Ketika Teknologi Mengubah Gaya Hidup hingga Pola Edukasi http://kom.ps/AFvlWU

  a.. Health  a.. Kolom
DR.dr.Tan Shot Yen,M.hum.
Dokter
Dokter, ahli nutrisi, magister filsafat, dan penulis buku..
Ketika Teknologi Mengubah Gaya Hidup hingga Pola Edukasi
Jumat, 11 November 2016 | 08:45 WIB136
SharesIlustrasi. 

Terkait
  a.. Ketika Teknologi Mengubah Gaya Hidup hingga Pola Edukasi a.. Sejahtera 
Tidak Sama dengan Kaya a.. Dari Rumah Makan ke Rumah Sakit a.. Orang Jawa 
Bermata Biru a.. Tubuh Manusia Bukanlah Hasil Rakitan TeknologiOleh: DR.dr.Tan 
Shot Yen,M.hum.


KOMPAS.com - Jaman saya masuk Taman Kanak-kanak, bahkan sebelum itu, permainan 
sebatas hanya gerak fisik yang dirangkai dengan nyanyian, atau paling mentok 
jika duduk bersimpuh pun berupa permainan bekel – yang kini saya pahami sebagai 
jurus jitu rangsangan sinkronisasi gerak tangan dan mata yang memacu aktivitas 
otak.

Melihat gawai dan aneka permainan anak sekarang, saya kerap terpana norak. 
Nyanyian atau lagu tidak perlu keluar dari mulut si anak, karena mesin 
permainannya lah yang bernyanyi.

Ketika anak mulai gelisah berkeliaran dan melakukan berbagai stimulasi fisik 
dari memanjat hingga merobek halaman majalah, orangtuanya malah menyuruhnya 
duduk manis dan ia dibuat sibuk oleh gawai pinjaman ibunya.

Gawai yang sarat permainan elektronik atau gambar animasi kartun beresolusi 
tinggi dengan cahaya mencolok mata.

Saat teknologi belum seperti hari ini, orangtua mau tidak mau harus banyak 
bicara dan mencari tahu demi anaknya yang terus bertanya.

Komunikasi kontak mata dan bahasa tubuh yang langsung terjadi di depan mata, 
mengharuskan norma dan kesantunan yang masih berjalan seiring sambil pesan 
verbal disampaikan.

Tanpa disadari, edukasi tak tertulis terus berjalan dari hari ke hari. Edukasi 
tak tertulis belakangan saya sadari dengan istilah ‘soft skills’ yang merupakan 
kunci berbagai istilah kecerdasan di luar ‘kecerdasan intelegensia’ yang 
favorit itu.

Edukasi tak tertulis bukan hanya soal keterampilan berhubungan dengan sesama 
manusia, tetapi juga kemampuan menjalani banyak fase kehidupan yang tak mungkin 
tergantikan oleh teknologi.

Sebut saja tentang komitmen dan disiplin hidup sehat, tangguhnya mental untuk 
menjangkau hal-hal yang lebih besar, seperti peribahasa ‘Berakit-rakit ke hulu, 
berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian’.



Cara mudah, hasil ekspres

Oh, sekarang semuanya terbalik. Kalau mau tekanan darah, Kolesterol, gula darah 
bagus, minum obat. Hasilnya ekspres.

Punya motor atau mobil buat nampang? Cukup dengan uang muka seadanya, besok 
bawa pulang. Bayar urusan belakang – kan bisa kredit.

Tidak heran hampir semua pasien lebih suka bertanya,”Bagaimana menghilangkan 
nyeri lutut?”, “Bagaimana agar cepat kurus?”, kurang lebih sama seperti ABG 
yang bertanya,”Bagaimana supaya cepat lulus kuliah?”

Pertanyaan-pertanyaan ajaib yang biasanya membuat kedua alis saya bertemu di 
tengah sambil terperangah menatap takjub.

Sementara yang bertanya semakin bingung, seakan tak ada yang salah dengan tubuh 
besar menindas lutut, tak ada yang salah dari satu gelas tinggi es kopi dengan 
krim karamel, begitupun si ABG yang bertanya basa-basi nyatanya sibuk dengan 
unduhan komik baru di gawainya sambil sesekali mengecek jejaring sosial media.

Jujur, sangat ruwet dan kompleks pembenahan semua kegaduhan yang terjadi di 
negeri ini. Dalam waktu singkat, seakan semua orang pemegang gawai dan penonton 
televisi saling terhubung dan ‘terisi’ oleh berbagai informasi mulai dari 
urusan kericuhan politik, viral pornografi, resep jitu membuka sumbatan 
pembuluh jantung tanpa perlu ke dokter, hingga gerai makanan yang sedang diskon 
gila-gilaan dan gegernya artis yang baru cerai.

Tontonan tanpa tuntunan merupakan malapetaka besar. Tuntunan adalah edukasi. 
Bukan cuma kecerdasan intelegensia. Tapi juga asahan soft skills yang membuat 
kearifan dan pikiran bijak muncul sejak dini.

Kearifan dan pikiran bijak mampu membedakan mana lelucon konyol lutut sembuh 
dengan rebusan dedaunan sementara tubuh masih tambun, mana ujaran tanpa 
kepatutan yang tak perlu diteruskan ke orang lain, kapan saatnya membatasi diri 
untuk tidak tercebur dalam wacana di luar kompetensi dan bagaimana meningkatkan 
kepercayaan publik tanpa perlu menjatuhkan orang lain.

Edukasi yang membentuk karakter sebagian besar bukan dari buku pelajaran dan 
tak kenal rentang waktu berapa lama. Ujiannya pun tak pernah tertulis.

Manusia belajar setiap saat bahkan hingga ajal, ujiannya terjadi di saat-saat 
ketika muncul pilihan bertindak dan bersikap.



Paparan teknologi dan kesalahan didik

Kearifan dan pikiran bijak yang terasah sejak dini tidak akan memunculkan 
karakter impulsif, itu sudah pasti. Sementara teknologi justru memacu hidup 
impulsif dan praktis. Teknologi menjanjikan kecepatan, kepraktisan, ketepatan 
alias akurasi dan efisiensi.

Betapa ngerinya atas nama efisiensi dan kepraktisan bila seorang ibu muda tidak 
diasah untuk merawat anak sesuai kodrat, mulai dari menyusui dengan sabar dan 
penuh kasih sayang hingga membuat makanannya sendiri.

Melainkan terpapar teknologi yang menjanjikan akurasi komposisi ‘bubuk pangan’ 
kemasan bebas bakteri – seakan-akan semua kebutuhan kodrati anaknya sudah pasti 
hanya seperti yang tercantum dalam kemasan.

Sementara ia bebas bekerja dan tetap bersenang-senang. Keterasingan komunikasi, 
membuat jarak semakin lebar antara orangtua dan anak.

Diskusi lewat teks membuat anak sambil tiduran mengangkat kaki menggenggam 
gawai seakan itulah gaya ‘bicaranya’ dengan orang tua. Kesalahan didik, ‘gagal 
paham’ edukasi manusia membuahkan malapetaka di hari depan yang amat 
katastropik.

Malapetaka bagi suatu bangsa, belum tentu demikian bagi pihak lain. Bisa jadi 
di sebelah sana ada yang sedang menyeringai puas dengan taktik penjajahan gaya 
baru yang sedang berjalan.

Propaganda secara teknologi telah sukses memporakporandakan asupan gizi bangsa 
ini, tayangan hidup mewah bergelimang hedonisme membutakan anak mudanya untuk 
bekerja hanya mengejar harta, menjual semua kekayaan negerinya yang menjadi 
incaran bangsa lain tanpa menikmatinya.

Lebih kacaunya lagi, ditukar dengan dagangan negeri lain yang hanya ‘enak di 
lidah’ tapi merusak di kemudian hari.

Dan ketika semua sudah amburadul terpecah belah, perang candu mulai mengintai 
diam-diam persis seperti kisah sejarah berulang di negri orang.

Semoga kita masih diberi pikiran jernih untuk melihat segala sesuatunya dengan 
terang budi. Edukasi yang bukan gagal paham

Kirim email ke