Kalau dangkal pemahaman agama picu terorisme, harus dipertanyakan apakah kerja 
Kementrian Agama, Majelis Ulama Islam dan partai-partai dan organisasi 
berazaskan agama selama ini apakah mereka memahami apa yang mereka percaya dan 
apakah pekerjaan mereka sudah sangat menyenangkan atau tidak? Kalau petinggi 
mereka tidak memahami apalagi yang bisa diharapkan dari umat kelas bawah yang 
mengikuti seruan petinggi.

http://www.nu.or.id/post/read/72926/dangkalnya-pemahaman-agama-picu-aksi-terorisme

Dangkalnya Pemahaman Agama Picu Aksi Terorisme
Selasa, 15 November 2016 00:00 Nasional 
Bagikan 

  Peristiwa Bom di Gereja Oikumene, Samarinda.Bandar Lampung, NU Online

Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin mengutuk peledakan bom di Gereja 
Oikumene, Kota Samarinda. Menurutnya, setiap pelaku bom (teroris, red) tidak 
paham bahwa Islam bukanlah agama yang mengajarkan kekerasan apalagi membunuh.

"Islam adalah agama cinta, agama yang menebarkan keselamatan dan menebarkan 
rahmat. Sehingga tindakan teroris atas nama agama sama sekali tidak bisa 
dibenarkan dan tidak ada dalilnya dalam ajaran Islam," ujar Gus Ishom melalui 
akun Facebook-nya, Senin (14/11).

Kiai muda ini menegaskan, di Indonesia yang merupakan negara hukum, warganya 
wajib tunduk pada hukum, tidak boleh sewenang-wenang memastikan orang lain 
pasti bersalah dengan hukuman menurut vonis atas pendapatnya sendiri.

"Melainkan jika bersengketa, masing-masing pihak harus tunduk kepada keputusan 
dari pihak yang berwenang menanganinya. Setiap persengketaan itu bisa dicarikan 
solusinya melalui jalur hukum, meskipun itu bukan satu-satunya jalan 
penyelesaian," tulisnya.

Ia menambahkan, harus diakui bahwa maraknya diskriminasi dan kekerasan atas 
nama agama seringkali disebabkan oleh rendahnya mutu kualitas sumber daya 
manusia pelakunya. Pemahaman agama yang demikian dangkal dan semangat beragama 
yang menggebu-gebu seringkali menjadi pemicunya.

Kedangkalan pemahaman terhadap substansi ajaran Islam dengan ciri 
tekstualis-literalis telah menjebak mereka ke dalam ruangan ideologis yang 
lebih pengap, tertutup dan amat subjektif.

"Maka wajarlah jika mereka selalu merasa benar sendiri, tidak menghormati 
perbedaan dan sering memaksakan kehendaknya, sehingga kegaduhan sosial tak 
terhindarkan," tegasnya.

Menghadapi fenomena ini menurutnya, setiap umat Islam hendaknya kembali belajar 
agama secara langsung  kepada para ahlinya yang lebih mengedepankan akhlak 
mulia, lebih menyejukkan umat dan mereka yang terus menerus memperjuangkan 
terwujudnya kemaslahatan hidup bersama sebagai suatu bangsa.

"Bukan belajar agama dari sumber-sumber yang tidak jelas mata rantai (sanad) 
pengambilan ilmu agamanya seperti belajar Islam lewat internet," pungkasnya. 
(Muahmmad Faizin/Fathoni)

Kirim email ke