Dari Yayasan Kematian, Menghidupkan Seni Tradisi Pribumi 4 November 2016 http://www.malang-post.com/features/dari-yayasan-kematian-menghidupkan-seni-tradisi-pribumi
Kota Malang memang unik. Pada suatu masa, ada komunitas Tionghoa yang dengan tulus menghidupkan seni tradisi Jawa. Lahirlah, wayang orang Tionghoa Ang Hien Hoo. Kenangan atas wayang orang ini, dihidupkan kembali dalam diskusi santai bersama Prof. Dr. Melani Budianta, M.A. Ruang oase tersebut terpusatkan di Kafe Komika Jalan Jakarta Kota Malang dalam sebuah diskusi Jagongan Gayeng yang ditunjukkan untuk mengenang kembali eksistensi warga Tionghoa di Kota Malang yang sejak dahulu kala sudah berjalan berdampingan dengan warga Kota Malang membentuk sebuah kebudayaan yang patut dilestarikan. Pembahasan mengenai Ang Hien Hoo tepatnya. Ang Hien Hoo merupakan sebuah komunitas wayang orang Tionghoa yang ternyata memiliki cerita bukan hanya sekedar cerita chauvinist semata, tetapi bagaimana seni wayang orang Tionghoa ini dapat menjadi alat asimilasi kebudayaan warga Tionghoa dengan warga Kota Malang. Prof. Dr. Melani Budianta, M.A., Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia memberikan kisahnya sebagai budayawan sekaligus pelaku Wayang Orang Ang Hien Hoo asal Malang. Sejarah Wayang Orang Ang Hien Hoo sebagai wujud upaya etnis Tionghoa berjuang masuk sebagai bagian dari masyarakat di Malang. " Warga pada umumnya, mungkin tidak begitu mengenal Kesenian Wayang Orang dari etnis Tionghoa yang disebut Ang Hien Hoo kerena wayang orang kan milik kebudayaan orang Jawa tho. Tetapi ini pernah ada dan eksis pada jamannya,” ungkap Melani yang dulunya juga bergabung dalam komunitas tersebut. Ia menjelaskan, Ang Hien Hoo pada awalnya merupakan yayasan kematian yang pusatnya ada di Klenteng Eng An Kiong dan mulai berdiri tahun 1910. Saat itu, Ang Hien Hoo merupakan sebuah komunitas yang mengurusi urusan kematian warga Tionghoa di Kota Malang. Hal tersebut diperlukan karena pada saat itu, warga Tionghoa banyak yang sudah melupakan kebudayaannya sendiri terkhusus di ritual kematian. Maka, Ang Hien Hoo dibuat untuk media informasi dan bagi urusan kematian warga Tionghoa yang ingin dibantu seperti cara mengenai cara dan ritual pemakaman warga Tionghoa yang seharusnya. Pada 1985 Ang Hien Hoo mulai mengenalkan Wayang Orang kepada warga umum, karena nyatanya yayasan kematian ini malah berkembang menjadi wadah kumpul warga Tionghoa sebagai media sosialisasi dan pembentukkan karakter. “Sejak diperkenalkannya wayang orang Ang Hien Hoo dengan memperagakan lakon-lakon budaya jawa membuktikan bahwa warga Tionghoa di Malang saat itu berjalan harmonis dengan etnis Jawa. Karena banyak guru wayang mereka adaah asli orang Jawa,” ungkap perempuan bertubuh mungil ini. Banyak lakon wayang orang dari cerita dan kebudayaan jawa dimainkan oleh Ang Hien Hoo pada jaman itu dan mendapatkan respon positif. Hanya, keadaan itu kemudian berbalik 180 derajat akibat kejadian 1965. Masa di mana terjadinya pembantaian di Indonesia terhadap orang-orang yang dituduh komunis di Indonesia yang pada saat itu juga mengejar warga Indonesia dengan etnis Tionghoa. Segala keharmonisan etnis dalam wayang orang Ang Hien Hoo runtuh. Pasalnya, pada saat itu pemerintah melarang seluruh aktivitas kebudayaan yang dapat memprovokasi masuknya budaya lain. “Saat itu budaya Jawa saja susah, apalagi yang lain,” ungkap Melani. Kejadian tersebut menandai kematian Wayang Orang Ang Hien Hoo pada saat itu. Beberapa seniman Ang Hien Hoo pun terpencar entah kemana saat kejadian tersebut marak. Namun, disinilah letak nilai kenangan yang dibahas dalam diskusi gayeng tersebut. Dalam dialog santai tersebut terdapat beberapa warga Tionghoa Kota Malang yang sempat merasakan asiknya kesenian wayang orang ala Tionghoa tersebut dan kemudian saling berbagi pengalaman. Salah satunya adalah Endang Dwi salah seorang warga Tionghoa Malang yang sempat mempelajari wayang orang tersebut pada sekitar tahun 1947, saat dirinya duduk di bangku SD. “Ayah saya memang suka dengan budaya Jawa waktu itu. Jadi sering nonton lakon wayang orang di Klenteng. Jadi saya juga sempat belajar dan suka,” ungkap perempuan paruh baya ini. Ia mengatakan lagi bahwa wayang orang Ang Hien Hoo memberikan kenangan manis tersendiri baginya dan keluarganya pada saat itu. Tidak hanya sekedar pertunjukkan seni biasa, wayang orang Ang Hien Hoo yang disajikan tersebut merupakan wujud keharmonisan antar etnis yang terbangun sangat baik. Hal ini juga diamini oleh Komikus ternama Malang, Aji Prasetyo yang hadir sebagai salah satu pemarkarsa dialog. Ia mengatakan bahwa ditengah situasi krisis identitas budaya bangsa Indonesia harus malu ketika dirinya tidak mau mengakui kebudayaannya sendiri. “Sekarang banyak orang jawa malu punya nama Gatot, terus mau diganti. Harusnya mereka ini malu. Disini ternyata merupakan tempat lahirnya banyak kesenian dan budaya jangan sampai lupa,” tegas Aji. Dengan tempaan isu yang dianggap murahan seperti isu agama, etnis ataupun suku menjadi sangat vital bagi seluruh warga untuk mengenang kembali kebudayaan yang mereka miliki. Terlebih kebudyaan hasil asimilasi ataupun akulturasi antar etnis. Sangat disayangkan ketika kebudayaan tersebut punah, pungkas Aji.(Sisca Angelina/ary)
