Bung Chan apa bisa menentukan bagaimana dan kapan berakhirnya apa
yang bung maksud dengan istilah " ... tingkat perjuangan sekarang BELUM
BISA membasmi kapitalis!"? Artinya kapan dan bagaimana bung Chan bisa
mengatakan saatnya "BISA membasmi kapitalis"?

  


Am Fri, 4 Nov 2016 11:48:21 +0800
schrieb "'Chan CT' [email protected] [nasional-list]"
<[email protected]>:

> Yang BODOOOH itu orang-orang sampai sekarang belum juga berhasil
> melihat, sekalipun sifat kontradiksi kapitalis >< buruh antagonis,
> tingkat perjuangan sekarang BELUM BISA membasmi kapitalis! Masih
> harus bersedia melancarkan perjuangan secara damai, belum bisa main
> dobrak tapi pertahankan koeksistensi secara DAMAI dulu, untuk
> mencapai perbaikan dan meningkatkan kesejahteraan BAGI RAKYAT BANYAK!
> 
> 
> From: Tatiana Lukman 
> Sent: Friday, November 4, 2016 3:56 AM
> To: [email protected] ; [email protected] ;
> [email protected] Cc: DISKUSI FORUM HLD 
> Subject: Re: [temu_eropa] Rachmawati, Garis Massa, dan Habib Rizieq:
> Ke Mana Nasib Bangsa?
> 
> Nah lo, Rachma yang tidak pernah jadi komunis, kok malah mengerti
> sifat antagonis dari kontradiksi antara kelas penghisap dan kelas
> yang dihisap!! Si Chan yang pernah menganggap dirinya paling M-L
> malah menjajakan pepesan kosong dan busuk dari kaum revisionis yang
> menginginkan koexistensi damai antara kaum buruh dan kaum
> kapitalis!!! Sayangnya dalam soal AHOK, kritik terhadapnya tidak
> seharusnya dikaitkan dengan masalah pribumi atau bukan pribumi.
> Menurut saya, ini kesalahan besar! Tapi boleh juga tuh Rachma,
> otaknya jauh lebih cerdas dan maju dari pada Mega yang selalu ngekor
> dan mengabdi kepada kaum borjuasi besar komprador dan tuan tanah!!!
> 
> 
> 
> On Thursday, November 3, 2016 8:38 PM, "'j.gedearka'
> [email protected] [temu_eropa]" <[email protected]>
> wrote:
> 
> 
> 
> 
>   
> 
> http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/11/03/og0kco385-
> rachmawati-garis-massa-dan-habib-rizieq-ke-mana-nasib-bangsa
> 
> Kamis, 03 November 2016, 05:01 WIB 
> Rachmawati, Garis Massa, dan Habib 
> 
> Rizieq: Ke Mana Nasib Bangsa?
> 
> 
> Red: Muhammad Subarkah
> dok. Istimewa 
>  
> Sukarno
> Rachmawati, Garis Massa, dan Habib Rizieq: Ke Mana Nasib Bangsa?
> 
> Oleh: Dr Syahganda Nainggolan, Pendiri Lembaga Kajian Sabang Merauke
> Circle
> 
> ======
> 
> Djoko Edhi Abdurrahman, wartawan senior,  mantan anggota Komisi III
> DPR RI dan  Wakil Sekjen Lembaga Bantuan Hukum Nahdatul Ulama
> terduduk lunglai, lemas, dan tak berdaya ketika seluruh argumennya
> soal dialektika kekuasaan dihancurkan Rachmawati Soekarnoputri,
> beberapa bulan lalu di ruangan Yayasan Bung Karno, 500 m dari Tugu
> Proklamasi. 
> 
> Pasalnya, dalam pertemuan yang dihadiri 30-an aktifis muda Islam,
> yang di bawa Bursah Zarnubi, Djoko Edhi mengeluarkan teori bahwa
> pertarungan kekuasaan dan power itu adalah sebuah dialektika antara
> kaum tertindas dengan penindas atau yang dikuasai dan yang menguasai,
> atau kaum marhaen melawan kaum kapitalis. Dan ujung ceritanya adalah
> sebuah kompromi politik. Dan tidak terhindarkan.
> 
> Dengan sorot matanya yang tajam, Rachmawati Soekarnoputri, mengatakan
> bahwa ajaran Soekarno itu adalah pertarungan abadi antara kaum
> marhaen yang ditindas melawan kaum kapitalis, penindas, sepanjang
> jaman. Tidak kompromi. Tidak mungkin ada kompromi antara rakyat
> miskin yang historisnya "ditipu" orang orang kaya, bangsa pribumi
> yang diperdaya non pribumi dan asing, antara massa mayoritas miskin
> dengan segelintir kapitalis yang sewenang2 mencuri atas nama
> kebebasan, pasar bebas dan demokrasi. Tidak ada sebuah kompromi.
> 
> Djoko Edhi tidak berani membantah. Karena memang teori yang
> diketengahkannya tidak sesuai dengan teori yang dianut Rachmawati.
> Rachmawati, menurut Djoko Edhi, benar benar keras dan ideologis
> seperti bapaknya, Bung Karno.
> 
> Rachmawati adalah tokoh revolusioner. Dalam bukunya yang baru
> "Revolusi Belum Selesai", Rachma menunjukkan konsistensinya selama
> hidupnya dalam politik yang keras dan terjal. Konsistensi itu
> ditunjukkan dengan pikiran pikirannya, bahwa bangsa Indonesia saat
> ini terjerat dalam persekongkolan jahat dari elit elit politik demi
> memperkaya diri dan keluarga mereka saja. Yang kaya terus menambah
> kekayaannya sampai tujuh generasi, sedang kaum marhaen, rakyat miskin
> tetap terpinggirkan.
> 
> Oleh karenanya, Rachmawati tetap menggelorakan revolusi sosial
> sebagai jalan keluar. Revolusi sosial itu adalah perubahan struktur
> sosial, yang menggariskan keadilan ekonomi dan pemerataan sebagai
> acuan hidup berbangsa, bukan membiarkan ekonomi dan politik dikuasai
> bandit-bandit ber "make up". Termasuk kritiknya terhadap saudaran
> sendiri, Megawati, yang dianggapnya menjadi pelindung kapitalis.
> 
> Menurutnya, Megawati "Use Soekarno to Kill Soekarnoisme". Atau pada
> tulisan yang lama "Use Soekarnoisme to Kill Soekarno".
> 
> 
> Red: Muhammad Subarkah
>  
> Ketua Umum Yayasan Pendidikan Soekarno (YPS) Rachmawati Soekarnopurti
> memberikan pidato dalam acara peringatan Haul (peringatan hari wafat)
> ke 46 Presiden RI Pertama Soekarno di Universitas Bung Karno,
> Jakarta, Senin (20/6). Garis Massa Pemimpin pemimpin besar revolusi,
> seperti Lenin, Mao Tse Tung, Khomeini, Bung Karno dan lainnya selalu
> menekankan pentingnya merujuk gerakan pada garis massa. Garis Massa
> adalah suatu aksi massa revolusioner yang diasumsikan mempunyai
> kehendak yang harus diikuti para pemimpin. Bukan sebaliknya.
> 
> Para kritikus teori ‘Garis Massa’ mengatakan bahwa merujuk pada massa
> adalah akal-akalan elit (komunis/sosialis) saja yang memanipulasi
> keinginan elit tersebut pada massa. Namun, sejarah menunjukkan bahwa
> suasana revolusioner dalam berbagai revolusi di dunia selalu hampir
> meninggalkan pemimpinnya terlempar dari putaran massa rakyat.
> 
> Lihatlah Lenin yang masih di Swiss ketika revolusi Bolsevik akan
> terjadi, Khomeini yang masih di Paris ketika Revolusi Iran akan
> berlangsung, begitu juga Bung Karno yang masih di Rengasdengklok
> ketika massa aksi sudah membara di Jakarta pada bulan Agustus 1945.
> 
> Dalam konteks Garis Massa ini pun, Bachtiar Nasir, ulama yang
> mengorganisir gerakan massa 4 November ini, mengakui bahwa massa yang
> bergerak tidak tergantung dengan Prabowo dan pimpinan Ormas Islam
> yang ditemui Jokowi. Massa ini mempunyai sifat, karakter, dan
> keinginannya sendiri.
> 
> Sesuai dengan pidato Bung Karno, bahwa aksi massa yang dimaksud
> adalah aksi massa revolusioner, bukan sekedar gerombolan massa
> ataupun massa anarkis. Massa revolusioner menurut Bung Karno adalah
> massa yang terorganisir dan mempunyai keinginan yang kokoh. Ribuan
> massa yang tergabung dalam kelompok Aksi Bela Islam melakukan unjuk
> rasa di depan Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (14/10. Dalam
> tuntutannya, mereka meminta pemerintah, dalam hal ini aparat penegak
> hukum segera memproses Gubernur DKI Jakarta, Basuki Perang Simbolik
> Nah, Rachmawati dan Rizieq  sudah bertemu beberapa hari yang lalu di
> markas Habib Riziq, sebuah istana "miskin" di Petamburan. Mereka
> membicarakan kepedulian mereka atas keinginan massa rakyat. Sebuah
> pergolakan besar yang saat ini berlangsung.
> 
> Apakah keinginan rakyat itu?
> 
> Dalam perspektif Rachmawati, perlawanan terhadap Ahok ini adalah
> sebuah perang simbolik. Menurutnya, Ahok adalah simbol kapitalis
> orang orang non pribumi yang ingin mengusir kaum pribumi dari
> tanahnya sendiri.
> 
> Hal ini diungkapkan Rachmawati sebagaimana dilansir beberapa media
> online beberapa hari lalu. Menurutnya, Ahok hanya bekerja menista
> orang miskin pribumi dan meneguhkan kekuasaan tanah-tanah di Jakarta
> untuk kaumnya Ahok.
> 
> Sedangkan Habib Rizieq, melihat Ahok sebagai 'simbol kafir' yang
> ingin menyingkirkan umat Islam mayoritas, baik secara budaya, maupun
> ekonomi.  Jika diresultantekan, sinergi habib Rizieq dan Rachmawati
> Sukarnoputri adalah konsolidasi kekuatan kaum marhaen dan Islam dalam
> melawan penjajahan agama dan sekaligus ekonomi bangsa Indonesia oleh
> non pribumi.
> 
> Disinilah letak perbedaan Habib Rizieq dan Rachma di satu sisi versus
> Megawati, Kapitalis dan rezim pembela Ahok, di sisi lainnya. Yang
> terakhir ini melihat bahwa keberadaan Ahok adalah untuk membangun
> Jakarta seperti Singapura. Sedangkan Riziq dan Rachma melihat
> "pembangunan ini untuk siapa"? Apa untungnya jika menjadi Singapura
> tapi rakyat kota bukan pribumi?
> 
> Megawati melihatnya mungkin sebagai "ujian kebangsaan", sebagai upaya
> meluruskan jalan bagi modernisme dan pluralisme kita dalam bingkai
> demokrasi. Sebaliknya Rizieq dan Rachma melihat hancurnya keadilan
> distributif sebagai persoalan pokok.
> 
> Massa revolusioner akan bertemu dengan pemimpin revolusioner. Habib
> Riziq dan Rachmawati Sukarnoputri akan ada diantara massa
> revolusioner tanggal 4 November ini. Tentara sudah memaklumatkan
> sikap netral, di atas semua golongan.
> 
> Kini kita tinggal berdoa, semoga bangsa ini mampu menjalani
> takdirnya. Semoga bangsa tercinta ini selamat dari mara bahahaya,
> fitnah, hingga kekeruhan rusuh massa. a.. 
> 
>   b.. 1 
>   c.. 2 
>   d.. 3
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 

Kirim email ke