Ini ada seorang sahabat karib menyatakan begini pada saya:

Kali ini Ahok kena batunya , tinggal pilih salah satu saja , menghina Al Qur'an 
atau menghina ustad yg mengajarkan ayat Al Maidah 51. 


Orang2 yg sakit hati , benci pada Ahok tentu tidak akan begitu saja melepaskan 
peluang baik utk balas dendam memenjarakan Ahok.


Ahok tentu sulit lolos dari perkataan "dibohongi" yg dikatakan itu, kecuali, 
..... kalau dia bukan pemimpin, atau, ...... Ahok bilang saja :


"Saya merasa jabatan saya ini adalah PETUGAS , bukan pemimpin, apalagi pemimpin 
umat Islam . Saya saat disumpah jabatan Gubernur DKI Jakarta utk BEKERJA , ... 
Majikan saya adalah warga DKI yg sebagian besar umat Islam , jadi saya ini 
PETUGAS-nya umat Islam DKI , BUKAN  PEMIMPIN umat Islam DKI .
Saya TIDAK menghina Al Qur'an , juga tidak menghina Ustad yg mengajarkan Al 
Maidah 51 , ajaran itu 100% benar, tidak ada salahnya. Yang saya katakan 
"dibohongi" itu ialah ORANG2  yang membohongi mengatakan kalau pilih Ahok 
berarti melanggar ayat 51 Almaidah , karena umat Islam warga DKI Jakarta yang 
memilih Ahok itu BUKAN menjadi PEMIMPINnya, tapi menjadi PETUGASNYA, jongosnya".


Jadi, sekalian untuk kampanye PILKADA "kalau mau pilih petugas/pekerja , 
pilihlah No 2 , kalau mau pilih pemimpin pilihlah lainnya , gitu aja kok repot 
, ha ha ha...."


Bukti2 saya ini seorang petugas :


Baju saya baju kotak2 , baju pekerja, ....


Tiap pagi MELAYANI warga DKI , majikan saya , ... kalau pemimpin mana mau 
begitu, .........


Kalau saya jadi pemimpin, tiap weekend main Golf dong, ....... tapi saya tetap 
bekerja , harus bawa kerjaan 2 koper .


Kalau hujan deras , saya stress , kontrol semua pompa2 air, got2 , takut 
banjir, dimarahin majikan saya yg sebagian besar umat Islam, ...


Tentunya Fadli Zon dan Fahri Hamzah akan loncat2 kegirangan kalau Ahok si cina 
kafir jadi jongosnya, ...........  jadi pilihlah nomor 2 ....... Jakarta akan 
damai ....semuanya girang ...ha ha ha.....



Salam
ChanCT



From: ajeg 
Sent: Wednesday, November 9, 2016 3:26 PM
To: [email protected] ; Chan CT 
Subject: Re: Fw: Membedah Sisi Linguistik Pernyataan Ahok “Dibohongin Pakai 
Surat Al Maidah 51” ;

Orang-orang di sekitar saya sudah dengar posisi saya itu 

sejak kasus Ahok ini memanas. Di milis ini pun sudah saya
singgung pada tanggal 18 Oktober (MUI Serang Ahok); 

dan saya ulang dalam obrolan dengan jonathan tanggal 

1 November (Megawati Pertanyakan Kenapa Ahok tak 

Boleh Jadi Gubernur). Apa karena kasus Ahok ini sudah 

dilempar ke penegak hukum lalu ajakan menahan diri 

jadi kedaluarsa? Hehe...


Sejak awal saya menyayangkan para petinggi dan tokoh 

negeri yang ikut hanyut bicara soal SARA / penistaan agama. 

Mereka harusnya tetap bersikap sebagai negarawan yang 

berpegang pada konstitusi. Dalam hal ini, menjunjung UUD'45 

dengan berdiri di atas semua golongan. Tidak perlulah saya /
kita mengingat presiden, ketua partai dsk soal ini karena 

UUD'45 mestinya adalah sarapan pagi mereka.


Sekarang ini pun, kalau mau, presiden bisa menggunakan 

kewenangannya untuk menyejukkan suasana. Terserah 

bagaimana caranya. Yang penting sesuai dengan kepribadian 

Jokowi yang sebelumnya dikenal sederhana, rendah hati, 

dan populis.


Mengenai pertanyaan Anda, saya pikir itu cukup normatif.
Jawabannya pun akan senormatif "tidak bisa hancur", 

"tidak perlu dibela", dan norma-norma santun lainnya. 

Sementara harapan Anda berikutnya sangatlah ideal. 

Nah, supaya idealisme itu tidak menjadi basa yang basi bin 

kedaluarsa, hehe, kita dorong sajalah maju selangkah ke 

gambaran realisasinya; bagaimana / dari mana memulainya?


Menurut saya, untuk mewujudkan harapan itu bisa dimulai 

dengan niat mengembalikan urusan spiritual ini ke rumah 

masing-masing. Kemudian, secara komunal, hapus pelajaran 

agama di sekolah - kecuali di sekolah agama.



Ada pendapat lain?



--- SADAR@... wrote:

Tapi, ... bung Ajeg, usul bung ini sudah kedaluarsa! Bukankah, Kasus Ahok ini 
sedang dalam proses HUKUM. Apa bisa dicabut dan kembali ulang dari mula? 
Hehehee, ...

Saya lebih tertarik dengan penyataan, apakah satu Agama bisa hancur dinista 
orang dan oleh karenanya perlu dibela mati-matian oleh umatnya??? Bukankah akan 
jauh lebih baik, kalau setiap UMAT bisa memberi TELADAN yang baik dalam 
kehidupan dan kerja sebagai seorang yang SUCI, SALEH, ... PENGABDI RAKYAT yang 
baik, untuk mengangkat nama baik AGAMA yang dianutnya itu! Bukan sebaliknya 
memaksakan kehendak sendiri pada orang lain dengan kekerasan, kerusuhan bahkan 
membunuh orang-orang yang tidak berdosa, ...!

Salam,
ChanCT



From: ajeg 


Sebaiknya semua pihak menahan diri dan berikan kesempatan 

pada Ahok untuk menjelaskan:


1. Kapasitasnya saat pidato di Kepulauan Seribu; sebagai gubernur 

(urusan dinas), sebagai ulama (khotbah), atau sebagai cagub (kampanye).


2. Kapan Ahok pernah menyaksikan orang dibohongi pakai surat tsb? 

Di mana, siapa yang membohongi, dan siapa yang dibohongi?


Dengan begitu tidak perlulah masalah ini dibawa-bawa ke jalur hukum.
Kalaupun diperlukan hukum, ya cukup UU Pemerintahan Daerah (tentang 

tugas gubernur) dan UU Pilkada (tentang kampanye). Tidak perlu 

UU Pidana pakai pasal penistaan agama segala macam dan sebaliknya, 

mati-matian membantah dengan mengerahkan alat-alat negara.



Kalau cuma lempar tuding mempermalukan orang lain dan diri sendiri, 

percayalah kita sudah teruji keterampilannya. 


Ps.

Ada keterampilan yang lain...? 




--- SADAR@... wrote:
From: B.DORPI P. 
Sent: Wednesday, November 9, 2016 5:49 AM

Membedah Sisi Linguistik Pernyataan Ahok “Dibohongin Pakai Surat Al Maidah 51”


http://www.tarbiyah.net/2016/10/membedah-sisi-linguistik-pernyataan.html

Analisis linguistik saja tanpa pengertian keadaan dan konteks, tanpa bicara 
langsung kepada Ahok sendiri untuk mendapat penjelasan dia , itu sia-sia dan 
tanpa arti dan tidak patut digunakan.
Apapun kata Ahok, seharusnya kita introspeksi/menganalisasikan maksud Surat Al 
Maidah 51.  Berikut ada dua versi terjemahan, yang pertama dari artikel di atas 
dan yang kedua dari website quran.com (Sahih International).


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan 
Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi 
sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi 
pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya 
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.


O you who have believed, do not take the Jews and the Christians as allies. 
They are [in fact] allies of one another. And whoever is an ally to them among 
you - then indeed, he is [one] of them. Indeed, Allah guides not the wrongdoing 
people.
Koment: Sangat beda ya?  Pemimpin2 atau allies (teman yang kerjasama kita)?  
Ya, selalu ada banyak kurang kepastian dalam penerjemahan Al-Quran sama dengan 
setiap buku suci lain ditulis dalam bahasa yang tidak bisa dingerti dengan 100% 
oleh karena kita tidak orang yang hidup dan bicara bahasa buku2nya pada waktu 
mereka diturunkan ribuan tahun lalu di tempat2 jauh dari kita....kita sudah 
punya cukup masalah linguistik cuma dengan bahasa yang kita pakai seharian 
dalam jaman kita sekarang, ya? Lagipula, sayangnya dalam keadaan di Indonesia 
sekarang tidak ada banyak orang yang membaca Al-Quran dalam bahasa yang mereka 
mengerti, dan tidak ada banyak yang mengerti kesulitan2 dan tantangan2 dalam 
penerjamahan, ya? 
Apakah maksudnya Al Maidah 51 benar2 bahwa seorang Muslim tidak boleh dipimpin 
oleh/atau tidak boleh kerjasama orang Non-Muslim (NM)?  Kalau ya, berarti 
pemerintah negara bersama dengan setiap bisnis yang dipimpin oleh orang NM, 
setiap kepala sekola/dosen/guru NM, dan seterusnya...semua tidak patut diterima 
oleh kaum Muslim??


Berarti untuk kaum Muslim, pemerintah (dan institusi apapun) negara ini tidak 
patut dihormati sepanjang ada orang NM dalam posisi pemimpin??


Kalau kita terima versi Sahih di atas, berarti orang Muslim tidak boleh 
berteman/kerja-sama (tidak sedikitpun?) orang NM?  Akibat untuk kelakuan kaum 
muslim dalam rangka hidup di negra ini seperti apa kalau begitu?


Sama dengan analisis kata2 Ahok, kita juga harus berusaha untuk mengerti 
konteks keadaan sebelum kita melompat ke analisis linguistik:


Sini saya temukan satu website dengan info sejenis ini untuk Al Maidah:


http://www.theonlyquran.com/quran/Al-Maida/Maududi_Commentry


Benarkah bahwa keadaan negara kita sekarang sama persis dengan keadaan untuk 
kaum Islam pada waktu surat Al Maidah diturunkan?? (pasti ada yang mirip tapi 
juga ada yang beda jauh).   Surat itu diturunkan untuk orang Islam dalam 
keadaan 1400 tahun lalu di wilayah Arab dekat lokasi Muhammad.  Itu sama dengan 
keadaan Indonesia hari ini?  Jelas tidak, berarti jelas bahwa kita harus pakai 
otak kita (yang dikasih kita dari Allah) dan mencari jalan benar dalam tempat 
dan jaman kita, ya?  Islam di atas semuanya adalah pencarian untuk jalan yang 
benar...Dalam surat Al Fatihah kita berdoa untuk apa?  Petunjukkan pada jalan 
yang lurus, ya? Kalau kita mencari arah yang benar dari Al Quran kita harus 
sangat hati-hati dalam analisis kita, harus mempertimbangkan konteks dan 
keadaan bersejarah, harus sadar mengenai masalah linguistik dengan bahasa dari 
1400 tahun lalu, dan harus lihat semuanya yang relevan dalam Al Quran, tidak 
hanya beberapa kata atau kalimat.

      Sejak Muhammad meninggal dunia,  manusia tidak berhenti berkembang dan 
berubah keadaan terus, ya?  Banyak yang diturunkan dalam Al Quran adalah 
peraturan cocok dalam keadaan Arab 1400 tahun lalu, tapi prinsip2 utama dalam 
Al Quran masih dan selalu adalah pentunjuk untuk hidup secara benar. 
      Seperti untuk seorang perancang mesin, tidak ada satu buku ajaib dengan 
tiap desain komplit dan berdetil untuk tiap mesin yang bisa berfungsi dan 
memenuhi keperluan untuk aplikasinya, tetapi ada prinsip ilmu fisika dari buku 
fisika dan seorang perancang harus berusah untuk memakai dan ikut ilmu fisika 
supaya bisa bikin mesin paling baik dalam pengunaannya.  Dalam hidup kita Al 
Quran adalah buku ilmu fisika itu yang memberi kita prinsip2 yang benar supaya 
kita bisa merancang kehidupan kita dengan benar, kalau kita mengerti dan ikut 
prinsip2nya.  
      Ya, juga dalam Al Quran ada banyak peraturan yang diturunkan dengan cukup 
berdetil untuk keadaan dihadapai Muhammad dan pengikutnya 1400 tahun lalu dan 
ada yang masih bisa dipakai dalam merancangkan secara hidup dalam konteks 
modern tapi di belakang setiap peraturan adalah prinsip dasar dan juga mereka 
semua seperti elemen desain mungkin cocok untuk keadaan kita seperti roda masih 
sejak ribuan tahun dan mungkin akan selalu dianggap sebagai elemen dasar untuk 
tiap kendaraan darat, ya?
     


Benarkah kita bisa lebih percaya pada orang2 yang mengklaim bahwa mereka adalah 
orang Muslim lebih dari kita bisa percayah pada orang NM??  Jelas tidak betul, 
ya? Berapa persent orang korup di negara ini panggil dirimereka Muslim?  Kita 
harus menilai dari kelakuan, tidak hanya dari pakaian orang atau cara mereka 
untuk berdoa, atau apa yang mereka percaya mengenai Nabi Issa.


Apakah kaum Muslim yang mendemo kata2 Ahok siap dan kompeten untuk memimpin 
negara ini tanpa bantuan/tanp kerjasama dari kaum NM?  Pasti cuma kalau 
seseorang mengakui Islam, otomatis dia lebih baik sebagai pemimpin?? Pasti 
tidak, ya?  Orang NM pasti tidak bisa dipercaya dan tidak sekompeten untuk 
memimpin/tidak patut sebagai teman??  Kita benar kalau kita menganggap Al 
Maidah dengan cara itu?  Pasti tidak, ya?


Kalau ada pemerintah dan semuanya 100% Muslim, apakah akan hadir berikut?  Kaum 
Muslim yang mana benar, patut dipatuhi?  Sunni?  Shiite? Muhammadiyah? NU? 
Fraksi yang ikut ulama A antau B atau C atau...?  Kita bisa lihat keadaan di 
Timur Tengah, ya, untuk berfikir yang bisa juga terjadi di sini.
Negara ini seharusnya bangga dan sebetulnya negara ini sering dipuji negara 
lain atas toleransi dan usaha kerjasama harmonis di antara bermacam partai dan 
agama sesuai dengan prinsip konstitusi yang didasarkan pada Pancasila.  Pasti 
kebanyakan penduduknya tidak mau menghancurkan itu, ya?


Koment:  Dalam semuanya di atas saya sadar bahwa saya hanya mulai mengali isu2 
dan pikiran terkait dengan interpretasi dan praktek surat Al Maidah yang 
relevan untuk kita dalam tempat dan waktu kini.  Biar ulama2 dan ahli2 sejarah 
Islam dan sejarah Arab pikir lebih lanjut dari saya.  Mungkin mereka bisa 
mengali cukup disini untuk menulis seribu buku dan berdebat sampai akhir zaman, 
ya?


Untuk sekarang kembali ke kata Ahok, dengan beberapa pertanyaan2:


1.  Dengan benar dan tepat, apakah maksud Ahok dalam komentarnya hari itu, 
dalam konteksnya, dalam hatinya?


2.  Ada kemungkinan kaum Islam yang mendemo seharusnya mengakui bahwa mereka 
tidak mengerti maksud Ahok, tidak langsung bertemu dengan dia untuk mendapat 
penjelasan langsung,  dan berarti mereka tidak boleh menilai dengan adil dan 
akurat?


3.  Kalau Ahok dingerti dengan benar, ada kemungkinan bahwa dia akan dilihat 
benar dalam maksudnya?  (Mungkin dia sangat benar kalau maksudnya bahwa orang 
Muslim sering salah memakai kata2 dari Al Quran?  Ya, termasuk ulama dan ustadz 
ayng terlalu sering hanys setengah kompeten.)


4.  Bisakah kita percaya bahwa Ahok akan menghina agama Islam walaupun dia 
sadar bahwa mayoritas penduduk negara ini ikut agama itu?  Ahok segoblok itu 
sebagai orang politik yang sedang mencari dipilih?


5.  Siapa bisa membuktikan bahwa Ahok mau menghina agama Islam, atau hanya 
menghina secara bercanda kelakuan pengikut Islam yang salah memakai Al Quran?


6.  Kalau Ahok adalah orang Muslim akankah dia diprotes? (Pertanyaan ini adalah 
paling penting untuk introspeksi, ya, kalau Ahok diserang atas motif politik 
atau agama...)


Akhirnya, saya harus berpendapat begini:


1.  Ya, Ahok salah dalam bicara seperti itu, tapi, karena saya tidak tahu 
dengan pasti apakah maksud dalam hatinya, saya hanya bisa pasti dia salah 
secara politik praktis karena dia membuka pintu untuk musuh politik yang mau 
memanfaatkan emosi massal terkait dengan agama.  Sepertinya Ahok sudah cukup 
minta maaf tapi tidak mau terdengar.  Jelas juga Ahok sering membuka mulutnya 
terlalu lebar, sebelum dia berfikir, tapi kita semua sering bersalah begitu, 
ya, dan tidak maksud kita menyakiti perasaan orang lain...Kita minta maaf 
seperti Ahok, dan kita kembali lagi mencoba berjalan bersama dengan harmonis.


2.  Orang2 dibelakang yang memprovokasi, mendukung dan mendanakan demonya yang 
menghancurkan properti umum, mengakibat korban terluka dan memboroskan waktu 
dan sumber bumi, dan semua ulama dan umat yang ikut demo seharusnya minta maaf 
dan bertobat.  Pasti ada (dan maksud saya tidak ikan2 kecil seperti Buni Yani, 
tapi yang utama di belakang) yang seharusnya diperiksa dan dipanggil 
pengandilan dan/atau seharusnya mengundurkan dirimereka dari jabatan.  Tindakan 
tanpa ikut prinsip2 dasar dari agama untuk tidak menilai terlalu cepat dan 
untuk membangun persaudaraan daripada kemusuhan adalah dosa besar, lebih besar 
dari apapun dimaksud dalam kata2 Ahok.  Salah pemakaian agama untuk kepentingan 
politik itu juga dosa sangat besar dan akan mengancam masa depan republik ini 
kalau tidak dicabut segera mungkin. 


3.  Salah satu prinsip paling penting dalam Islam adalah prinsip untuk mencari 
keharmonisan dan persatuan.  Dibandingkan dengan negara lain, contoh utama di 
Timur tengah, Indonesia sudah memberdirikan pemerintah dan iklim sosial-ekonomi 
yang dianggap di seluruh dunia sebagai contoh bagus untuk negara mayoritas 
Islam oleh karena toleransi dan kemampuan kerjasama di antara bermacam suku dan 
agama.  Itu harus dijaga dan dibangun lebih kuat lagi.


4.  Maaf, tapi buat saya, orang2 yang protes Ahok dengan alasan dia menghina 
agama mereka, itu sama dengan anak TK yang mengangis pada guru karena murid 
lain menghina gaya sepatunya.  Allah pasti cukup kuat untuk membelah diriNYA 
dan agama kita, kalau kita benar2 ikut prinsipNYA...Bisakah dibilang bahwa kita 
menghina Allah kalau kita pikir Allah butuh kita untuk membelah agamaNYA?  
Kalau kita tidak ikut prinsipNYA, berarti kelakuan kita sendiri patut dihina, 
dan juga berarti bahwa dengan kelakuan kita sendiri, kita sendiri menjelekan 
dan menghina nama agama Islam. 


5.  Kalau ada kemauan demo, biar didemo sesuatu yang lebih berarti: 
ketidakadilan sosial, kegagalan dalam mewujudkan Pancasila, dan ekonomi yang 
tidak sustainable.


Dengan demo kemarin, orang2 yang memimpinnya dan ikutnya sudah membuka 
dirimereka untuk dihina.  Seharusnya semua malu. 

Kirim email ke