Alifurrahman: Apalagi kemarin Presiden mendatangi markas Kopassus. Ini adalah 
pasukan cadangan yang bisa saya gerakkan sebagai panglima tertinggi lewat 
Pangab, lewat Panglima TNI untuk keperluan khusus,” kata Jokowi.

“Ini merupakan pasukan cadangan yang dalam keadaan emergency, dalam keadaan 
darurat, bisa saya gerakkan,” katanya lagi. Orang bisa berpikir ini kebetulan, 
sekebetulan Jokowi yang datang ke Hambalang saat SBY berisik atau sekebetulan 
FPI yang tak diundang ke Istana. Tapi bagi saya ini simbol politik yang sangat 
kuat, Presiden Jokowi seolah ingin menjawab upaya makar yang dilakukan oleh 
Fahri Hamzah beberapa hari lalu. Fahri sempat menyebut bahwa massa boleh masuk 
ke DPR dan menginap sebab saat itu adalah kondisi darurat, tak perlu surat dan 
sebagainya. Sekarang Presiden sudah menjawab dengan kata kunci yang sama 
“darurat.”

 

Nesare: coba bandingkan dengan pendapat siajeg dibawah ini:

Ajeg Fri 11/11/2016 2:00 AM: Kostrad adalah satuan cadangan AD. Dan sekarang 
posisi cadangan korps baret hijau ini dialihkan Jokowi ke korps baret merah, 
Kopassus.

Jokowi Sebut Pasukan Cadangan Bisa Dia Kerahkan 
<https://groups.yahoo.com/neo/groups/gelora45/conversations/messages/196576?soc_src=mail&soc_trk=ma>
 

Dalam olahraga, juga sepakbola, pemain cadangan yang belum akan diturunkan pada 
suatu pertandingan, harus pindah ke bangku penonton. Dalam hal ini, karena 
Kopassus sekarang didudukkan di bangku cadangan - dengan sendirinya Kostrad di 
bangku penonton - lalu siapa yang disiapkan sebagai pemain starter? Dalam 
pertandingan melawan siapa?

Ajeg Thu 11/10/2016 7:24 AM: Banyak urusan di negeri ini jadi lucu-lucu di 
tangan Jokowi karena langkahnya sering menyimpang dari tatanan yang ada bahkan 
bertentangan dengan kementeriannya sendiri. Catat saja hari ini tiba-tiba dia 
menjadikan korps baret merah sebagai 'pasukan cadangan'. Kalau Kopassus 
dijadikan pasukan cadangan, lalu dia jadikan apa Kostrad, yang sejak jaman Bung 
Karno merupakan satuan cadangan strategis AD?

Kelucuan lainnya, Jokowi juga menyebut bisa mengerahkan "pasukan cadangan" ini 
dalam kedudukannya sebagai panglima tertinggi. Padahal, sejak jaman Bung Karno 
juga, kewenangan Panglima Tertinggi yang melekat pada seorang presiden hanya 
berlaku saat negara dalam keadaan perang. Itu pun harus dengan persetujuan 
Rakyat lewat perwakilannya di DPR. Tidak boleh seenak udelnya.

 

Nesare: sangat bertolak belakang kan pendapat si ajeg dan alifurrahman. Ajeg 
nyerang Jokowi bilang Jokowi gak ngerti kopassus itu pasukan cadangan. 
Alifurrahman bilang Jokowi malahan bisa pake’ kopassus buat melawan siapa saja 
dalam darurat perang termasuk FPI dan SBY. Pendapat alifurrahman ini jauh dari 
sekali melewati pengertian Jokowi akan kopassus malahan sudah sampai ke 
aplikasinya. Sedangkan siajeg baru dan masih ngomong artinya kopassus. Lucu kan?

Dengan kata lain alifurrahman sudah menganalisa jauh kemungkinan langkah2 
jokowi yg dapat menggunakan aparatur negara kopassus, sedangkan si ajeg ngomong 
Jokowi tidak mengerti apa kopassus itu. Bener2 lucu!

 

Nesare

 

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Saturday, November 12, 2016 1:27 AM
To: Yahoo! Inc. <[email protected]>; Jaringan Kerja 
Indonesia <[email protected]>; Gelora 45 
<[email protected]>; Sastra Pembebasan 
<[email protected]>; Yahoo! Inc. 
<[email protected]>; DISKUSI FORUM HLD 
<[email protected]>
Subject: [GELORA45] Trs: [wahana-news] Sikap Keras Jokowi Melawan SBY dan FPI

 

  

 

Pada Sabtu, 12 November 2016 5:42, "'Tsasando' [email protected] 
<mailto:[email protected]>  [wahana-news]" <[email protected] 
<mailto:[email protected]> > menulis:

 

  

https://seword.com/politik/sikap-keras-jokowi-melawan-sby-dan-fpi/

 

Sikap Keras Jokowi Melawan SBY dan FPI

 

BY  <https://seword.com/author/alan/> ALIFURRAHMAN ON NOVEMBER 11, 2016

 

Saya melihat ada yang berbeda dari seorang Jokowi sebagai Presiden. 
Langkah-langkahnya beberapa hari ini saya pikir sangat keras untuk seorang 
Jokowi, nyaris tanpa kompromi.

Menyikapi aksi demo 4 November, Presiden Jokowi berhasil membuat SBY galau 
berat, sampai curcol via keterangan pers persis seperti saat dirinya dulu jadi 
Presiden. Prihatin. Ini gara-gara kedatangan Presiden ke Hambalang menemui 
Prabowo, tapi tak berlanjut ke Cikeas. Presiden hanya mau menemui Prabowo. 
Dengan hal ini, SBY kemudian bersikap aktif dengan mendatangi JK dan Wiranto, 
entah untuk alasan apa, pokoknya datang saja karena Jokowi sudah mendatangi 
Prabowo.

SBY nampaknya tak mau tersudut sendiri. Karena kalau Prabowo sudah menyatakan 
mendukung Jokowi, maka satu-satunya tokoh partai politik yang memungkinkan 
tidak mendukung adalah SBY. Untuk itu dia ingin membentuk opini publik bahwa 
kalau nantinya terjadi sesuatu yang negatif pada 4 November, maka Wiranto dan 
JK bisa dipersepsikan terlibat, sebab mereka orang-orangnya SBY.

Begitu juga denan FPI, keras sekali sikap Presiden Jokowi. Sebelum demo, 
Presiden sudah mengundang NU, Muhammadiyah dan MUI ke Istana. Pasca demo, 
Presiden mendatangi markas PBNU. Setelahnya, 17 ormas Islam juga diundang ke 
Istana.

1.       Abdullah Jaidi, Al-Irsyad Al Islamiyah

2.       Yusnar Yusuf, Jami’atul Washliyah

3.       Ahmad Satoni Ismail, Ikadi

4.       Habib Nabil Al Musala, Majelis Rasulullah

5.       Hamdan Zoelva, Syarikat Islam

6.       Dyah Puspitarini, Nasyiatul Aisyiyah

7.       Said Aldi Alidirus, BKPRMI

8.       Khofifah Indar Parawansa, Muslimat NU

9.       Mahfud MD, KAHMI

10.    Sadeli Karim, Mathlaul Anwar

11.    Nashirul Haq, Hidayatullah

12.    Muhammad Siddiq, DDII

13.    Anggia Emarini, Fatayat NU

14.    Jimly Asshidiqie, ICMI (diwakilkan)

15.    Athifah Thaha, Wanita Islam

16.    Yaqut Qolil Qoumas, PP GP Anshor

17.    Usamah Hisyam, Parmusi

Semuanya diajak diskusi terkait demo 4 November yang melibatkan pengeraha 
massa. Tapi FPI yang merupakan ormas terdepan menolak Ahok sejak 2014, serta 
orams terdepan dalam melakukan provokasi pada demo 4 November, tidak diundang 
atau didatangi.

Sikap Presiden Jokowi kepada SBY dan FPI sama, tidak mau mendatangi dan 
berkomunikasi. Pertanyaannya kemudian, ada masalah apa dengan SBY dan FPI? 
Sebagai warga, wajar saya bertanya. Sebab FPI bisa dikatakan adalah ormas 
paling terlibat dalam demo 4 November. Sementara SBY adalah satu-satunya 
gerbong politik tersisa, sebab Prabowo sudah didatangi.

Saya merenung cukup lama. Setelah dipikir-pikiri, memang ada masalah yang cukup 
prinsip dengan FPI dan SBY. Rizieq mengancam akan menduduki Istana dan gedung 
DPR. Munarman dengan jelas mengatakan Presiden Jokowi dongo. Logika sederhana 
saja, kalau kalian dicaci maki seperti itu, masihkah akan mengajaknya makan 
siang dan ngobrol santai di rumah?

Tapi bagaimana dengan SBY? Bukankah beliau ini sosok yang santun, penuh 
prihatin, rajin menabung dan tidak suka mencaci maki? Kenapa Presiden tak mau 
menemuinya untuk menyelsaikan masalah kemungkinan adanya kepentingan politik 
dalam demo 4 November? Saya pikir ada beberapa hal. SBY ini sosok paling tidak 
menarik, sebab kepentingan politiknya sangat tinggi. Contoh, saat SBY melakukan 
tour de Java, dia bukannya menyerap aspirasi, tapi malah curcol dan mengkritik 
pemerintahan Jokowi kepada rakyat. Jadinya malah menyampaikan aspirasi. 
Kepentingan politiknya adalah memajukan Ani sebagai Capres 2019.

Namun Presiden Jokowi saat itu menjawabnya dengan blusukan ke Hambalang. 
Jadilah cerita tour de Java sebulan rusak gara-gara blusukan dan geleng-geleng 
di Hambalang. Ini membuat semua kritikan SBY terhadap Presiden Jokowi jadi tak 
ada artinya. Sebab rakyat jadi tau betapa buruknya SBY dulu. Kalau sekarang 
kemudian mau mengkritik, jadi lucu, sebab dulu nyaris tak melakukan apa-apa 
selain membuat album dan menulis buku diary. Soal ini pernah saya bahas khusus 
di seword: https://seword.com/politik/sby-menggonggong-jokowi-ke-hambalang/

Soal demo 4 November, memang ada laporan tentang keterlibatan SBY. Namun 
awalnya laporan dalam bentuk dokumen tersebut bersifat tertutup, rahasia. Entah 
bagaimana caranya SBY kemudian membukanya ke publik dan menceritakannya dalam 
keterangan pers. Bahwa dia tidak bersalah, bahwa dokumen tersebut tidak akurat, 
pasti fitnah kalau ada partai politik yang mendanai demo 4 November.

Keterangan pers SBY ini menjadi blunder paling lucu sepanjang sejarah politik 
di Indonesia. Bayangkan, dokumen tersebut awalnya bersifat rahasia, bukan untuk 
konsumsi publik. Tapi SBY membukanya dan membantah seolah-olah semua rakyat 
sudah tahu. Blundernya adalah, SBY menyatakan tidak ada partai politik yang 
mendanai demo 4 November. Bagaimana bisa SBY memastikannya? Bukankah dia hanya 
salah satu ketum Parpol? Ini kondisinya jadi mirip ada bau kentut, banyak orang 
kemudian melirik kanan kiri sambil menutup hidung, lalu tiba-tiba salah satu 
orang dalam ruangan berdiri dan bilang “tidak ada bau kentut, fitnah itu!” 
bukankah ini berarti pengakuan?

Lebih buruk lagi, pasca 4 November, Demokrat menjadi satu-satunya partai yang 
paling berisik setelah Presiden Jokowi menyebut demonstrasi tersebut 
ditunggangi aktor-aktor politik. Sehingga kemudian terjadi kerusuhan dan 
penjarahan, skenario mengulangi rusuh 98. Sampai di sini, jadi ketahuan kan 
siapa yang kentut? Haha

Soal dokumen tersebut sempat saya bahas juga di: 
https://seword.com/politik/dokumen-rahasia-keterlibatan-cikeas-dalam-upaya-lengserkan-jokowi/

Entah siapa yang menyebarkan, sekarang dokumen yang ada di tangan saya itu 
sudah banyak beredar luas di dunia maya. Dalam dokumen tersebut tentu sudah 
disebutkan nama-nama secara gamblang, tanpa inisial ataupun sebutan.

Simbol Politik

Presiden Jokowi memang kerap memberikan simbo-simbol politik untuk menjawab 
isu-isu terkini. Saat kasus Freeport Papa Minta Saham, di DPR ada sidang MKD, 
di Istana Presiden mengundang pelawak nasional untuk makan malam. Pada saat 
yang bersamaan. SBY ceriwis soal pemerintah dan blusukan ke seluruh Jawa, 
Jokowi hanya cukup datang ke Hambalang.

Lalu sekarang, FPI dan SBY tidak ditanggapi, padahal Prabowo dan PBNU 
didatangi. NU, Muhammadiyah, MUI bahkan 17 ormas Islam lainnya juga diundang ke 
Istana. Semuanya adalah simbol politik yang menyebutkan bahwa FPI bukan bagian 
dari ormas Islam di Indonesia. Sementara SBY merupakan tokoh politik yang tidak 
mendukung pemerintahan Jokowi. Dan yang terpenting dalam kesimpulan saya 
adalah, keduanya adalah biang kerok kerusuhan dan menghambat kemajuan bangsa 
Indonesia.

Apalagi kemarin Presiden mendatangi markas Kopassus.

Ini adalah pasukan cadangan yang bisa saya gerakkan sebagai panglima tertinggi 
lewat Pangab, lewat Panglima TNI untuk keperluan khusus,” kata Jokowi.

“Ini merupakan pasukan cadangan yang dalam keadaan emergency, dalam keadaan 
darurat, bisa saya gerakkan,” katanya lagi.

Orang bisa berpikir ini kebetulan, sekebetulan Jokowi yang datang ke Hambalang 
saat SBY berisik atau sekebetulan FPI yang tak diundang ke Istana. Tapi bagi 
saya ini simbol politik yang sangat kuat, Presiden Jokowi seolah ingin menjawab 
upaya makar yang dilakukan oleh Fahri Hamzah beberapa hari lalu. Fahri sempat 
menyebut bahwa massa boleh masuk ke DPR dan menginap sebab saat itu adalah 
kondisi darurat, tak perlu surat dan sebagainya. Sekarang Presiden sudah 
menjawab dengan kata kunci yang sama “darurat.”

Melawan FPI dan SBY

Sebelum menulis ini, sempat saya hubungi informan seword terkait sikap 
Presiden. Saya titip pertanyaan apakah Presiden mau mendatangi atau mengundang 
SBY dan FPI. Entah sudah ditanyakan apa belum, namun informan seword menyebut 
kemungkinannya hanya 1%. Nyaris tidak mungkin.

Jika memang terus begini, maka berarti semua ini adalah simbol perlawanan. Yang 
pada intinya, kemungkinan Rizieq, Munarman dan FPI akan mendapat balasan sikap. 
Rizieq kemungkinan akan diproses hukum terkait upaya makar dan cemoohnya. 
Munarman mungkin juga diproses terkait caci makinya. Sementara SBY akan 
mendapat apa yang seharusnya dia dapatkan sejak beberapa tahun yang lalu.

Ibas yang berkali-kali disebut terlibat korupsi, mungkin sudah waktunya 
diproses. 34 proyek mangkrak diusut, bisa saja pada akhirnya sampai pada 
orang-orang SBY. Sementara SBY sendiri bisa dipermasalahkan karena telah 
menghilangkan dokumen TPF pembunuhan Munir.

Saya pikir itu sikap keras yang sedang ditunjukkan oleh Presiden Jokowi. Sangat 
keras. Kalau ibarat orang mau perang, lawannya sedang koar-koar, Jokowi diam 
saja sambil mengasah pedang. Tak banyak bicara, tak ada nada tinggi. Tapi 
setelah pedangnya selesai diasah, mereka yang koar-koar tak akan bisa berdiri 
lagi.

Begitulah kura-kura.

 



Kirim email ke