http://www.antaranews.com/berita/593764/pdip-klaim-sby-terkait-ahok-tidak-berdasar?utm_source=fly&utm_medium=related&utm_campaign=news

PDIP: klaim SBY terkait Ahok tidak berdasar
Rabu, 2 November 2016 20:00 WIB | 
Pewarta: Imam Budilaksono
 
Peluncuran Kampanye Rakyat. Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama 
menghadiri acara Launching Penggalangan Dana Ahok-Djarot "Kampanye Rakyat 
Berpartisipasi dalam Pesta Demokrasi" di Rumah Lembang, Jakarta, Selasa 
(1/11/2016). Acara gerakan penggalangan dana tersebut merupakan wujud kampanye 
terbuka untuk mengajak masyarakat luas untuk bersama-sama berpartisipasi dalam 
kampanye secara aktif dan sukarela. (ANTARA/Hafidz Mubarak A)
  Pernyataan SBY pada Rabu pagi terkait rencana aksi 4 November semakin 
menunjukkan bahwa SBY sedang berupaya menggunakan aksi ini untuk kepentingan 
Pilkada DKI Jakarta yang kita ketahui putra sulungnya ikut menjadi calon 
Gubernur DKI Jakarta." 
Jakarta (ANTARA News) - Anggota Fraksi PDIP Charles Honoris mengatakan, klaim 
mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bahwa Basuki Tjahaja Purnama 
(Ahok) tidak tersentuh hukum adalah tidak berdasar dan bisa dilihat sebagai 
intervensi melalui agitasi di ruang publik.

"Sebagai tokoh politik yang pernah menjabat sebagai Presiden, SBY harusnya 
berdiri di atas semua golongan dan menjadi penyejuk," kata Charles di Jakarta, 
Rabu.

Dia menilai pernyataan SBY terkait Ahok adalah bentuk intervensi terhadap 
proses hukum padahal pihak kepolisian saat ini sedang menjalankan proses hukum 
terhadap laporan terkait Ahok.

Bahkan, menurut dia, Ahok sudah dimintai keterangan di Badan Reserse dan 
Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri sehingga pernyataan SBY itu tidak berdasar.

"Pernyataan SBY pada Rabu pagi terkait rencana aksi 4 November semakin 
menunjukkan bahwa SBY sedang berupaya menggunakan aksi ini untuk kepentingan 
Pilkada DKI Jakarta yang kita ketahui putra sulungnya ikut menjadi calon 
Gubernur DKI Jakarta," ujarnya.

Hal itu, menurut dia, bertolak belakang dengan apa yang sedang berupaya 
dibangun oleh Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo 
Subianto yang menunjukkan keduanya adalah negarawan sejati. 

Bahkan, dirinya sepakat dengan apa yang disampaikan politisi Ruhut Sitompul 
bahwa Presiden Jokowi dan Prabowo adalah demokrat sejati. 

"Beda halnya dengan SBY yang melakukan safari politik melalui pertemuan dengan 
Menkopolhukan Wiranto dan Wapres Jusuf Kalla," katanya.

Menurut anggota Komisi I DPR itu, pertemuan tersebut ternyata hanya pencitraan 
dan dibingkai lebih ke klarifikasi personal meskipun akhirnya itu terbantahkan 
sendiri dengan pernyataan SBY hari ini.

Charles menekankan bahwa Indonesia bukan hanya Jakarta, jadi jangan para tokoh 
nasional menghalalkan segala cara untuk memenangkan pilkada di Jakarta dengan 
merusak sendi persatuan dan kesatuan bangsa.

Sebelumnya, Presiden RI keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ikut mengomentari 
terkait kasus yang menimpa Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama 
atau Ahok. 

Menurut SBY, jangan sampai ada anggapan jika Ahok yang kembali mencalonkan diri 
kembali sebagai gubernur itu, tidak tersentuh hukum.

"Kalau ini Pak Ahok, jangan sampai beliau dianggap kebal hukum. Jangan sampai 
ada tudingan Ahok tidak boleh disentuh," kata SBY dalam keterangan pers di 
kediamannya, Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Rabu.

Dia meminta, pihak kepolisian dapat menyelesaikan kasus dugaan penistaan agama 
tersebut hingga tuntas sehingga tidak ada anggapan Ahok bisa bebas dari kasus 
tersebut.

SBY juga mengajak seluruh rakyat Indonesia agar menghormati semua proses hukum 
yang tengah dilakukan Mabes Polri dan juga meminta rakyat Indonesia tidak 
membuat gaduh. 

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Kirim email ke