http://www.berdikarionline.com/6-ancaman-nasional-menurut-panglima-tni/

6 Ancaman Nasional Menurut Panglima TNI
share on:FacebookTwitter Google +

Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Gatot Nurmantyo hadir di 
acara Indonesia Lawyers Club (ILC) di TV One, Selasa (9/11/2016).

Di acara yang dipandu oleh Karni Ilyas itu, Panglima TNI berbicara tentang 
dampak peak oil theory (teori puncak minyak) terhadap geopolitik dunia dan 
Indonesia.

Menipisnya produksi minyak, kata Gatot, membawa dampak berantai, seperti 
perubahan gaya hidup dan model bisnis, krisis/depresi ekonomi, hingga 
meningkatnya kejahatan dan konflik.

“Depresi ekonomi pasti sebanding dengan meningkatanya kejahatan dan konflik. 
Dan bermuara pada persaingan global,” kata Gatot.

Di sisi lain, populasi dunia terus bertambah, yang di tahun 2017 akan berjumlah 
8 milyar orang. Normalnya, daya tampung bumi hanya 3-4 milyar orang.

“Setiap hari ada 41.095 anak-anak di dunia meninggal karena kemiskinan, 
kelaparan dan kesehatan buruk,” ungkapnya.

Di satu sisi, ketersediaan energi fosil, khususnya minyak, makin menipis. Di 
sisi lain, kebutuhan konsumsi energi terus meningkat 40 persen akibat 
penambahan populasi dunia.

Tetapi saat ini, kata Gatot, terjadi pergeseran dari energi fosil ke enegeri 
nabati. Bicara energi nabati, adanya di negara-negara di dekat ekuator: Asia 
Tenggara, Afrika Tengah dan Amerika Latin.

“Di Asia tenggara, yang terbesar adalah di kepulauan Indonesia. Indonesia kaya 
semuanya,” jelasnya.

Pada titik itulah, ungkap Gatot, Indonesia dengan kekayaan alamnya akan menjadi 
rebutan. Dia kemudian mengutip Sukarno: “kekayaan alam Indonesia suatu saat 
nanti akan membuat iri negara-negara di dunia.”

Dalam konteks itulah, Indonesia akan terus menjadi incaran untuk dilemahkan dan 
direbut kekayaan alamnya.

Berikut 6 ancaman menurut Panglima TNI:

Pertama, pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di Darwin

Menurut Gatot, di Darwin ada 1250 sampai 2500 personil marinir Amerika Serikat.

“Darwin jaraknya hanya 479 km dengan Serwaru. Di situ ada Pulau Marsela dan 
Blok Masela. Boleh dong saya khawatir sebagai Panglima TNI,” paparnya.

Kedua, masalah laut Tingkok selatan

Menurut Gatot, hampir semua kapal-kapal yang ditangkap oleh Angkatan Laut (TNI 
AL), terutama tiga kejadian terakhir, dikawal oleh Coast Guard (penjaga pantai) 
Tiongkok. 

“Mereka mengklaim itu pantainya, padahal berada di wilayah Zona Ekonomi 
Ekslusif (ZEE) Indonesia,” jelasnya.

Belakangan, ungkap Gatot, Filipina mengklaim Laut Tiongkok Selatan melalui 
pengadilan intenasional. Dan tanggal 12 Juli lalu, Pengadilan Arbitrase 
memenangkan klaim Filipina.

Tetapi Tiongkok menolak klaim itu. Presiden Tiongkok Xi Jinping menegaskan 
bahwa kedaulatan wilayah dan hak maritim Tiongkok di di latut tidak akan 
dipengaruhi oleh keputusan dengan cara apapun.

“Ini potensi konflik di sekitar kita,” tegas Gatot.

Ketiga, manuver Five Power Defence Arrangements (FPDA)

Tanggal 14-21 Oktober, FPDA menggelar latihan besar-besaran dengan melibat 3000 
personil, 71 pesawat tempur, 11 kapal tempur dan kapal selam.

FPDA adalah hubungan pertahanan negara-negara Persemakmuran Inggris, yang 
meliputi Inggris, Australia, Selandia Baru, Malaysia dan Singapura. Kesepakatan 
yang dibuat tahun 1971 itu menegaskan bahwa kelima negara akan saling bantu 
jika ada serangan dari luar terhadap Malaysia, Singapura, Australia dan 
Selandia Baru.

Keempat, ancaman Narkoba

Menurut Gatot, sebanyak 2 persen atau 5 juta penduduk Indonesia terkena 
narkoba. Setiap tahunnya ada 15.000 orang meninggal karena obat terlarang itu.

“Dan itu fenomena gunung es. Pasti angkanya lebih besar. Bosan kita mendengar 
laporan dari Kepolisian dan BNN menangkap sekian kilo sabu tiap hari. Dan itu 
transaksinya di Malaysia,” ungkap Gatot.

Gatot menceritakan dampak narkoba pada sebuah bangsa dengan merujuk pada perang 
candu antara Tiongkok dengan Inggris dan Perancis. Dalam perang tersebut, 
Tiongkok kalah.

“Rakyat dan tentaranya kena candu, akhirnya kalah. Harus menggadaikan Hongkon 
dan Taiwan,” jelasnya.

Kelima, ancaman terorisme

Gatot mengutip pernyataan Bahrum Naim, teroris yang dituding mendalangi 
serangan Sarinah awal Januari lalu: “apabila di Suriah sudah tidak aman, maka 
kembali ke daerah masing-masing melakukan khilafah. Dengan apapun kamu 
melakukan.”

“Tidak lama kemudian, di Perancis menggunakan bus menabrak. Pendeta ditusuk 
pisau,” ujarnya.

Masalahnya, kata Gatot, UU terorisme di Indonesia lemah dalam menangkap 
terorisme. Berbuat dulu baru ditangkap.

“Indonesia tempat paling enjoy bagi terorisme, kita tinggal tunggu saja,” 
tandasnya.

Namun, menurut Gatot, terorisme juga terkait dengan perebutan ladang energi. 
Dia merujuk pada kasus Irak, Libya dan Suriah.

“Hanya permasalahan di dalam negeri, baru dicap teroris, kemudian pasukan 
koalisi masuk, lalu bagi-bagi. Karena punya energi,” paparnya.

Keenam, persaingan ekonomi

Gatot merujuk pada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pesat, PDB Indonesia yang 
urutan ke-8 dunia, kepercayaan konsumen yang tinggi, dan dampak dari program 
amnesti pajak.

Kirim email ke