Antara fakta dan berita palsu soal demo 4 November, Ahok, Kompas TV, dan 
lainnya http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-37893134 7 November 2016
Kirim http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-37893134#share-tools
 
 Image copyrightAPImage captionAksi pada 4 November kemarin berujung ricuh. BBC 
Indonesia merangkum sejumlah fakta dan konfirmasi dari otoritas terkait seputar 
kabar dan klaim yang beredar di media sosial terkait unjuk rasa 4 November, 
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dan segala hal lain yang 
terjadi sesudahnya.
 Puluhan ribu orang turun ke jalan, Jumat (04/11) pekan lalu, menuntut Ahok 
dipenjara karena dituduh menistakan agama - sebuah tuduhan yang masih 
diselidiki oleh kepolisian. Gubernur Jakarta itu diperiksa hari ini di Mabes 
Polri terkait dugaan penistaan tersebut.
 Perdebatan di media sosial terus menghangat dan berbagai tuduhan dilemparkan 
oleh berbagai pihak tanpa diketahui motif dan sumbernya. Untuk membaca artikel 
bagian pertama, Anda bisa mengklik di sini. 
http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-37843842
 1. Wartawan Kompas TV 'bukan provokator'
 Pengguna Facebook, Azzam Mujahid, dalam akunnya menulis bahwa wartawanKompas 
TV Muhammad Guntur adalah 'provokator kericuhan yang sebelumnya ditangkap 
karena melempar botol minuman dari arah demonstran ke petugas keamanan.'
 "Tetiba, sosok wajah dan tubuhnya hadir di Kompas TV dan telah berubah status 
menjadi korban kericuhan," tulisnya, membuat banyak orang terpicu amarah dan 
mencap Kompas TV sebagai media yang 'benci Islam'.
 Tetapi, kejadian sesungguhnya tidak demikian. Mutiara Ramadhini, rekan 
Muhammad Guntur dalam Facebooknya menulis alur kejadiannya. 
https://www.facebook.com/mutiaramadhini/posts/10210959024761709
 "Saya tanya sama Guntur apa yang terjadi, dia bilang dia diteriakin 
provokator, padahal awalnya saat mengambil visual itu keadaan sangat kondusif 
dan tidak terjadi apa apa. Melihat ada wartawan, satu orang teriak dan 
mengatakan ada provokator, ditanya soal dari TV mana, Guntur dengan jujur jawab 
dari Kompas TV. ID card diambil," katanya.
 Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin kemudian 
mengeluarkan pernyataan kepada sejumlah media dan menegaskan bahwa Muhammad 
Guntur adalah wartawan yang dia kenal dan bukan provokator.
 Azzam Mujahid dalam akun Facebook-nya kemudian meminta maaf atas unggahannya, 
walau sebagian pengguna media sosial beranggapan hal itu sudah terlambat karena 
'kebencian telah terlanjur tersebar.'
Image copyrightFACEBOOKImage captionAzzam Mujahid Izzulhaq memiliki lebih dari 
27.000 pengikut di akun Facebooknya. 2. Pelaku rusuh di Penjaringan adalah 
'kriminal murni'
 Kepala biro penerangan masyarakat Polri, Agus Rianto, kepada BBC Indonesia 
menegaskan bahwa kerusuhan dan penjarahan yang terjadi di Penjaringan, Jakarta 
Utara "merupakan kriminal murni dan memanfaatkan situasi yang ada."
 Sebanyak 15 orang ditangkap di lokasi, dan satu lainnya ditangkap berdasarkan 
hasil pengembangan penyelidikan. Beberapa orang dinyatakan masih buron.  
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-37887947Ada kemungkinan aksi rusuh yang 
dilakukan warga di Penjaringan ini dilakukan karena provokasi pihak tertentu, 
kata kepolisian. https://www.facebook.com/DivHumasPolri/posts/1485286631500188
Image copyrightFACEBOOKImage captionBeredar kabar bohong yang menyebut 
perusakan di Penjaringan dilakukan oleh orang beretnis Tionghoa. Pernyataan ini 
sekaligus menepis kabar atau asumsi yang banyak beredar di media sosial yang 
menyebut bahwa kerusuhan dilakukan oleh peserta aksi unjuk rasa 4 November. 
Juga membantah kabar bohong yang menyatakan bahwa pelaku rusuh Penjaringan 
adalah 'sejumlah warga keturunan Tionghoa yang sengaja membuat ricuh untuk 
menjelekkan agama Islam.'
 3. Unjuk rasa berlangsung tertib tetapi disertai dengan ujaran kebencian dan 
intimidasi pada wartawan
Image captionPolisi, peserta unjuk rasa salat di jalan. Ada banyak keriuhan di 
media sosial terkait demonstrasi 4 November. Beberapa pengguna media sosial 
mengklaim bahwa aksi 4 November damai dan tertib, bahwa semua yang berlaku 
tidak tertib dan rusuh adalah penyusup.
 Benar bahwa aksi unjuk rasa secara umum berlangsung tertib. Sejumlah foto yang 
menggambarkan 'kedamaian' menjadi viral di media sosial: polisi membantu 
peserta aksi menuangkan air wudlu, peserta aksi mengoleskan odol ke wajah 
polisi untuk menghalau perihnya gas air mata, peserta aksi berjibaku memungut 
sampah, hingga foto polisi dan peserta aksi sama-sama salat di jalan.
Image copyrightREUTERSImage captionSejumlah poster dan orasi dalam demonstrasi 
mengandung ujaran kebencian, kata polisi. Namun, ada pula laporan-laporan yang 
menyebut bahwa terjadi intimidasi dan ujaran kebencian dalam aksi. Aliansi 
Jurnalis Independen (AJI) dalam pernyataan resminya mengecam aksi sejumlah 
pengunjuk rasa yang mengintimidasi sejumlah wartawan yang meliput aksi unjuk 
rasa. Wartawan Kompas TV misalnya tidak hanya diintimidasi, tetapi juga dipukul 
dan dirampas hasil rekaman gambarnya. Jurnalis lain yang bertugas ditanya apa 
agamanya.
 "Tindakan para pengunjuk rasa tersebut jelas melanggar hukum dan mengancam 
kebebasan pers," tulis AJI.
 Pihak kepolisian mengatakan sedang melakukan penyelidikan terkait ujaran 
kebencian dalam demonstrasi tersebut baik yang disampaikan melalui orasi 
http://nasional.kompas.com/read/2016/11/05/17112281/rekam.orator.unjuk.rasa.4.november.polisi.selidiki.adanya.hate.speech.
 atau pun dalam poster. Wartawan BBC Indonesia yang berada di lokasi menemukan 
sejumlah kata-kata bernada kebencian seperti 'bunuh', 'gantung', dan 'ganyang'.
 4. Pelaku kekerasan di Istana Negara 'masih diselidiki motifnya'
 Siapa yang mulai memprovokasi polisi di depan Istana Negara sehingga gas air 
mata harus ditembakkan ke arah massa? Di media sosial, telunjuk lalu diarahkan 
ke segala arah. Sebagian mengatakan itu 'orang nasrani yang penyusup 
https://www.facebook.com/ustadabujanda/photos/pcb.1816209308622620/1816208271956057/?type=3&theater'.
 Lainnya menuduh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang melakukan kekerasan, hal 
yang kemudian langsung dibantah.
 Pengguna media sosial sudah menghakimi pihak tertentu sebagai dalang, walau 
polisi menegaskan mereka masih melakukan penyelidikan. Polisi telah menangkap 
10 orang di kawasan Medan Merdeka yang diduga provokator itu berusia 16-38 
tahun yang diketahui berasal dari luar Jakarta, namun tidak mengungkap 
identitas lebih lanjut.
 aWalau kesepuluh orang itu telah dibebaskan 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-37887947, penyelidikan masih terus 
dilakukan. Presiden Joko Widodo menegaskan, aspirasi dalam berdemokrasi harus 
dengan cara yang tertib dan damai, jika melanggar hukum dan merusuh, hukum 
tetap akan ditegakkan. http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-37887947
Image copyrightREUTERSImage captionGas air mata ditembakkan di depan Istana 
Negara. 5. Polisi belum punya kesimpulan apapun terkait kasus Ahok
 Sehari sebelum unjuk rasa besar, sebuah berita bohong beredar yang mengatakan 
bahwa 'polisi menganggap Ahok tidak menistakan agama'. Kabar itu mengutip Kadiv 
Humas Mabes Polri, Boy Rafli Amar, yang mengatakan, "sudah kami cek video 
tersebut dan tidak mengandung penghinaan."
 Tetapi dalam akun resminya, Humas Polri mengatakan kutipan itu tidak benar. 
"Kesimpulan hal tersebut menunggu gelar perkara," kata mereka.
Image copyrightFACEBOOK 6. Kedutaan Turki tidak mendukung demonstrasi 4 November
 Duta Besar Turki di Indonesia, Mehmet Kadri Şander Gürbüz, membantah kabar 
yang mengatakan bahwa mereka mendukung unjuk rasa anti Ahok pada 4 November.
 Kabar pertama dihembuskan antara lain melalui cuitan @SetioDarmadi pada 3 
November, yang memajang foto sejumlah pejabat Turki di Istiqlal bersalaman 
dengan sejumlah calon pendemo. Di situ dituliskan ucapan terima kasih pada 
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan "atas dukungannya pada Aksi Bela Quran 
besok. Kami akan memastikan bahwa (gubernur Jakarta) @basuki_btp akan mendapat 
hukumannya dengan segera."
Image copyrightKEDUTAAN TURKIImage captionKlarifikasi Kedutaan Turki menyusul 
kabar yang menyebut mereka mendukung aksi. Namun dalam klarifikasi Jumat (4/11) 
pagi, Dubes Turki, Mehmet Kadri Şander Gürbüz, serta merta membantah. Dalam 
bantahan di situs Kedubes Turki disebutkan, "Wakil menteri pertahanan Republik 
Turki, Şuay Alpay yang sedang berada di Jakarta untuk (pameran industri 
pertahanan) IndoDefence mengunjungi Monas dan Masjid Istiqlal dari luar 
kemarin, sebagai bagian dari perjalanan melihat-lihat kota."
 Warga yang melihat bendera Turki pada mobil dinasnya lalu mengambil foto 
bersamanya. Mereka menyatakan perjalanan keliling kota (Wakil Menhan) kemarin 
tak ada hubungannya dengan demonstrasi. Republik Turki tak punya niat untuk 
turut campur dama urusan domestik Republik Indonesia, yang memiliki hubungan 
sangat baik dengan kami di segala tingkat, ujar pernyataan tersebut.

 

 

 

Kirim email ke