Ahok* tidak menyebut ustad* yang pakai ayat itu, tapi dia mengatakan *ORANG* pakai ayat itu...
Horas L. Sitompul Pada 9 November 2016 16.10, 'Chan CT' [email protected] [GELORA45] < [email protected]> menulis: > > > Ini ada seorang sahabat karib menyatakan begini pada saya: > > *Kali ini Ahok kena batunya , tinggal pilih salah satu saja , menghina Al > Qur'an atau menghina ustad yg mengajarkan ayat Al Maidah 51. * > > *Orang2 yg sakit hati , benci pada Ahok tentu tidak akan begitu saja > melepaskan peluang baik utk balas dendam memenjarakan Ahok.* > > *Ahok tentu sulit lolos dari perkataan "dibohongi" yg dikatakan itu, > kecuali, ..... kalau dia bukan pemimpin, atau, ...... Ahok bilang saja :* > > *"Saya merasa jabatan saya ini adalah PETUGAS , bukan pemimpin, apalagi > pemimpin umat Islam . Saya saat disumpah jabatan Gubernur DKI Jakarta utk > BEKERJA , ... Majikan saya adalah warga DKI yg sebagian besar umat Islam , > jadi saya ini PETUGAS-nya umat Islam DKI , BUKAN PEMIMPIN umat Islam DKI .* > *Saya TIDAK menghina Al Qur'an , juga tidak menghina Ustad yg mengajarkan > Al Maidah 51 , ajaran itu 100% benar, tidak ada salahnya. Yang saya katakan > "dibohongi" itu ialah ORANG2 yang membohongi mengatakan kalau pilih Ahok > berarti melanggar ayat 51 Almaidah , karena umat Islam warga DKI Jakarta > yang memilih Ahok itu BUKAN menjadi PEMIMPINnya, tapi menjadi PETUGASNYA, > jongosnya".* > > *Jadi, sekalian untuk kampanye PILKADA "kalau mau pilih petugas/pekerja , > pilihlah No 2 , kalau mau pilih pemimpin pilihlah lainnya , gitu aja kok > repot , ha ha ha...."* > > *Bukti2 saya ini seorang petugas :* > > *Baju saya baju kotak2 , baju pekerja, ....* > > *Tiap pagi MELAYANI warga DKI , majikan saya , ... kalau pemimpin mana mau > begitu, .........* > > *Kalau saya jadi pemimpin, tiap weekend main Golf dong, ....... tapi saya > tetap bekerja , harus bawa kerjaan 2 koper .* > > *Kalau hujan deras , saya stress , kontrol semua pompa2 air, got2 , takut > banjir, dimarahin majikan saya yg sebagian besar umat Islam, ...* > > *Tentunya Fadli Zon dan Fahri Hamzah akan loncat2 kegirangan kalau Ahok si > cina kafir jadi jongosnya, ........... jadi pilihlah nomor 2 ....... > Jakarta akan damai ....semuanya girang ...ha ha ha.....* > > > Salam > ChanCT > > > > *From:* ajeg > *Sent:* Wednesday, November 9, 2016 3:26 PM > *To:* [email protected] ; Chan CT > *Subject:* Re: Fw: Membedah Sisi Linguistik Pernyataan Ahok “Dibohongin > Pakai Surat Al Maidah 51” ; > > Orang-orang di sekitar saya sudah dengar posisi saya itu > sejak kasus Ahok ini memanas. Di milis ini pun sudah saya > singgung pada tanggal 18 Oktober (MUI Serang Ahok); > dan saya ulang dalam obrolan dengan jonathan tanggal > 1 November (Megawati Pertanyakan Kenapa Ahok tak > Boleh Jadi Gubernur). Apa karena kasus Ahok ini sudah > dilempar ke penegak hukum lalu ajakan menahan diri > jadi kedaluarsa? Hehe... > > Sejak awal saya menyayangkan para petinggi dan tokoh > negeri yang ikut hanyut bicara soal SARA / penistaan agama. > Mereka harusnya tetap bersikap sebagai negarawan yang > berpegang pada konstitusi. Dalam hal ini, menjunjung UUD'45 > dengan berdiri di atas semua golongan. Tidak perlulah saya / > kita mengingat presiden, ketua partai dsk soal ini karena > UUD'45 mestinya adalah sarapan pagi mereka. > > Sekarang ini pun, kalau mau, presiden bisa menggunakan > kewenangannya untuk menyejukkan suasana. Terserah > bagaimana caranya. Yang penting sesuai dengan kepribadian > Jokowi yang sebelumnya dikenal sederhana, rendah hati, > dan populis. > > Mengenai pertanyaan Anda, saya pikir itu cukup normatif. > Jawabannya pun akan senormatif "tidak bisa hancur", > "tidak perlu dibela", dan norma-norma santun lainnya. > Sementara harapan Anda berikutnya sangatlah ideal. > Nah, supaya idealisme itu tidak menjadi basa yang basi bin > kedaluarsa, hehe, kita dorong sajalah maju selangkah ke > gambaran realisasinya; bagaimana / dari mana memulainya? > > Menurut saya, untuk mewujudkan harapan itu bisa dimulai > dengan niat mengembalikan urusan spiritual ini ke rumah > masing-masing. Kemudian, secara komunal, hapus pelajaran > agama di sekolah - kecuali di sekolah agama. > > Ada pendapat lain? > > --- SADAR@... wrote: > > Tapi, ... bung Ajeg, usul bung ini sudah kedaluarsa! Bukankah, Kasus Ahok > ini sedang dalam proses HUKUM. Apa bisa dicabut dan kembali ulang dari > mula? Hehehee, ... > > Saya lebih tertarik dengan penyataan, apakah satu Agama bisa hancur > dinista orang dan oleh karenanya perlu dibela mati-matian oleh umatnya??? > Bukankah akan jauh lebih baik, kalau setiap UMAT bisa memberi TELADAN yang > baik dalam kehidupan dan kerja sebagai seorang yang SUCI, SALEH, ... > PENGABDI RAKYAT yang baik, untuk mengangkat nama baik AGAMA yang dianutnya > itu! Bukan sebaliknya memaksakan kehendak sendiri pada orang lain dengan > kekerasan, kerusuhan bahkan membunuh orang-orang yang tidak berdosa, ...! > > Salam, > ChanCT > > > *From:* ajeg > > Sebaiknya semua pihak menahan diri dan berikan kesempatan > pada Ahok untuk menjelaskan: > > 1. Kapasitasnya saat pidato di Kepulauan Seribu; sebagai gubernur > (urusan dinas), sebagai ulama (khotbah), atau sebagai cagub (kampanye). > > 2. Kapan Ahok pernah menyaksikan orang dibohongi pakai surat tsb? > Di mana, siapa yang membohongi, dan siapa yang dibohongi? > > Dengan begitu tidak perlulah masalah ini dibawa-bawa ke jalur hukum. > Kalaupun diperlukan hukum, ya cukup UU Pemerintahan Daerah (tentang > tugas gubernur) dan UU Pilkada (tentang kampanye). Tidak perlu > UU Pidana pakai pasal penistaan agama segala macam dan sebaliknya, > mati-matian membantah dengan mengerahkan alat-alat negara. > > Kalau cuma lempar tuding mempermalukan orang lain dan diri sendiri, > percayalah kita sudah teruji keterampilannya. > > Ps. > Ada keterampilan yang lain...? > > > --- SADAR@... wrote: > *From:* B.DORPI P. > *Sent:* Wednesday, November 9, 2016 5:49 AM > > Membedah Sisi Linguistik Pernyataan Ahok “Dibohongin Pakai Surat Al Maidah > 51” > <http://www.tarbiyah.net/2016/10/membedah-sisi-linguistik-pernyataan.html> > > > http://www.tarbiyah.net/2016/10/membedah-sisi-linguistik-pernyataan.html > > *Analisis linguistik saja tanpa pengertian keadaan dan konteks, tanpa > bicara langsung kepada Ahok sendiri untuk mendapat penjelasan dia , itu > sia-sia dan tanpa arti dan tidak patut digunakan.* > Apapun kata Ahok, seharusnya kita introspeksi/menganalisasikan maksud > Surat Al Maidah 51. Berikut ada dua versi terjemahan, yang pertama dari > artikel di atas dan yang kedua dari website quran.com (Sahih > International). > > Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi > dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah > pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil > mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan > mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang > zalim. > > *O you who have believed, do not take the Jews and the Christians as > allies. They are [in fact] allies of one another. And whoever is an ally to > them among you - then indeed, he is [one] of them. Indeed, Allah guides not > the wrongdoing people.* > Koment: Sangat beda ya? Pemimpin2 atau allies (teman yang kerjasama > kita)? Ya, selalu ada banyak kurang kepastian dalam penerjemahan Al-Quran > sama dengan setiap buku suci lain ditulis dalam bahasa yang tidak bisa > dingerti dengan 100% oleh karena kita tidak orang yang hidup dan bicara > bahasa buku2nya pada waktu mereka diturunkan ribuan tahun lalu di tempat2 > jauh dari kita....kita sudah punya cukup masalah linguistik cuma dengan > bahasa yang kita pakai seharian dalam jaman kita sekarang, ya? Lagipula, > sayangnya dalam keadaan di Indonesia sekarang tidak ada banyak orang yang > membaca Al-Quran dalam bahasa yang mereka mengerti, dan tidak ada banyak > yang mengerti kesulitan2 dan tantangan2 dalam penerjamahan, ya? > Apakah maksudnya Al Maidah 51 benar2 bahwa seorang Muslim tidak boleh > dipimpin oleh/atau tidak boleh kerjasama orang Non-Muslim (NM)? Kalau ya, > berarti pemerintah negara bersama dengan setiap bisnis yang dipimpin oleh > orang NM, setiap kepala sekola/dosen/guru NM, dan seterusnya...semua tidak > patut diterima oleh kaum Muslim?? > > *Berarti untuk kaum Muslim, pemerintah (dan institusi apapun) negara ini > tidak patut dihormati sepanjang ada orang NM dalam posisi pemimpin??* > > Kalau kita terima versi Sahih di atas, berarti orang Muslim tidak boleh > berteman/kerja-sama (tidak sedikitpun?) orang NM? Akibat untuk kelakuan > kaum muslim dalam rangka hidup di negra ini seperti apa kalau begitu? > > Sama dengan analisis kata2 Ahok, kita juga harus berusaha untuk mengerti > konteks keadaan sebelum kita melompat ke analisis linguistik: > > Sini saya temukan satu website dengan info sejenis ini untuk Al Maidah: > > http://www.theonlyquran.com/quran/Al-Maida/Maududi_Commentry > > Benarkah bahwa keadaan negara kita sekarang sama persis dengan keadaan > untuk kaum Islam pada waktu surat Al Maidah diturunkan?? (pasti ada yang > mirip tapi juga ada yang beda jauh). Surat itu diturunkan untuk orang > Islam dalam keadaan 1400 tahun lalu di wilayah Arab dekat lokasi Muhammad. > Itu sama dengan keadaan Indonesia hari ini? Jelas tidak, berarti jelas > bahwa kita harus pakai otak kita (yang dikasih kita dari Allah) dan mencari > jalan benar dalam tempat dan jaman kita, ya? *Islam di atas semuanya > adalah pencarian untuk jalan yang benar...Dalam surat Al Fatihah kita > berdoa untuk apa? Petunjukkan pada jalan yang lurus, ya?* Kalau kita > mencari arah yang benar dari Al Quran kita harus sangat hati-hati dalam > analisis kita, harus mempertimbangkan konteks dan keadaan bersejarah, harus > sadar mengenai masalah linguistik dengan bahasa dari 1400 tahun lalu, dan > harus lihat semuanya yang relevan dalam Al Quran, tidak hanya beberapa kata > atau kalimat. > > *Sejak Muhammad meninggal dunia, manusia tidak berhenti berkembang dan > berubah keadaan terus, ya? Banyak yang diturunkan dalam Al Quran adalah > peraturan cocok dalam keadaan Arab 1400 tahun lalu, tapi prinsip2 utama > dalam Al Quran masih dan selalu adalah pentunjuk untuk hidup secara benar. * > *Seperti untuk seorang perancang mesin, tidak ada satu buku ajaib dengan > tiap desain komplit dan berdetil untuk tiap mesin yang bisa berfungsi dan > memenuhi keperluan untuk aplikasinya, tetapi ada prinsip ilmu fisika dari > buku fisika dan seorang perancang harus berusah untuk memakai dan ikut ilmu > fisika supaya bisa bikin mesin paling baik dalam pengunaannya. Dalam hidup > kita Al Quran adalah buku ilmu fisika itu yang memberi kita prinsip2 yang > benar supaya kita bisa merancang kehidupan kita dengan benar, kalau kita > mengerti dan ikut prinsip2nya. * > *Ya, juga dalam Al Quran ada banyak peraturan yang diturunkan dengan cukup > berdetil untuk keadaan dihadapai Muhammad dan pengikutnya 1400 tahun lalu > dan ada yang masih bisa dipakai dalam merancangkan secara hidup dalam > konteks modern tapi di belakang setiap peraturan adalah prinsip dasar dan > juga mereka semua seperti elemen desain mungkin cocok untuk keadaan kita > seperti roda masih sejak ribuan tahun dan mungkin akan selalu dianggap > sebagai elemen dasar untuk tiap kendaraan darat, ya?* > > > Benarkah kita bisa lebih percaya pada orang2 yang mengklaim bahwa mereka > adalah orang Muslim lebih dari kita bisa percayah pada orang NM?? Jelas > tidak betul, ya? Berapa persent orang korup di negara ini panggil > dirimereka Muslim? Kita harus menilai dari kelakuan, tidak hanya dari > pakaian orang atau cara mereka untuk berdoa, atau apa yang mereka percaya > mengenai Nabi Issa. > > Apakah kaum Muslim yang mendemo kata2 Ahok siap dan kompeten untuk > memimpin negara ini tanpa bantuan/tanp kerjasama dari kaum NM? Pasti cuma > kalau seseorang mengakui Islam, otomatis dia lebih baik sebagai pemimpin?? > Pasti tidak, ya? Orang NM pasti tidak bisa dipercaya dan tidak sekompeten > untuk memimpin/tidak patut sebagai teman?? Kita benar kalau kita > menganggap Al Maidah dengan cara itu? Pasti tidak, ya? > > Kalau ada pemerintah dan semuanya 100% Muslim, apakah akan hadir berikut? > Kaum Muslim yang mana benar, patut dipatuhi? Sunni? Shiite? Muhammadiyah? > NU? Fraksi yang ikut ulama A antau B atau C atau...? Kita bisa lihat > keadaan di Timur Tengah, ya, untuk berfikir yang bisa juga terjadi di sini. > *Negara ini seharusnya bangga dan sebetulnya negara ini sering dipuji > negara lain atas toleransi dan usaha kerjasama harmonis di antara bermacam > partai dan agama sesuai dengan prinsip konstitusi yang didasarkan pada > Pancasila. Pasti kebanyakan penduduknya tidak mau menghancurkan itu, ya?* > > Koment: Dalam semuanya di atas saya sadar bahwa saya hanya mulai mengali > isu2 dan pikiran terkait dengan interpretasi dan praktek surat Al Maidah > yang relevan untuk kita dalam tempat dan waktu kini. Biar ulama2 dan ahli2 > sejarah Islam dan sejarah Arab pikir lebih lanjut dari saya. Mungkin > mereka bisa mengali cukup disini untuk menulis seribu buku dan berdebat > sampai akhir zaman, ya? > > *Untuk sekarang kembali ke kata Ahok, dengan beberapa pertanyaan2:* > > 1. Dengan benar dan tepat, apakah maksud Ahok dalam komentarnya hari itu, > dalam konteksnya, dalam hatinya? > > 2. Ada kemungkinan kaum Islam yang mendemo seharusnya mengakui bahwa > mereka tidak mengerti maksud Ahok, tidak langsung bertemu dengan dia untuk > mendapat penjelasan langsung, dan berarti mereka tidak boleh menilai > dengan adil dan akurat? > > 3. Kalau Ahok dingerti dengan benar, ada kemungkinan bahwa dia akan > dilihat benar dalam maksudnya? (Mungkin dia sangat benar kalau maksudnya > bahwa orang Muslim sering salah memakai kata2 dari Al Quran? Ya, termasuk > ulama dan ustadz ayng terlalu sering hanys setengah kompeten.) > > 4. Bisakah kita percaya bahwa Ahok akan menghina agama Islam walaupun dia > sadar bahwa mayoritas penduduk negara ini ikut agama itu? Ahok segoblok > itu sebagai orang politik yang sedang mencari dipilih? > > 5. Siapa bisa membuktikan bahwa Ahok mau menghina agama Islam, atau hanya > menghina secara bercanda kelakuan pengikut Islam yang salah memakai Al > Quran? > > 6. Kalau Ahok adalah orang Muslim akankah dia diprotes? (Pertanyaan ini > adalah paling penting untuk introspeksi, ya, kalau Ahok diserang atas motif > politik atau agama...) > > *Akhirnya, saya harus berpendapat begini:* > > 1. Ya, Ahok salah dalam bicara seperti itu, tapi, karena saya tidak tahu > dengan pasti apakah maksud dalam hatinya, saya hanya bisa pasti dia salah > secara politik praktis karena dia membuka pintu untuk musuh politik yang > mau memanfaatkan emosi massal terkait dengan agama. Sepertinya Ahok sudah > cukup minta maaf tapi tidak mau terdengar. Jelas juga Ahok sering membuka > mulutnya terlalu lebar, sebelum dia berfikir, tapi kita semua sering > bersalah begitu, ya, dan tidak maksud kita menyakiti perasaan orang > lain...Kita minta maaf seperti Ahok, dan kita kembali lagi mencoba berjalan > bersama dengan harmonis. > > 2. Orang2 dibelakang yang memprovokasi, mendukung dan mendanakan demonya > yang menghancurkan properti umum, mengakibat korban terluka dan memboroskan > waktu dan sumber bumi, dan *semua ulama dan umat yang ikut demo > seharusnya minta maaf dan bertobat*. Pasti ada (dan maksud saya tidak > ikan2 kecil seperti Buni Yani, tapi yang utama di belakang) yang seharusnya > diperiksa dan dipanggil pengandilan dan/atau seharusnya mengundurkan > dirimereka dari jabatan. Tindakan tanpa ikut prinsip2 dasar dari agama > untuk tidak menilai terlalu cepat dan untuk membangun persaudaraan daripada > kemusuhan adalah dosa besar, lebih besar dari apapun dimaksud dalam kata2 > Ahok. *Salah pemakaian agama untuk kepentingan politik itu juga dosa > sangat besar dan akan mengancam masa depan republik ini kalau tidak dicabut > segera mungkin. * > > 3. Salah satu prinsip paling penting dalam Islam adalah prinsip untuk > mencari keharmonisan dan persatuan. Dibandingkan dengan negara lain, > contoh utama di Timur tengah, Indonesia sudah memberdirikan pemerintah dan > iklim sosial-ekonomi yang dianggap di seluruh dunia sebagai contoh bagus > untuk negara mayoritas Islam oleh karena toleransi dan kemampuan kerjasama > di antara bermacam suku dan agama. Itu harus dijaga dan dibangun lebih > kuat lagi. > > 4. Maaf, tapi buat saya, orang2 yang protes Ahok dengan alasan dia > menghina agama mereka, itu sama dengan anak TK yang mengangis pada guru > karena murid lain menghina gaya sepatunya. Allah pasti cukup kuat untuk > membelah diriNYA dan agama kita, kalau kita benar2 ikut > prinsipNYA...Bisakah dibilang bahwa kita menghina Allah kalau kita pikir > Allah butuh kita untuk membelah agamaNYA? *Kalau kita tidak ikut > prinsipNYA, berarti kelakuan kita sendiri patut dihina, dan juga berarti > bahwa dengan kelakuan kita sendiri, kita sendiri menjelekan dan menghina > nama agama Islam. * > > 5*. Kalau ada kemauan demo, biar didemo sesuatu yang lebih berarti: > ketidakadilan sosial, kegagalan dalam mewujudkan Pancasila, dan ekonomi > yang tidak sustainable.* > > *Dengan demo kemarin, orang2 yang memimpinnya dan ikutnya sudah membuka > dirimereka untuk dihina. Seharusnya semua malu.* > > > > >
