· 
Kami di Paris, Tetapi Perasaan Kami di Indonesiaoleh Martin Aleida
Kalau tak dialami sendiri, agaknya musykil untuk membayangkan di dalam pikiran, 
dan merasakannya di dalam hati, bagaimana sulitnya mengembara menembus batas 
berbagai negara tanpa kewarganegaraan. Dengan rumah, ayah-ibu, sanak-famili, 
dan dengan negara yang ditinggalkan sudah dipisahkan oleh kekuasaan tak bisa 
bertemu lagi. Kecuali siap mati. Atau paling tidak berakhir dengan berkarat di 
dalam penjara dari sebuah rezim yang bengis, yang terus mengejar. Cita-cita 
tentang sebuah tatanan masyarakat mungkin tak tergerus oleh cuaca yang ganas. 
Tetapi, goncangkah pandangan dan sikap hidup melihat pertentangan sengit antara 
Uni Soviet dan Tiongkok, dua kutub ideologi-politik dunia awal 1960-an itu? 
Dalam percakapan dengan Joko Santoso yang didampingi Murti, istrinya, di tengah 
kota Paris, jangkauan pergulatan pikiran dan hati itu melebar lagi dan mencakup 
cultural shock, goncangan budaya.
​“Waktu saya belajar bahasa Perancis, selain buku, saya juga memanfaatkan 
kaset. Dalam sebuah contoh percakapan saya menemukan seorang anak memanggil 
nama, dan nama itu nama Bapaknya. Memanggil Bapak dengan menyebutkan namanya… 
Saya kaget. Loh … kok panggil nama Bapaknya?” ucap Santoso.
Istrinya yang duduk di sebelah menimpali: “Di Tiongkok, pada waktu Revolusi 
Kebudayaan berlangsung di sana, kami, orang-orang Indonesia yang tak bisa 
pulang, diperlakukan sebagai tamu. Kawan Tiongkok memberikan yang terbaik 
kepada kawan-kawan Indonesia. Tapi, yang terbaik untuk si tamunya itu, 
dirasakan oleh si tamu sebagai pembatasan-pembatasan. Kawan Tiongkok sangat 
memperhatikan keamanan kita. Desa-desa belum stabil. Sehingga kami kita tak 
dibiarkan bebas pergi ke mana-mana. ‘Kok dibatasi. Orang kok gak bisa ke sana 
ke situ.’ Begitu keluh-kesah sebagian dari kawan-kawan kita. Mereka menerima 
kebaikan yang diberikan tuan-rumah sebagai penderitaan.”
​
Boleh saya dengar bagaimana Bung sampai ke sini?
Saya dikirim oleh Angkatan Laut Republik Indonesia. Dulu saya kuliah di Gadjah 
Mada, Yogyakarta, bagian tehnik. Tingkat dua waktu itu. Saya berangkat pada 
tahun 1962 ke Uni Soviet. Dari Moskow saya dikirim ke Kiev untuk belajar bahasa 
Rusia selama sembilan bulan. Fakusltas di mana saya studi berada di Odessa. 
Saya belajar mengenai teknik pembangunan pelabuhan. Istri saya ini dikirim oleh 
SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia) ke Jerman Timur.
Saya berada di Uni Soviet selama lima setengah tahun. Begitu masuk, saya duduk 
di tingkat tiga sampai selesai. Lulus sebagai insinyur hidro teknik pembangunan 
pelabuhan pada tahun 1966. Ijazah saya masih ada, kalau mau beli saya jual 
hahaha …
Ketika peristiwa G30S meletus saya sedang mengumpulkan bahan-bahan dari praktek 
untuk disusun sebagai disertasi. Jadi, perasaan saya waktu itu sudah tak 
tenang. Setelah lulus ‘kan tidak bisa pulang ke Indonesia. Lantas ada tawaran 
ke timur, ke Peking. Waktu ke timur itu saya kira sudah akan praktek, ternyata 
tidak jelas. Keadaan berubah. Kita belajar militer dan lain-lain besama 
kawan-kawan yang lain. Berilusi mau perang rakyat. Pada waktu itu kita ingat 
bagaimana jayanya Partai Komunis Indonesia ketika merayakan ulangtahun ke-45, 
sebagaimana yang dikatakan dalam laporan yang kami terima. Pokoknya berilusi 
mau berjuang dari desa merebut kota. Namun, ilusi itu tidak berlaut-larut 
terlalu lama. Pokoknya ilusi tadi padam setelah Blitar ditumpas. Kita tak punya 
basis. Lain dengan Soviet yang dipimppin dengan ide-ide brilyan Lenin dari luar 
negeri. Sementara di dalam negeri dia punya organisasi, ada basis, dan ada 
tangan kanannya, Stalin. Keadaan di Indonesia lain. Kalau kita dibawa dengan 
kapal ke Indonesia, siapa yang akan menyambut … hahaha?Ketika Bung tiba di Uni 
Soviet apakah Bung kecewa melihat kenyataan pembangunan di sana?
Tidak. Saya justeru kagum. Ya seperti orang desa masuk kota.Kapan Bung 
meninggalkan Peking?
Meninggalkan Peking tahun 1982 menuju Paris.Mengapa bukan Belanda atau Jerman 
seperti yang lain?
Soalnya di mana-mana menolak. Sulit. Di Perancis yang berada di bawah Mitterand 
ketika itu mau menerima. Di sini lebih ada harapan, karena ada koalisi dengan 
Partai Komunis Perancis. Kami selalu punya ilusi besar kalau terjadi apa-apa. 
Waktu Suharto jatuh tahun 1998, wah… kita bicara, “Pulang, wah pulang.” Pulang 
mau ke mana? Rumah sudah tak ada. Famili entah di mana. Orangtua saya di Jawa 
Timur, di Tuban, di desa, bukan di kotanya. Bapak saya jadi korban. Tahun 1965, 
di dalam tahanan dia kena “bon” dan hilang. Sampai sekarang tak tahu 
kuburannya. Tempat di mana kira-kira dia dikuburkan kami tahu.Ketika memasuki 
Perancis tak ada masalah dengan dokumen?
Tidak. Kita sudah menyelesaikannya secara kolektif.Pekerjaan pertama?
Tukang las. Sejak lulus pada tahun1966 tak ada yang dikerjakan yang sesuai 
dengan latar belakang pendidikan. Tapi, saya tak punya ilusi, pokoknya harus 
ada pekerjaan yang dikerjakan. Lagipula, ilmu ‘kan berkembang. Waktu di sini 
saya belajar lagi. Yang pernah saya pelajari semuanya sudah lain, berkembang. 
Bukan karena perbedaan antara Soviet dan Perancis, tetapi memang karena 
perkembangan teknologi. Blue print arsitektur dan blue print insinyur itu 
berbeda.
​Ketika kami ke mari anak kami sudah berumur 12 tahun. Putri. Lahir di Peking 
tahun 1970. Kami memutuskan hanya punya anak satu, karena keadaan memang 
nelangsa. Dikasi anak satu cukup. Sepanjang waktu apa yang kita pikirkan adalah 
bagaimana pun keadannya anak harus sekolah.Kapan dan di mana Bung bertemu 
dengan Ibu?
Dari Uni Soviet saya berangkat ke Tiongkok. Istri saya datang dari Jerman 
Timur. Kami bertemu dan menikah di Peking. Di Paris anak kami itu sekolah 
ekonomi, bidang manajemen. Pernah bekerja di Indonesia. Dia hidup bersama 
pasangannya di Belanda, karena teman hidupnya orang Belanda itu tak bisa pindah 
ke Perancis.Berapa tahun Bung bekerja sebagai tukang las?
Lima tahun. Sebagai buruh, gajinya gaji minimum. UMR begitulah. Gaji itulah 
yang saya gunakan untuk menyekolahkan anak. Dengan gaji minimum itu, kalau kita 
hemat, ya kita bisa makanlah. Bisa bayar sewa rumah. Sekolah tidak bayar. 
Lagipula, dia dapat bourse, bea-siswa, semacam Kartu Jakarta Pintar. Cuma 
bedanya di Jakarta semua murid dapat, di sini anak saya itu menerimanya karena 
dia memang dipilih berdasarkan kecakapannya. Dalam pelajaran di sekolah, dia 
memang lumayan baik. Ekonomi orang tuanya, keadaan keluarga kami, juga dilihat, 
menjadi bahan pertimbangan.Ketika tiba di Perancis apakah Bung sudah menguasai 
bahasa Perancis?
Dari Tiogkok saya belum bisa bahasa Perancis. Sesampainya di sini saya belajar 
dengan menggunakan buku Alliance Francaise. Terus pakai kaset. Pada waktu 
menetap di Peking, anak saya sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama. Di 
sana dia samasekali tidak mempelajari bahasa Perancis. Dia cuma belajar bahasa 
Inggris.Sulit menyesuaikan diri di sekolah?
Permulaan ya sulit, terutama masalah bahasa. Saya sendiri ketika studi di Uni 
Soviet pada tahun pertama berat sekali. Bahasa yang dipelajari secara khusus 
hanya memadai untuk percakapan sehari-hari. Ketika kuliah tak ada dosen yang 
peduli. Dosen berbicara di depan, yang bisa ditangkap cuma sekitar 10 persen. 
Kelas itu sendiri terdiri dari orang-orang lokal dan dari negeri lain. 
Universitas tempat saya belajar di Odessa itu bukan seperti Lumamba yang 
dikhususkan untuk orang asing.
Tahun pertama berat sekali, terutam dalam hal bahasa. Jadi, saya terpaksa 
meminjam diktat teman-teman Rusia. Bertanya pada mereka, minta bantuan, karena 
saya tak bisa menangkap. Lain halnya dengan anak perempuan saya itu. Dia lebih 
cepat bisa mengikuti. Namun, sistem pendidikan lain dengan di Tiongkok, dan 
dengan begitu dia terlambat. Dia baru lulus SMA pada usia 20 tahun, padahal 
biasanya ‘kan 18 tahun. Tapi, tak apa-apa, dengan demikian Perancisnya lebih 
kuat dasarnya. Dia suka membaca literatur, membaca novel, jadi lumayan 
penguasaan bahasanya.
​
Begitu sampai di Paris, tingggal di mana?
Kami ditampung di tempat yang namanya France Terre d’Asile, perumahan untuk 
penampungan kaum pencari suaka. Kira-kira 150 kilo di luar Paris, di Region 
Loire, namanya, mengikuti nama sungai di situ. Di satu kota kecil dengan 16.000 
penduduk. Kecil tetapi indah. Di situ kami ditampung selama empat bulan untuk 
mengurusi dokumen-dokumen. Ada panitianya. Dikasi uang saku, pas-pasan untuk 
makan, untuk hidup. Untuk makan yang pokok, sementara kamar disediakan secara 
gratis. Kami dapat dua kamar, anak dipisah. Gedung itu merupakan penampungan 
untuk pengungsi dari Kamboja, Polandia, Rumania, ya mereka yang mengungsi pada 
waktu itu, di awal tahun 1980-an.
Empat bulan di situ, terus pindah menyewa rumah di kota tersebut. Lantas kita 
dicarikan pekerjaan, karena kita ‘kan tak tahu apa-apa, tak bisa mencari 
sendiri. Kita tak punya kendaraan.Tak punya apa-apa. Dicarikan oleh foyer, 
penampungan yang diorganisir oleh lembaga swadaya masyarakat. Pekerjaan minimum 
untuk satu orang dalam satu keluarga.
​Saya ditanya, mau kerja apa? Saya bilang Saudara bertanya begitu, apakah saya 
bisa memilih? Dikatakan ada pekerjaan di pertanian, ada pekerjaan sebagai 
buruh. Jadi, saya pilih pekerjaan di sebuah pabrik, kira-kira 20 kilo dari 
rumah. Waktu itu saya tak punya mobil, tetapi di perumahan itu ada yang bekerja 
di pabrik yang sama. Jadi, saya ikut dia. Lima tahun kemudian kami lantas 
pindah ke Paris. ​Selama lima tahun saya bekerja di Restaurant Indonesia, di 
Paris. Restoran itu direncanakan awal 1982, sementara saya datang ke Perancis 
Oktober 1982. Sebelum ke Paris saya juga pernah bekerja di Hong Kong. Jadi 
sedikit-banyak kenal pekejaan di restoran. Dulu, ketika di Indonesia, saya tak 
mengenal pekerjaan dapur. Kulkas saja gak punya. Di restoran itu saya bekerja 
paruh-waktu saja. Saya bekerja di situ setelah saya pensiun akhir 2004. 
Resminya restoran itu adalah koperasi. Jadi kami masih anggota. Sekali setahun 
ikut rapat. Saya sendiri sudah tak terlibat langsung sekarang ini.
Belakangan saya dengar orang Indonesia yang bekerja di situ pada keluar. 
Kelihatannya ada ketidakcocokan di restoran itu. Tapi, mereka itu bukan 
generasi saya lagi.Bung pernah diminta bantuan untuk bekerja lagi di situ? 
Sebagai penyelamat?
Kalau orang Indonesia di situ pada keluar tentu adalah masalah dalam manajemen 
Sekarang ini, secara resmi Nita, putri Sobron Aidit salah seorang pendiri 
restoran itu, adalah direktrisnya. Dulu direkturnya Suroso, dan ia ikut sejak 
awal. Satunya lagi orang Perancis, tapi orang Perancis itu membantu dari jauh 
saja.Apakah Bung dapat pensiun sebagai orang yang pernah bekerja di situ?
Saya ‘kan bekerja di mana-mana. Setiap kerja ada potongan untuk dana pensiun. 
Potongan di mana saya pernah bekerja itu ditotal semua. Pernah juga bekerja 
sebagai teknisi selama sembilan bulan. Pernah juga nyupir taksi di Paris. Semua 
itu dihitung. Pokoknya apa saja saya kerjakan, dan itu dihitung. Nyupir taksi 
sering tidak dibayar. Terutama kalau Metro sudah tak beroperasi, tengah malam. 
Ada yang meminta dibawakan jauh dari tengah kota. Nah, sampai di sana, orang 
itu minta belok kanan, belok kiri. Tiba-tiba dia melompat pagar. Menghilang, 
pukul satu atau pukul dua tengah malam. Mereka itu umumnya bukan penjahat, 
tetapi rakyat kecil. Orang biasa, yang nggak punya duit. Dia mau pulang, tapi 
Metro sudah tak ada. Sulit mengatakan apakah mereka orang dari Afrika. Sebab di 
Paris mereka yang datang dari Israel juga banyak. Dari mana-mana banyak. 
Campur-baur.
Menjadi supir taksi saya alami selama sembilan bulan. Untuk bisa makan harus 
kerja keras, sementara sewa mobilnya mahal. Yang mahal itu bukan mobilnya tapi 
plat taksinya, dan itu tidak gampang mendapatkannya.
Istri saya juga kerja, di hotel, mengurus anak. Kamis pagi dia berangkat dari 
kota di mana kami di tamping menuju Paris. Bekerja sebagai pembantu 
rumahtangga. Sabtu sore pulang dari Paris. Senin pagi berangkat lagi ke Paris. 
Hasilnya lumayan.
Kalau istri sedang bekerja, yang ngopenin anak, ya saya. Ya belanja, ya kerja 
di pabrik. Malam harus mengajari anak. Matematika tak soal buat dia, tapi 
bahasa Perancis harus saya bantu. Karena di sini bahasa Perancis menulisnya 
panjang-panjang. Matematikanya lain dengan yang di Indonesia. Ada teorinya. Nah 
teori ini membuat anak saya nggak mudeng, sulit. Misalnya, pertanyaannya bukan 
dua kali dua itu berapa, tapi ada uraiannya. Untuk bertanya dua kali dua saja, 
ada teorinya, tidak bisa begitu saja.Pernah ke Indonesia?
Sudah.Petama kali tahun berapa?
Tahun 1991.Rasanya seperti apa?
Kan sudah meninggalkan Indonesia tiga puluh tahun. Begitu dapat paspor Perancis 
tahun 1990, pada tahun 1991 kami berangkat ke Indonesia. Saya dan istri saya 
saja, demi kewaspadaan. Karena situasinya belum tahu. Putri kami yang lahir di 
Tiongkok tidak ikut. Soalnya, ada bayi ke Indonesia namanya Margono, lantas di 
imigrasi ditanya Margono siapa? Rupanya Margono ada di black list. Cucu dari 
Erman S.A, wartawan Harian Rakyat yang bekerja di Radio Peking dan memilih 
menetap di Paris setelah meninggalkan Peking, yang anaknya bernama Ersa, 
berkunjung Indonesia dengan bayinya yang memakai nama Margono, seorang eksil. 
Ditanya Margono yang mana? Jadi, bayi juga masuk blacklist hahah …. Anaknya 
Ersa tu sekarang sudah menikah, tinggal di London.
Dengan keluarga yang di Indonesia kita hati-hati. Sempat bertemu. Saya ke Tuban 
tetapi tidak sampai ke desa. Istri saya ke Solo, tetapi di rumah pamannya yang 
dituju, ternyata sudah berdiri sebuah hotel. Rupanya, rumah itu sudah dijual. 
Ketika kami kembali ke Paris, keluarga yang kami tinggalkan di Indonesia tidak 
apa-apa. Kami pulang dengan diam-diam. Ketika itu kami juga menginap di tempat 
yang orang lain tidak tahu.
Terakhir ke Indonesia 2006. Waktu itu putri saya bekerja di Jakarta, di sebuah 
perusahaan Perancis. Saya menginap di tempat dia. Waktu itu dia masih kuliah 
kerja nyata (KKN). Dengan bantuan seorang teman, untuk menulis skripsi tentang 
bursa efek Jakarta. Dia juga pernah bekerja di ISO 2000. Sebelumnya perusahaan 
Perancis Le Grand.Bung dan istri punya rencana pulang ke Indonesia?
Sudah tak mungkin. Mau pulang bagaimana? Rumah tak punya. Dikatakan pulang itu 
ke mana? Kita tak punya apa-apa. Misalnya, mau dompleng pada kemenakan, mereka 
juga punya masalah sendiri. Lagipula, kita tidak pernah ikut membesarkan 
mereka.Di mana Bung merasa kehilangan tanah air? Sejak di Uni Soviet atau 
ketika sudah sampai di RRT. Atau di Perancis ini?
Saya merasa Indonesia yang sekarang sudah lain dari Indonesia yang dulu. 
Kehilangan? Hilang dalam pengertian hilangnya sesuatu yang saya dambakan untuk 
ditemukan kembali, tak ada. Teman-teman sudah habis. Sanak-famili juga sudah 
tak ada secara alamiah. Tetapi, berita tentang Indonesia terus kami ikuti. Tiap 
hari kita mengikuti berita tentang Indonesia. Malahan lebih banyak kita ikuti 
berita tentang Indonesia daripada Perancis. Kalau tentang Perancis ‘kan kita 
sudah banyak tahu. Negara ini stabil. Perasaan kami bercabang. Kami tinggal di 
Perancis tetapi perasaan kami seperti di Indonesia.
Terus terang, kami punya harapan, walau secercah, setelah munculnya Jokowi dan 
Ahok. Terutama setelah terpilihnya Jokowi jadi presiden. Sayang, mesin 
kekuasannya masih dikelilingi oleh mereka yang tidak berniat baik, yang 
menginginkan masalah ’65 jadi hilang. Jokowi punya niat baik untuk menyelsaikan 
masalah orang-orang seperti kami, tetapi ternyata tidak berkelanjutan 
sebagaimana kebijakan yang telah diambil oleh Gu Dur. Yang mengherankan, 
orang-orang kiri juga beranggapan Jokowi itu borjuis. Tak bisa diharapkan. Loh, 
siapa bilang Jokowi proletar? Tapi, dia bekerja untuk kemakmuran rakyat, untuk 
kita-kita. Kalau mau mengharapkan tatanan masyarakat sosialis itu ‘kan harapan 
zaman dulu.Kalau ada, apa yang Bung ingin katakan tentang pertikaian Uni 
Soviet-Tiongkok di masa lalu?
Soal pertikaian di dalam Partai Komunis Uni Soviet (PKUS) kita harus 
berhati-hati dalam menilai Stalin, karena perjuangan kelas terjadi di 
mana-mana. Waktu itu Stalin betul-betul dikepung dunia. Dan saya membenarkan 
kesimpulan yang mengatakan bahwa Chruschov, yang membongkar apa yang dilakukan 
Stalin, juga bertanggungjawab terhadap apa yang terjadi zaman Stalin. Karena 
pada waktu itu dia adalah juga anggota komite pusat PKUS. Stalin dalam keadaan 
sulit, dia dikepung dunia seperti itu.
Ada perbedaan antara Teng Shiao-ping dengan Chruschov. Teng mengakui semua 
politik yang dulu itu dia ikut bertanggunggjawab. Jangan semua kesalahan 
diletakkan di bahu Ketua Mao. Ya, Mao juga ada kesalahannya. Tetapi, Teng tidak 
mau men-Stalinkan Mao. Memang ada kesalahan, kata Teng, ada komune rakyat yang 
dianggapnya terlalu kekiri-kirian. Chou En-lai juga mengatakan begitu. Mao itu 
seperti seniman yang mau miskin sama-sama. Begitu.
Mau membangkitkan ekonomi, itu hal yang susah sekali. Bisa saja terjadi ekses 
dalam pembangunan ekonomi dan di sinilah peranan partai untuk mengawasi. Kunci 
yang dipegang Teng adalah pegang terus kepemimpinan Patai. Tanpa diktatur 
proletariat tak mungkin sosialisme, mau ngomong bagaimana pun. PKT solid. Bahwa 
ada perbedaan di dalam, itu biasalah. Solid dalam pengertian 
solid-sesolid-solidnya ‘kan tak ada. Yang jelas, garis reformasi dan 
keterbukaan di Tiongkok itu telah melejitkan pertumbuhan ekonomi negara itu. 
Yang miskin juga terangkat semua. Daerah yang sulit sekali, seperti Singkiang, 
Tibet, jalan raya dan keretapi di situ luar biasa majunya. Kereta-api cepat 
“Kunming”” itu wah… Pintarnya Tiongkok, dia juga mau mengembangkan pembangunan 
ke daratan bagian barat. Dampaknya Birma, Laos juga berkembang.
Tetapi, ya susah juga, mengenai perkembangan di Tiongkok itu. Di Indonesia ada 
juga yang sinis. Terlalu gampang menuduh: Tiongkok sudah jadi kapitalis. 
Seperti itu. Waktu Jokowi mau bikin kereta-api cepat Jakarta-Bandung orang 
sinis. Tetapi, waktu Jepang mau bikin, tidak ada yang bereaksi. Sama sekalli 
tak ada reaski. Tak ada yang saya baca yang memberikan reaski. Begitu 
diserahkan kepada Tiongkok, berubah. Ramai. Tiongkok lain. Biar kita kritik, ya 
mereka jalan terus.
Hubungan Uni Soviet dan Tiongkok pada waktu itu berdampak terhadap kawan-kawan 
dari Indonesia yang tidak bisa pulang. Ada kawan-kawan yang studi di 
Universitas Lumumba di Moskow pindah ke Tiongkok, dan dari Tiongkok lari ke 
Eropa. Situasinya pada waku itu membut kita berpikir terus, apa yang bisa 
dikerjakan.
Sementara pertentangan antar kelompok menajam. Saya tidak ingat, mungkin kenal 
dengan Waruno Mahdi, sarjana lulusan Moskow, yang disingkirkan jauh dari 
ibukota Uni Soviet. Kemungkinan dia tidak cocok dengan pimpinan kelompok 
Indonesia di Moskow, Thomas Sinuraya. Lalu, dia disingkirkan. Pokoknya kalau 
tidak cocok, seperti Suar Suroso, diusir. Diusir oleh Soviet berdasarkan 
laporan Thomas Sinuraya itu. Waktu itu ‘kan begitu, dituduh orang ini 
pro-Peking, orang itu pro-Moskow. Anwar Dharma, koresponden Harian Rakyat di 
Moskow juga diusir karena kritis.
Yang lari dari Tiongkok menuju Belanda ada yang berpikir, “Kok ya saya ke 
Balanda, negara yang pernah menjajah Indoneia. Bagaimana ini?” Banyak yang 
berpikiran seperti itu. Dulu kita lawan, sekarang justeru kita meminta 
perlindungan kepada Belanda. Tetapi, ada pula yang berpendapat sekarang ini 
kita justeru harus menikmati hasil perampokan yang dilakukan Belanda terhadap 
Indonesia. Mereka makmur ‘kan karena kita. Begitulah alasan kawan-kawan. Ya, 
ini cerita yang ringan-ringan saja, ya ... Kita dulu ke Perancis ini, padahal 
negara ini gembongnya IGGI, yang kasi bantuan kepada Harto, waktu dia baru 
lahir. Biang keladinya ‘kan Perancis ini.
Bedanya di barat ini lebih mudah bergerak. Kita leluasa di sini. Kita bisa bisa 
pulang kalau kita mau. Kalau di Tiongkok sulit, karena kita tamu di sana. Makan 
kita dijamin.Ketika di Peking ada penawaran untuk jadi warganegara Tiongkok?
Tidak ada. Tidak ditawarkan. Tapi kalau kita punya inisiatif meminta mungkin 
diberikan. Suar Suroso, penulis sejumlah buku tentang Indonesia, yang pernah 
menjadi utusan Indonesia untuk perhimpunan pemuda sedunia, yang berpusat di 
salah satu negara satelit Uni Soviet, saya kira sudah punya paspor RRT. Kalau 
tidak, bagaimana mungkin dia bisa berkunjung satu kali ke Indonesia empat tahun 
yang lalu. Itu yang saya dengar. 
Saya juga mendengar ada yang pulang ke Indonesia melalui jalan gelap. Tapi, 
begitu sampai di sana mereka kayaknya mendekap saja ke tanah. Tak kedengaran 
bergerak. Banyak juga yang sudah meninggal di antara mereka, dan banyak juga 
yang kami tak tahu nasibnya. Ada yang meninggal sakit lever.
Ada yang pulang secara legal, sebagai orang asing, pakai paspor Belanda. Karena 
kalau dari Belanda ada kemudahan. Mudah kalau mau mentransfer uang pensiun. 
Biar pensiunnya kecil tentu bisa hidup di Indonesia, apalagi kalau hidup di 
kota kecil. Ada orang yang bekerja di bidang koperasi di Indonesia saat dikirim 
ke luar negeri awal 1960-an. Waktu pulang ke Indonesia, tak lama kemudian dia 
meninggal. Andainya dia masih hidup usianya sekarang ini sekitar 90 tahun. Saya 
sendiri 76 tahun.Di antara kaum eksil Indonesia di Eropa lewat media sosial ada 
yang mempertanyakan perlunya menjaga keutuhan NKRI? Komentar Bung?
Di antara mereka ada yang tidak bisa melihat dengan jernih. Mereka, misalnya, 
tidak melihat manfaat International People’s Tribunal di Den Haag tahun lalu. 
Saya sendiri kagum melihat Todung Mulya Lubis dan Nursyahbani, serta kolega 
mereka yang mengorganisir dan tampil di pengadilan itu. Mereka orang-orang 
hebat. Sementara sebagian eksil menganggap mereka sebagai “orang lain.” 
Macam-macam pikiran mereka. Ada yang bilang Papua sudah waktunya pisah. 
Budayanya beda! Diantara eksil itu memang ada yang bicara seperti sedang 
nglindur, minta dipehatikan ...Bung sehat? Ibu Murti berpantang makan apa?
Kami bebas makan apa saja. Daging kami makan, tetapi sedikit saja. Saya dengar 
Chalik Hamid di Amsterdam makan seperti orang Medan pada umumnya. Dia dan 
istrinya makan apa saja. Sarapan lontong medan, siang malam makan nasi pakai 
gule kental -- kambing lagi. Wah, kambing buat kami yang sudah tua begini… 
hahaha. Kami tak ada masalah dengan jantung, juga kadar gula. Pada pokoknya 
baik, karena dikontrol terus dengan memanfaatkan fasilitas jaminan kesehatan. 
Olahraga saya dan istri jalan kaki saja di alam terbuka. Usia sudah segini ya 
olah raga yang ringan sajalah. Pokoknya bergerak. Istri saya darah rendah, saya 
darah tinggi. Tapi, tak bisa dikompensasi hahaha …
Kehidupan kami seperti ini. Dulu, ada wartawan Australia yang mewawancarai 
kami. Pada waktu reformasi 1998 itu banyak yang datang, ramai sekali. Tetapi, 
dalam wawancara itu ‘kan tak semua bisa kita ceritakan kepada orang asing yang 
kita tidak kenal. Diantara mereka ada yang ahli Indonesia. Niatnya baik, tapi 
belum tentu hasilnya seperti yang kita harapkan. Biasanya, kalau kami mau 
diwawanarai kami anggap Umar Said, Sobron Aidit sudah mewakili kami. Kami 
mewakilkan kepada mereka. Walaupun pandangan mereka sebenarnya belum tentu sama 
dengan kami. Dengan Sobron, misalnya, sebenarnya saya tidak cocok, teruma 
mengenai kritiknya terhadap sikap Tiongkok pada kami ketika kami masih di sana. 
***
Open Bare Bibliotheek, Amsterdam

Kirim email ke