Anda petantang petenteng menantang orang untuk mengorganisasi dan melawan?? Itu 
sudah dan sedang terus  dilakukan  kaum aktivis berbagai negeri. sudah tentu 
mereka tidak tunggu perintah anda untuk berorganisasi, dan bergerak melawan. 
Dan bagaimana sikap anda kepada buruh migran  HK yang mengorganisasi dirinya 
untuk melawan kekejaman/aniaya majikan dan UU yang tidak menguntungkan kaum 
pekerja rumah tangga?? Masih ingat apa yang ada katakan kepada Eni 
Lestari???Beranikah anda menulis kembali apa yang anda katakan kepada aktivis 
buruh migran yang mengorganisasi buruh migran dari tidak ada menjadi ada, dari 
kecil menjadi besar, sampai akhirnya diakui pekerjaannya oleh PBB????? 

    On Friday, November 4, 2016 1:36 PM, "'Chan CT' [email protected] 
[temu_eropa]" <[email protected]> wrote:
 

     Kalau teorinya asal dobrak secara serampangan ya akhirnya juga berantakan 
dan ambruk dengan sendirinya itu! Semua juga harus mengikuti proses 
perkembangan masyarakat itu sendiri, tidak bisa didobrak dan main basmi seenak 
udelnya saja dengan Revolusi Sosialis itu! Bentuk perjuangan KONTRADIKSI itu 
sepenuhnya tergantung dari segi-segi yang berkontradiksi itu bersikap, bukan 
ditentukan subjektive seseorang saja, siapapun dia. Pada saat kapitalis masih 
bersikap lunak, seperti sekarang masih memungkinkan memenuhi TUNTUTAN yang 
diajukan Buruh/Karyawannya, ... kenapa kapitalis sudah harus dibasmi? Kalau 
tuntutan Buruh/Karyawan berulang kali tidak dipenuhi, tentu juga harus lebih 
dahulu MEMPERKOKOH persatuan organisasi Buruh, biar SUARA TUNTUTAN bisa lebih 
KERAS! Bukankah berhasil tidak TUNTUTAN BURUH tentu tergantung dari keuletan 
dan kekuatan suara serikat Buruh yang berjuang.  Kalau tunjangan sosial di 
Eropah sekarang ini menurun, yaaa gerakkanlah serikat Buruh untuk berlawan, 
siapa yang suruh berdiam-diam terima NASIB saja?! Koeksistensi secara damai 
dalam kesatuan kontradiksi itu, TIDAK BERARTI mengabaikan perjuangan yang harus 
dilancarkan! Hanya saja belum waktunya sekarang ini kontradiksi kapitalis >< 
buruh itu harus dipecah dengan membasmi kapitalis. Itulah yang selalu saya 
bilang anda itu ekstrimis! Kalau tidak revolusi tentu kolaborasi klas!  Nah, 
kalau kalian bilang penindasan/penghisapan kapitalis yang dilancarkan sekarang 
ini menciptakan budak-budak abad 21, cobalah kalian bangkitkan BURUH-BURUH itu 
bersatu-padu dan berlawan, ... syukurlah kalau tuntutan memperbaiki kehidupan 
buruh bisa dipenuhi. Tapi, kalau persatuan BURUH saja belum juga cukup kuat, 
tuntutan perbaikan nasib saja berulang kali tidak berhasil dipenuhi, ... 
bagaimana kalian hendak merebut kekuasan dan membasmi kapitalis! Yaa, tentu 
kalian harus perkuat persatuan BURUH nya dahulu, perbesar dan perkuat Front 
Persatuan dalam masyarakat dahulu, dan, ... kalian juga harus memikirkan di 
Eropah bagaimana kemungkinan bisa tidak menjalankan MKTBP, mempengaruhi 
tentaranya, ... kalau tidak bagaimana kalian hendak membentuk dan mendirikan 
tentara sendiri??? Jangan sekali-kali kembali jalankan kudeta istana hanya 
dengan memperkirakan kekuatan bersenjata sudah 1/3 dipihak rakyat, yang akan 
jatuhkan rakyat tidak berdosa jadi KORBAN konyol saja! Apa dikira dengan 
kemilitan dan sikap radikal anda begitu bisa mewujudkan mimpi indah anda? 
Haaiiiyaaa, ... nenek yang satu ini sungguh-sungguh sudah menjadi katak dalam 
tempurung yang berkoak-koak dalam mimpi indah saja, ...! Salam,ChanCT  From: 
Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] Sent: Friday, November 4, 
2016 5:58 PMTo: [email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] Cc: DISKUSI FORUM HLD Subject: [GELORA45] Re: 
[temu_eropa] Re: Rachmawati, Garis Massa, dan Habib Rizieq: Ke Mana Nasib 
Bangsa? 

Kalau teori yang membimbing perjuangan untuk menyelesaikan kontradiksi 
antagonis antara kaum penghisap dan kaum yang dihisap adalah teori revisionis, 
sampai kiamatpun tidak akan terselesaikan kontradiksinya!!! Karena  dari awal 
perjuangan,  teori revisionis yang anda anut mengajarkan kepada kaum buruh 
untuk MENERIMA DAN BERKOEKSISTENSI  SECARA DAMAI dengan kaum majikannya. 
Artinya menina bobokan mereka dengan ilusi perdamaian dengan majikan!!! Anda 
bilang SEKARANG (padahal krisis terus menjerumuskan rakyat ke kemiskinan yang 
lebih dalam!) belum  waktunya untuk berjuang melawan kapitalisme, lantas kapan 
tiba waktunya untuk berjuang??? Anda kira perjuangan yang militanpun bisa 
berhasil dalam satu dua tahun????Bagaimana caranya meningkatkan kesejahteraan 
yang anda iming-imingkan itu dan bagaimana bisa  mencapai mayoritas rakyat??? 
Sedangkan kesejahteraan mayoritas rakyat negeri-negeri welfare states Eropa 
Baratpun bukannya  meningkat, tapi malah turun !! Rupanya anda tidak mau tahu 
kehidupan rakyat di Spanyol, Portugal, Yunani, Itali, bahkan Belanda di mana 
jumlah orang miskin terus bertambah. Sudah tentu patokan untuk mengukur 
"miskin" tidak sama. Untuk mempertahankan jaminan sosial, biaya sekolah dll, 
rakyat di negeri-negeri eropapun harus berjuang dan tidak selalu berhasil! 
Pemerintah terus tegas dengan politik neo-liberalnya, memangkas tunjangan 
sosial dan jaminan sosial lainnya. Bahkan Jermanpun (kekuatan ekonomi terbesar 
di eropa) menghadapi penurunan kesejahteraan. Saya bisa tunjukkan buktinya, 
sayangnya program itu dalam bahasa spanyol. Sekarang saksikan kehidupan 
budak-budak abad 21.
Life at a Walmart Sweatshop • Walmart: The High Cost of Low Price • Part 7 • 
BRAVE NEW FILMS
 
|  
|  
|  
|  |   |

 |

 |
|  
|   |  
Life at a Walmart Sweatshop • Walmart: The High Cost of Low Price • Part 7 ...
 Watch the full film free- Walmart: The High Cost of Low Price 
https://www.youtube.com/watch?v=RXmnBbUjsPs&li... |  |

 |

 |

 Kepada kaum buruh yang kerja di Sweatshop ini, anda akan menasehatinya " 
SABAAAR, jangan melawan, terus saja bekerja baik-baik, belum  waktunya 
melawan..... tunggu..... sampai nanti tiba waktunya untuk melawan. Penghisapan 
itu diperlukan untuk kepentingan kita bersama. Biar kaya dulu majikan itu, 
nanti kalian akan kecipratan kekayaannya!!!". Itulah nasihat kaum revisionis 
yang anti-buruh, anti-sosialis dan sangat reaksioner!!!!

On Friday, November 4, 2016 4:48 AM, "'Chan CT' [email protected] 
[temu_eropa]" <[email protected]> wrote:


  Yang BODOOOH itu orang-orang sampai sekarang belum juga berhasil melihat, 
sekalipun sifat kontradiksi kapitalis >< buruh antagonis, tingkat perjuangan 
sekarang BELUM BISA membasmi kapitalis! Masih harus bersedia melancarkan 
perjuangan secara damai, belum bisa main dobrak tapi pertahankan koeksistensi 
secara DAMAI dulu, untuk mencapai perbaikan dan meningkatkan kesejahteraan BAGI 
RAKYAT BANYAK!

From: Tatiana Lukman 
Sent: Friday, November 4, 2016 3:56 AM
To: [email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] 
Cc: DISKUSI FORUM HLD 
Subject: Re: [temu_eropa] Rachmawati, Garis Massa, dan Habib Rizieq: Ke Mana 
Nasib Bangsa?

Nah lo, Rachma yang tidak pernah jadi komunis, kok malah mengerti sifat 
antagonis dari kontradiksi antara kelas penghisap dan kelas yang dihisap!! Si 
Chan yang pernah menganggap dirinya paling M-L malah menjajakan pepesan kosong 
dan busuk dari kaum revisionis yang menginginkan koexistensi damai antara kaum 
buruh dan kaum kapitalis!!! Sayangnya dalam soal AHOK, kritik terhadapnya tidak 
seharusnya dikaitkan dengan masalah pribumi atau bukan pribumi. Menurut saya, 
ini kesalahan besar! Tapi boleh juga tuh Rachma, otaknya jauh lebih cerdas dan 
maju dari pada Mega yang selalu ngekor dan mengabdi kepada kaum borjuasi besar 
komprador dan tuan tanah!!!

On Thursday, November 3, 2016 8:38 PM, "'j.gedearka' [email protected] 
[temu_eropa]" <[email protected]> wrote:

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/11/03/og0kco385-
rachmawati-garis-massa-dan-habib-rizieq-ke-mana-nasib-bangsa

Kamis, 03 November 2016, 05:01 WIB 
Rachmawati, Garis Massa, dan Habib 

Rizieq: Ke Mana Nasib Bangsa?

Red: Muhammad Subarkah
dok. Istimewa 

Sukarno
Rachmawati, Garis Massa, dan Habib Rizieq: Ke Mana Nasib Bangsa?

Oleh: Dr Syahganda Nainggolan, Pendiri Lembaga Kajian Sabang Merauke Circle

======

Djoko Edhi Abdurrahman, wartawan senior, mantan anggota Komisi III DPR RI dan 
Wakil Sekjen Lembaga Bantuan Hukum Nahdatul Ulama terduduk lunglai, lemas, dan 
tak berdaya ketika seluruh argumennya soal dialektika kekuasaan dihancurkan 
Rachmawati Soekarnoputri, beberapa bulan lalu di ruangan Yayasan Bung Karno, 
500 m dari Tugu Proklamasi. 

Pasalnya, dalam pertemuan yang dihadiri 30-an aktifis muda Islam, yang di bawa 
Bursah Zarnubi, Djoko Edhi mengeluarkan teori bahwa pertarungan kekuasaan dan 
power itu adalah sebuah dialektika antara kaum tertindas dengan penindas atau 
yang dikuasai dan yang menguasai, atau kaum marhaen melawan kaum kapitalis. Dan 
ujung ceritanya adalah sebuah kompromi politik. Dan tidak terhindarkan.

Dengan sorot matanya yang tajam, Rachmawati Soekarnoputri, mengatakan bahwa 
ajaran Soekarno itu adalah pertarungan abadi antara kaum marhaen yang ditindas 
melawan kaum kapitalis, penindas, sepanjang jaman. Tidak kompromi. Tidak 
mungkin ada kompromi antara rakyat miskin yang historisnya "ditipu" orang orang 
kaya, bangsa pribumi yang diperdaya non pribumi dan asing, antara massa 
mayoritas miskin dengan segelintir kapitalis yang sewenang2 mencuri atas nama 
kebebasan, pasar bebas dan demokrasi. Tidak ada sebuah kompromi.

Djoko Edhi tidak berani membantah. Karena memang teori yang diketengahkannya 
tidak sesuai dengan teori yang dianut Rachmawati. Rachmawati, menurut Djoko 
Edhi, benar benar keras dan ideologis seperti bapaknya, Bung Karno.

Rachmawati adalah tokoh revolusioner. Dalam bukunya yang baru "Revolusi Belum 
Selesai", Rachma menunjukkan konsistensinya selama hidupnya dalam politik yang 
keras dan terjal. Konsistensi itu ditunjukkan dengan pikiran pikirannya, bahwa 
bangsa Indonesia saat ini terjerat dalam persekongkolan jahat dari elit elit 
politik demi memperkaya diri dan keluarga mereka saja. Yang kaya terus menambah 
kekayaannya sampai tujuh generasi, sedang kaum marhaen, rakyat miskin tetap 
terpinggirkan.

Oleh karenanya, Rachmawati tetap menggelorakan revolusi sosial sebagai jalan 
keluar. Revolusi sosial itu adalah perubahan struktur sosial, yang menggariskan 
keadilan ekonomi dan pemerataan sebagai acuan hidup berbangsa, bukan membiarkan 
ekonomi dan politik dikuasai bandit-bandit ber "make up". Termasuk kritiknya 
terhadap saudaran sendiri, Megawati, yang dianggapnya menjadi pelindung 
kapitalis.

Menurutnya, Megawati "Use Soekarno to Kill Soekarnoisme". Atau pada tulisan 
yang lama "Use Soekarnoisme to Kill Soekarno".

Red: Muhammad Subarkah

Ketua Umum Yayasan Pendidikan Soekarno (YPS) Rachmawati Soekarnopurti 
memberikan pidato dalam acara peringatan Haul (peringatan hari wafat) ke 46 
Presiden RI Pertama Soekarno di Universitas Bung Karno, Jakarta, Senin (20/6). 
Garis Massa
Pemimpin pemimpin besar revolusi, seperti Lenin, Mao Tse Tung, Khomeini, Bung 
Karno dan lainnya selalu menekankan pentingnya merujuk gerakan pada garis 
massa. Garis Massa adalah suatu aksi massa revolusioner yang diasumsikan 
mempunyai kehendak yang harus diikuti para pemimpin. Bukan sebaliknya.

Para kritikus teori ‘Garis Massa’ mengatakan bahwa merujuk pada massa adalah 
akal-akalan elit (komunis/sosialis) saja yang memanipulasi keinginan elit 
tersebut pada massa. Namun, sejarah menunjukkan bahwa suasana revolusioner 
dalam berbagai revolusi di dunia selalu hampir meninggalkan pemimpinnya 
terlempar dari putaran massa rakyat.

Lihatlah Lenin yang masih di Swiss ketika revolusi Bolsevik akan terjadi, 
Khomeini yang masih di Paris ketika Revolusi Iran akan berlangsung, begitu juga 
Bung Karno yang masih di Rengasdengklok ketika massa aksi sudah membara di 
Jakarta pada bulan Agustus 1945.

Dalam konteks Garis Massa ini pun, Bachtiar Nasir, ulama yang mengorganisir 
gerakan massa 4 November ini, mengakui bahwa massa yang bergerak tidak 
tergantung dengan Prabowo dan pimpinan Ormas Islam yang ditemui Jokowi. Massa 
ini mempunyai sifat, karakter, dan keinginannya sendiri.

Sesuai dengan pidato Bung Karno, bahwa aksi massa yang dimaksud adalah aksi 
massa revolusioner, bukan sekedar gerombolan massa ataupun massa anarkis. Massa 
revolusioner menurut Bung Karno adalah massa yang terorganisir dan mempunyai 
keinginan yang kokoh.

Ribuan massa yang tergabung dalam kelompok Aksi Bela Islam melakukan unjuk rasa 
di depan Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (14/10. Dalam tuntutannya, mereka 
meminta pemerintah, dalam hal ini aparat penegak hukum segera memproses 
Gubernur DKI Jakarta, Basuki 
Perang Simbolik
Nah, Rachmawati dan Rizieq sudah bertemu beberapa hari yang lalu di markas 
Habib Riziq, sebuah istana "miskin" di Petamburan. Mereka membicarakan 
kepedulian mereka atas keinginan massa rakyat. Sebuah pergolakan besar yang 
saat ini berlangsung.

Apakah keinginan rakyat itu?

Dalam perspektif Rachmawati, perlawanan terhadap Ahok ini adalah sebuah perang 
simbolik. Menurutnya, Ahok adalah simbol kapitalis orang orang non pribumi yang 
ingin mengusir kaum pribumi dari tanahnya sendiri.

Hal ini diungkapkan Rachmawati sebagaimana dilansir beberapa media online 
beberapa hari lalu. Menurutnya, Ahok hanya bekerja menista orang miskin pribumi 
dan meneguhkan kekuasaan tanah-tanah di Jakarta untuk kaumnya Ahok.

Sedangkan Habib Rizieq, melihat Ahok sebagai 'simbol kafir' yang ingin 
menyingkirkan umat Islam mayoritas, baik secara budaya, maupun ekonomi. Jika 
diresultantekan, sinergi habib Rizieq dan Rachmawati Sukarnoputri adalah 
konsolidasi kekuatan kaum marhaen dan Islam dalam melawan penjajahan agama dan 
sekaligus ekonomi bangsa Indonesia oleh non pribumi.

Disinilah letak perbedaan Habib Rizieq dan Rachma di satu sisi versus Megawati, 
Kapitalis dan rezim pembela Ahok, di sisi lainnya. Yang terakhir ini melihat 
bahwa keberadaan Ahok adalah untuk membangun Jakarta seperti Singapura. 
Sedangkan Riziq dan Rachma melihat "pembangunan ini untuk siapa"? Apa untungnya 
jika menjadi Singapura tapi rakyat kota bukan pribumi?

Megawati melihatnya mungkin sebagai "ujian kebangsaan", sebagai upaya 
meluruskan jalan bagi modernisme dan pluralisme kita dalam bingkai demokrasi. 
Sebaliknya Rizieq dan Rachma melihat hancurnya keadilan distributif sebagai 
persoalan pokok.

Massa revolusioner akan bertemu dengan pemimpin revolusioner. Habib Riziq dan 
Rachmawati Sukarnoputri akan ada diantara massa revolusioner tanggal 4 November 
ini. Tentara sudah memaklumatkan sikap netral, di atas semua golongan.

Kini kita tinggal berdoa, semoga bangsa ini mampu menjalani takdirnya. Semoga 
bangsa tercinta ini selamat dari mara bahahaya, fitnah, hingga kekeruhan rusuh 
massa.
a.. 

b.. 1 
c.. 2 
d.. 3

[Non-text portions of this message have been removed]



  #yiv1707160649 #yiv1707160649 -- #yiv1707160649ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv1707160649 
#yiv1707160649ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv1707160649 
#yiv1707160649ygrp-mkp #yiv1707160649hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv1707160649 #yiv1707160649ygrp-mkp #yiv1707160649ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv1707160649 #yiv1707160649ygrp-mkp .yiv1707160649ad 
{padding:0 0;}#yiv1707160649 #yiv1707160649ygrp-mkp .yiv1707160649ad p 
{margin:0;}#yiv1707160649 #yiv1707160649ygrp-mkp .yiv1707160649ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv1707160649 #yiv1707160649ygrp-sponsor 
#yiv1707160649ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv1707160649 
#yiv1707160649ygrp-sponsor #yiv1707160649ygrp-lc #yiv1707160649hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv1707160649 
#yiv1707160649ygrp-sponsor #yiv1707160649ygrp-lc .yiv1707160649ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv1707160649 #yiv1707160649actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv1707160649 
#yiv1707160649activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv1707160649
 #yiv1707160649activity span {font-weight:700;}#yiv1707160649 
#yiv1707160649activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv1707160649 #yiv1707160649activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv1707160649 #yiv1707160649activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv1707160649 #yiv1707160649activity span 
.yiv1707160649underline {text-decoration:underline;}#yiv1707160649 
.yiv1707160649attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv1707160649 .yiv1707160649attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv1707160649 .yiv1707160649attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv1707160649 .yiv1707160649attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv1707160649 .yiv1707160649attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv1707160649 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv1707160649 .yiv1707160649bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv1707160649 
.yiv1707160649bold a {text-decoration:none;}#yiv1707160649 dd.yiv1707160649last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1707160649 dd.yiv1707160649last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1707160649 
dd.yiv1707160649last p span.yiv1707160649yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv1707160649 div.yiv1707160649attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv1707160649 div.yiv1707160649attach-table 
{width:400px;}#yiv1707160649 div.yiv1707160649file-title a, #yiv1707160649 
div.yiv1707160649file-title a:active, #yiv1707160649 
div.yiv1707160649file-title a:hover, #yiv1707160649 div.yiv1707160649file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv1707160649 div.yiv1707160649photo-title a, 
#yiv1707160649 div.yiv1707160649photo-title a:active, #yiv1707160649 
div.yiv1707160649photo-title a:hover, #yiv1707160649 
div.yiv1707160649photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv1707160649 
div#yiv1707160649ygrp-mlmsg #yiv1707160649ygrp-msg p a 
span.yiv1707160649yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv1707160649 
.yiv1707160649green {color:#628c2a;}#yiv1707160649 .yiv1707160649MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv1707160649 o {font-size:0;}#yiv1707160649 
#yiv1707160649photos div {float:left;width:72px;}#yiv1707160649 
#yiv1707160649photos div div {border:1px solid 
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv1707160649 
#yiv1707160649photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv1707160649
 #yiv1707160649reco-category {font-size:77%;}#yiv1707160649 
#yiv1707160649reco-desc {font-size:77%;}#yiv1707160649 .yiv1707160649replbq 
{margin:4px;}#yiv1707160649 #yiv1707160649ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv1707160649 #yiv1707160649ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1707160649 
#yiv1707160649ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv1707160649 
#yiv1707160649ygrp-mlmsg select, #yiv1707160649 input, #yiv1707160649 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1707160649 
#yiv1707160649ygrp-mlmsg pre, #yiv1707160649 code {font:115% 
monospace;}#yiv1707160649 #yiv1707160649ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv1707160649 #yiv1707160649ygrp-mlmsg #yiv1707160649logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv1707160649 #yiv1707160649ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv1707160649 #yiv1707160649ygrp-msg 
p#yiv1707160649attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv1707160649 
#yiv1707160649ygrp-reco #yiv1707160649reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv1707160649 #yiv1707160649ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv1707160649 #yiv1707160649ygrp-sponsor 
#yiv1707160649ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv1707160649 
#yiv1707160649ygrp-sponsor #yiv1707160649ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv1707160649 
#yiv1707160649ygrp-sponsor #yiv1707160649ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv1707160649 #yiv1707160649ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv1707160649 #yiv1707160649ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv1707160649 #yiv1707160649ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv1707160649 
#yiv1707160649ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv1707160649 

   

Kirim email ke