http://www.dennysiregar.com/2016/11/antasari-azhar-pelanduk-yang-mati.html


Analisa 
     
      Antasari Azhar 

Memang sial nasib Antasari Azhar..
Ditengah perannya sebagai Ketua KPK, ia tiba-tiba ditangkap dan diberhentikan 
oleh Presiden saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono. Setahun kemudian, ia 
ditetapkan terbukti ikut dalam pembunuhan Nasrudin, Direktur Putra Rajawali. 
Hukumannya pun tidak tanggung-tanggung, 18 tahun penjara.

Aura konspirasi-pun menyengat. Antasari Azhar menolak semua tuduhan padanya, 
termasuk berita perselingkuhan dgn seorang caddy golf. Tetapi suaranya 
terdengar lemah ditengah gemuruhnya pembunuhan karakter terhadap dirinya.

AA adalah korban perang antara 2 gajah besar, PDIP dan Demokrat. 2 gajah ini 
senantiasa berseteru dan saling menyandera kebijaksanaan pemerintahan.

Dengan peran sebagai Ketua KPK, maka AA diharapkan bisa membongkar kasus mega 
korupsi yang pernah terjadi. Maka dipasoklah ia dengan informasi-informasi 
melalui pintu belakang yang mengarah pada pembuktian bahwa salah seorang 
petinggi Demokrat memimpin rapat bailout Bank Century sebesar 6,7 trilyun 
rupiah.

AA memang harus "dihabisi", ia begitu berbahaya dengan semua bukti yang 
dipegangnya, yang diberikan oleh "orang tak dikenal". Jika AA memproses semua 
bukti itu, maka kemungkinan besar runtuhlah dominasi Demokrat kala itu.

Kasus yang sama, meski kondisinya jauh lebih baik dialami mantan Ketua KPK, 
Abraham Samad. Hanya kali ini pemberi informasi dari pihak seberang dengan 
kasus BLBI. Ketika AS menyatakan, "saya tidak takut untuk memeriksa Megawati", 
maka gelombang pun menghantamnya. AS masih lebih beruntung dari AA, karena ia 
hanya diberhentikan dengan hormat.

BLBI dan Century adalah 2 kartu truf yang dipegang masing-masing kubu. 
Kartu-kartu truf ini dimainkan terus untuk menjaga keseimbangan sekaligus 
menjatuhkan salah satu pihak. AA hanyalah pelanduk yang mati ditengah-tengah 
pertarungan para gajah.

Dan tanggal 10 November nanti, pada hari pahlawan, AA akan bebas. 
Pertanyaannya, apakah AA akan kembali menjadi kartu truf salah satu gajah untuk 
mematikan gajah satunya?. Saya ragu dengan kemungkinan itu.

Sudah cukup kehebohan yang terjadi ketika 2 gajah bertarung. Jika terus 
dipelihara, maka kehebohan itu akan memicu ketegangan dan membelah masyarakat 
menjadi 2 bagian, seperti yang terjadi saat KPK vs Polri jilid 2.

AA cukup dipegang sebagai sebuah "kartu penawaran" supaya Demokrat tidak 
macam-macam. Jokowi pasti berharap bahwa semua elemen fokus untuk pembangunan 
infrastruktur yang membutuhkan dana besar dari investor asing. Itu hal yang 
jauh lebih penting sekarang ini dari sekedar "buka-bukaan".

Selamat menghirup udara bebas, pak Antasari Azhar.. Semoga masa tua bapak bisa 
lebih tenang di samping keluarga. Tidak layak ketenangan itu ditukar dengan 
kehebohan yang akan terus ditimbulkan..

Saya yakin, ada secangkir kopi yang menunggu di rumah disertai pelukan hangat 
keluarga yang sangat merindukan...

Kirim email ke