[1]

 

Setelah kamu pulang, kamu musti siap berjuang demi revolusi.

 

(Pesan Musso untuk puteranya)


PERAWAKANNYA gempal dan parasnya kukuh. Ia dikenal pemberani dan pintar bicara. 
Bahasanya agitatif dan lugas. Soekarno sempat kagum padanya. Dekat dengan 
Tjokroaminoto. Pernah bareng dengan Tan Malaka. Ia bukan sekadar pemberontak. 
Tapi juga petualang. Hidupnya diburu. Terutama saat PKI berontak pertama 
kalinya pada 1926. Ia tak tahan melihat taktik yang berbelit-belit. Baginya 
Kolonialisme saatnya disudahi. Bukan dengan perundingan. Tidak dengan 
perlawanan sporadis. Namanya Munawar Musso atau terkenal dengan Musso.

Lahir pada 1897, di Pegu, Kediri, Musso bertempur secara terbuka. Sabotase dan 
pertempuran jalanan. Ini memang hitung-hitungan nekat. Konon Tan Malaka tak 
setuju. Tapi Musso mengawali jalan progresif: kota jadi ladang pertempuran. 
Belanda melihat pria ini bahaya. PKI ditumpas dengan sadis. Sebagian dibunuh 
sebagian dibuang. Setidaknya ada 1300 orang dibuang. Musso dengan cerdik bisa 
lolos. Pergi ke Rusia. Di sana ia menemukan kiblat perjuangan. Keyakinanya pada 
komunis makin teguh. Sang pemberontak itu berada di sana. Kelak ia pulang 
dengan membawa badai.

Badai itu namanya revolusi. Saat ketika Belanda belum enyah sepenuhnya dan 
kemerdekaan sedang dipertaruhkan. Musso tak tahan melihat jalan perundingan. Ia 
mungkin pria yang tak sabar. Baginya kemerdekaan tak bisa ditawar dan 
perundingan hanya membuat segalanya jadi ruwet. Kala itu dunia dihadapkan pada 
perang antara blok kapitalis dan sosialis. Musso berdiri di sisi kaum sosialis. 
Kebenciannya pada Amerika serupa dengan sikap permusuhannya pada kolonial. 
Terlebih dirinya setia dengan jalan Stalin. Taktik front persatuan dibangun. 
Serupa dengan Persatuan Perjuangan. Dikumpulkannya semua gerakan rakyat untuk 
bersikap seragam: menolak berunding dengan Belanda. Ini zaman dimana ide-ide 
perubahan diperagakan. Ini masa dimana pemerintah sedang mencari pijakan. 
Berdiri di atas pijakan perundingan atau terus berkonfrontasi. Soekarno, Hatta, 
Sjarir, Amir hingga Musso merupakan lapisan yang terlibat dalam ‘perumusan’ 
pijakan. Mereka semua saling kenal, pernah hidup bersama dan saling hormat.

Itu sebabnya saat Soekarno ketemu Musso-pertama kalinya- ada rasa rindu dan 
hangat. Catatan Soepeno, pimpinan redaksi ‘Revolusioner’ melukiskan dengan haru:

  ….Bung Karno memeluk Musso dan Musso memeluk Soekarno. Mata berlinang. 
Kegembiraan ketika itu rupanya tidak dapat mereka keluarkan dengan kata-kata. 
Hanya pandangan mata dan roman muka mereka menggambarkan kegembiraan itu. 
Sesudah penyambutan itu selesai, barulah Bung Karno berkata: ‘Lho, kok masih 
awet muda? Dijawab pak Musso” ‘O ja. Tentu sadja. Ini memang semangat Moskow, 
semangat Moskow selamanya muda’.[2]

Musso setelah itu ketemu dengan Hatta. Mereka berdua bicara. Hatta lebih banyak 
mendengar. Situasi kala itu memang rumit. Kabinet jatuh bangun. Tiap 
perundingan membawa kecaman. Renville salah satunya. Musso melihat ini semua 
sebagai ekspresi kekuasaan imperialis. Bekal Soviet membuat dirinya lebih 
percaya diri. Mengusulkan sebuah front dengan lebih dulu melakukan evaluasi 
atas PKI. Dikuliti satu-persatu masalah yang kelak dimuat dalam risalah yang 
sangat terkenal Djalan Baru. Risalah yang mengutuk Tan Malaka sekaligus 
mengevaluasi PKI. Musso menganggap PKI telah banyak meninggalkan jalan massa. 
Seruannya untuk revolusi mendapat sambutan. Tiap pidato selalu ada massa yang 
mengelu-elukannya. Musso dalam semua ceramahnya selalu meyakini akan cara 
Moskow. Tak perlu berunding karena itu membuat Amerika mudah campur tangan. 
Baginya bertarung dengan senjata jauh lebih terhormat ketimbang berada di meja 
perundingan. Pandangannya itu bukan tak masuk akal. 1948 situasinya masih keruh 
dan rusuh.

Keruhnya situasi ini diperuncing oleh kebijakan rasionalisasi. Akibat Renville 
maka pasukan harus hijrah keluar dari wilayah Belanda. Diantaranya adalah 
Siliwangi. Pasukan ini musti keluar dari Jawa Barat dan dipindahkan ke Solo. Di 
sana pasukan ini tak cocok dengan Senopati. Pasukan yang sudah ada di Solo. 
Lebih-lebih Siliwangi dianggap elit, latar belakang kosmopolit dan terpelajar. 
Hawa perseteruan kian berlanjut saat ada penculikan dan pembunuhan anggota 
Senopati. Pemerintah tak kuasa mengusut itu semua. Bahan bakar perselisihan 
sudah dipupuk. Apinya menjalar saat keadaan tak bisa diatasi. Perang saudara di 
pintu Solo terbuka. Front Demokrasi Rakjat, elemen gerakan penyatu kekuatan 
kiri, jadi pendukung Senopati. Gerakan Revolusi Rakjat, sejak tokohnya diculik, 
berada bersama Siliwangi. Pemerintah yang merasa terancam oleh tekanan Front 
Demokrasi Rakjat membutuhkan pendekatan tangan besi. Gatot Subroto, mantan 
Marsose, diangkat jadi gubernur militer untuk mengatasi keadaan ini. Solo hanya 
pintu membuka sebuah arus yang kelak membawa Madiun dalam sebuah arus revolusi. 
Saat dimana kekuasaan memilih mengatasi situasi dengan menggunakan senjata dan 
meniadakan inisiatif untuk diskusi serta tatap muka.

Madiun meletus setelah mendapat aliran informasi Solo. Musso yang ketika itu 
sedang pidato di mana-mana diminta untuk datang ke Madiun. Saat itu dirinya 
masih di Kediri. Waktu tahu Madiun memutuskan membuat Republik Soviet, Musso 
tak mengelak. Ia berada di tengah massa yang mau membuat belokan tajam pada 
arah Republik. Pidatonya kala itu menunjukkan bagaimana dirinya kecewa dengan 
sikap penuh perundingan, kekalahan yang beruntun dan kekecewaan yang 
berulangkali dialami oleh rakyat. Suara pidato itu tak mirip dengan pesan 
pemberontakan tapi kritik atas taktik yang ditempuh penguasa saat itu:

  Revolusi telah berjalan selama tiga tahun di bawah pimpinan kelas borjuis 
nasional, yang selalu ragu-ragu dan kabur sikapnya dalam menghadapi kaum 
imperialis pada umumnya dan Amerika pada khususnya. Inilah salah satu sebab, 
mengapa kondisi politik dan ekonomi di dalam Republik terus-menerus menjadi 
lebih jelek. Itulah sebabnya rakyat pada umumnya dan kaum buruh pada khususnya 
belum bisa membedakan kondisi-kondisi sekarang dan kondisi zaman Belanda dan 
Rezim Jepang….[3]

Itulah Musso yang tak ingin negeri ini penguasanya hanya jadi kaki tangan. 
Pidato itu jawaban dari pidato Soekarno yang keras dan tegas-tegas mau 
meringkus Musso di Madiun. Dianggap melakukan pemberontakan hingga mau 
menjatuhkan pemerintah maka tindakan militer diambil. Perang saudara meledak 
dengan korban yang tak sedikit: orang yang kena tuduh PKI dibunuh dan dibantai. 
Hal yang sama terjadi pada Musso: ia ditembak dengan laras senapan. Itulah 
upaya penguasa pertama kali untuk meyakinkan pada Barat kalau mereka itu anti 
komunis. Musso yang baru tiga bulan datang harus tewas diterjang peluru: pria 
yang memuja revolusi itu dihabisi oleh serdadu bangsanya sendiri.

Ditilik dari sejarah dirinya: Musso memang pemberontak. Konfrontasinya dengan 
Belanda terus-terang dan terang-terangan. Sedari awal hidupnya memang penuh 
ombak: setia kepada Insulinde, ikut Sarekat Islam dan ISDV. Pernah melindungi 
Tjokroaminoto ketika dirinya dituduh terlibat dalam pemberontakan. Keunggulan 
pria ini adalah mampu membuat PKI berintegrasi dengan Islam: Banten yang 
puritan jadi basis pemberontakan kiri. PKI Jawa Barat punya kekuatan dahsyat 
ketika Musso-Alimin yang memimpin[4]: November 1926 revolusi kiri berkobar di 
Banten. Digebuk oleh pemerintah kolonial dengan kekuatan hebat: PKI kalah 
dengan ditangkapnya ratusan ribu petani. Penangkapan ratusan ribu anggota PKI 
itu menunjukkan bagaimana keunggulan Musso dalam memimpin. Musso mampu memikat 
kesadaran petani untuk jadi anggota PKI. Saat pemberontakan dirinya sedang cari 
dukungan Soviet: balik ke Indonesia tahun 1935 dengan merapatkan semua elemen 
kiri. Tugasnya kini melawan fasisme Jepang. Bukti sejarah memberitahu: PKI 
Musso yang paling aktif melawan praktik fasisme Jepang. Musso sejak itu dikenal 
sebagai buron: Belanda maupun Jepang memburunya.

Laki-laki ini sangat bahaya. Ia bukan hanya seorang komunis tapi sosok yang 
sanggup memengaruhi pikiran rakyat jelata. Ketika tahun 1928 orang-orang PKI 
dibuang terentang sebuah himpunan kader yang menjanjikan: ada 823 yang 
dibuang-ini tak termasuk yang di penjara-15 di antaranya perempuan dan 10 orang 
Tionghoa, 629 di antaranya dari Jawa, 77 dari Sumatera dan 33 dari Maluku: 9 di 
antaranya berumur kurang dari 20 tahun, 422 berumur 20-29 tahun, 81 berumur 
40-49 tahun: 383 di antaranya adalah pegawai rendah, 79 petani, 361 guru, supir 
dan pedagang kecil. Kala itu ada 13.000 kader ditangkap oleh Belanda.[5] Analis 
banyak yang bertanya: bagaimana bisa terbentuk keyakinan politik yang homogen 
dengan kemampuan berinisiatif politik radikal? Musso paham jawabnya: revolusi 
jalan satu-satunya yang bisa dilakukan dengan menempatkan kelas pekerja sebagai 
pemimpin. Ia memang loyalis Soviet: tapi jauh sebelum itu dirinya memang begitu 
benci pada kolonialisme Belanda. Taktiknya dirangkum dalam satu kalimat 
singkat: ‘keberanian, keberanian, sekali lagi keberanian’. Di tengah krisis 
ekonomi yang menganga, kehidupan yang sulit, kepemimpinan politik yang belum 
kokoh, Musso seperti membangun harapan yang masuk akal. Ia hendak meneruskan 
konfrontasi.

Pria ini seperti tak letih untuk meledakkan pertempuran. Banyak kalangan 
meyebutnya sebagai sosok yang emosional dan sulit menerima pandangan lain. 
Mungkin karena Muso paling senior dan mengalami banyak pengalaman bertempur. 
Mirip dengan Tan Malaka: tak setuju dengan jalan diplomasi. Hidupnya 
malang-melintang untuk mengorbarkan pertempuran dengan percaya pada kekuatan 
rakyat. Itu sebabnya ia jauh berbeda dengan Soekarno atau Hatta: berusaha untuk 
berunding sedang Musso terus meyakinkan untuk berperang. Sikapnya yang keras, 
lugas dan sulit untuk menerima pandangan lain membawa Musso berseteru dengan 
banyak kalangan. Tapi sikap radikalnya itu yang membawa dirinya dihormati, 
didukung dan dipercaya oleh anak muda. Musso seperti sebuah kritik atas 
jalannya sejarah kedaulatan: ia mau kemerdekaan itu berjalan 100% dan ingin 
agar buruh, petani dan orang miskin punya kekuasaan. Mimpi revolusi itu mungkin 
menggelikan di masa sekarang tapi itu pernah jadi sebuah cita-cita yang 
dikobarkan: Musso melakukanya dengan antusias, penuh percaya diri hingga tewas 
karena keyakinan itu.

Sayang namanya terus dilukai dan dicemarkan: dianggap sebagai pemberontak yang 
tak punya niatan baik apapun. Disebut sebagai biang keladi pengkhianatan 
Republik, seakan pemberontakan Madiun merusak harapan jadi bangsa Merdeka. Yang 
tak dimengerti saat itu, Musso tak mau kita sepenuhnya tunduk pada perundingan 
dengan Belanda. Keinginannya sama dengan tuntutan kita saat ini: Republik 
berdiri tegak di atas payung kemandirian dengan melindungi mereka yang miskin 
dan lemah. Musso bukan mau menegakkan benang basah, tapi ingin meneguhkan tiang 
Proklamasi. Itu sebabnya, jauh hari kemudian Soekarno-saat diwawancarai Cindy 
Adams- mengakui kalau Musso itu gurunya. Musso memang bukan pria bodoh: 
menguasai banyak bahasa dan pernah jadi guru. Terlibat dalam pemberontakan SI 
pada usia 18 tahun yang membuat dirinya ditangkap oleh penguasa kolonial. Di 
penjara itulah ia disiksa dengan keji. Gagasan revolusinya dibentuk sejak muda, 
terutama dipahat selama di penjara. Hidupnya memang singkat, tapi perjalanan 
hidupnya mengharukan: ikut SI, merintis gerakan kiri, dipercaya oleh Soviet, 
melawan Jepang, mengajak perang dengan Belanda dan mati oleh tentara Republik. 
Ia tak sekadar pejuang, tapi martir bagi sebuah kedaulatan yang tetap tak bisa 
tegak hingga hari ini. Musso bukan orang hina, tapi manusia besar yang pernah 
punya mimpi agung: merdeka di atas tanah yang bebas penjajahan dan tak 
tergantung pada bangsa lain. Itulah Musso!***



———

[1] Lih Imam Soedjono, Yang Berlawan: Membongkar Tabir Pemalsuan Sejarah PKI, 
Resist Book, 2006

[2] Lih Harry A Poezoe: Madiun 1948, PKI Bergerak, KITLV dan YOI, 2011

[3] Lih Soemarsono, Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah, Hasta 
Mitra, 2008

[4] Lih Bonnie Triyana, Jalan Berliku Tuan Mussote, Kolom Tempo edisi Musso, Si 
Merah di Simpang Jalan, KPG, 2011

[5] Lih Jacques Leclerc: Mencari Kaum Kiri: Kaum Revolusioner Indonesia dan 
Revolusi Mereka, Margin Kiri, 2011








Kirim email ke