BAAAGUUUSSSLAH kalau ternyata mereka sudah BERGERAK dengan baik selama ini! Tentu tidak usah menunggu perintahy saya yang jauh dan tidak tahu apa-apa, ikuti sajalah komando nenek kita yang satu ini! Hehehee, ...
Eni Lestari belasan tahun yl, saat di ATKI jelas ditunggangi buruh-KUNING di HK untuk menjegal Pemerintah HK! Kenapa harus saya dukung?! Jelas Eni SALAH! Dan sampai sekarang PENDAPAT saya TIDAK BERUBAH! Sudah bagus saya ketika itu tidak turun dilapangan dengan terbuka menentang mereka! Juga baguslah perkembangan berikut Eni bisa tergabung dan digunakan dalam organisasi buruh migran internasional untuk berpidato di PBB! Dahulu Eni SALAH, sekarang berubah jadi BENAR, ... lalu dimana salah saya kalau dahulu menentang Eni lalu sekarang jadi mendukung??? Salam, ChanCT From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] Sent: Friday, November 4, 2016 9:29 PM To: [email protected] ; [email protected] ; [email protected] Cc: DISKUSI FORUM HLD Subject: Re: [GELORA45] Re: [temu_eropa] Re: Rachmawati, Garis Massa, dan Habib Rizieq: Ke Mana Nasib Bangsa? Anda petantang petenteng menantang orang untuk mengorganisasi dan melawan?? Itu sudah dan sedang terus dilakukan kaum aktivis berbagai negeri. sudah tentu mereka tidak tunggu perintah anda untuk berorganisasi, dan bergerak melawan. Dan bagaimana sikap anda kepada buruh migran HK yang mengorganisasi dirinya untuk melawan kekejaman/aniaya majikan dan UU yang tidak menguntungkan kaum pekerja rumah tangga?? Masih ingat apa yang ada katakan kepada Eni Lestari???Beranikah anda menulis kembali apa yang anda katakan kepada aktivis buruh migran yang mengorganisasi buruh migran dari tidak ada menjadi ada, dari kecil menjadi besar, sampai akhirnya diakui pekerjaannya oleh PBB????? On Friday, November 4, 2016 1:36 PM, "'Chan CT' [email protected] [temu_eropa]" <[email protected]> wrote: Kalau teorinya asal dobrak secara serampangan ya akhirnya juga berantakan dan ambruk dengan sendirinya itu! Semua juga harus mengikuti proses perkembangan masyarakat itu sendiri, tidak bisa didobrak dan main basmi seenak udelnya saja dengan Revolusi Sosialis itu! Bentuk perjuangan KONTRADIKSI itu sepenuhnya tergantung dari segi-segi yang berkontradiksi itu bersikap, bukan ditentukan subjektive seseorang saja, siapapun dia. Pada saat kapitalis masih bersikap lunak, seperti sekarang masih memungkinkan memenuhi TUNTUTAN yang diajukan Buruh/Karyawannya, ... kenapa kapitalis sudah harus dibasmi? Kalau tuntutan Buruh/Karyawan berulang kali tidak dipenuhi, tentu juga harus lebih dahulu MEMPERKOKOH persatuan organisasi Buruh, biar SUARA TUNTUTAN bisa lebih KERAS! Bukankah berhasil tidak TUNTUTAN BURUH tentu tergantung dari keuletan dan kekuatan suara serikat Buruh yang berjuang. Kalau tunjangan sosial di Eropah sekarang ini menurun, yaaa gerakkanlah serikat Buruh untuk berlawan, siapa yang suruh berdiam-diam terima NASIB saja?! Koeksistensi secara damai dalam kesatuan kontradiksi itu, TIDAK BERARTI mengabaikan perjuangan yang harus dilancarkan! Hanya saja belum waktunya sekarang ini kontradiksi kapitalis >< buruh itu harus dipecah dengan membasmi kapitalis. Itulah yang selalu saya bilang anda itu ekstrimis! Kalau tidak revolusi tentu kolaborasi klas! Nah, kalau kalian bilang penindasan/penghisapan kapitalis yang dilancarkan sekarang ini menciptakan budak-budak abad 21, cobalah kalian bangkitkan BURUH-BURUH itu bersatu-padu dan berlawan, ... syukurlah kalau tuntutan memperbaiki kehidupan buruh bisa dipenuhi. Tapi, kalau persatuan BURUH saja belum juga cukup kuat, tuntutan perbaikan nasib saja berulang kali tidak berhasil dipenuhi, ... bagaimana kalian hendak merebut kekuasan dan membasmi kapitalis! Yaa, tentu kalian harus perkuat persatuan BURUH nya dahulu, perbesar dan perkuat Front Persatuan dalam masyarakat dahulu, dan, ... kalian juga harus memikirkan di Eropah bagaimana kemungkinan bisa tidak menjalankan MKTBP, mempengaruhi tentaranya, ... kalau tidak bagaimana kalian hendak membentuk dan mendirikan tentara sendiri??? Jangan sekali-kali kembali jalankan kudeta istana hanya dengan memperkirakan kekuatan bersenjata sudah 1/3 dipihak rakyat, yang akan jatuhkan rakyat tidak berdosa jadi KORBAN konyol saja! Apa dikira dengan kemilitan dan sikap radikal anda begitu bisa mewujudkan mimpi indah anda? Haaiiiyaaa, ... nenek yang satu ini sungguh-sungguh sudah menjadi katak dalam tempurung yang berkoak-koak dalam mimpi indah saja, ...! Salam, ChanCT From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] Sent: Friday, November 4, 2016 5:58 PM To: [email protected] ; [email protected] ; [email protected] Cc: DISKUSI FORUM HLD Subject: [GELORA45] Re: [temu_eropa] Re: Rachmawati, Garis Massa, dan Habib Rizieq: Ke Mana Nasib Bangsa? Kalau teori yang membimbing perjuangan untuk menyelesaikan kontradiksi antagonis antara kaum penghisap dan kaum yang dihisap adalah teori revisionis, sampai kiamatpun tidak akan terselesaikan kontradiksinya!!! Karena dari awal perjuangan, teori revisionis yang anda anut mengajarkan kepada kaum buruh untuk MENERIMA DAN BERKOEKSISTENSI SECARA DAMAI dengan kaum majikannya. Artinya menina bobokan mereka dengan ilusi perdamaian dengan majikan!!! Anda bilang SEKARANG (padahal krisis terus menjerumuskan rakyat ke kemiskinan yang lebih dalam!) belum waktunya untuk berjuang melawan kapitalisme, lantas kapan tiba waktunya untuk berjuang??? Anda kira perjuangan yang militanpun bisa berhasil dalam satu dua tahun????Bagaimana caranya meningkatkan kesejahteraan yang anda iming-imingkan itu dan bagaimana bisa mencapai mayoritas rakyat??? Sedangkan kesejahteraan mayoritas rakyat negeri-negeri welfare states Eropa Baratpun bukannya meningkat, tapi malah turun !! Rupanya anda tidak mau tahu kehidupan rakyat di Spanyol, Portugal, Yunani, Itali, bahkan Belanda di mana jumlah orang miskin terus bertambah. Sudah tentu patokan untuk mengukur "miskin" tidak sama. Untuk mempertahankan jaminan sosial, biaya sekolah dll, rakyat di negeri-negeri eropapun harus berjuang dan tidak selalu berhasil! Pemerintah terus tegas dengan politik neo-liberalnya, memangkas tunjangan sosial dan jaminan sosial lainnya. Bahkan Jermanpun (kekuatan ekonomi terbesar di eropa) menghadapi penurunan kesejahteraan. Saya bisa tunjukkan buktinya, sayangnya program itu dalam bahasa spanyol. Sekarang saksikan kehidupan budak-budak abad 21. Life at a Walmart Sweatshop • Walmart: The High Cost of Low Price • Part 7 • BRAVE NEW FILMS Life at a Walmart Sweatshop • Walmart: The High Cost of Low Price • Part 7 ... Watch the full film free- Walmart: The High Cost of Low Price https://www.youtube.com/watch?v=RXmnBbUjsPs&li... Kepada kaum buruh yang kerja di Sweatshop ini, anda akan menasehatinya " SABAAAR, jangan melawan, terus saja bekerja baik-baik, belum waktunya melawan..... tunggu..... sampai nanti tiba waktunya untuk melawan. Penghisapan itu diperlukan untuk kepentingan kita bersama. Biar kaya dulu majikan itu, nanti kalian akan kecipratan kekayaannya!!!". Itulah nasihat kaum revisionis yang anti-buruh, anti-sosialis dan sangat reaksioner!!!! On Friday, November 4, 2016 4:48 AM, "'Chan CT' [email protected] [temu_eropa]" <[email protected]> wrote: Yang BODOOOH itu orang-orang sampai sekarang belum juga berhasil melihat, sekalipun sifat kontradiksi kapitalis >< buruh antagonis, tingkat perjuangan sekarang BELUM BISA membasmi kapitalis! Masih harus bersedia melancarkan perjuangan secara damai, belum bisa main dobrak tapi pertahankan koeksistensi secara DAMAI dulu, untuk mencapai perbaikan dan meningkatkan kesejahteraan BAGI RAKYAT BANYAK! From: Tatiana Lukman Sent: Friday, November 4, 2016 3:56 AM To: [email protected] ; [email protected] ; [email protected] Cc: DISKUSI FORUM HLD Subject: Re: [temu_eropa] Rachmawati, Garis Massa, dan Habib Rizieq: Ke Mana Nasib Bangsa? Nah lo, Rachma yang tidak pernah jadi komunis, kok malah mengerti sifat antagonis dari kontradiksi antara kelas penghisap dan kelas yang dihisap!! Si Chan yang pernah menganggap dirinya paling M-L malah menjajakan pepesan kosong dan busuk dari kaum revisionis yang menginginkan koexistensi damai antara kaum buruh dan kaum kapitalis!!! Sayangnya dalam soal AHOK, kritik terhadapnya tidak seharusnya dikaitkan dengan masalah pribumi atau bukan pribumi. Menurut saya, ini kesalahan besar! Tapi boleh juga tuh Rachma, otaknya jauh lebih cerdas dan maju dari pada Mega yang selalu ngekor dan mengabdi kepada kaum borjuasi besar komprador dan tuan tanah!!! On Thursday, November 3, 2016 8:38 PM, "'j.gedearka' [email protected] [temu_eropa]" <[email protected]> wrote: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/11/03/og0kco385- rachmawati-garis-massa-dan-habib-rizieq-ke-mana-nasib-bangsa Kamis, 03 November 2016, 05:01 WIB Rachmawati, Garis Massa, dan Habib Rizieq: Ke Mana Nasib Bangsa? Red: Muhammad Subarkah dok. Istimewa Sukarno Rachmawati, Garis Massa, dan Habib Rizieq: Ke Mana Nasib Bangsa? Oleh: Dr Syahganda Nainggolan, Pendiri Lembaga Kajian Sabang Merauke Circle ====== Djoko Edhi Abdurrahman, wartawan senior, mantan anggota Komisi III DPR RI dan Wakil Sekjen Lembaga Bantuan Hukum Nahdatul Ulama terduduk lunglai, lemas, dan tak berdaya ketika seluruh argumennya soal dialektika kekuasaan dihancurkan Rachmawati Soekarnoputri, beberapa bulan lalu di ruangan Yayasan Bung Karno, 500 m dari Tugu Proklamasi. Pasalnya, dalam pertemuan yang dihadiri 30-an aktifis muda Islam, yang di bawa Bursah Zarnubi, Djoko Edhi mengeluarkan teori bahwa pertarungan kekuasaan dan power itu adalah sebuah dialektika antara kaum tertindas dengan penindas atau yang dikuasai dan yang menguasai, atau kaum marhaen melawan kaum kapitalis. Dan ujung ceritanya adalah sebuah kompromi politik. Dan tidak terhindarkan. Dengan sorot matanya yang tajam, Rachmawati Soekarnoputri, mengatakan bahwa ajaran Soekarno itu adalah pertarungan abadi antara kaum marhaen yang ditindas melawan kaum kapitalis, penindas, sepanjang jaman. Tidak kompromi. Tidak mungkin ada kompromi antara rakyat miskin yang historisnya "ditipu" orang orang kaya, bangsa pribumi yang diperdaya non pribumi dan asing, antara massa mayoritas miskin dengan segelintir kapitalis yang sewenang2 mencuri atas nama kebebasan, pasar bebas dan demokrasi. Tidak ada sebuah kompromi. Djoko Edhi tidak berani membantah. Karena memang teori yang diketengahkannya tidak sesuai dengan teori yang dianut Rachmawati. Rachmawati, menurut Djoko Edhi, benar benar keras dan ideologis seperti bapaknya, Bung Karno. Rachmawati adalah tokoh revolusioner. Dalam bukunya yang baru "Revolusi Belum Selesai", Rachma menunjukkan konsistensinya selama hidupnya dalam politik yang keras dan terjal. Konsistensi itu ditunjukkan dengan pikiran pikirannya, bahwa bangsa Indonesia saat ini terjerat dalam persekongkolan jahat dari elit elit politik demi memperkaya diri dan keluarga mereka saja. Yang kaya terus menambah kekayaannya sampai tujuh generasi, sedang kaum marhaen, rakyat miskin tetap terpinggirkan. Oleh karenanya, Rachmawati tetap menggelorakan revolusi sosial sebagai jalan keluar. Revolusi sosial itu adalah perubahan struktur sosial, yang menggariskan keadilan ekonomi dan pemerataan sebagai acuan hidup berbangsa, bukan membiarkan ekonomi dan politik dikuasai bandit-bandit ber "make up". Termasuk kritiknya terhadap saudaran sendiri, Megawati, yang dianggapnya menjadi pelindung kapitalis. Menurutnya, Megawati "Use Soekarno to Kill Soekarnoisme". Atau pada tulisan yang lama "Use Soekarnoisme to Kill Soekarno". Red: Muhammad Subarkah Ketua Umum Yayasan Pendidikan Soekarno (YPS) Rachmawati Soekarnopurti memberikan pidato dalam acara peringatan Haul (peringatan hari wafat) ke 46 Presiden RI Pertama Soekarno di Universitas Bung Karno, Jakarta, Senin (20/6). Garis Massa Pemimpin pemimpin besar revolusi, seperti Lenin, Mao Tse Tung, Khomeini, Bung Karno dan lainnya selalu menekankan pentingnya merujuk gerakan pada garis massa. Garis Massa adalah suatu aksi massa revolusioner yang diasumsikan mempunyai kehendak yang harus diikuti para pemimpin. Bukan sebaliknya. Para kritikus teori ‘Garis Massa’ mengatakan bahwa merujuk pada massa adalah akal-akalan elit (komunis/sosialis) saja yang memanipulasi keinginan elit tersebut pada massa. Namun, sejarah menunjukkan bahwa suasana revolusioner dalam berbagai revolusi di dunia selalu hampir meninggalkan pemimpinnya terlempar dari putaran massa rakyat. Lihatlah Lenin yang masih di Swiss ketika revolusi Bolsevik akan terjadi, Khomeini yang masih di Paris ketika Revolusi Iran akan berlangsung, begitu juga Bung Karno yang masih di Rengasdengklok ketika massa aksi sudah membara di Jakarta pada bulan Agustus 1945. Dalam konteks Garis Massa ini pun, Bachtiar Nasir, ulama yang mengorganisir gerakan massa 4 November ini, mengakui bahwa massa yang bergerak tidak tergantung dengan Prabowo dan pimpinan Ormas Islam yang ditemui Jokowi. Massa ini mempunyai sifat, karakter, dan keinginannya sendiri. Sesuai dengan pidato Bung Karno, bahwa aksi massa yang dimaksud adalah aksi massa revolusioner, bukan sekedar gerombolan massa ataupun massa anarkis. Massa revolusioner menurut Bung Karno adalah massa yang terorganisir dan mempunyai keinginan yang kokoh. Ribuan massa yang tergabung dalam kelompok Aksi Bela Islam melakukan unjuk rasa di depan Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (14/10. Dalam tuntutannya, mereka meminta pemerintah, dalam hal ini aparat penegak hukum segera memproses Gubernur DKI Jakarta, Basuki Perang Simbolik Nah, Rachmawati dan Rizieq sudah bertemu beberapa hari yang lalu di markas Habib Riziq, sebuah istana "miskin" di Petamburan. Mereka membicarakan kepedulian mereka atas keinginan massa rakyat. Sebuah pergolakan besar yang saat ini berlangsung. Apakah keinginan rakyat itu? Dalam perspektif Rachmawati, perlawanan terhadap Ahok ini adalah sebuah perang simbolik. Menurutnya, Ahok adalah simbol kapitalis orang orang non pribumi yang ingin mengusir kaum pribumi dari tanahnya sendiri. Hal ini diungkapkan Rachmawati sebagaimana dilansir beberapa media online beberapa hari lalu. Menurutnya, Ahok hanya bekerja menista orang miskin pribumi dan meneguhkan kekuasaan tanah-tanah di Jakarta untuk kaumnya Ahok. Sedangkan Habib Rizieq, melihat Ahok sebagai 'simbol kafir' yang ingin menyingkirkan umat Islam mayoritas, baik secara budaya, maupun ekonomi. Jika diresultantekan, sinergi habib Rizieq dan Rachmawati Sukarnoputri adalah konsolidasi kekuatan kaum marhaen dan Islam dalam melawan penjajahan agama dan sekaligus ekonomi bangsa Indonesia oleh non pribumi. Disinilah letak perbedaan Habib Rizieq dan Rachma di satu sisi versus Megawati, Kapitalis dan rezim pembela Ahok, di sisi lainnya. Yang terakhir ini melihat bahwa keberadaan Ahok adalah untuk membangun Jakarta seperti Singapura. Sedangkan Riziq dan Rachma melihat "pembangunan ini untuk siapa"? Apa untungnya jika menjadi Singapura tapi rakyat kota bukan pribumi? Megawati melihatnya mungkin sebagai "ujian kebangsaan", sebagai upaya meluruskan jalan bagi modernisme dan pluralisme kita dalam bingkai demokrasi. Sebaliknya Rizieq dan Rachma melihat hancurnya keadilan distributif sebagai persoalan pokok. Massa revolusioner akan bertemu dengan pemimpin revolusioner. Habib Riziq dan Rachmawati Sukarnoputri akan ada diantara massa revolusioner tanggal 4 November ini. Tentara sudah memaklumatkan sikap netral, di atas semua golongan. Kini kita tinggal berdoa, semoga bangsa ini mampu menjalani takdirnya. Semoga bangsa tercinta ini selamat dari mara bahahaya, fitnah, hingga kekeruhan rusuh massa. a.. b.. 1 c.. 2 d.. 3 [Non-text portions of this message have been removed]
