Sibuk Urus Ahok, Jokowi Abaikan Ekonomi

EditorELPosted on November 15, 2016 @22:22



FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Direktur Eksekutif Institute for Development of 
Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartarti mengingatkan Presiden Jokowi 
tidak menghabiskan waktu mengurus persoalan politik jika masalahnya hanya 
mengurus Gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama atau 
Ahok.Politik menurut Enny, memang tetap harus diurus karena stabilitas ekonomi 
sangat tergantung juga kepada situasi politik, namun tidak semua energi harus 
digunakan untuk mengurus hal itu.“Politik memang tetap harus diurus, tapi 
mengurus ekonomi juga tidak kalah pentingnya. Presiden tidak bisa menggunakan 
seluruh kemampuan dan energinya hanya untuk mengurus satu soal sementara aspek 
lain diabaikan. Stabilitas politik penting bagi ekonomi, tapi semua tetap harus 
dilakukan dengan skala prioritas,” kata Enny di Jakarta, Selasa 
(15/11).Persoalan Ahok lanjut Enny, seharusnya tidak terus dibiarkan 
berlarut-larut dan membesar seperti saat sekarang. Ring satu Jokowi ujarnya, 
harus diisi oleh orang-orang profesional yang bisa memberikan masukan kepada 
presiden tentang hal mana yang menjadi prioritas dan mana yang tidak. “Saat ini 
banyak agenda presiden jadi terabaikan dan musti dibatalkan hanya untuk 
mengurus soal Ahok,” jelas Enny.Saat ini ujar Doktor Program Studi Ilmu Ekonomi 
Pertanian dengan Konsentrasi Ekonomi Pembangunan pada IPB ini, rakyat sedang 
sulit karena tidak terkontrolnya harga bahan pangan.“Ekonomi itu ril dirasakan 
rakyat dan konkrit. Kalau harga cabe, gula, bawang, beras, daging naik, maka 
tidak bisa dikatakan tidak naik. Penyelesaiannya tidak bisa ditunda. Masalah 
politik bisa diselesaikan instant, tapi tidak demikian dengan ekonomi. Harus 
betul-betul ada program yang nyata. Misalnya soal harga sapi, tidak bisa Jokowi 
hanya menginstruksikan harga sapi harus Rp 80 ribu, tapi dia tidak melakukan 
langkah-langkah seperti menghilangkan praktik perdagangan tidak sehat, memotong 
jalur distribusi dan membantu peternak,” sarannya.Karena itu, Enny menyayangkan 
sikap pemerintah yang masih membuat pernyataan bahwa perekonomian Indonesia 
masih berkembang maju seperti posisi Indonesia di antara negara G20 masih masuk 
dalam tiga besar pertumbuhannya.Padahal tegas Enny, hal itu tidak bisa 
dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia baik karena di Asean saja 
pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya nomor enam dibandingkan negara lain apalagi 
jika dibandingkan dengan Afrika Selatan yang dua digit.“Kalau membandingkan 
secara parsial dengan negara G20, jelas saja karena memang pertumbuhan ekonomi 
negara-negara G20 sedang melorot. Tapi di antara negara Asean rata-rata 
pertumbuhannya di atas 6 persen sementara kita hanya dikisaran 4,5-5 persen.Ini 
sebenarnya sangat mengkhawatirkan,”imbuhnya.Enny pun mencontohkan agar 
pemerintah bisa memberikan informasi yang benar dan tidak sekedar lips service 
soal pertumbuhan ekonomi. “Misalnya ada keluarga dengan dua anak memiliki 
penghasilan Rp 10 juta dan keluarga lain punya penghasilan Rp 12 juta dengan 10 
orang anak. Tidak bisa bahwa yang berpenghasilan Rp 12 juta dikatakan lebih 
baik ekonominya dibandingkan yang memiliki penghasilan Rp 10 juta karena faktor 
jumlah anak ikut memengaruhi,” tegasnya.“Makanya kita tidak bisa juga 
mengatakan ekonomi kita tumbuh lima persen itu bagus karena lima persen saja 
tidak cukup. Menurut data Bappenas, elastisitas lapangan kerja di zaman saat 
ini jumlahnya 110 ribu, sementara pertumbuhan angkatan kerjanya setiap tahun 
berjumlah dua juta orang. Ini sangat tidak cukup. Dikatakan inflasi rendah juga 
bukan berarti baik. Inflasi rendah itu karena orang tidak memiliki daya beli 
dan tidak ada permintaan akan barang dan jasa sehingga harga-harga turun,” 
ujarnya. (Fajar)

Kirim email ke